
Athena meminta Axel menginap di rumahnya karena merasa sedih, Kimmy dan Vivi yang telah pergi mengejar cita-cita dan impian mereka. Athena merasa kesepian dan ingin di temani Axel. Namun kondisi mereka tak seperti dulu. Axel tak bisa seenaknya menginap tanpa izin seperti saat dirinya masih menjadi hantu. Axel tak ingin dianggap sebagai laki-laki yang tak menjaga sopan santun.
Meski sedih akhirnya Athena melepas Axel pulang. Axel mengecup puncak rambut gadis itu dan pamit pulang. Saat mengantar laki-laki itu di teras Athena terlihat murung. Hal itu membuat Mama Athena mengizinkan putrinya kembali menginap di rumah Axel.
"Benarkah? Athena boleh menginap di rumah Kak Axel lagi?" tanya Athena yang tak percaya.
"Ya, saat ini putri Mama sedang bersedih karena ditinggal sahabat-sahabatnya. Mama yakin Axel bisa menghiburmu. Kalau di rumah, kamu pasti hanya tidur seharian sambil mengunci pintu," ucap Mama Athena.
"Benarkah Ma, Athena boleh menginap lagi di rumah Keluarga Cullen?" tanya Athena kembali menyakinkan hatinya.
"Ya! Karena Mama lihat, Axel adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan membawa kebaikan bagi kamu. Prestasimu meningkat sejak mengenal Axel. Dan dia juga sopan dan bisa menjaga diri. Mama bisa percayakan kamu pada Axel," jawab Mama Athena sambil menangkup wajah putrinya.
"Makasih Ma," ucap Athena riang lalu memeluk dan mencium pipi Mamanya.
"Kamu udah bilang Axel belum?" tanya Mama Athena.
"Ya Ma, Athena bilang Kak Axel dulu ya," ucap Athena langsung berlari ke arah mobil laki-laki itu.
"Kak, boleh nggak nginap di rumah Kakak?" tanya Athena setelah mengetuk kaca mobil.
Axel yang telah duduk di belakang kemudi, membuka kaca mobilnya.
"Sayang! Kalau bagi kami tentu saja boleh. Tapi ...,"
"Tunggu ya!" ucap Athena langsung kembali masuk ke dalam rumah.
Athena berlari ke kamarnya dan mengambil pakaian ganti untuk menginap di rumah Axel.
Laki-laki itu bengong, bahkan ucapnya pun belum selesai, Athena sudah langsung pergi. Axel tersenyum dan memilih untuk kembali turun dari mobilnya. Baru saja menginjak teras rumah, Athena sudah muncul di hadapan laki-laki itu. Axel heran melihat Athena yang membawa ransel di punggungnya.
Axel meraih ransel itu dan menjinjing ransel itu.
"Emang boleh menginap di rumah? Aku minta izin dulu sama Mama ..."
"Udah ayo berangkat! Mama yang usul Athena nginap di rumah Mommy kok," ucap Athena sambil meraih tangan Axel.
"Benarkah? Baiklah kalau gitu! Aku harus bilang terima kasih dulu sama Mama," ucap Axel langsung masuk ke dalam rumah dan menemui Mama Athena.
Mama Athena tertawa saat melihat Axel kembali untuk berterima kasih. Laki-laki itu mencium punggung tangan Nyonya itu' berkali-kali saking senangnya.
Saat tiba di rumah Axel, gadis itu juga langsung disambut oleh Ny. Olivia. Saat duduk dan berbincang di ruang keluarga sambil menikmati tayangan di televisi bersama Hani, Ny. Olivia langsung berdiri begitu mendengar suara Athena di teras.
"Kamu datang sayang?" tanya Olivia sambil melihat Axel menenteng ransel Athena.
"Athena mau menginap di sini boleh nggak Mommy?" tanya Athena.
"Boleh dong sayang, ayo Axel, taruh di kamar ranselnya!" ucap Olivia sambil mengajak Athena duduk di ruang keluarga.
Athena menyapa Hani, gadis itu pun tersenyum pada Athena. Mereka pun menyaksikan film yang sedang tayang di televisi itu. Athena diajak duduk di samping Ny. Olivia sedangkan Axel di sofa lainnya. Laki-laki itu tertawa saat melihat Mommy-nya yang langsung menyandarkan kepala Athena di dadanya.
__ADS_1
Axel mengalah pada Mommy-nya dalam hal menguasai Athena. Laki-laki itu pasrah menunggu Athena lepas dari pelukan Mommy-nya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tangan Athena bisa lepas dari genggaman tangan Ny. Olivia. Laki-laki itu langsung mengajak Athena ke kamarnya dan memeluk gadis yang dicintainya itu.
"Mommy saingan terberatku, kalau Mommy udah menguasaimu jadi susah lepasnya. Padahal dari tadi udah nggak sabar pengen peluk kamu," gerutu Axel.
Athena tersenyum mendengar gerutuan Axel yang menunjukkan Axel begitu merindukannya. Gadis itu pun melampiaskan rindunya pada Axel dengan menyatukan bibir mereka. Axel membalaskan dengan lebih dalam.
"Aku sudah bilang cinta belum hari ini?" tanya Axel sambil tersenyum saat melepas ciumannya.
"Belum! Cuma bilang sayang aja tuh, kalau sayang itu bisa dilihat, udah berceceran di mana-mana kali," jawab Athena.
Axel tertawa, lalu menangkup wajah gadis yang dicintainya itu.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu," ucap Axel berkali-kali.
Athena tertawa, gadis itu memeluk erat Axel.
"Hanya Kak Axel yang bisa mengalihkan pikirannya dari Kimmy," ucap Athena.
"Aku akan melakukan apa pun untukmu, Athena. Aku paling tidak suka melihatmu bersedih," ucap Axel.
Athena tersenyum masih memeluk laki-laki itu. Axel memang melakukan apa pun agar gadis itu tak merasa sedih karena kehilangan sahabat-sahabatnya termasuk mengajak gadis itu untuk berendam di jacuzzi whirlpool bath.
Axel menyiapkan sendiri jacuzzi whirpool bath itu dengan menambahkan garam mandi ke dalam kolam air panas itu. Mineral yang larut dalam air ini menawarkan berbagai manfaat seperti memerangi stress dan kelelahan.
Air panas whirpool bekerja untuk melemaskan otot, sementara mineral yang terkandung di dalamnya berkontribusi dalam penyembuhan psikologis.
Selain itu Axel juga menambahkan bath bomb, benda yang sekilas seperti kamper berukuran besar ini bila terendam air akan meledak dan mengeluarkan semburan minyak yang harum dan menyejukkan.
Setelah menjalani hari-hari yang sibuk belajar dan stress menghadapi pengumuman kelulusan, ditambah dengan kesedihan yang dirasakan Athena yang satu persatu melihat sahabatnya pergi. Jacuzzi whirpool bath memang berguna untuk merelaksasi dan melemaskan otot-otot yang tegang, tubuhnya yang letih, badannya yang terasa lemas dan hatinya yang sedang bersedih.
Untuk kondisi sekarang ini, Axel juga menambahkan *e*ssential oil dengan meneteskan dua hingga tiga tetes ke dalam kolam air panas yang bermanfaat bagi tubuh. Mulai dari sebagai pewangi, aroma terapi dan untuk perawatan kulit. Dengan penggunaan minyak esensial itu Axel berharap dapat membuat mood Athena jadi lebih baik. Tak lupa Axel memasang lilin beraroma untuk mengubah seluruh kamar mandi menjadi ruangan yang memanjakan gadis yang dicintainya itu.
Whirpool bath yang terkoneksi dengan kamar tamu itu dapat dinikmati sendiri dengan menutup full pintu kaca yang membatasi whirpool dengan kolam renang. Atau dengan membuka lebar pintu kaca agar pengguna bisa menikmati whirpool sambil memandang kolam renang di luar dan taman bunga milik keluarga Cullen.
Athena menghirup aroma ruangan yang menenangkan itu. Gadis cantik itu mulai merasakan manfaat dari kolam air panas itu. Pikirannya mulai berkelana membayangkan Axel yang mendatanginya masuk kedalam kolam itu dan lalu mendekatinya.
Athena tersenyum, Axel kaget.
Kok senyum sih? Padahal aku udah pelan-pelan masuk ke sini. Apa dia tahu kalau aku telah masuk ke sini? batin Axel.
Laki-laki itu tak menyadari Athena tersenyum bukan karena dia tahu Axel telah masuk ke dalam kolam air panas itu namun karena Athena mengkhayal laki-laki itu telah berada di sampingnya.
"Sedang membayangkan apa? Kenapa senyum-senyum?" bisik Axel sambil mengecup lembut leher Athena.
Gadis itu kaget, tak menyangka khayalannya menjadi nyata. Reflek membuka matanya dan melihat laki-laki yang dicintainya itu telah berada di sampingnya.
"Kakak? Ternyata Kakak benar-benar di sini?" tanya Athena.
"Bolehkah aku di sini menemanimu?" tanya Axel sambil menampilkan senyum termanisnya.
__ADS_1
Athena tersenyum, langsung memeluk laki-laki tampan itu. Axel langsung membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu. Athena menyambut ciuman laki-laki itu penuh nafsu. Saling memainkan lidah dan saling menyesap, Axel menikmati pelukan dan ciuman yang membuatnya semakin penasaran itu. Semakin ingin menikmati rasa manis di mulut beraroma vanilla itu.
Athena menikmati hingga memejamkan matanya. Aroma yang terpancar di ruangan itu menambah gairah keduanya hingga tak kunjung menghentikan tingkah mereka. Axel beralih ke leher Athena, gadis itu melenguh nikmat. Gadis itu pasrah, apa pun yang diinginkan Axel dia akan menyerahkannya.
Namun hanya sampai di situ, laki-laki itu segera menghentikannya. Axel tak ingin berbuat lebih jauh, dia tak ingin melanggar kepercayaan yang di berikan Mama Athena padanya.
Sabarlah sayang, aku akan berjuang untuk segera menikahimu. Butuh kesabaran dan pengorbanan tapi ini baik untuk kita, daripada aku mendapatkanmu dengan cara yang tidak pantas, batin Axel.
Athena menunduk dengan wajah murung saat Axel menghentikan perlakuan manisnya. Axel mengangkat dagu gadis cantik itu.
"Kenapa?" tanya Axel.
"Kakak tidak menginginkan aku?" tanya Athena.
"Sangat menginginkanmu, tapi jika aku meneruskannya, aku takut tak bisa menghentikannya. Aku berjanji pada Mamamu akan selalu menjagamu. Apa yang aku lakukan ini adalah untuk menjagamu sayang," ucap Axel pelan nyaris berbisik.
"Aku percaya Kakak, aku yakin Kakak akan bertanggung jawab," ucap Athena.
"Tentu, bertanggung jawab terhadapmu adalah keinginan terbesarku. Aku ingin selamanya bertanggung jawab terhadapmu. Tapi bertanggung jawab dengan cara yang terhormat sayang, bukan bertanggung jawab karena berbuat kesalahan," ucap Axel.
"Aku takut saat di kampus nanti, Kakak menemukan seseorang yang lebih baik dariku," ucap Athena kembali menunduk.
"Jadi kamu ingin mengikatku?" tanya Axel sambil tertawa.
Melihat Axel yang tertawa mendengar ucapannya Athena membalik badannya ingin pergi namun Axel langsung memeluknya dari belakang.
"Kamu tidak perlu melakukan itu, hatiku sudah terikat padamu. Jangan takut, aku tidak akan pernah tergoda dengan gadis lain. Kamu sudah mengisi penuh hatiku, tak ada tempat lagi untuk gadis lain," bisik Axel.
Sambil mengecup samping leher Athena, gadis itu kembali memejamkan matanya. Athena pasrah memberikan seberapa yang Axel inginkan. Karena gadis itu siap memberikan segala-segalanya untuk laki-laki yang dicintainya itu.
Hari pertama menginjakkan kaki di kampus itu akhirnya datang. Saat itu mereka harus menjalani orientasi pengenalan kampus. Athena dan Axel berjalan memasuki kampus sambil tersenyum. Axel meraih tangan Athena dan menggenggamnya.
Axel ingin menunjukkan pada semua penghuni kampus yang melihat mereka kalau Athena adalah miliknya. Namun bukan itu yang di pikirkan gadis-gadis itu, mereka justru menyesal karena Axel telah dimiliki Athena.
Mereka menjalani masa orientasi pengenalan kampus sesuai dengan jurusan mereka. Karena itu Axel dan Athena terpaksa berpisah untuk sementara. Axel menjalani ospek dengan teman-teman satu jurusan begitu juga dengan Athena.
Mereka menjalani setiap tugas yang diperintahkan panitia ospek. Setiap kali mendapat tugas, Axel selalu teringat Athena. Memikirkan Athena, mengkhawatirkan gadis itu.
Apa dia bisa menjalaninya? Menjalani tugas-tugas yang diberikan padanya? Athena itu manja dan ceroboh. Kalau mendapat tugas yang dia tidak bisa, bagaimana? Apa dia akan beradu argumen dengan panitia seperti yang dilakukannya pada guru-gurunya saat di SMA? batin Axel bertanya-tanya.
Namun laki-laki itu justru tertawa sendiri saat mengingat Athena yang tak pernah mau kalah dengan guru-gurunya.
Tapi dia selalu bisa melawan guru-guru itu, entah guru-guru itu benar-benar kalah dengannya atau hanya sekedar mengalah. Lalu bagaimana dengan panitia ospek ini? Apa mereka akan mengalah pada Athena, atau mereka akan menggodanya. Ah tidak, jangan sampai terjadi hal itu. Tapi dia menggemaskan, bagaimana kalau para senior itu suka padanya? Bagaimana kalau Athena tergoda padanya? Tidak Athena setia padaku, tapi ...
"Hallooow, apa kamu sakit?" tanya seorang mahasiswi.
Axel melihat tanda pengenal panitia ospek tergantung di dadanya. Orangnya manis dan kalau tersenyum semakin manis.
Oo, apa aku tertarik padanya? Senior ini terlihat begitu manis. Oh tidak! Tidak! Aku tak boleh seperti ini, hanya Athena di hatiku, tapi dia manis sekali, batin Axel.
__ADS_1
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, menandakan dia baik-baik saja, untuk fisik namun entah hatinya. Mata Axel bergerak mengikuti langkah senior ramah itu. Suaranya lembut menenangkan, senyumannya membuat hati nyaman. Dan sekarang setelah melakukan itu dia pergi melangkah menjauh dari Axel, namun kemudian menoleh kembali membuat laki-laki itu kontan tertunduk malu, karena ketahuan menatapnya.
...~ Bersambung ~...