
Athena membuka pintu kamarnya dengan pelan tak bersemangat. Pikirannya melayang pada pernyataan Evan yang memintanya untuk menjadi pacar laki-laki itu. Athena duduk di ranjang lalu menjatuhkan diri terlentang memandang langit-langit kamarnya.
Axel membukakan sepatu gadis itu, Athena kaget reflek gadis itu melihat ke jendela. Ya, saat ini sedang pergantian waktu dan Axel bisa menyentuh dan membukakan sepatu serta kaos kaki gadis itu. Athena menolak tapi Axel tetap melakukannya.
Axel bahkan mendorong Athena hingga kembali jatuh terlentang. Axel melanjutkan membuka sepatu sekolah Athena. Lalu ke kamar mandi, mengambil air hangat dan handuk kecil. Laki-laki itu memijat kaki Athena sambil merendamnya dengan air hangat.
"Nggak usah, Axel" ucap Athena.
"Kamu pasti pegal karena jalan-jalan seharian" ucap Axel masih terus memijat kaki Athena.
" Iya tapi nggak usah di pijat" ucap Athena.
"Kenapa?" tanya Axel.
"Aku malu" ucap Athena.
"Kenapa malu?" tanya Axel.
"Ya malu lah, emangnya aku ini istrimu pake di pijat segala" ucap Athena.
"Kemarin hampir saja kamu jadi istriku" ucap Axel sambil mengeringkan kaki Athena.
"Apa maksudnya? kapan?" tanya Athena.
"Saat kamu menyerahkan dirimu padaku" jawab Axel.
Athena tercenung, Axel tidak perlu meneruskan ucapannya. Athena mengerti apa yang di maksud hantu laki-laki itu. Jika Axel tidak menolaknya waktu itu mereka tentu telah melakukan hal yang hanya boleh di lakukan oleh sepasang suami istri.
Air mata Athena bergulir melewati samping matanya. Axel mendekati Athena dan menatap wajah sedih Athena.
"Ada apa?" tanya Axel.
Athena menggeleng kepala.
Benarkah kamu mencintaiku Axel, bisakah melihatku bersama laki-laki lain? kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan bisa melihatku bersama Evan, kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan menolakku, kamu tidak mencintaiku Axel, kamu tidak benar-benar mencintaiku, batin Athena.
Athena tidak mau menceritakan apa penyebab kesedihannya, Axel tidak berani memaksanya bercerita. Laki-laki itu hanya bisa membelai rambut gadis itu untuk menenangkannya.
Apa pun akan di lakukan Axel untuk membahagiakan Athena. Asalkan dia tahu apa yang diinginkan gadis itu tapi Athena sama sekali tidak mengatakan apa pun. Sedapat mungkin laki-laki itu menghibur Athena selagi Axel masih bisa menyentuh gadis itu.
Axel menatap wajah sedih di hadapannya, mata Athena yang menatap langit-langit kamar beralih menatap Axel.
Tidak apa-apa jika kamu tidak mencintaiku, asalkan aku bisa tetap melihatmu, batin Athena.
Gadis itu melingkarkan tangannya di pundak Axel dan menariknya mendekat. Athena ingin Axel menciumnya. Gadis itu terus memintanya hingga Axel tak lagi dapat di sentuh.
Athena seperti gadis yang frustrasi, setelah itu dia langsung tidur tidak mau memikirkan apa pun. Mama Athena merasa heran karena putrinya tidak turun untuk makan malam.
Mengetuk pintu kamar Athena lalu masuk ke dalam. Terlihat putrinya yang masih mengenakan seragam sekolah. Mama Athena menyentuh kening anaknya untuk mengetahui suhu tubuh Athena.
Tidak demam? tapi kenapa langsung tidur? kelelahan barangkali, batin mama Athena.
"Sayang, kamu kok nggak makan malam. Bangun nak, mandi dulu, abis itu makan malam" ucap mama Athena membangunkan Athena.
Tapi Athena terlihat malas-malasan, lalu kembali tidur. Mama Athena akhirnya membiarkan putrinya tidur.
Gadis itu baru terbangun saat malam menjelang pagi, dia bangun lebih cepat dari biasanya bahkan sebelum pergantian waktu. Begitu bangun gadis itu langsung melihat Axel yang sedang berbaring menatapnya.
"Tinggal dua hari lagi" ucap Athena.
"Apa itu?" tanya Axel.
"Malam pesta perpisahan, saat itu aku harus menjawab permintaan Evan. Jawaban apa yang harus kuberikan?" tanya Athena.
"Apa yang ada di hatimu? ingin bersamanya atau tidak" ucap Axel.
Aku ingin bersamamu, batin Athena.
"Dia nyata Athena, dia adalah hidupmu. Aku hanya bisa mengingatkanmu kalau dia adalah cinta pertamamu, cinta sejatimu. Aku masih ingat saat pertama aku melihatmu begitu terpesona melihatnya sampai-sampai kamu terpana" ucap Axel sambil tertawa.
Athena hanya tersenyum mengingat saat itu, saat dirinya belum begitu mengenal Axel. Evan adalah segala-galanya bagi Athena.
Axel berbaring dalam posisi miring menghadap Athena, gadis itu juga dengan posisi miring menghadap Axel. Axel bercerita panjang mengingatkan masa lalu Athena yang begitu menyukai Evan. Tapi tidak sedikit pun Athena mendengarkannya.
__ADS_1
Gadis itu sibuk melihat bibir Axel yang bergerak lincah bercerita. Athena selalu terpesona melihat senyum Axel. Gadis itu betah memandanginya lama-lama hingga akhirnya datang pergantian waktu. Athena langsung merangkul Axel membuat laki-laki itu terdorong, Athena menimpa tubuh Axel.
"Aku ingin menikahimu saja" ucap Athena.
"Ya baiklah" ucap Axel tertawa lalu merapikan rambut Athena dengan menjepitkan di telinganya.
Axel hanya melakukan itu? tentu tidak. Laki-laki itu langsung menarik gadis cantik yang dicintainya itu. Athena mengecup bibir laki-laki yang sejak tadi ingin dikecupnya. Axel memeluk Athena dan lebih membenamkan bibirnya, mereka melakukan itu hingga membuat napas Athena tersengal. Axel sangat menyukai hembusan napas Athena yang menerpa wajahnya.
"Paling enak pacaran sama hantu, di kamar bebas nggak ada yang curiga" ucap Athena.
Axel tertawa, itu juga yang membuat Athena berani menyerahkan dirinya karena tidak ada satu pun penghuni rumah itu yang menyangka ada laki-laki di kamar Athena.
"Jika aku menikah dengan Evan atau dengan siapa pun nanti aku akan tetap pacaran denganmu" ucap Athena.
"Berarti kamu selingkuh dong" ucap Axel lalu tersenyum.
"Iya, selingkuh sama hantu nggak bakalan ketahuan" ucap Athena sambil tertawa.
"Berarti aku ikut denganmu selamanya?" tanya Axel iseng.
"Iya, aku akan siapkan kamar khusus untukmu. Tidak ada yang boleh ke situ kecuali aku. Kalau pergantian waktu aku akan pacaran denganmu" khayal Athena.
Axel tercenung mendengar khayalan Athena. Gadis itu bicara seenaknya tanpa dipikirkan seperti orang yang telah frustrasi karena bimbang. Axel membiarkan Athena meluapkan perasaannya yang tertekan. Laki-laki itu sedikit banyak merasa bersalah karena kehadirannya dalam hidup Athena membuat gadis itu menjadi galau.
Axel hanya bisa berharap labilnya sikap Athena sekarang tidak berdampak buruk baginya. Hal yang paling Axel takutkan adalah Athena yang frustrasi nekat menyerahkan diri pada Evan kemudian pasrah mencintai laki-laki itu.
Semakin dekat hari h, semakin galau hati Athena dan Evan semakin gencar mendekati Athena. Evan seperti habis-habisan mempergunakan kesempatan untuk meraih hati Athena yang dilihatnya masih ragu-ragu.
Demi keberhasilannya Evan tampil sebagai gentleman yang baik hati di depan teman-teman Athena bahkan di depan mama Athena. Evan sering berkunjung ke rumah gadis itu dan berhasil mendapatkan hati ibunya Athena.
Gadis itu senang melihat laki-laki yang disukainya juga disukai ibunya. Itu adalah poin bagi Evan dalam rangka penetapan hati Athena. Ibunya cuma mengenal Evan sebagai satu-satunya teman laki-laki Athena. Tentu saja ibunya senang melihat anak gadisnya telah disukai laki-laki gentle seperti Evan.
Bel sekolah telah berbunyi, semua siswa bergegas menyimpan buku-bukunya. Tak peduli guru masih berdiri di depan kelas, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah siswa-siswa yang begitu semangat mengikuti acara perpisahan yang akan di adakan nanti malam.
Aula sekolah sejak kemarin telah disibukkan dengan pemasangan dekorasi-dekorasi indah, manis dan romantis. Melihat itu semua siswa terlihat semangat kecuali Athena.
Gadis itu berjalan dengan lunglai, Kimmy dan Vivi berjalan disampingnya dengan wajah yang ceria.
"Biarin aja, dia lagi galau karena ntar malam Evan mau menyatakan cinta. Ingat nggak?" ucap Vivi.
"Oh iyaa, kenapa jadi bingung sih? tinggal say yes aja susah" ucap Kimmy.
"Yes I do" ucap Vivi.
"Emang mau kawin?" ucap Kimmy sambil tertawa.
Athena hanya tersenyum simpul, tiba-tiba Evan telah muncul dihadapan mereka. Kedua teman Athena langsung kabur, mereka ingin segera pulang dan bersiap-siap untuk pesta nanti malam.
Melihat itu Evan langsung pura-pura tersinggung tapi mereka tahu kalau Evan pasti lebih senang kalau di tinggal berdua saja dengan Athena.
"Kita kemana sekarang?" ucap Evan saat telah naik ke dalam mobilnya.
"Pulang aja ya?" tanya Athena.
"Jangan dong, aku masih pengen deket sama kamu" ucap Evan.
"Apa maksudnya itu, emangnya besok nggak bisa?" tanya Athena.
"Entahlah, setelah nanti malam apa kamu masih mau kenal sama aku. Biasanya kalau udah di tolak, perasaan jadi canggung abis itu jadi menjauh" ucap Evan.
"Kenapa yakin kalau di tolak?" tanya Athena.
"Firasat aja? kamu terlihat setengah hati. Meski aku sudah berusaha mati-matian deketin kamu tapi perasaan kamu kayak nggak yakin sama aku. Padahal dulu kayaknya kamu suka sama aku" jelas Evan lalu merebahkan diri di jok mobilnya.
Evan masih belum menyalakan mesin mobil karena masih berharap Athena masih mau di ajak jalan-jalan.
"Kita nonton yuk, ada film seru baru tayang. Habis itu aku antar pulang jadi kamu bisa siap-siap untuk pesta" usul Evan.
Athena tercenung memikirkan ide Evan.
Mungkin benar, malam ini adalah malam terakhir aku bersamanya. Mungkin aku akan menolaknya dan kami akan seperti orang asing setelah itu. Mungkin aku tidak mampu menerimanya karena tidak sanggup menduakan Axel, siapa yang tahu apa yang akan terjadi? batin Athena bimbang.
"Baiklah, kita nonton dulu, tapi habis itu langsung pulang jangan kemana-mana lagi takutnya aku nggak keburu bersiap-siap" ucap Athena.
__ADS_1
"Siap tuan putriku" ucap Evan semangat menyalakan mesin mobilnya.
Mereka benar menonton di bioskop, film tayang sore biasanya memang tidak terlalu ramai. Itu adalah kesempatan bagi Evan untuk lebih beraksi lebih berani. Laki-laki itu tidak mau perjuangannya sia-sia.
Sejak mencium Athena saat menonton bersama Athena dan teman-temannya waktu itu membuat Evan kecanduan. Hari itu adalah langkah awal Evan mencium Athena dengan lebih berani karena Athena yang mau membalas ciumannya. Evan ingin merasakannya lagi, setiap hari mengkhayal gadis itu.
Evan benar-benar telah jatuh ke dalam genggaman Athena. Setiap saat merindukan gadis itu, hatinya benar-benar telah dikuasai Athena. Baru saja film di mulai, Evan sudah melirik-lirik gadis itu.
Tidak kuat menahan, Evan langsung merangkul Athena dan mendaratkan ciuman hangat pada gadis itu. Athena kaget, Evan tak menunggu adegan mesra di film untuk menciumnya. Evan tidak peduli, laki-laki yang telah terbiasa menaklukkan cewek-cewek di sekolahnya itu tidak kuasa menunggu.
Awalnya mencium, lalu memainkan lidahnya kemudian mulai melepas kancing seragam Athena satu per satu. Athena kaget lalu mendorong tubuh Evan. Gadis itu tidak siap untuk berbuat lebih jauh dari ciuman.
"Aku mau ke toilet dulu" ucap Athena berdalih.
Athena langsung berdiri, berjalan ke toilet sambil memasang dua kancing baju yang telah di lepas Evan. Gadis itu berdiri di depan cermin sambil memegang dadanya yang berdebar-debar.
Athena ragu, mungkinkah dia sanggup bersama laki-laki yang begitu bernafsu terhadapnya.
Gimana kalau suatu saat aku nggak bisa menolak? gimana kalau aku nggak sanggup menolak lagi karena takut kehilangannya. Gimana kalau dia sudah menguasaiku, aku nggak bisa menolak lagi dan menyerahkan diriku padanya? oh, gimana ini? batin Athena.
Gadis itu merasa bingung hingga stress, kepalanya terasa panas. Athena memutuskan membasuh wajahnya dengan air kran yang banyak lalu kembali memandang wajahnya di cermin.
Tiba-tiba Athena melihat seseorang melintas di belakangnya. Athena reflek menoleh ke belakang namun tidak ada siapapun. Bulu kuduk Athena merinding, gadis itu kembali menatap ke cermin. Di sudut sana terlihat seseorang yang berdiri menghadap ke dinding.
Lalu gadis itu kembali melirik ke sudut itu namun tidak melihat apa pun. Athena kembali melihat ke arah cermin, langsung kaget karena melihat seseorang telah berdiri disampingnya.
Athena berlari keluar dari toilet hingga berhenti di depan pintu masuk studio. Evan yang telah menunggu di sana heran melihat wajah Athena yang pucat.
"Kamu kenapa? seperti habis melihat hantu?" tanya Evan.
Reflek Athena mengangguk, Evan kaget. Pertanyaannya yang iseng di jawab dengan serius oleh Athena.
"Di toilet, mengerikan sekali, wajahnya setengah hangus terbakar. Mengerikan Evan" ucap Athena sambil menangis karena ketakutan.
Evan meraih Athena ke dalam pelukannya. Memeluk gadis itu untuk menenangkannya, Evan ingin Athena merasa aman dalam pelukannya.
"Sudah, tidak ada apa-apa lagi, di sini kamu aman bersamaku" ucap Evan memeluk Athena dengan ketat.
Athena diam, gadis itu masih sibuk mengatur napasnya. Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya gemetar. Evan mengajak gadis itu duduk di kursi tunggu. Mereka tak lagi mempedulikan film yang sedang tayang. Evan masih memeluk Athena yang syok melihat makhluk tak kasat mata.
"Kamu bisa melihat makhluk astral?" tanya Evan.
Athena mengangguk dalam pelukan Evan, gadis itu tidak mungkin berbohong lagi. Kenyataannya dia telah mengungkapkan kalau dirinya tadi melihat makhluk halus dengan penampilan yang mengerikan.
"Sejak kecil?" tanya Evan lagi.
"Baru-baru ini" balas Athena.
"Kenapa bisa begitu? kamu sedang mendalami ilmu gaib? " tanya Evan.
Athena menggeleng lalu bergerak duduk. Gadis itu menunduk sambil sesekali menghapus air matanya.
"Aku tiba-tiba bisa melihat makhluk gaib setelah pingsan di rooftop sekolah" cerita Athena.
"Di rooftop sekolah? kamu ngapain kesana?" tanya Evan.
"Alasannya nggak penting tapi sejak itu aku mengenal seorang hantu dan sejak itu juga aku bisa melihat hantu lain. Dia bilang karena aku berbuat baik jadi aku mendapat anugerah bisa melihat makhluk gaib itu" cerita Athena.
"Dia bohong padamu, tidak ada orang yang berbuat baik mendapat anugerah kemampuan melihat makhluk gaib. Orang-orang memiliki kemampuan itu karena di dalam dirinya memang telah ada jin yang membuat manusia itu mampu melihat makhluk halus" jelas Evan.
"Apa?" ucap Athena kaget.
"Manusia hanya bisa melihat manusia, jin hanya bisa melihat jin. Jika ada manusia yang bisa melihat jin artinya di dalam diri manusia itu ada jin yang bisa membuatnya melihat makhluk sesamanya yaitu jin juga. Ada juga yang tidak memiliki jin dalam dirinya tapi orang itu memiliki ilmu yang sengaja dipelajari untuk bisa melihat makhluk gaib atau orang-orang yang terbiasa dekat dengan hal-hal gaib. Kalau menurutku, kamu sekarang bisa melihat hantu itu karena kamu mengenal dan bergaul dengan hantu yang kamu lihat di rooftop itu" jelas Evan panjang lebar.
"Bukan karena aku di beri anugerah kemampuan melihat?" tanya Athena.
Evan menggeleng.
"Pembatas dunia nyata dan gaib mu semakin tipis karena bergaul dengan makhluk gaib itu" ucap Evan.
Athena terkejut, tidak menyangka Axel membohonginya. Athena merasa hatinya sangat sakit dibohongi seperti itu. Athena bertekad akan menanyakan langsung pada Axel saat bertemu nanti.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1