
Athena langsung bangun terduduk saat tiba-tiba mendengar suara Axel. Suara itu terdengar sangat dekat dan jelas.
"Axel, apa yang kamu lakukan ? kenapa aku bisa mendengar suaramu" tanya Athena.
Ini memang aneh, semakin lama kemunculan Axel semakin tidak jelas, kadang muncul disiang hari namun dengan tampilan seperti hologram rusak, timbul tenggelam, bergoyang-goyang seperti televisi yang sudah masuk masa pensiun.
Dihari lainnya tampilan terlihat jelas namun sound system nya kayak lagi mute, sementara tadi tampilan tak terlihat namun suaranya terdengar jelas dan sangat dekat. Jika Athena belum mengenal Axel sebelumnya, gadis itu pasti sudah pontang panting melarikan diri.
Seperti di film-film, terdengar jelas ditelinga namun tak terlihat wujudnya. Hiiii....
"Kamu kok nggak jawab sih, tadi bisa" ucap Athena mulai merinding.
Jangan-jangan yang menjawab tadi bukan Axel, Athena ketakutan langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Mendadak timbul penyesalan karena mengajak Axel kembali kerumahnya. Berhubungan dengan makhluk seperti itu memang perlu kekuatan jantung yang ekstra.
Salah-salah bisa terkena serangan jantung, sekarang jantung Athena berdebar kencang. Meski telah bersembunyi di balik selimut tapi kalau difilm-film horor selimut ditarik hantu perlahan lalu muncul sambil tersenyum dengan wajah yang seram.
Athena gemetaran.
"Jangan takut, aku di sisimu" terdengar suara Axel.
Athena langsung membuka selimutnya.
"Jadi yang tadi emang beneran kamu ? kenapa nggak ngomong ? aku jadi ketakutan" protes Athena.
"Aku harus dekat denganmu, berbisik di kupingmu" ucap Axel
"Hah.." ucap Athena terkejut, langsung menyentuh telinganya, eh kupingnya.
Axel bisa bicara denganku tanpa wujud namun harus berbisik. Mungkin seperti itulah caranya hantu-hantu menakuti manusia, pikir Athena.
"Seberapa dekat ?" tanya Athena ragu-ragu.
"Sangat dekat, hampir menempel padamu" ucap Axel.
"Haaa... ya udah kalau gitu jangan ngomong lagi tunggu aja di pergantian waktu" ucap Athena kembali menyelimuti tubuhnya hingga ke kepala.
Gadis itu menggigit kuku ibu jarinya, wajahnya bersemu merah.
Menempel dengan Axel, hiii.. serem serem enak, batinnya sambil cekikikan pelan kemudian sadar dan langsung memukul keningnya dengan kepalan tangannya berkali-kali.
Sebelum pagi menjelang, saat langit masih gelap Athena sudah membuka matanya. Perlahan membuka selimut yang menutupi kepalanya. Namun yang ingin dilihat masih belum muncul. Athena merasa mungkin ini belum waktunya.
Athena tidak sabar, memiringkan tubuhnya ke kanan lalu ke kiri, lalu ke kanan lagi.
Kapan munculnya, ada jam nya nggak sih ? batin Athena.
Gadis itu kembali memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri, langsung terbelalak. Axel tersenyum sambil berbaring di sampingnya. Athena langsung bergegas ingin duduk, namun Axel menahan tubuhnya mereka berbaring sambil berhadapan sangat dekat.
Jantung Athena berdebar kencang, belum pernah berbaring sedekat ini dengan laki-laki.
Bodo amatlah, Axel kan bukan manusia, tak ada norma dan aturan buatnya, batin Athena sambil memandang wajah tampan itu.
Tapi hatiku jadi seperti berselingkuh, aku suka Evan tapi malah berbaring deketan sama hantu ini, batin Athena.
Axel masih terus tersenyum entah apa yang dipikirkannya. Lalu semakin mendekat, meraih tengkuk Athena lalu berusaha mencium bibirnya.
"Kamu kenapa sih begini terus ?" tanya Athena sambil menjauh.
"Aku pernah liat anak-anak di rooftop melakukan itu" ucap Axel.
"Itu namanya berciuman, atas dasar apa aku ciuman sama kamu ? kamu kan bukan pacarku" ucap Athena.
"Pacaran dulu baru ciuman ?" tanya Axel.
"Iya lah, emang kamu nggak gitu, punya pacar dulu baru ciuman ?" tanya Athena.
"Belum sempat, kan aku matinya kelas X " jawab Axel
"Kasian amat, lah dulu kamu meledek aku udah segede ini belum pernah ciuman, lah kamu sendiri juga belum. Huuu.. dasar" ucap Athena sambil melempar bantal kearah Axel.
Hantu laki-laki itu tertawa.
"Makanya ayo latihan dulu sebelum pacaran benaran" ucap Axel.
"Ogah, kalau aku mau nanti sama cowok yang aku cintai" ucap Athena.
"Siapa ? cowok yang waktu itu ? yang bantuin kamu mungutin buku ?" tanya Axel.
"Kok kamu tau ?" tanya Athena lagi.
"Kan aku udah bilang kalau aku ikut kamu ke sekolah waktu itu, aku liat matamu hampir keluar liatin cowok itu, liurmu sampai tumpah" ucap Axel.
"MANA ADA !!!!" jerit Athena.
Axel tertawa. Athena kembali melempar bantal ke arah Axel, laki-laki itu berdiri menjauh.
"Ya iya tapi yang mukulin kepala sampai buku ku lecek, siapa ?" tanya Axel sambil tertawa.
Athena langsung mencubit pinggang Axel, laki-laki itu bukan kesakitan, namun kegelian. Lalu meraih kedua tangan Athena, jantung Athena langsung berdebar.
"Kamu ingin tau seperti apa aku berbisik padamu ?" tanya Axel.
Athena cuma diam, kedua tangannya masih digenggam Axel. Hantu laki-laki itu langsung bergerak mendekat seperti memeluknya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu, nyaris menyentuhnya lalu berbisik.
__ADS_1
"Aku suka padamu" ucap Axel.
Jantung Athena serasa mau meledak segera gadis itu melepaskan tangannya dan segera mendorong Axel. Axel kembali tertawa.
"Ada yang mau aku tanyakan padamu" ucap Athena segera, ingin mengalihkan pembicaraan.
"Apa ?" tanya Axel berdiri bersandar di meja belajar Athena.
"Apa ya ?" gadis itu jadi lupa apa yang ingin ditanyakannya.
Padahal saat Axel tidak nyata banyak sekali yang ingin ditanyakannya. Gadis itu kembali memukul kepalanya dengan kepalan tangannya, Axel langsung meraih tangan gadis itu. Menghentikan Athena memukuli dirinya sendiri.
"Oh... itu saat siang hari waktu itu kenapa kamu bisa terlihat olehku tapi sangat tipis dan terlihat kacau, lalu kemarin kamu terlihat jelas tapi suaramu nggak kedengaran, lalu pas semalam aku bisa dengar suaramu dengan jelas, kenapa bisa begitu ?" tanya Athena.
"Tak tau" jawabannya singkat.
"Huuu... udah pertanyaannya panjang kali lebar, jawabannya cuma segitu, mengecewakan !!!" ujar Athena.
"Nanti aku akan cari tau, ok princess" balas laki-laki itu pelan tepat didepannya.
Athena tercenung, laki-laki itu selalu membuat jantungnya berdebar.
Aku rasa saat hidupnya, dia ini playboy kelas berat ini, apapun yang dilakukannya, apapun yang diucapkannya bikin jantung ku berdering eh... berdebar, batin Athena.
Maklumlah dengan tampang seperti itu dengan pesona seperti itu siapa yang tidak akan tergoda dengannya.
Kayaknya Evan kalah jauh ini, oh Tuhan jangan biarkan hatiku selingkuh, biarkan cintaku hanya untuk Evan, batin Athena.
"Hari ini kamu akan ikut aku ke sekolah ?" tanya Athena.
"Hm, aku ikut kamu kemanapun kamu pergi" ucap Axel.
Athena tersenyum.
"Aku akan coba cari tau informasi tentang dirimu" ucap Athena.
"Sungguh ? kalau gitu aku akan bantu kamu mendapatkan cintamu" ucap Axel.
"DEAL" ucap Athena cepat, mengulurkan tangannya.
Axel diam memandangi tangan Athena dengan wajah yang berkerut. Athena meraih tangan Axel dan menjabat tangannya.
"Aku belum tentu setuju, kenapa main paksa ?" tanya Axel.
"Trus apa dong, kamu sendiri yang menawarin untuk bantu aku dapatin cintaku sekarang malah protes" ujar Athena cemberut.
"Kalau informasi tentang aku bisa kamu dapatkan ? apa gunanya untukku, emang itu bisa bikin aku hidup lagi ? sementara kalau aku bisa bikin kamu dapatin cinta kamu, kamu pasti happy trus ninggalin aku, NO DEAL" ucap Axel.
Athena terdiam.
"Kalau kamu mau bantuin aku dapatin Evan, aku latihan ciumannya sama kamu" ucap Athena yang langsung disesalinya.
"Ok.. DEAL" jawab Axel langsung meraih tangan Athena dan mengguncangnya sekuat mungkin.
"Kamu kok napsu banget sih ? ceritanya yang terobsesi pada ciuman pertama itu aku, apa kamu ?" tanya Athena.
"Dua-duanya, yuk latihan sekarang" ucap Axel langsung memeluk Athena dan beraksi ingin menciumnya.
"Ih.. jangan sekarang Axel" ucap gadis itu mengelak.
Tapi Axel seperti tidak mendengar ucapannya, laki-laki itu terus saja berusaha mendekatkan bibirnya pada Athena.
"Jangan Axel, jangan.., jangan.., "
Bibir Axel hampir menyentuh,
"Jangan, jangan ya.. ya.. ya.. ya"
Sedikit lagi, Athena memejamkan mata.
Ya.. ya.. ya...
Blessss.. Tiba-tiba Axel menghilang, Athena tertawa, sampai ngakak. Kayaknya Axel juga..
Huu.. hampir saja, bibirku ternoda dengan ikhlas, batin Athena.
Lalu buru-buru masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Athena turun kelantai bawah, dimeja makan sudah tersedia ayah dan ibunya, emangnya mereka makanan, hahaha..
Maksudnya sudah ada papa dan mamanya, mereka duduk dimeja makan. Menantap wajah anaknya yang berseri-seri, merekapun saling berpandangan.
"Ma, kenapa mama ngasih nama Athena. Bukankah itu nama ibukota negara Yunani ? tolong dijawab karena menjadi pertanyaan terbesar dalam hidupku selama tujuh belas tahun ini" tanya Athena.
"Hey, umurmu saja baru tujuh belas tahun masa dari bayi kamu udah mikirin pertanyaan itu" ucap mama Athena.
Gadis itu langsung garuk-garuk kepala, ya juga sih, makanya kalau ngomong jangan suka lebay... hehehe..
"Karena mama baru sadar kalau sedang hamil kamu saat merayakan ulang tahun pernikahan kita di Yunani ya kan Pa ?" ucap mama Athena minta dukungan papa Athena.
Papa Athena mengangguk.
"Athena itu juga nama seorang dewi, putri kesayangan dewa Zeus, bukan ?" tanya Athena.
"Bukan eh.. betul" ucap papa Athena.
__ADS_1
"Athena adalah Dewi Kebijaksanaan, Dewi Perang yang menolong para pahlawan Yunani, Dewi seni dan kerajinan, benarkan ?" tanya Athena.
"Benar" jawab papa Athena.
"Athena diberkahi kekuatan dari ayahnya sedangkan kepandaian dan kebijaksanaan dari ibunya, betul ?" tanya Athena.
"Betul"
"Dewi Perang yang memilih menyelesaikan masalah dengan kebijaksanaan, benar kan ?" Athena lagi.
"Benar"
"Semuanya maknanya baik tapi kok Athena nggak kayak gitu ? Dewi Kebijaksanaan, Athena malah ceroboh, Dewi Perang, Athena justru penakut, Dewi seni dan kerajinan Athena justru pemalas dan nggak punya jiwa seni. Kok nggak ada yang jadi kenyataan sih mam ?" tanya Athena merengut.
"Namanya juga doa dan harapan, yah nggak mungkin semua kesampaian kan ?" ucap mama Athena yang bijaksana seperti Dewi Metis ibunda Dewi Athena.
"Tapi ada juga yang mirip sama kamu" ucap papa Athena.
"Apa itu pa ?" tanya Athena semangat.
"Athena itu adalah dewi yang luar biasa cantik" ucap papa Athena.
"Benarkah ? itu jadi kenyataan ?" tanya Athena yang dibalas oleh anggukan oleh kedua orang tuanya.
Athena sangat senang dengan mitos yang satu itu.
"Selain itu ada juga yang mirip sama kamu" sambung papa Athena yang diikuti rasa penasaran oleh Athena.
"Athena juga dikenal sebagai parthenos dan pallas artinya gadis perawan, jadi Athena juga dijuluki Dewi Perawan karena tidak memiliki suami atau kekasih" jelas papa Athena lagi.
"Haaaaa... makanya sampai sekarang Athena masih belum punya pacar, huaaa.. haaa.." ucap Athena mewek.
Papa dan mama Athena malah tertawa. Ssstt diam-diam aja ya, yang tertawa bukan cuma papa dan mama Athena tapi Axel juga.
"Jangan terlalu dipikirkan dan jangan terlalu dipercaya" ucap mama Athena.
Sejak mengetahui makna dari namanya Athena berangkat ke sekolah dengan wajah murung dan langkah gontai, kehilangan semangat.
Gimana mau dapetin Evan, orang sejak lahir udah dikutuk jadi perawan, batin Athena.
Jika sedang berjalan malas-malasan maka gadis itu akan berjalan sambil menendang, nendang kaleng, nendang batu, nendang orang eh.. nggak deh.
Kali ini nendang gelas plastik kemasan air mineral, dari ujung sana gelas plastik itu sudah digiring hingga hampir ke sekolah. Gadis itu menendang lagi namun mengenai seorang nenek. Athena kaget, nenek itu melihat kebelakang merasa ada yang menyentuhnya. Athena merasa bersalah lalu menghampiri.
"Nenek maaf saya tidak sengaja, nenek tidak apa-apa ?" tanya Athena yang dibalas dengan anggukan dan senyuman.
"Barang belanjaan nenek banyak sekali mari saya bawakan" ucap Athena saat melihat barang bawaan si nenek yang begitu banyak.
"Berat cu, nggak usah" jawab si nenek.
"Nggak apa-apa nek, rumah nenek dimana ?" ucapnya sambil meraih kedua kantong plastik besar itu.
Athena memang sudah biasa mengangkat barang belanjaan yang berat, si mama kalau belanja di pasar tradisional suka belanja stock sampai sebulan hehehe.. nggak juga sih.. pokoknya beli stock yang banyak, alasannya nggak ngabisin ongkos kalau sering bolak balik. Dasar si mama pelit.
Dan Athena lah yang membawakan barang belanjaannya. Meski Athena anak yang pemalas dan suka malas-malasan tapi kalau menyangkut membantu orang dia tak pandang bulu, mau bulu tebal, halus atau keriting.
Axel tersenyum melihat kebaikan hati Athena, gadis itu terlihat tulus, sambil membawakan belanjaan nenek itu Athena berbincang dan tertawa.
Kamu memang seorang Dewi, kamu suka menolong, kamu sama sekali tidak pemalas.
Kamu bijaksana saat mengambil satu bakpao dan memberikan sisanya bagi anak kecil itu.
Dewi Perang juga cocok untukmu, kamu pantang menyerah, pantang mengalah saat adu argumen melawan guru-gurumu, batin Axel.
Untuk sifat yang terakhir Axel tertawa cekikikan.
Athena mengantar nenek itu sampai kerumahnya, yang ternyata tak jauh dari sekolahnya. Athena kembali melangkahkan kaki menuju sekolahnya, setelah berbincang dan tertawa bersama nenek itu, Athena jadi lupa kesedihannya.
Kembali berjalan riang menuju kelasnya, Athena melirik seorang siswi yang berjalan dengan pandangan kosong.
Pucat banget wajahnya, kayak belum makan atau lagi sakit, batin gadis itu.
Athena ingin menyapa gadis itu tapi keburu bel masuk berbunyi. Akhirnya Athena memilih masuk ke kelas, saat istirahat Kimmy mengajak Athena ke aula. Evan sedang bermain basket disana, Athena pun semangat mendatangi aula.
Jika Evan yang main, Athena tidak sekedar duduk di tribun namun berdiri dipinggir lapangan seperti suporter lainnya. Seperti biasa gadis itu semangat bertepuk tangan. Kali ini dia ingin menjarak dari suporter lain dari pada dipelototi lagi, gara-gara sembarangan tepuk tangan.
Yang pasti kalau Evan yang masukin bola, Athena akan semangat tepuk tangan. Tak peduli dia berdiri di tengah-tengah suporter lawan. Al hasil dipelototi orang sekeliling tapi Athena cuek.
Athena kembali bertepuk tangan, reflek gadis itu menoleh kesamping kanan dan kiri, mencari kalau ada yang mempelototi, sebelah kirinya Kimmy, aman, sebelah kanannya Axel, aman.
"HAAH" Athena kaget, kembali menoleh ke arah kanan.
Axel menoleh kearahnya sambil tersenyum, Athena langsung gagap seperti melihat hantu. Emang Axel hantuuu.
Maksudnya Athena tidak percaya bisa melihat Axel begitu jelas.
"Aku kesana ya" ucapnya sambil masuk ke lapangan basket.
"Hah, dia juga bersuara" ucap Athena bicara sendiri.
Athena mengikuti arah Axel yang ternyata membayangi langkah Evan. Kemanapun Evan, Axel ada di situ. Athena tak lagi mengikuti kemana bola melambung tapi kemana Evan melangkah dan itu membuat kapten tim itu merasa heran.
Axel kembali berdiri di sampingnya, Athena menatap heran. Axel hanya tersenyum, menyuruh Athena kembali memperhatikan permainan, Evan berhenti berlari lalu menatap Athena.
__ADS_1
Gadis itu heran apa yang terjadi ? kenapa Evan melihat ke arahnya ? Kimmy berteriak dan menunjuk ke sebelah kanannya, Athena mengikuti. Ternyata tangan Athena melambai tanpa disadari, semua itu karena Axel. Hantu itu mengangkat tangan Athena.
...~ Bersambung ~...