
Setelah mendengar cerita Axel, Pak Yatno terkejut, tak menyangka Hardy bisa begitu nekad berencana seperti itu.
"Jadi setelah kalian berkelahi di sini dan ketahuan telah berganti identitas itu, kalian masih saja melakukannya? Kalian masih tetap berganti identitas?" tanya Pak Yatno.
"Ya Pak, kami meneruskannya tanpa ada yang menyadari kecuali Bang Yadi," ucap Axel.
Pak Yatno menepuk kepalanya. Begitu miripnya Axel dan Hardy hingga bapak pemilik restoran itu tak menyadari kalau selama ini mereka berganti identitas selama bekerja dengannya.
"Apa yang menyebabkan Hardy begitu nekad berganti posisi denganmu? Begitu ingin mendapatkan posisimu?" tanya Pak Yatno.
"Kehidupanku Pak, Hardy ingin mendapatkan kehidupanku selamanya. Dia tak ingin mengembalikan hidup enak yang dirasakannya padaku," jelas Axel.
"Tapi akhirnya kamu bisa kembali sadar dan mengusir Hardy?" tanya Pak Yatno.
Axel menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak sadar Pak, Hardy berniat membuatku koma selamanya. Berkat bantuan orang yang yang dibayarnya setiap saat mereka menyuntikkan obat bius padaku hingga bertahun-tahun dan terus menerus tak sadarkan diri," ucap Axel.
"Tapi jika awalnya dia berniat membunuhmu kenapa sekarang justru mempertahankanmu dalam keadaan koma?" tanya Pak Yatno tak habis pikir.
Axe mengangkat tangannya dan memandangi jari-jari tangannya.
"Untuk beberapa keperluan yang membutuhkan sidik jariku karena dia menggunakan identitasku maka dia butuh sidik jariku. Aku sadar itu karena saat bangun melihat bekas tinta yang menempel di jari-jariku," ucap Axel.
Pak Yatno mengangguk-angguk, meski cerita Axel seperti tak mungkin terjadi. Namun, apa yang diceritakan Axel masih bisa diterima akal sehat.
"Tapi sudah lama bapak tidak melihatnya lagi, entah kalau dengan Yadi. Lalu kenapa tiba-tiba kamu bisa sadar kembali? Apa dia memutuskan berhenti menyuntikkan obat bius padamu?" tanya Pak Yatno.
"Tidak Pak, semua terhenti karena seorang gadis, dia yang mengetahui kalau aku yang terbaring di rumah sakit itu adalah Axel yang sebenarnya," jelas Axel.
Laki-laki itu lalu termenung mengingat Athena, gadis yang telah berjasa membongkar kebusukan Hardy namun justru dikecewakan olehnya demi cintanya pada Hani.
"Pak, kalau begitu aku permisi dulu, tolong hubungi aku di nomor ini jika Pak Yatno melihat Hardy, tolong ya Pak!" pinta Axel.
"Baiklah, lalu kamu mau ke mana sekarang? Jika bingung mencari petunjuk, cobalah hubungi Yadi, mungkin dia tahu sesuatu," nasehat Pak Yatno.
"Ya tentu. Saya juga akan mencari Bang Yadi," ucap Axel dan segera berlalu dari tempat itu setelah memeluk Pak Yatno untuk berpamitan.
Axel ingin menemui Hani, setelah mengetahui dirinya yang telah koma selama lebih dari empat tahun, Axel merasa Hani pasti merasa rindu padanya. Karena Axel juga rindu pada gadis itu. Penasaran ingin melihat keadaan gadis itu saat ini
Dan benar saja, saat muncul di hadapannya, gadis remaja itu telah tumbuh menjadi wanita yang mendekati dewasa. Hani langsung memeluk Axel dengan air mata haru. Memeluk Axel dengan eratnya seakan-akan tak mau kehilangan laki-laki itu lagi.
"Kemana saja Kak Hardy selama ini? Kenapa tak muncul-muncul? Kasihan Pak Budi dan Bibi Hayati, mereka kadang bertanya padaku, apa aku mendapat kabar darimu," ucap Hani setelah puas memeluk Axel.
Laki-laki itu diam tak menjawab, hanya memandang gadis yang dirindukannya itu. Entah kapan terakhir dia menatap wajah itu. Hani telah berubah dewasa, bukan gadis kelas tiga SMP lagi.
"Ternyata Kak Athena itu benar-benar memenuhi janjinya. Aku hampir tak percaya padanya," ucap Hani sesaat setelah teringat lagi pada Athena.
"Kak Athena?" tanya Axel tak sengaja terucap.
"Ya Kak, sebenarnya dia masih anak SMA kelas XII, saat itu kami bertemu di sini. Dia duduk di sini sambil menunggu angkutan umum ke kota. Sambil menunggu kami berbincang. Karena dia orang yang cantik, bergaya, anggun dan juga terlihat dewasa, aku memanggilnya Kakak, padahal dia satu tahun di bawahku," jelas Hani.
Aku rasa, Athena mulai menyelidikiku sejak bertemu dengan Hani, batin Axel.
"Kapan ya terakhir aku datang ke sini?" tanya Axel.
"Kak Hardy lupa? Waktu itu Kak Hardy mau masuk universitas. Kak Hardy bilang padaku kalau Kak Hardy nggak akan pulang sebelum di wisuda. Padahal sebelumnya Kak Hardy masih sering datang ke sini meski melanjutkan SMA di kota," jelas Hani.
Hardy sering datang ke sini setelah menggantikan posisiku. Dia melanjutkan SMA di kota? Ya, tentu saja, saat Mommy pulang dari Amerika mengetahui aku koma Mommy tak kembali lagi ke Amerika. Mommy menetap di Indonesia dan Hardy yang seolah-olah bangun dari koma terpaksa melanjutkan sekolah di SMA yang baru di kota, batin Axel mengira-ngira jalur hidup yang dipilih Hardy saat dirinya mengalami koma.
"Karena kesibukan, aku lupa janji-janjiku padamu, maafkan aku ya!" ucap Axel.
"Hani mengerti Kak, kehidupan anak kuliahan di kota pasti beda dengan kehidupan kami di sini. Tapi Kak Hardy bilang tidak akan pulang ke sini sebelum di wisuda. Aku pikir saat liburan semester Kak Hardy akan mampir ke sini. Tapi tak apa yang penting sekarang Kak Hardy udah kembali lagi ke sini, pasti Kak Hardy tak akan lupa janji Kak Hardy untuk menikahiku setelah wisuda kan?" tanya Hani.
Janji menikahi? Setelah di wisuda? Apa lagi yang di janjikan laki-laki itu pada Hani? batin Axel.
"Aku tak lupa itu Hani tapi apa ada janjiku yang lain? Aku takut melupakannya karena kesibukanku," ucap Axel ingin mengorek-ngorek janji apalagi yang di ucapkan Hardy pada gadis itu.
Apa yang dijanjikan Hardy hingga Hani bertahan menunggunya? Apa mereka telah berbuat terlalu jauh? Bagaimana aku bisa mengetahui tentang hal itu? Aku harus tahu, karena jika terjadi seperti itu Hardy harus bertanggung jawab. Di kota dia justru ingin menikahi Athena, bajingan! Kurang ajar! Batin Axel emosi.
__ADS_1
"Tidak ada Kak, cuma Kak Hardy janji akan selalu menemuiku saat liburan sekolah, karena cuma saat itu kita ketemu dan bisa pacaran," jelas Hani.
Pacaran? Pacaran seperti apa? Apa mereka telah berbuat sejauh itu hingga Hardy berjanji akan menikahinya? Aku tidak terima, jika benar Hardy melakukan perbuatan yang melewati batas, dia tak boleh menikahi Athena. Dia harus menikahi Hani. Tapi bagaimana jika gadis itu juga telah dirusak oleh Hardy? Kasihan juga Athena, batin Axel bertanya-tanya.
Teringat kembali olehnya saat Athena menemuinya. Terlihat jika gadis itu juga menangis mengharapkannya.
Tapi Athena mengharapkan siapa? Dia tidak mengharapkan Hardy, dia mengharapkanku. Tapi saat bersama Hardy apa dia melakukan sesuatu yang tak seharusnya? Karena Hardy mirip denganku dan Mommy juga berharap mereka menikah, apa gadis itu masih mempertahankan kesuciannya? Kurang ajar si Hardy ini, aku tahu persis seperti apa playboy kampung itu. Dia tidak bisa melihat wanita cantik sedikit pun, batin Axel menjerit.
"Hani, aku harus pergi. Aku ingin menemui seseorang," ucap Axel.
Hani langsung memeluk Axel. Tak peduli mereka sedang berada di warung milik keluarganya. Hani seolah-olah tak ingin melepaskan Axel lagi.
"Hani ...," ucap Axel heran.
"Jangan pergi lagi Kak, jika Kakak pergi, Hani ingin ikut. Hani kesepian di sini, bapak selalu menanyakan tentang Kak Hardy. Aku sudah mau di lamar orang Kak, jika tak ada kepastian dari Kak Hardy, Hani takut akan di nikahkan," ucap Hani memohon.
"Aku pasti akan kembali dan memohon Pak Yusuf untuk memberi waktu sampai aku di wisuda. Saat itu kita akan menikah, aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Percayalah Hani, aku pasti akan menikahimu karena aku sangat mencintaimu," ucap Axel sambil menangkup wajah gadis manis itu.
"Kak Hardy tak bisa di percaya, kadang-kadang cinta padaku, kadang tak acuh padaku. Kadang bersikap lembut dan penuh cinta tapi kadang bersikap ketus. Tapi meski begitu, Hani tetap cinta sama Kak Hardy. Kak meski di kota banyak gadis yang cantik, jangan tergoda dengan mereka ya! Hani ..., Hani ..., juga rela menyerahkan diri Hani jika Kak Hardy mau. Tapi Kak Hardy janji ya tak akan tergoda cewek lain di kota," ucap Hani memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
Berarti belum, batin Axel.
"Hani ingin menyerahkan diri padaku? Kapan?" tanya Axel untuk lebih meyakinkan.
"Kapan saja Kak Hardy mau, Hani pasrah. Lebih baik menyerahkan diri pada laki-laki yang Hani cintai daripada di paksa menikah dan menyerahkan diri pada suami yang tidak Hani cintai," ucap Hani sambil meraih tangan Axel.
"Jangan seperti itu Hani, kamu tak boleh seperti itu. Jangan menyerahkan diri pada laki-laki yang bukan suamimu. Itu akan menjadi penyesalan bagimu seumur hidupmu ...,"
"Tapi Kak, aku justru takut menyesal karena tidak menyerahkan diri pada Kakak hingga Kak Hardy punya alasan untuk batal menikah dengan Hani," ucap Hani memotong ucapan Axel.
"Itu jangan itu jadikan alasan, jika kita ditakdirkan berjodoh maka kita akan bersatu. Di saat itu kamu boleh menyerahkan dirimu padaku. Ingatlah! Jangan serahkan dirimu pada laki-laki yang bukan suamimu," pesan Axel agar Hani tak mudah tergoda Hardy kelak jika mereka bertemu lagi.
Axel tak ingin Hardy memanfaatkan cinta Hani yang tulus untuk memuaskan nafsunya.
"Tapi aku ingin membuktikan kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu Kak," ucap Hani dengan air mata yang berlinang.
"Tidak Athena! Bukan begitu caranya," ucap Axel dengan suara keras.
"Athena? Kak Hardy, suka sama Athena? Kakak sudah berhubungan dengannya? Apa dia mendekati Kakak? Kak Hardy datang ke sini untuk memutuskan hubungan denganku karena memilih Athena? Katakan Kak! Kenapa Kakak memanggilku dengan panggilan itu. Apa dia yang ada dalam pikiran Kak Hardy? Apa dia juga ingin membuktikan cintanya pada Kakak? Apa dia juga ingin menyerahkan dirinya pada Kakak, Kak, ayo jawab Kak" tanya Hani bertubi-tubi sambil menangis.
Gadis itu hingga menggoyang-goyangkan lengan Axel. Laki-laki itu bingung, tak bisa menjawab pertanyaan Hani. Dia sendiri heran, entah kenapa kata-kata itu bisa terlontar dari mulutnya. Kenapa nama itu yang terucap dari mulutnya.
Ucapan Hani seperti sering kudengar, tiba-tiba aku menjawab dengan nama itu, apa aku sungguh-sungguh pacaran dengannya? Apa Athena benar-benar pacarku, batin Axel.
Tiba-tiba Axel merasa kepalanya begitu sakit. Axel seperti mendengar suara-suara di kepalanya. Terngiang di telinganya ucapan-ucapan yang di ingatannya belum pernah terucap sekali pun.
~ Apa yang kamu lakukan? ~ terdengar seperti suaranya sendiri.
~ Untuk membuktikan kalau aku ingin menyerahkan diriku untukmu ~ terdengar seperti suara seorang gadis.
~ Apa yang kamu lakukan ini hanya akan merugikanmu ~ kembali seperti suaranya sendiri yang mengucapkan kata-kata itu.
~ Tapi, aku ingin menjadi milikmu ~ suara gadis yang makin di kenalnya.
~ Bukan begini caranya, kamu tidak boleh menyerahkan dirimu pada sembarangan orang. Kamu hanya boleh menyerahkan dirimu pada suamimu, dengan begitu dia akan selalu menghargaimu. Hidupmu tidak akan tenang jika menyerahkan kesucianmu bukan laki-laki yang bukan suamimu ~ ucapan Axel kembali terdengar.
~ Aku takut kamu akan meninggalkanku, mencari gadis lain. Kalau kamu pergi, aku tidak akan bisa menemukanmu lagi. Karena itu, aku ingin menjadi milikmu ~ suara gadis itu seperti menangis.
~ Aku mencintaimu Athena, aku sangat mencintaimu ~ Axel kaget mendengar ucapan yang seperti sering di dengarnya itu.
~ Aku bahagia bersamamu ~ bisik gadis itu.
~ Aku mencintaimu Athena ~
~ Aku mencintaimu Athena ~
~ Aku mencintaimu Athena ~
~ Aku mencintaimu Athena ~
__ADS_1
Axel merasa kepalanya seperti mau pecah, ucapan-ucapan itu semakin jelas terdengar berulang kali. Axel tak kuat menahannya dan berlari keluar dari warung Hani. Laki-laki itu berjalan tak tentu arah hingga akhirnya terduduk di sebuah bangku di bawah sebatang pohon.
Apa aku benar-benar pacaran dengan Athena? Kenapa kata-kata itu seperti benar-benar terjadi? Batin Axel bertanya-tanya.
Laki-laki itu berjalan gontai menuju rumah Yadi. Laki-laki yang pernah menjadi senior Axel saat bekerja di restoran Pak Yatno. Laki-laki itu terkejut saat melihat kedatangan Axel.
"Kenapa datang ke sini, katanya takut ketahuan? Trus kenapa malah berkeliaran?" tanya Yadi sambil celingak celinguk ke kanan dan ke kiri melihat ke sekelilingnya.
Axel hanya menatap Yadi, laki-laki itu langsung mengajak Axel masuk ke dalam rumahnya. Axel hanya diam dan duduk di hadapan laki-laki itu.
"Kamu bilang takut dikejar-kejar orang yang memfitnahmu. Kenapa tak sembunyi saja, kalau perlu apa-apa aku akan kirimkan," ucap Yadi.
"Di mana dia bersembunyi?" tanya Axel.
"Apa? Apa maksudmu?" tanya Yadi.
"Di mana Hardy bersembunyi, siapa yang memfitnahnya? Dia bukan di fitnah tapi buronan karena melakukan percobaan pembunuhan dan melakukan penipuan," jelas Axel.
"Apa? Kamu? Kamu Axel?" tanya Yadi kaget.
"Ya Bang, saya Axel. Hardy ingin mengambil posisiku selama-lamanya dengan cara membunuhku. Melemparku dari rooftop gedung tertinggi di sekolahku. Aku mengalami koma selama lebih dari empat tahun. Dia menikmati semua kemewahan yang di berikan orang tuaku sementara aku hanya berbaring di ranjang rumah sakit. Bukan hanya itu dia sengaja membiusku secara terus-menerus hingga membuatku tak pernah sadar. Bang Yadi ingin melindungi orang seperti itu?" tanya Axel.
"Aku tidak tahu menahu soal itu Axel. Dia tiba-tiba datang dan meminta tolong carikan kontrakan untuk tempat bersembunyi. Dia bilang dia sedang dicari orang karena dituduh menghamili seorang mahasiswa padahal bukan dia yang melakukannya. Dia yakin kalau bukan dia ayah kandung dari bayi itu," jelas Hardy.
"ITU BOHONG, dia hanya ingin memanfaatkan Bang Yadi untuk membantunya bersembunyi. Sekarang dia telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang. Dia itu buronan, jika bang Yadi menutupi kejahatannya dan membantunya bersembunyi, Bang Yadi akan ikut di tahan atas tuduhan berkomplot membantu tindakan kejahatan," jelas Axel.
Mendengar itu Yadi ketakutan dan segera memberi tahu alamat Hardy bersembunyi. Axel menghubungi orang tuanya dan memberitahukan keberadaan Hardy. Tak lama kemudian pihak kepolisian langsung datang menggerebek tempat persembunyiannya.
Hardy tak menyangka kalau kondisi kesehatan Axel telah membaik. Perawat yang biasa dibayarnya untuk melakukan anestesi total secara terus menerus itu ketahuan kedoknya, segera perawat laki-laki itu menghubungi Hardy. Beruntung keluarga Axel berada di rumah sakit menemani putranya. Hardy dengan bebas menjarah, barang-barang berharga di rumah itu.
Hingga di masa pelariannya Hardy masih mengira Axel tak akan bisa pulih lagi karena terlalu lama terbaring koma. Laki-laki itu tidak menyangka, begitu Axel mengetahui kejadian yang sebenarnya. Dengan sekuat tenaga Axel bangkit untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
Dan hari ini Axel menatap Hardy yang sedang di gelandang ke kantor polisi. Kedua orang tuanya pun ikut datang dalam pengrebekan itu. Sekaligus menjemput putranya yang jauh-jauh datang ke kota kecil itu untuk menyelidiki tempat persembunyian Hardy.
Axel menatap tajam wajah laki-laki yang telah mencelakainya lebih dari empat tahun yang lalu. Persahabatan mereka yang Axel kira tulus telah dinodai oleh ambisi Hardy yang ingin menikmati kekayaan orang tuanya.
Tiba-tiba saja Hardy melarikan diri, para polisi melakukan pengejaran. Termasuk juga Axel yang ikut mengejar, meski orang tuanya berteriak agar Axel jangan ikut melakukan pengejaran tapi laki-laki itu bertekat tak akan melepaskan Hardy.
Di sebuah persimpangan jalan Axel mengajar Hardy yang ingin berbaur dalam keramaian. Namun tiba-tiba Hardy yang sebentar-sebentar menoleh ke belakang tak menyadari mobil yang muncul dari depan. Laki-laki itu tertabrak hingga terpental jatuh ke aspal, Hardy pingsan. Laki-laki itu segera dilarikan ke rumah sakit.
Mendengar kabar itu Paman Budi dan Bibi Hayati langsung mendatangi rumah sakit. Bapak yang telah cukup di kenal Axel itu merasa heran karena dirinya mendapat kabar Hardy mengalami kecelakaan. Namun dilihatnya Hardy justru berdiri dalam keadaan sehat di rumah sakit.
"Hardy mereka bilang kamu masuk rumah sakit karena kecelakaan?" tanya Paman Budi.
"Saya bukan Hardy Paman, saya Axel," jawab Axel langsung.
"Axel? Apa maksudnya ini, kamu Hardy keponakan kami 'kan?" tanya Bibi Hayati meminta penjelasan.
"Bukan Bi, Hardy ada di dalam sana, dokter sedang melakukan tindakan medis," jawab Axel.
"Tapi ..., Bibi tidak percaya, kamu Hardy keponakan kami ...,"
"Bukan! Dia adalah putra kami, namanya Axel," ucap Olivia langsung memastikan.
Bibi Hayati menoleh ke arah suaminya, seakan-akan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Sebenarnya, selama ini kami telah melakukan pertukaran identitas. Kadang aku menjadi Hardy dan Hardy menggantikanku. Kadang-kadang kami menjalani kehidupan kami sendiri," jelas Axel.
Paman Budi masih sulit untuk percaya meski Axel telah menceritakannya. Namun saat Hardy telah selesai mendapatkan tindakan medis dan di bawa ke ruang rawat inap barulah Paman Budi percaya kalau ternyata memang ada dua orang yang sangat mirip.
"Mereka benar-benar mirip Bu," ucap Paman Budi pada istrinya yang juga terperangah saat melihat kemiripan Axel dan Hardy.
"Ternyata benar Pak, mereka memang kembar," ucap Bibi Hayati.
"Apa maksudnya kembar?" tanya Olivia langsung.
"Hardy sebenarnya bukanlah putra kandung adik saya. Adik saya yang seorang bidan menculiknya, belum lama setelah dilahirkan," jelas Budi
...~ Bersambung ~...
__ADS_1