Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 73 ~ Hari kedua OSPEK ~


__ADS_3

Axel segera memutar balik mobilnya untuk kembali menjemput Athena. Axel bertekad akan membujuk gadis itu bagaimanapun caranya. Meski dia harus berlutut di hadapan gadis itu. Namun Athena sudah tak terlihat di trotoar tempat dia ditinggalkan tadi. Axel panik, memanggil nama Athena. Namun tetap saja gadis itu tak menampakkan dirinya.


Teringat bagaimana ekspresi Athena saat bertanya padanya dengan mata yang berkaca-kaca. Axel menyesal tak menjawab pertanyaan gadis itu.


Aku suka padamu sejak pertama melihatmu, aku tidak suka senior itu. Kenapa aku tak menjawab pertanyaannya? Kenapa aku membiarkan dia berpikir lain padaku? Athena, tidak ada yang lebih berati bagiku selain kamu, batin.


Axel berjalan di sekitar trotoar sepi itu, jalan menuju kampus yang begitu jauh dari jalan raya tak mungkin di jalani para mahasiswa dengan berjalan kaki. Setiap mereka memiliki kendaraan sendiri minimal dengan sepeda motor.


Axel meraih ponselnya dan langsung menelpon Athena. Terdengar nada sambung namun Athena tak mengangkat teleponnya.


Ya ampun, apa yang harus kulakukan? Pergi begitu saja? Apa yang akan di katakan Mama karena aku membiarkannya pulang sendiri? Apa dia baik-baik saja? Apa dia telah sampai di rumah? Sayang, maafkan aku, batin Axel


Axel kembali melajukan mobilnya menuju jalan raya, pikirannya berkecamuk antara ingin segera langsung bertanya ke rumah Athena atau menunggu besok pagi.


Akhirnya Axel memutuskan menemui Athena saat menjemput untuk berangkat bersama besok paginya. Namun, sesampai di rumah hatinya tidak tenang. Axel mencoba untuk kembali menelpon Athena. Namun gadis itu masih tak menjawab teleponnya.


Axel makan malam dengan wajah murung, Ny. Olivia bertanya, namun Axel hanya menggelengkan kepalanya. Hatinya masih risau karena Athena belum juga menerima panggilan telepon darinya.


Ya Tuhan bagaimana kalau dia belum kembali ke rumahnya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Tidak! Tidak! Aku akan menyesal seumur hidupku! Aku akan menyesali perbuatanku! batin Axel berteriak.


Laki-laki panik sendiri dalam kamarnya, segera berangkat menuju rumah Athena.


Aku harus tahu keadaannya, jika tidak aku tidak akan bisa tidur malam ini. Athena tak mengangkat teleponku, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku, batin Axel.


Laki-laki itu melaju di jalan raya dengan kecepatan tinggi. Hari pertama dalam pekan itu membuat jalanan sepi karena orang-orang yang beristirahat karena lelah menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam waktu singkat Axel telah sampai di depan rumah Athena.


Sepertinya baik-baik saja, seperti tak terjadi apa-apa. Tapi bagaimana cara aku menemuinya? Apa alasanku menemuinya malam ini? batin Axel tertunduk di depan pintu.


Tanpa disangka Ny. Anna membukakan pintu, Axel terkejut dan langsung gelagapan.


"Athena ... Ma, Athena ... dia ... aku ...," Axel tak tahu bagaimana cara menanyakan Athena tanpa membuat Ny. Anna kaget karena dia tidak mengantarnya pulang tadi sore.


"Kamu ini mau nanya apa sih? Ayo masuk dulu," ucap Anna.


"Athena ...,"


"Apa apa? Dari tadi Athena, Athena, tapi tak jelas pertanyaanmu," ucap Anna lagi.


Axel sebenarnya ingin bertanya apakah Athena telah pulang tanpa membuat wanita yang dihormatinya itu terkejut. Juga ingin menanyakan apakah Athena baik-baik saja tanpa membuat ibu berwajah lembut itu menjadi kaget. Axel bingung cara menanyakannya.


Begini rasanya kalau berbuat salah, semua yang ingin diucapkan terasa akan membuat orang marah. Tuhan, bagaimana caranya aku bertanya tanpa membuat Mama kaget kalau tadi aku tidak mengantar putrinya pulang, batin Axel.


"Athena sudah tidur, setelah makan malam, Athena langsung ingin istirahat. Apa kamu tidak lelah seharian menjalani OSPEK. Kenapa tidak istirahat? Kenapa malah kemari?" tanya Anna.


Dia telah tidur, oh Tuhan syukurlah. Athena telah pulang dengan selamat, batin Axel langsung bahagia.


"Aku kangen Athena Ma, boleh nggak melihatnya sebentar saja," tanya Axel.


Ny. Anna tertawa.


"Kamu ini ada-ada aja, baru tadi ketemu malamnya udah kangen? Ya sudah lihatlah dia di kamarnya. Tadi dia bilang ingin cepat tidur," ucap Anna.


"Aku nggak akan mengganggunya Ma, cuma melihatnya sebentar saja," ucap Axel memohon.


Ny. Anna mengangguk. Axel pun segera berlari ke lantai atas dan segera masuk ke kamar Athena. Terlihat wajah gadis yang dicintainya itu sedang tertidur dengan puncak hidung yang masih memerah. Axel duduk di samping Athena mengamati wajah gadis yang dicintainya. Menepis lembut helaian rambut yang menutupi sebagian matanya.


"Maafkan aku sayang, jangan menangis lagi! Aku akan lakukan apa pun untuk mendapatkan maaf darimu. Athena aku mencintaimu, aku selalu mencintaimu," ucap Axel dengan berbisik di telinga Athena.


Perlahan bibir laki-laki itu mengarah ke bibir Athena. Axel mencium bibir gadis itu dengan begitu lembutnya kerena takut akan membangunkannya.


"Sampai ketemu besok sayang," bisik Axel.


Kemudian melangkah meninggalkan kamar Athena dengan pelan-pelan.


"Athena memang sudah tidur Ma, kalau begitu besok aku akan kembali," ucap Axel sekalian pamit pulang.

__ADS_1


Ny. Anna mengangguk dan berniat mengantar Axel hingga ke teras rumah.


"Nggak usah diantar Ma, saya sudah mengganggu istirahat Mama, saya merasa nggak enak hati. Saya pamit pulang dulu ya Ma," ucap Axel berpamitan sambil mencium punggung tangan ibu dari gadis yang dicintainya itu.


Ny. Anna mengangguk sambil tersenyum dan Axel pun langsung pergi. Dalam perjalanan Axel merasa lega karena telah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Athena telah sampai di rumahnya bahkan telah tertidur. Meski ada tanda tanya muncul di benaknya, bagaimana gadis itu bisa sampai di rumahnya.


Besok saja aku tanyakan saat menjemputnya nanti, batin Axel.


Sebuah pertanyaan yang menganggu pikirannya memang, tapi tak sebanding dengan hatinya yang lega melihat Athena telah kembali ke rumah dengan selamat.


Keesokan paginya Axel langsung berangkat ke rumah Athena, menjemput gadis itu untuk berangkat bersama-sama ke kampus. Axel bahkan hanya menyambar sandwich untuk dimakannya di dalam mobil sebagai sarapan. Namun, saat sampai di rumah Athena, laki-laki itu justru kecewa.


"Lho kamu kok ke sini? Athena sudah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada tugas kelompok yang harus diselesaikannya pagi ini. Apa dia tidak menghubungimu? Dia bilang tidak bisa menunggumu dan dia tak mau membuatmu berangkat lebih pagi. Mama sudah bilang kalau kamu pasti datang menjemput tapi Athena bilang nanti akan menelponmu agar kamu nggak perlu menjemputnya ke rumah. Bagaimana anak ini? Apa dia lupa menelponmu?" tanya Anna.


"Nggak Ma, mungkin aku yang nggak dengar kalau dia sudah menelpon," ucap Axel sambil menunduk sedih.


Ternyata masalahnya dengan Athena belum selesai. "Aah, mungkin dia menelpon saat kamu lagi di kamar mandi," ucap Anna.


Axel mengangguk sambil tersenyum kecut. Segera laki-laki itu mohon diri untuk berangkat ke kampus. Hatinya kembali risau, Axel merasa Athena sengaja menghindar darinya.


Wajar saja dia marah padaku, aku sudah mengabaikannya. Membuatnya berprasangka kalau aku menyukai gadis lain. Membuatnya menangis dan meninggalkannya berjalan sendiri di trotoar itu. Aku begitu sombong, merasa diriku benar hingga tak mau memohon maaf padanya. Athena maafkan aku, tolong jangan menghindar dariku. Aku tidak sanggup berpisah denganmu Athena, batin Axel sambil menangis.


Sesampai di kampus, Axel ingin segera mencari Athena. Laki-laki itu sengaja mampir di gedung jurusan Athena lebih dulu untuk menemui gadis itu sebelum memulai OSPEK hari kedua. Namun Axel tak menemukan gadis itu hingga akhirnya kembali ke gedung jurusannya dengan hati galau.


"Hei, melamun aja. Kamu sudah dapat tanda tangan para senior?" tanya Axella saat melihat Axel tak melakukan apa-apa padahal kegiatan OSPEK telah dimulai sejak tadi.


Axel menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Kamu tak ingin meminta tanda tangan mereka?" tanya Axella lagi.


"Belum berminat," jawab Axel singkat.


"Oow..."


Axel memilih duduk termenung di bandingkan mendekati para senior untuk mendapatkan tanda tangan mereka. Axel seperti tak peduli dia mendapatkan satu atau tidak sama sekali.


"Aku akan melakukannya tapi tidak sekarang," jawab Axel akhirnya.


"Kamu lagi sakit? Pusing?" tanya Axella.


Axel menggelengkan kepalanya. Gadis itu mengerucutkan mulutnya. Sikap Axel kembali seperti kemarin awal mereka bertemu. Suka melamun dan tak mau diajak bicara.


"Kamu setiap pagi begini ya? Selalu termenung dan susah diajak bicara. Apa ada waktu-waktu tertentu kamu diam seperti boneka? Jam berapa kamu mulai normal seperti manusia biasa?" tanya Axella.


Axel menoleh dengan tatapan heran.


"Kenapa melihatku seperti itu? Harusnya aku yang merasa heran. Kemarin kita sudah akrab, sekarang canggung lagi. Apa makan siang nanti, kita makan roti bersama lagi?" tanya Axella.


Axel hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak bermaksud tak sopan, tapi Axel benar-benar tak sedang dalam mood untuk bicara. Axel belum bertemu dengan Athena, laki-laki itu masih belum bicara dengan gadis yang dicintainya. Axel belum tahu pasti bagaimana dengan hubungannya dengan Athena saat ini. Athena sedang menghindarinya, dan Axel kesulitan mencarinya.


Axella akhirnya membiarkan Axel termenung sendiri. Gadis itu kembali melanjutkan aktivitasnya, sementara Axel masih belum bisa mengembalikan suasana hatinya karena belum menyelesaikan masalahnya dengan Athena.


Saat istirahat siang segera Axel memacu mobilnya ke area kampus jurusan Athena. Laki-laki itu mencari ke sana kemari. Hingga akhirnya melihat gadis itu sedang duduk di sebuah lesehan di bawah pohon rindang di sebuah taman.


Axel menghentikan langkahnya, dengan tatapan sedih menatap gadis yang tertawa bersama laki-laki yang dilihatnya kemarin. Hatinya hancur, apa yang menyebabkan pertengkaran mereka kembali terlihat olehnya. Athena terlihat tertawa seperti tak terjadi apa-apa.


Apa secepat itu kamu melupakanku? Secepat itu kamu menepis masalah kita hingga tawamu bisa begitu lepas? Secepat itu kamu menggantikan posisiku dengannya? batin Axel bertanya-tanya.


Laki-laki itu tertunduk dan menitikkan air mata. Terlihat seorang gadis mendekati Athena dan bertanya, sementara Axel hanya bisa menatap dari tempat persembunyiannya.


"Athena, si Okta lupa minuman pesananmu jeruk atau strawberry?" tanya seorang teman pada Athena.


"Kalau lupa, ya udah apa aja. Malah capek-capek nanya ke sini, apa aja yang tersedia. Kalau ada jeruk boleh, strawberry boleh, melon boleh, terserah aja" ucap Athena.


Gadis itu pun melangkah pergi ke kantin. Entah apa yang menghasut Axel, laki-laki itu menghadang gadis itu. Degan wajah yang kebingungan tak tahu apa yang telah di lakukannya.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa menghalangiku?" tanya gadis itu.


"Aku ... aku ...,"


Kenapa cowok ini? Ganteng-ganteng kok korslet ? Apa dia suka padaku? Apa mungkin? batin gadis itu bertanya-tanya.


"Maaf, kamu teman Athena 'kan?" tanya Axel akhirnya.


Gadis itu mengangguk cepat.


"Apa Athena, memiliki hubungan khusus dengan laki-laki itu?" tanya Axel sambil menunjuk ke arah Athena.


Gadis itu mengikuti arahan telunjuk Axel.


"Adit? Masa sih? Baru kenal udah langsung jadian? Kami itu teman satu kelompok. Lagian Athena itu udah punya pacar ...,"


"Apa?" tanya Axel langsung.


"Kamu naksir dia ya? Dia sudah punya pacar! Hari pertama kemarin, udah banyak yang langsung nembak dia tapi dia selalu bilang, kalau dia udah punya pacar. Jadi kalau kamu juga ingin pedekate sama dia, udah jangan berharap. Tadi aja ada cowok ganteng yang nembak dia, Athena langsung menolaknya mentah-mentah. Dia bilang kalau dia udah punya cowok. Kamu ganteng sih, ganteng banget malah tapi gue ragu soalnya Athena itu kayaknya setia banget ama cowoknya. Kemarin siang kalau nggak kami paksa makan siang bersama, dia udah pergi nyariin cowoknya di jurusan manajemen," jelas gadis itu.


"Maksudmu kemarin? Makan siang di kantin itu? Kalian makan siang bersama?" tanya Axel.


"Ya, aku sama Okta yang pesan makanan. Athena dan Adit yang cariin meja makan," ucap gadis itu lagi.


Mendengar itu Axel langsung berlari menghampiri Athena. Gadis itu terkejut saat melihat Axel tiba-tiba telah berdiri di hadapannya.


"Maafkan aku Athena, maafkan perbuatanku kemarin," ucap Axel dengan hidung yang memerah dan mata yang berkaca-kaca.


Athena menoleh pada Adit, merasa tak enak dengan laki-laki itu. Namun Adit hanya tersenyum. Tiba-tiba Axel menarik tangan Athena dan membuat gadis itu menubruk tubuh Axel. Laki-laki tampan itu langsung memeluk Athena dan menghadiahkan ciuman di bibir. Athena otomatis mendorong tubuh Axel.


"Kak, ini di kampus!" seru Athena sambil melihat ke sekelilingnya.


Di sana memang banyak mahasiswa yang beristirahat sambil menikmati makan siang bersama. Mereka memilih menikmati makan siang mereka di taman di bawah pohon-pohon rindang itu ketimbang di kantin yang penuh sesak.


Axel menitikkan air mata menatap Athena. Laki-laki itu sadar kesalahannya berbuat itu tapi dia ingin buru-buru mengakhiri masalah yang timbul di antara mereka. Axel ingin Athena segera memaafkannya.


Athena tak tega menatap Axel yang menitikkan air mata. Segera gadis itu mengajak Axel ke sebuah lorong kampus yang sepi. Di sana Axel langsung memeluk Athena kembali.


"Maafkan aku Athena, maafkan aku," ucap Axel sambil memeluk Athena.


"Aku pikir Kakak telah memutuskan hubungan denganku karena memilih senior cantik itu," jawab Athena juga dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nggak Athena, aku nggak seperti itu. Nggak ada satu gadis pun di dunia ini yang lebih berarti darimu," ucap Axel.


"Benarkah? Tapi kemarin Kakak mengabaikanku. Kakak meninggalkanku, aku pikir semua telah berakhir," ucap Athena dengan air mata yang telah mengalir.


"Nggak Athena, aku telah salah paham. Aku kesal, saat melihatmu makan siang bersama laki-laki lain sementara aku susah payah mencarimu. Aku bodoh, harusnya aku percaya padamu. Percayalah sikapku kemarin tidaklah sungguh-sungguh. Aku hanya sedang kesal, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan senior itu. Percayalah padaku Athena, maafkanlah aku sayang," ucap Axel menangkup wajah gadis yang dicintainya itu.


Axel segera membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu. Athena pun tak kuasa mengabaikan ciuman yang dirindukannya itu. Setelah menangis seharian kemarin hingga malam menjelang tidur, Athena sangat merindukan ciuman dari laki-laki itu dan berharap ciuman itu dapat menuntaskan pertengkaran mereka.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?" bentak seseorang dengan tanda pengenal panitia OSPEK tergantung di lehernya.


"Kalian ingin berbuat mesum di sini?" bentak senior laki-laki itu lagi.


"Jadi kamu? Ternyata emang sudah punya pacar rupanya. Apa kampus ini tempat pacaran bagi kalian?" tanya senior itu lagi.


"Maaf Kak," ucap Athena dan langsung menarik tangan Axel dan mengajaknya meninggalkan tempat itu.


"Apa kamu akan cerita pada pacarmu kalau kita berciuman tadi?" tanya senior itu dengan sedikit berteriak.


"Apa?" teriak Athena tak kalah kerasnya.


Athena menghentikan langkahnya dan menatap senior itu. Matanya tajam mengarah pada laki-laki itu. Dada Athena turun naik karena menahan emosi. Senior itu justru tertawa terbahak-bahak. Axel pun jadi emosi dan ingin menghampiri senior itu namun Athena menghalangi.


Axel menatap wajah Athena, di hati laki-laki itu timbul tanda tanya. Apakah Athena dan senior itu benar-benar berciuman?

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2