Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 28 ~ Malam Perpisahan ~


__ADS_3

Evan tersenyum setelah melihat Athena berdiri dihadapannya. Laki-laki itu berharap Athena telah memaafkannya namun gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Kamu udah janji untuk mengantarku pulang" ucap Athena.


"Tentu saja Athena" ucap Evan sambil tersenyum.


Laki-laki itu berdiri lalu melangkah, baru selangkah Evan melangkahkan kakinya, laki-laki jatuh berlutut.


"Aduh..," jerit Evan.


Laki-laki itu jatuh tertunduk, Athena reflek meraih lengan Evan. Laki-laki itu tersenyum melihat perhatian Athena, Evan menggenggam tangan Athena dan berdiri.


"Terima kasih ya" ucapnya dengan tatapan lembut.


Athena hanya menunduk, dalam hatinya tentu masih ada rasa marah tapi Athena mencoba memberi kesempatan pada Evan untuk membuktikan ucapannya. Athena ingin melihat seberapa tulus hati laki-laki itu terhadapnya.


Athena berdiri menunggu Evan yang sedang melemaskan kakinya yang telah mati rasa. Laki-laki itu tersenyum padanya, Evan mencoba melangkah lagi namun kembali meringis. Laki-laki itu berusaha berjalan meski tertatih-tatih.


"Tunggu saja dulu, duduklah!" ucap Athena sambil menunjuk kursi terdekat dengan Evan.


"Nggak usah, kamu ingin pulangkan? aku akan mengantarmu" ucap Evan masih melangkah tertatih-tatih.


"Mana bisa menyetir dengan kaki sakit?" tanya Athena.


"Nanti juga akan sehat sendiri, jika di mobil masih terasa sakit aku akan istirahat" ucap Evan masih terus berjalan.


Laki-laki itu tersenyum sambil melambaikan tangannya pada teman-teman yang menyapanya. Mereka bahkan bertepuk tangan saat laki-laki itu berusaha berjalan. Seakan-akan berjalan dengan susah payah itu adalah sebuah prestasi.


Athena mengikuti laki-laki itu, kadang ingin memapahnya tapi urung karena terasa berlebihan. Evan masih berusaha berjalan tertatih. Dengan perlahan berjalan menuju parkiran. Senyumnya tak lepas setiap kali menoleh pada Athena. Akhirnya gadis itu tidak tega dan memapah laki-laki itu.


"Sebenarnya nggak usah, tapi nggak apa-apa. Aku suka" ucap Evan sambil memandang wajah Athena yang begitu dekat dengannya.


Evan menekan remote kunci mobil, Athena membantu membukakan pintu. Evan masuk ke dalam mobil dan meminta maaf karena tidak bisa membukakan pintu mobil untuk Athena. Gadis itu membuka sendiri pintu mobil dan duduk di kursi penumpang.


Evan menyalakan mesin dan AC mobil namun belum mulai mengemudi.


"Masih sakit? bagian mana?" tanya Athena.


"Dengkul dan pergelangan kaki" ucap Evan.


"Jadi belum bisa menyetir?" tanya Athena.


"Tunggu sebentar lagi ya?" tanya Evan meminta persetujuan Athena.


Athena mengangguk pelan, Evan memandang Athena dengan pandangan yang sayu.


"Makasih ya, karena kembali untukku" ucap Evan.


"Aku tidak kembali untukmu, aku cuma menagih janjimu untuk mengantarku pulang" ucap Athena.


"Baiklah tapi kita masih jadian kan? kita belum putus kan?" tanya Evan.


"Aku ragu kalau kamu benar-benar ingin jadian denganku" ucap Athena.


"Apa yang membuatmu ragu? aku benar-benar ingin jadi pacar kamu" ucap Evan.


"Untuk memenangkan taruhan" lanjut Athena.


"Udah aku bilang, kalau taruhan itu hanyalah kebanggaanku pada teman-temanku karena bisa menaklukkan gadis-gadis. Dan kamu, kamu adalah kebahagiaanku. Aku sudah bilang aku rela kehilangan kebanggaanku daripada harus kehilangan kebahagiaanku. Mereka mungkin akan menertawakan aku karena tidak berhasil em.., me..., tapi aku tidak peduli yang terpenting kamu telah menjadi pacarku" ucap Evan, ragu-ragu.


Evan tidak ingin melanjutkan kata-katanya karena jelas Athena tidak akan menyukai itu.


"Aku mencintaimu Athena, aku menyukaimu sejak lama" ucap Evan.


Laki-laki itu mendekati Athena dan membenamkan bibirnya ke bibir Athena, gadis itu merasakan tarikan lembut awalnya. Lama kelamaan semakin dalam, Evan menyusupkan lidahnya dan bermain-main di rongga mulut Athena. Sesekali Evan menghentikan aksinya dan berbisik.


"Aku mencintaimu, aku menginginkanmu. Balaslah ciumanku" ucap Evan yang melihat Athena masih ragu-ragu.


Athena yang diam tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya masih ragu, semakin ragu sejak mendengar pembicaraan Evan dan teman-temannya. Namun, sikap Evan yang agresif mau tak mau membuatnya kewalahan. Napas mereka memburu, jantung mereka berdegup kencang. Hingga akhirnya Evan melepaskan ciumannya.


"Aku ingin memperkenalkanmu pada orang tuaku, kamu mau kan?" tanya Evan.


Bibirnya masih menyentuh lembut bibir Athena. Gadis itu diam, karena setiap ingin membuka mulutnya Evan menyusupkan lidahnya. Laki-laki itu tersenyum.


"Kita ke rumahku sekarang ya?" tanya Evan.


"Ini sudah malam, Evan" ucap Athena.


"Belum terlalu malam, acaranya saja masih belum selesai. Tapi tak apa kita tidak mengikutinya, aku menunggu hari ini hanya untuk menjadikanmu pacarku. Pesta perpisahan itu sama sekali tidak penting bagiku" jelas Evan.


Evan masih terus menyentuhkan bibirnya di bibir Athena. Napas Evan berhembus lembut pipi gadis itu. Athena mengumpulkan perasaannya yang telah terpecah-belah, mengingat kembali saat diam-diam menyukai Evan.


Laki-laki yang selalu membuatnya berdebar-debar hanya dengan melihatnya dari jauh. Dan sekarang laki-laki itu begitu mengharapkan cintanya. Tak henti-hentinya bersikap mesra padanya. Athena berpikir lalu akhirnya mengangguk.

__ADS_1


"Sebentar aja ya, mama bilang jangan pulang terlalu malam" ucap Athena.


Evan mengangguk, dengan semangat Evan mengecup bibir Athena cepat lalu segera mengemudikan mobilnya.


"Udah sembuh kakinya?" tanya Athena.


"Udah kayaknya, dapat obat ampuh dari kamu" ucap Evan tersenyum.


Athena hanya tersenyum simpul. Mereka pun melaju ke kediaman keluarga Evan. Tak berapa lama kemudian mereka memasuki halaman sebuah rumah mewah. Evan mengajak Athena masuk ke dalam rumahnya. Tersenyum sambil menggenggam tangan Athena, Evan mencari orang tuanya. Hingga bertanya pada asisten rumah tangganya.


"Lagi ke luar kota, Den Evan nggak tahu?" tanya asisten rumah tangga itu.


Evan bertanya orang tuanya di depan Athena hingga gadis itu langsung tahu.


"Mungkin pulang sebentar lagi, gimana kalau kita tunggu di kamarku" usul Evan.


"Apa? di kamar?" tanya Athena tak percaya dengan ajakan Evan.


"Iya, nggak apa-apa, daripada di sini. Kalau teman-temanku main ke sini biasanya langsung ke kamar kok, ayuk" ucap Evan sambil menarik tangan Athena.


Mengajak gadis itu menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Athena keberatan tapi akhirnya mengikuti laki-laki itu. Athena memasuki sebuah kamar yang luas, bernuansa monokrom. Rancangan kamar yang memberi kesan elegan, modern, dan cozy.


Athena tersenyum melihat sekeliling, semua furniture yang menunjukkan kesan laki-laki sejati. Evan langsung memeluk Athena erat.


"Aku bahagia sekali, hari ini adalah hari terindah bagiku. Aku bisa memilikimu seutuhnya" ucap Evan sambil mempererat pelukannya.


Evan merenggangkan pelukannya, menangkup wajah Athena dan tersenyum.


"Tunggu di sini ya, aku ambilin minum untukmu" ucap Evan.


"Nggak usah Evan, nggak perlu. Aku nggak haus" ucap Athena hendak menghentikan Evan.


"Nggak apa-apa, masa tamu datang nggak di suguhi minum. Tunggu sebentar ya" ucap Evan kemudian berlalu di balik pintu.


Athena menghela napas kemudian tertunduk. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk duduk di meja belajar Evan. Melihat pernak pernik menarik di atas meja itu. Melihat beberapa buku catatan Evan.


Athena justru terbayang catatan Axel Cullen, catatan mereka mirip, penuh dengan angka-angka atau kata-kata ilmiah. Athena menghela napas berat lalu berdiri di balkon kamar itu.


Tiba-tiba Evan memeluk dari belakang. Athena kaget langsung menoleh dan Evan langsung mengecup bibir Athena.


"Itu minumnya, kamu suka jus kan? aku lupa tanya tadi" ucap Evan.


Athena mengangguk, Evan mengambilkan minuman itu untuk Athena. Gadis itu menerimanya sambil tersenyum.


Athena menuruti, meminum jus jeruk itu lalu tersenyum.


"Kita tunggu mommy dan daddy sebentar ya, kalau pulangnya masih lama. Aku antar kamu pulang, lain kali saja berkenalannya" ucap Evan.


Athena mengangguk, Evan memandang Athena.


"Kamu cantik sekali Athena, aku beruntung bisa memilikimu. Aku masih ingat dulu saat pertama kali melihatmu. Saat itu masih kelas X, kamu imut sekali. Aku sangat ingin mengenalmu tapi aku sendiri masih pemalu" ucap Evan sambil memeluk Athena.


"Aku juga menyukaimu sejak kelas X" ucap Athena.


"Benarkah? wah kalau begitu waktu kita terbuang sia-sia. Harusnya dari dulu aku menyatakan cinta padamu" ucap Evan.


Athena tersenyum dalam pelukan Evan, senyum yang hambar. Meski Athena mengumpulkan kembali kenangan-kenangan saat menyukai Evan. Mengingat kembali seperti apa dulu dia merindukannya. Namun, entah mengapa perasaan itu sekarang tak sebahagia yang dibayangkannya dulu.


"Evan, apa suhunya dinaikkan? kenapa rasanya gerah?" tanya Athena.


Inilah saatnya, batin Evan.


"Aku tidak menaikan suhunya, coba aku periksa ya" ucap Evan melepas pelukannya.


Athena menyanggul rambutnya dengan sebatang pensil. Evan menelan ludah saat melihat tengkuk putih Athena. Evan mengotak-atik ponselnya, melihat dan merekam gerak-gerik gadis itu. Meletakkan ponsel dengan posisi mengarah pada Athena. Laki-laki itu mendekat dan kembali memeluk Athena, langsung menciumi leher gadis itu.


"Kalau gerah lepaskan saja gaunmu" ucap Evan yang langsung menurunkan resleting gaun Athena.


Gadis itu mundur dengan ekspresi kesal.


"Evan, apa-apaan kamu?" tanya Athena sambil berjalan terhuyung.


"Udahlah, kamu juga pasti menginginkannya" ucap Evan sambil mendorong Athena ke ranjang.


Evan langsung mengambil posisi di atas gadis itu. Athena meronta, Evan menarik gaunnya. Athena bertahan dengan kepala yang terasa sakit. Athena menangis, meminta Evan melepaskannya. Namun, laki-laki itu justru semakin menjadi menciumi bibir Athena.


Athena mendorong Evan namun pandangan matanya semakin kabur. Athena semakin lemah, Athena masih tetap meronta meski semakin lemah. Gadis itu menangis memohon pada Evan untuk menghentikan perbuatannya.


Evan semakin bernapsu, menciumi bibir turun hingga ke leher Athena. Gadis itu meronta, tak rela dengan perlakuan Evan. Evan melepas kemejanya dan membuangnya sembarangan. Sementara dirinya masih menciumi leher Athena hingga turun ke bahu gadis itu.


Evan ingin menurunkan gaun Athena lebih kebawah lagi ketika tiba-tiba tubuhnya terbanting ke dinding dan jatuh pingsan. Athena menatap sosok yang berdiri di hadapannya. Sosok bayangan terang yang hampir menyerupai api.


"Axel?" ucap Athena berusaha untuk bangun.

__ADS_1


Sosok itu berlari keluar kamar, Athena segera mengikutinya.


"Axel tunggu" teriak Athena yang berlari dengan langkah yang limbung.


"Axel tolong aku" ucap Athena mencoba menggapai sosok yang menyala itu.


Sosok itu berjalan menuruni tangga. Athena mengejar hingga hampir terjatuh, sosok itu menunggu hingga akhirnya Athena berhasil menuruni tangga. Kembali sosok itu berlari hingga ke luar rumah.


Athena masih mengejar, masih memanggil nama Axel. Meski tidak ada balasan, di jalanan perumahan itu sosok itu berdiri menunggu. Athena mendekat sambil menangis.


"Axel, tunggu aku. Maafkan aku Axel, kembalikanlah padaku" ucap Athena sambil berusaha menyentuh bagian wajah sosok itu.


Namun bayangan itu semakin menyala hingga membuat silau mata Athena. Semakin terang hingga seperti terbakar lalu menghilang. Athena menjerit, jatuh bersimpuh memanggil nama Axel. Namun, sosok itu telah menghilang.


Athena menangis bersimpuh di pinggir jalan perumahan mewah itu. Gadis itu tak henti-hentinya memanggil nama Axel hingga sebuah mobil berhenti di dekatnya.


"Ya ampun nak, apa yang terjadi padamu?" tanya seorang ibu paruh baya yang masih sangat cantik.


Ibu itu merapikan pakaian Athena kemudian menghapus air mata gadis itu. Athena masih menangis, ibu itu kebingungan. Athena pingsan di pelukan ibu itu. Ibu itu akhirnya meminta tolong orang yang lewat untuk memasukkan Athena ke dalam mobilnya.


Athena pingsan, saat terbangun Athena merasa di tempat yang asing. Kembali gadis itu merasa panik.


"Tenanglah, kamu aman di sini" ucap ibu yang cantik itu.


Athena duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Gadis itu panik, sedih dan trauma. Ibu itu memeluk Athena, sambil mengusap-usap punggungnya.


"Jangan takut, kamu sudah aman di sini" ucap ibu itu lagi.


"Axel, jangan pergi" ucap Athena pelan.


"Siapa? Axel? di mana rumahmu nak?" tanya ibu itu melihat air mata Athena yang masih mengalir.


Athena tidak menjawab, gadis itu masih sesenggukan. Ibu itu akhirnya sabar menunggu Athena tenang. Ibu itu meminumkan air putih pada gadis itu hingga membuat Athena agak sedikit tenang.


"Tante, bisakah mengantarku pulang?" tanya Athena.


"Tentu, kamu akan Tante antar pulang. Tapi Tante ingin tahu kenapa kamu bisa ada di jalan seperti itu?" tanya wanita paruh baya yang cantik itu.


Terlihat ibu itu hampir se-usia dengan mamanya Athena. Terlihat sangat anggun, baik dan lembut. Dari gayanya seperti nyonya dari kalangan atas dan terlihat jelas dari kamar dimana Athena saat ini beristirahat. Kamar itu terlihat sangat megah.


Mendengar pertanyaan ibu itu, Athena kembali terisak. Ibu itu kembali mengusap punggung Athena.


"Saya di bawa pacar ke rumahnya tapi saat sampai di sana, saya dilecehkan" ucap Athena masih terisak-isak.


"Oh ya ampun nak, kasihan sekali kamu. Oh ya ampun tega sekali pacarmu itu melecehkan gadis secantik kamu. Kenapa bisa kamu di kerumahnya?" tanya ibu itu lagi.


"Dia ingin mengenalkan saya pada orang tuanya, tapi ternyata orang tuanya keluar kota. Dia ingin memaksa saya tante tapi untung ada Axel yang menolong saya" cerita Athena.


"Siapa? Axel?" tanya ibu itu.


"Tante mungkin tidak akan percaya, Axel itu temanku, dia hantu di sekolahku" ucap Athena.


"Apa? hantu? kamu ini mabuk? pemakai narkoba?" tanya ibu itu curiga.


"Nggak Tante, saya memang bisa melihat hantu" ucap Athena.


"Indigo?" tanya ibu itu lagi.


Meski kurang yakin dengan ucapan ibu itu namun akhirnya Athena mengangguk. Ibu itu akhirnya percaya dan bersyukur akhirnya Athena tertolong hingga tidak jadi ternoda.


"Tante pikir Axel siapa?" ucap ibu itu bicara sendiri.


Akhirnya Athena diantar pulang oleh ibu itu, Athena memohon untuk tidak menceritakan kejadian itu pada kedua orang tuanya. Athena tidak ingin membuat keduanya khawatir dan bersedih.


"Tante, maaf Athena tidak bisa menawarkan Tante mampir" ucap Athena.


Ibu itu mengangguk mengerti, jika dia turun dan mengantar Athena hingga ke rumahnya, orang tua Athena akan curiga dan bertanya kenapa bisa bersama dengan ibu itu dan bukannya dengan Evan.


"Saya akan ingat selalu kebaikan Tante" ucap Athena berterima kasih dan turun dari mobil ibu itu.


Setelah melambaikan tangan Athena masuk ke dalam rumah. Bersikap wajar seperti tidak terjadi apa-apa, mama Athena ingin bertanya kenapa Evan tidak mampir. Namun, melihat putrinya yang terlihat letih akhirnya membiarkan putrinya segera beristirahat.


Athena segera membersihkan diri kemudian berbaring di ranjang.


"Axel dimana kamu" ucap Athena.


"Aku di sini Athena"


Athena bangun mencari arah suara namun tak melihat siapa pun. Kembali gadis itu memanggil namun tak mendengar balasan apa pun.


Cuma halusinasiku saja, jerit hati Athena.


Gadis itu memejamkan mata sambil menangis.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2