
Athena dan Axel resmi bertunangan, semua bahagia. Pesta itu berjalan dengan meriah. Athena dan Axel menghampiri para undangan yang hadir untuk mengucapkan terima kasih. Kadang mereka menyapa bersama-sama, kadang terpisah.
Saat menyapa sendiri, tiba-tiba Athena melihat Axella. Athena terkejut dan segera melangkah cepat menghampiri tetapi, kakak kelas Axel itu justru pergi. Athena mengejar Axella hingga keluar dari gedung.
Gadis itu bertekad meminta maaf dan merelakan Axel berteman dengan Axella. Namun, ekspresi Axella yang sedih bercampur marah membuat Athena tak yakin bisa mendapatkan maaf dari gadis itu. Sorot matanya menunjukkan Axella sangat membenci Athena dan tak ingin sedikit pun berdekatan dengan gadis itu.
"Nikmati saja kebahagiaanmu. Jangan pedulikan aku. Aku harap hidup kalian tenang tanpa gangguanku," ucap Axella ketus.
Axella melangkah dengan hati penuh rasa marah, tergesa-gesa dan tak konsentrasi. Berlari menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan karena di malam hari, jalanan depan gedung itu terlihat sepi. Gadis itu tak menyangka tiba-tiba muncul mobil yang melaju kencang.
Athena yang melihat itu, berteriak dan mengejar. Namun, Axella tak mengindahkan peringatan gadis itu. Kemarahan membuat Axella mengabaikan teriakan gadis itu. Athena tak punya waktu berpikir lagi, segera mendorong tubuh Axella hingga gadis itu terpental dan jatuh.
Axella tak sadarkan diri, kepalanya terbentur beton pembatas trotoar. Sementara Athena tertabrak mobil hingga terpental beberapa meter di tengah jalan. Berguling beberapa kali hingga akhirnya terhenti. Athena seperti blank beberapa detik.
Gadis mengamati gaunnya, lengan, sikut, dan lainnya. Merasa tidak terluka, gadis itu segera menoleh ke arah tubuh Axella yang tergeletak. Athena terkejut, melihat gadis itu yang seperti tak sadarkan diri, segera Athena berlari menghampiri.
__ADS_1
"Athena!" jerit Axel mengagetkan Athena.
Langkah kakinya terhenti. Dengan heran menatap Axel yang menjerit sambil memeluk tubuh yang tergeletak di jalanan itu. Para tamu undangan berdatangan mendengar teriakan Axel, termasuk Athena.
"Kakak," ucap gadis itu pelan.
Seperti tak percaya diri untuk memanggil. Seperti merasa heran Axel yang menangisi orang lain. Athena merasa Axel salah memanggil, karena dia ada di sampingnya. Athena segera melangkah mendekati Axel yang menjerit dan menangis.
"Athena! Tidak! Aku mohon jangan seperti ini, Athena! Athena!" jerit Axel sambil terus memeluk tubuh yang terkulai lemah itu.
"Athena? Athena! Kenapa ini, apa yang terjadi? Kenapa anakku seperti ini?" jerit Anna dan langsung jatuh pingsan.
Gadis itu menatap bingung, air mata mengalir tanpa disadarinya. Axel dan ibunya memanggil sedangkan dia berdiri di situ menatap mereka. Ny. Anna bahkan jatuh pingsan. Athena menangis menatap ibunya terkulai lemas di pangkuan ayahnya.
Athena kebingungan menatap situasi itu. Meski menangis karena panik, tak ada satu pun yang peduli padanya. Tiba-tiba seorang tamu datang dan meminta Axel meletakkan tubuh Athena. Tamu itu memeriksa tanda-tanda kehidupan Athena. Saat itulah Athena melihat dengan mata kepalanya sendiri, tubuhnya yang terkapar di jalanan. Athena langsung menjerit.
__ADS_1
"Nggak! Nggak! Kakak, ini aku Kak, aku di sini Kak. Aku di sini Kak," jerit Athena memanggil Axel.
"Sebaiknya bawa ke rumah sakit segera!" ucap tamu undangan itu pada Axel.
Mendengar itu, Axel langsung menggendong tubuh Athena dan membawanya berlari menuju area parkir mobil. Athena langsung berlari mengikuti. Seseorang membantu mengantarkan mereka ke rumah sakit sementara Axel duduk di bangku belakang sambil memangku Athena.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia keluar gedung? Kenapa sampai kecelakaan?" tanya Axel pada dirinya sendiri.
"Maafkan saya dek, itu … tadi, saya tak melihat jalan. Karena jalanan di sini sepi, saya tancap gas karena harus segera pulang. Istri saya, mau melahirkan. Saya menyetir sambil menelpon, tiba-tiba hp saya terjatuh. Saya ingin segera ambil. Begitu menatap jalanan tiba-tiba di depan ada dua orang gadis yang berlari di tengah jalan. Saya kaget dan langsung injak rem, tapi terlambat, saya tetap menabrak mereka," ucap laki-laki itu sambil menghapus air matanya.
Terlihat raut kecemasan di wajahnya. Begitu tiba di rumah sakit Axel meminta kartu identitas laki-laki itu dan membiarkannya pulang menemui istrinya. Laki-laki itu sangat bersyukur karena Axel yang bersedia melepaskannya karena sejak tadi, laki-laki itu kebingungan apa yang harus dilakukannya.
Axel tak ingin menyandera laki-laki itu sementara kondisi istrinya sendiri dalam keadaan genting. Laki-laki itu tak melarikan diri dari tanggung jawabnya, bagi Axel itu sudah sangat baik. Axel juga tak ingin terjadi sesuatu yang buruk atas diri istri laki-laki itu dan bayinya.
Setelah berterima kasih pada Axel, laki-laki itu pun pergi meninggalkan rumah sakit. Meninggalkan Axel yang terpaku menatap paramedis menangani Athena. Laki-laki itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya air mata yang mengalir membasahi pipi hingga mengalir ke leher.
__ADS_1
Athena, bertahanlah sayang, aku di sini menunggumu, batin Axel lalu menghapus seluruh air yang membasahi wajah dan lehernya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...