
Hardy membuat rencana, setelah tugas karya wisata Axel selesai, Axel diminta kembali lagi ke kampung itu dan kembali menjalani hidup sebagai Hardy, seorang ponakan pemilik toko sembako.
Axel bersedia namun menekankan bahwa apa pun yang terjadi di belakang hari harus menjadi tanggung jawab Hardy. Hardy pun setuju, untuk sementara melakukan pertukaran ini selama satu minggu saat karya wisata Axel dilaksanakan.
Jadwal karya wisata berakhir, Axel bersiap-siap untuk pulang. Remaja tampan itu duduk sendiri menunggu keberangkatannya kembali ke kota, Yadi mendatanginya. Axel diminta mengikuti Yadi, mereka pun bertemu dengan Hardy.
"Janji ya loe bakal kembali lagi, gue tunggu kedatangan loe secepatnya, Ok!" tanya Hardy sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Axel menoleh ke arah Yadi, laki-laki itu hanya menggelengkan kepala pelan sambil mengangkat bahunya. Axel kembali menoleh pada Hardy yang masih mengulurkan tangannya.
"Semua yang terjadi adalah tanggung jawabmu, Bang Yadi jadi saksinya. Aku tak mau di salahkan karena semua rencanamu," ucap Axel.
"Deal," ucap Hardy sambil menghentakan tangannya.
Axel menyambut uluran tangan itu, mereka sepakat akan bertemu beberapa hari lagi. Axel pun kembali ke rombongan karya wisatanya. Kembali pulang ke rumah megah keluarga Cullen. Axel segera menyelesaikan tugas karya wisatanya. Anak cerdas itu dengan mudah membuat laporan meski tak menghadiri satu kegiatan apa pun. Pengetahuannya tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi melebihi pengetahuan teman-temannya yang berkunjung langsung ke lokasi.
Tak terlihatnya Axel selama karya wisata tak menjadi perhatian orang-orang, karena Axel memang senang menyendiri. Tak suka bergabung, tertawa dan menghabiskan waktu bersama teman-teman sekelasnya. Asalkan dia datang tepat waktunya saat berkumpul di penginapan semua akan aman-aman saja.
Dan sekarang Axel telah naik bus antar kota untuk kembali ke kota kecil itu demi menjalankan rencana Hardy. Orang tua Axel yang sibuk tak pernah mengurusi kegiatan putranya. Masa-masa bermanja-manja dengan orang tua telah berlalu sejak Axel menduduki bangku SMP.
Orang tua Axel mengaggap putranya sudah cukup dewasa untuk menjalani kehidupannya sendiri. Anak cerdas itu dianggap mampu mengambil keputusan hidupnya sendiri. Orang tua Axel menganggap selama fasilitas disediakan, remaja seusia itu justru ingin memiliki kehidupan pribadi yang tak ingin diganggu.
Axel anak yang cerdas dan watak Axel bukanlah watak perusak ataupun pemberontak dan itu membuat orang tuanya percaya padanya hingga leluasa meninggalkan putranya untuk mengurusi perusahaan mereka di Amerika.
Namun, tanpa mereka sadari dibalik diamnya Axel tersimpan kesedihan karena merasa diabaikan, kerinduan kasih sayang orang tua dan kesepian. Karena sebagian besar hari-hari di rumah mau pun di sekolah dilaluinya seorang diri. Hal itu berlanjut hingga anak itu menginjak Sekolah Menengah Atas.
Axel remaja merasa lebih senang menyendiri. Namun bersyukur anak itu lebih suka membaca buku dalam menjalani kesendiriannya.
Dan kali ini Axel menemukan sesuatu yang baru, bertemu dengan orang-orang yang membutuhkannya. Mengajaknya bicara setiap hari, bertanya pendapatnya setiap saat dan peduli padanya.
Axel resmi menggantikan posisi Hardy di rumah paman anak itu. Sementara dia bekerja full time di restoran dan tinggal di gudang restoran. Makan dan tempat tidur semua ditanggung restoran. Membuat hati Hardy senang, membayangkan penghasilannya yang utuh masuk kantongnya.
Sesekali menemui Axel dengan pertolongan Yadi untuk meminta di bawakan pakaian dan keperluan lainnya. Selanjutnya Axel menjalani hidup sebagai Hardy, keponakan sang paman yang tak memiliki anak. Axel mendapat limpahan perhatian dan kasih sayang karena menurut sang paman, Hardy telah berubah. Lebih cerdas, lebih patuh dan lebih semangat bekerja. Sang paman dan istrinya semakin sayang pada Hardy yang notebene adalah Axel.
Dalam setiap kesempatan Axel memberi pandangan dan pendapatnya tentang cara berdagang yang baik. Meski kaget dengan perubahan Hardy namun karena senang sang paman tidak peduli dengan perubahan yang begitu mencolok itu.
"Hardy, tolong kirimkan pesanan ini ke warung pak Yusuf ya Nak!" perintah pak Budi dengan nada lembut.
"Baik Paman, Pak Yusuf yang mana ya Paman?" tanya Axel alias Hardy.
"Loh kok lupa? Pak Yusuf yang punya warung dan anak gadis yang cantik itu," ucap Budi.
"Gadis yang cantik mana? Aku cemburu nih Pak," ucap Bibi Hayati.
"Oh itu, anak gadis pak Yusuf, dulu Hardy sendiri yang bilang kalau anak gadis pak Yusuf itu cantik. Jadi Bapak ingetin dia Bu, biar dia ingat," ucap Budi.
Mana aku ingat, aku saja tak pernah bertemu dengannya, batin Axel.
"Pak Yusuf yang di sebelah kanan atau yang sebelah kiri Paman?" tanya Axel berusaha mencari informasi.
"Emang ada Yusuf yang lain?" tanya Budi.
"Kemarin ada yang berbelanja, saya tanya namanya katanya Pak Yusuf jadi saya pikir dia pelanggan kita juga," jelas Axel.
Meski merasa heran dan berpikir keras tapi Paman Budi, tak mengenal ada yang bernama Yusuf yang lain.
Mungkin pembeli biasa, aku tidak tahu ada nama pelanggan Yusuf yang lain, batin Budi.
"Yang di sebelah kiri ini lho nak, warungnya kira-kira tiga ratus meter dari sini," jelas Budi.
"Oh, pak Yusuf yang itu, baiklah Paman," ucap Axel langsung.
Naik ke sepeda motor yang membawakan barang-barang pesanan. Axel mengira-ngira warung berjarak tiga ratus meter ke sebelah kiri. Dan benar Axel melihat sebuah warung yang menyediakan tempat orang duduk-duduk sambil meminum kopi atau memesan mie instan.
Axel mengetuk meja warung yang sepi tak ada penjaga itu.
__ADS_1
"Permisi, Pak Yusuf!" panggil Axel.
"Oh Kak Hardy! Antar pesanan bapak ya Kak?" tanya seorang gadis yang baru keluar dari balik pintu berhordeng itu.
Berarti benar, ada anak gadisnya dan memang memesan barang-barang pada Paman, batin Axel.
"Pak Yusuf nya ada? Ini bon nya?" tanya Axel.
Laki-laki itu ingin lebih menyakinkan kalau pemilik warung itu memang bernama Yusuf.
"Kak Hardy ini ada-ada aja, 'kan biasanya jam segini masih di kelurahan," jawab gadis itu menjawab dengan malu-malu.
Berarti benar bernama Yusuf, punya anak gadis dan cantik seperti yang dibilang paman tadi, batin Axel.
"Duduk dulu ya Kak, aku ambil uangnya dulu," ucap gadis itu.
Axe mengangguk lalu menatap sekeliling isi warung, tersedia bermacam-macam makanan kecil, minuman sachet yang di gantung berjejer. Showcase penuh berisi minuman-minuman ringan. Gadis itu muncul dan melihat Axel yang sedang menatap showcase.
"Kak Hardy haus? Aku buatkan es teh mau?" tanya gadis itu.
"Oh tidak usah, aku buru-buru takutnya ada kerjaan lagi dari Paman," jawab Axel. Gadis itu tertawa.
"Kenapa?" tanya Axel.
"Biasanya kalau di tawari minum Kak Hardy pasti mau dan bahkan suka berlama-lama di sini. Kak Hardy bilang males banget cepat-cepat kembali ke toko. Takut di kasi kerja yang lain lagi," ucap gadis itu kembali tertawa.
Axel mengangguk sambil tersenyum, baru mengetahui satu sifat Hardy. Axel ingin tahu hubungan Hardy dengan gadis itu tapi tak tahu bagaimana cara membongkarnya.
"Sudah berapa lama ya kita berkenalan?" tanya Axel.
"Aku ingatnya waktu aku kelas dua SMP dan Kak Hardy kelas tiga SMP," jawab gadis itu.
"Sudah lama juga ya, hampir setahun?" ucap Axel.
"Ya, tapi ...," ucap gadis itu terputus.
"Sudah selama itu Kak Hardy ... masih saja mempermainkanku, seperti suka, seperti tidak suka, Kak Hardy, aku tidak suka kalau melihat Kakak ngobrol dengan Siti. Siti selalu bilang kalau Kak Hardy udah pacaran dengannya, benar itu Kak? Kak Hardy pacaran dengannya? Siti bilang Kak Hardy pernah menciumnya, benarkah? Lalu bagaimana denganku, Kak Hardy juga pernah bilang suka padaku, apa aku juga pacar Kak Hardy," ucap gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Sial, ternyata Hardy itu Playboy, tebar pesona sana sini, kasihan gadis ini, batin Axel.
Axel yang tak pernah peduli dengan perasaan seorang gadis sebelumnya sekarang harus berhadapan dengan seorang gadis yang menuntut pernyataan cinta darinya. Di sekolahnya, Axel bahkan tak pernah tahu wajah gadis-gadis sekelasnya.
"Maaf ya, aku belum bisa menjawab sekarang, aku pergi dulu ya," ucap Axel yang segera mengambil bayaran dari barang-barang pesanan Pak Yusuf.
Laki-laki itu segera berjalan ke arah motornya. Sekilas menoleh kembali pada gadis itu. Terlihat gadis itu sedang menunduk sambil menghapus air matanya. Hati Axel terenyuh, tak suka melihat sikap Hardy yang mempermainkan gadis yang masih duduk di bangku SMP itu.
Axel kembali ke toko sembako dengan pikiran yang berkecamuk.
Aku tak boleh ikut campur, itu urusan Hardy. Aku tak boleh berhubungan dengan segala sesuatu yang bersifat emosional, batin Axel.
Laki-laki itu kembali ke toko namun pikirannya masih tertinggal di warung Pak Yusuf. Meski tak ingin memikirkannya tapi sejak melihat ekspresinya, bayangan gadis itu tak bisa lepas lagi dari pikirannya. Tatapan gadis itu seolah-olah mengiba padanya berharap kepastian darinya.
Axel memutuskan tak peduli pada perasaan gadis itu karena dalam pikirannya yang diharapkan gadis itu bukanlah dirinya. Yang dicintai gadis itu bukanlah dirinya dan Axel berharap bisa tak acuh padanya.
Axel kembali menjalani harinya sebagai keponakan Pak Budi dan saat ada kesempatan bertemu dengan Hardy, Axel langsung memaki laki-laki itu atas perbuatannya yang memberi harapan palsu pada putri Pak Yusuf.
"Hani? Dia cantik, aku suka padanya, tapi aku tidak berani berbuat terlalu jauh padanya. Aku takut sama Pak Yusuf. Kalau Siti orangnya bebas, orang tuanya juga berjiwa bebas. Lagi pula Siti itu hot, kalau dirayu dia mau beri apa saja. Kalau Hani paling cuma bisa kasih ciuman," jelas Hardy.
"Apa? Apa kalian sudah sejauh itu? Gila masih kelas tiga SMP?" tanya Axel.
"Emang tunggu kelas berapa? Siapa yang masih bertahan perawan hingga kelas tiga SMP di kampung ini. Ya, paling cuma si Hani itu karena semua orang takut bapaknya yang galak," jelas Hardy.
"Trus kalau Siti itu minta pertanggungjawaban gimana? Aku tidak mau ikut campur urusan kalian. Kalau mereka minta pertanggungjawaban padaku, aku akan buka rahasia kita ...,"
"Jangan! Tenang aja, Siti tak mungkin minta pertanggungjawaban pada kita ...,"
__ADS_1
"Kita? Loe kali," sela Axel.
"YA! maksudnya itu gue, karena yang jebolin dia duluan bukan gue. Dan setelah gue, dia juga deket sama cowok lain, jadi gue aman!" seru Hardy.
Axel kesal mengalihkan pandangannya ke arah lain. Muak setelah tahu sifat Hardy yang menganut pergaulan bebas.
"Loe nggak suka salah satu dari mereka? Mereka itu kembang-kembang kampung ini," ucap Hardy.
"Nggak! Gue nggak mau terlibat dengan urusan asmara kalian," ucap Axel tegas.
"Ya udah!" ucap Hardy.
Dan begitulah, semua hanya sekedar curhat. Axel yang semakin sering mengantarkan pesanan Pak Yusuf semakin sering bertemu dengan Hani. Axel terpaksa selalu menghibur hati gadis itu dengan berkata kalau dirinya tidak ada hubungan apa pun dengan Siti.
Namun, itu justru membuat mereka semakin dekat. Ketulusan hati Hani yang tabah menunggu kepastian cinta darinya meski tak mendapat pengakuan dari Hardy membuat hati Axel luluh.
"Aku suka sama kamu Hani, aku cinta sama kamu," ucap Axel akhirnya setelah tak tahan melihat air mata gadis itu yang meleleh saat bercerita tentang gosip-gosip hubungan Hardy dengan Siti.
"Jadi Kak Hardy nggak cinta sama Siti?" tanya Hani.
Axel menggeleng, pernah sekali bertemu dengan gadis yang bernama Siti yang tiba-tiba memanggilnya dan mengajaknya main ke rumah gadis itu.
"Kak Hardy, ke rumahku yuk! Bapak dan ibu pergi ke rumah nenek, mereka nginap di sana. Temani aku malam ini di rumah yuk! Aku takut sendirian," ucap Siti.
Jika bukan karena ingin menjaga kesopanan, Axel mungkin sudah muntah saat itu juga. Seorang gadis mengajak laki-laki menginap di rumahnya saat orang tuanya pergi. Axel menggelengkan kepalanya dengan kuat, detik itu juga Axel meminta dengan tegas pada gadis bernama Siti itu kalau dia tidak berminat lagi menjalin hubungan dengannya.
"Kok Kak Hardy gitu sih? Setelah apa yang kita lakukan. Kak Hardy seenaknya memutuskan hubungan denganku?
" tanya Siti.
"Yang melakukan itu padamu 'kan banyak. Jadi ajak saja mereka, kalau aku sudah cukup. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan apapun denganmu, teman, pacaran, atau hubungan tanpa status semua tak ada di antara kita. Kamu bisa dengan mudah mencari laki-laki yang lain sebagai penggantiku," ucap Axel tegas.
"Kenapa? Apa karena si Hani itu? Apa Kak Hardy memilihnya? Apa Kak Hardy suka padanya? Cinta padanya?" cecar Siti.
"Ya, ya, ya, aku memilihnya, aku suka padanya, aku cinta padanya," ucap Axel menjawab pertanyaan dengan bertubi-tubi.
Awalnya ucapan itu hanya untuk mengusir jauh gadis bernama Siti itu tapi beritanya justru meluas. Karena kesal Siti curhat pada teman-teman laki-lakinya, kalau Hardy menolaknya dan memilih Hani. Padahal Siti melakukan itu untuk meraih simpati dari laki-laki lain di kampung itu tapi karena keberanian Axel menyukai putri seorang bapak yang galak, mereka merasa salut dan berita pun tersebar.
Hani bahagia mendengar kabar itu dan langsung menanyakannya pada Axel. Axel yang tak tega menyakiti hati Hani akhirnya mengiyakan. Sejak saat itu Hani, menjadi pacar Axel. Meski hati laki-laki itu masih setengah yakin.
Namun lama kelamaan hubungan mereka semakin serius. Hingga saat Axel harus kembali ke kota melanjutkan sekolahnya karena masa liburan yang telah habis. Axel menceritakan semuanya pada Hardy kalau dia telah menyatakan cinta pada Hani, dan berharap Hardy akan serius melanjutkan cintanya pada Hani.
Hardy melihat rasa enggan dalam diri Axel meninggalkan Hani. Hal itu di pergunakan Hardy untuk menyampaikan rencananya.
"Kita lanjutkan pertukaran identitas ini, gue yang akan kembali ke kota menggantikan loe sementara loe tetap di sini pacaran dengan Hani. Gimana?" tanya Hardy.
"Mana bisa seperti itu, kamu akan ketemu dengan teman-teman sekolahku. Orang tuaku, kalau mereka kembali dari luar negeri. Mana bisa seperti itu," ucap Axel.
"Hey, Axel. Loe aja ketemu sama orang-orang di sekitar gue. Gue nggak masalah tuh, bahkan loe udah merebut gadis incaran gue. Bagi gue nggak masalah juga tuh, kenapa giliran gue masuk dalam kehidupan loe, loe nggak izinin" tanya Hardy.
"Karena aku takut kamu akan mengacaukan kehidupanku," jawab Axel.
"Nggak akan, gue akan berakting kayak loe. Sekarang aja loe menghancurkan hidup gue, gue nggak masalah. Loe udah menerima cinta cewek yang bapaknya galak itu. Di mata bapaknya yang galak itu, gue pacar anaknya. Gue! Apa nggak masalah tuh?" tanya Hardy.
Axel tercenung, separuh hatinya tak ingin meninggalkan Hani pada laki-laki di hadapannya itu. Separuh lagi takut kehidupan seorang Axel rusak karena tingkah laki-laki itu. Namun, Axel telah terlanjur cinta pada Hani dan tak ingin meninggalkannya.
Axel akhirnya menyetujui perpanjangan pertukaran identitas mereka.
"Tapi dengan aturan setiap tanggal satu kita bertukar tempat lagi. Kita kembali ke kehidupan masing-masing setiap kali tanggal satu. Jika ingin diperpanjang tanggal satu bulan depannya kita lakukan pertukaran lagi. Aku harus kembali untuk memantau kehidupanku yang kamu jalani selama satu bulan," usul Axel.
Lumayan lah, setiap sebulan sekali menjadi orang kaya, batin Hardy.
"Baiklah, setuju," ucap Hardy.
Mereka sepakat memperpanjang pertukaran identitas itu sebulan sekali. Sebulan menjadi diri yang sebenarnya, sebulan menjadi orang lain. Awalnya perjanjian itu hanya untuk satu bulan. Namun, dengan masing-masing alasan, pertukaran itu akhirnya berlangsung selama berbulan-bulan.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...