Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 23 ~ Pernyataan Cinta ~


__ADS_3

Athena kembali ke kamarnya setelah meminta maaf pada mamanya. Berharap telah bisa melihat Axel di sana tapi gadis itu masih belum melihat apa pun. Athena duduk di kursi meja belajarnya. Membuka buku pelajaran hari ini yang telah dilewatinya.


Hanya sebentar saja gadis itu membuka buku pelajaran itu lalu menutupnya kembali karena Athena merasa sama sekali tidak konsentrasi pada apa yang dibacanya. Athena menghela nafas berat, hatinya risau mengingat hatinya yang bimbang memilih antara Axel dan Evan.


Coba kalau Axel itu manusia? aku nggak akan ragu lagi menetapkan hati. Senang karena akhirnya aku bisa dekat dengan Evan tapi hati menjadi ragu ingin memilih siapa? kalau memilih Axel? selamanya menjomblo, nggak mungkin cerita kalau punya pacar hantu, bisa-bisa dikirim pake paket kilat ke rumah sakit jiwa? kalau memilih Evan, hatiku jadi nggak tenang. Kenapa Axel muncul dalam hidupku kalau cuma bikin hatiku bimbang? tapi kalau aku nggak ketemu Axel. Evan juga nggak akan deketin aku, karena Axel juga yang bikin aku mendapat peringkat 10 dan akhirnya mendapat kesempatan menjadi pasangannya, oohh.. gimana ini? batin Athena.


Athena menjatuhkan dagunya di atas meja, bertumpu pada kedua punggung tangannya. Perlahan menatap buku-buku yang berjejer di depan matanya. Buku-buku yang dulu sangat jarang dibukanya.


Buku-buku yang hanya di sentuh jika ada tugas atau menjelang ulangan atau ujian semester. Mata Athena berhenti pada buku harian Raihanna. Kembali gadis itu membuka buku harian itu dan mulai melanjutkan membaca halaman selanjutnya.


Sabtu, 23 November 2014


Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagiku namun sekaligus menyedihkan.


Athena mengernyitkan keningnya saat membaca se-baris kalimat itu. Perasaan Athena terbawa masuk ke dalam suasana hati Raihanna meski hanya membaca baris pertama buku harian itu.


Sepulang sekolah, aku memutuskan untuk mengajak Raihan datang berkunjung ke rumahku. Raihan setuju, kami pun pulang ke rumahku.


Kebetulan hari itu orang tuaku berkunjung ke rumah saudara di luar kota. Aku mengajaknya berkeliling rumah, menunjukkan bagian rumah yang menjadi favoritku, yaitu kamarku.


Sehari-hari aku menghabiskan waktu di dalam kamar. Pulang sekolah langsung masuk kamar dan menghabiskan waktu membaca novel favoritku.


Namun, kali ini aku tidak akan membaca novel karena hari ini aku membawa laki-laki yang aku cintai, tak mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan ini dan menghabiskan waktu dengan membaca novel.


Dengan bahagia aku menunjukkan koleksi novel-novel favoritku bahkan menceritakan beberapa kisah yang berkesan di novel-novel itu.


Raihan mendengar dengan seksama, entah dia benar-benar suka atau hanya untuk menyenangkan hatiku. Aku tidak peduli, aku justru bahagia, itu artinya dia menghargaiku.


Hari itu adalah hari paling berkesan bagiku karena untuk pertama kalinya aku merasakan berciuman, baru pertama kali dan dengan orang yang aku cintai.


Athena berhenti membaca buku harian itu, khayalannya singgah pada pengalaman pertamanya berciuman. Rasanya tak mungkin bisa dilupakan, hari itu adalah saat pengumuman hasil peringkat try out diumumkan. Athena mendapat peringkat sepuluh, Axel ingin memberinya hadiah berupa ciuman namun tidak berani hingga akhirnya Athena-lah yang memulai.


Gadis itu tersenyum mengingat betapa nekatnya dia waktu itu. Athena memejamkan matanya membayangkan saat Axel merebahkannya di ranjang dan menciumnya dengan dalam. Athena mengingat lembutnya bibir laki-laki itu. Tidak ada yang tahu selain dirinya. Betapa dia sangat bahagia saat itu.


Aku rasa kak Raihanna juga merasakan hal yang sama, berciuman dengan orang yang disukai, rasanya sangat indah, batin Athena lalu menoleh ke arah ranjang dan tersenyum.


Meski di sana tidak terlihat Axel karena masih lemah namun Athena yakin saat ini Axel sedang memandangnya. Athena lanjut membaca buku harian yang masih dipegangnya.


Aku menikmatinya hingga lupa diri, dalam hatiku bertekat akan memberikan apa pun yang dia inginkan, semuanya, semuanya. Tapi Raihan adalah laki-laki yang baik, dia menghentikannya sebelum kami melangkah lebih jauh. Ya, aku tidak akan menyesal jika menyerahkan diriku pada laki-laki yang aku cintai. Aku akan menyerahkan kehormatanku untuk membuktikan cintaku.


Namun tidak bagi Raihan, baginya bukti cinta bukanlah dengan cara seperti itu. Bukti cinta adalah pengorbanan, apa pun dilakukan demi kebaikan orang yang dicintai.


Dia menolakku tapi aku tidak kecewa karena dia melakukannya karena dia ingin menjagaku. Dia ingin aku menjadi gadis yang tetap menjaga kehormatan, dia lakukan sebuah pengorbanan besar untukku, itulah bukti cintanya padaku.


Tapi diary,


Kakak sepupuku menyaksikan perbuatan kami, dia merekam semuanya dan mengancam akan memberitahukan semua pada orang tuaku. Dia akan memfitnah Raihan, jika aku tidak mengikuti kemauannya.


Diary, apa yang harus aku lakukan?


Athena menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya menetes membayangkan kesedihan Raihanna. Di hari yang seharusnya membuat hatinya bahagia justru kebahagiaan itu di rusak oleh ancaman kakak sepupunya.


"Jahat sekali, tega sekali memfitnah orang yang tidak bersalah. Orang yang justru ingin menjaga kesucian kak Raihanna. Dasar kakak sepupu jahat, huh, di mana kamu sekarang, rasanya aku ingin sekali melihat seperti apa hidup orang jahat sepertimu sekarang. Apa kamu bahagia? setelah mengancam seperti itu? apa kamu menderita karena mendapat hukuman dari perbuatanmu? huh dasar penjahat, penjahat, penjahaaaat" teriak Athena.

__ADS_1


"Siapa yang penjahat?" ucap Axel sambil memeluk Athena dari belakang.


Kedua tangan laki-laki itu melingkarkan di pundak Athena yang masih duduk di meja belajarnya. Pipi Axel menempel di pipi Athena. Membuat gadis itu bertahan di posisinya. Hanya tersenyum tak ingin bergerak sedikitpun.


Tapi Axel justru bergerak menjauhkan pipinya lalu mengecup pipi Athena, gadis itu membalas mengecup pipi Axel. Tanpa disadarinya hari telah menjelang malam, dan kekuatan Axel telah bertambah hingga bisa muncul di hadapan Athena. Gadis itu sangat senang, melihat Axel yang telah pulih kembali.


"Kenapa melakukan itu? melempar gelas hingga membuatmu sakit? kenapa?" tanya Athena langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Axel.


"Maafkan aku, harusnya aku tidak boleh di situ, harusnya aku tidak melihatmu, harusnya aku membiarkan dia menciummu, tapi aku cemburu, aku tidak bisa menahan diri. Aku marah saat melihatmu seperti terpaksa menerima ciuman darinya. Kenapa? kenapa kamu terlihat terpaksa? takut di lihat orang atau takut di lihat olehku?" tanya Axel bertubi-tubi.


"Semua alasan itu benar, aku memang merasa tidak nyaman berciuman di sana, aku juga tidak ingin dilihat olehmu" ucap Athena.


Axel menangkup wajah Athena lalu menatap wajah gadis itu dengan sedih. Sejak awal berjumpa dengan Athena dia tulus ingin mempersatukan Athena dengan laki-laki yang dicintainya. Namun, justru sekarang dirinyalah yang menjadi penghalang cinta gadis itu.


"Maafkan aku Athena, aku menjadi penghalang cintamu" ucap Axel menyesal.


"Nggak, ini bukan salahmu, aku yang tidak tegas dengan perasaanku. Axel, ini semua terjadi karena aku, aku, aku jatuh cinta padamu, Axel, aku mencintaimu" ucap Athena sambil menatap mata laki-laki itu.


Axel tersenyum, ucapan yang paling merdu yang pernah didengarnya. Kata-kata yang paling indah yang paling diinginkannya.


"Aku juga mencintaimu Athena" balas Axel lalu mendekat perlahan menyatukan bibir mereka.


Athena menerima ciuman itu dengan senang hati, bahkan dengan semangat membalas ciuman laki-laki itu. Berdua mereka menumpahkan perasaan mereka yang selama ini hanya di pendam.


Athena menyatakan cintanya begitu juga dengan Axel. Mereka telah membuka perasaan mereka masing-masing. Athena pasrah dengan keputusan Axel, apa yang harus dilakukannya. Hanya boleh bersamanya atau diizinkan berpacaran dengan Evan, yang terpenting bagi Athena sekarang, Axel telah tahu perasaannya yang sebenarnya.


"Aku lega Athena dan aku percaya padamu. Aku ingin kamu tetap menerima keinginan Evan. Berbahagialah dengannya, cobalah merasakan indahnya masa di SMA dengan berpacaran dengan manusia. Aku tidak ingin kamu melewati masa itu dan menyesalinya suatu saat nanti" ucap Axel.


"Tidak akan terasa saat sekarang sayang tapi nanti, saat masa ini telah berlalu. Disaat itu kamu hanya akan bisa menyesali kenapa tidak mencoba berpacaran saat di SMA" jelas Axel.


Athena manggut-manggut antara percaya dan tidak. Tapi, gadis itu memutuskan mengikuti apa pun yang Axel inginkan. Hatinya lega Axel telah tahu perasaannya yang sebenarnya.


Keesokan harinya Athena bersiap-siap ke sekolah dengan hati riang. Setiap gerakan gadis itu seperti sedang menari, wajahnya juga memancarkan rona cerah, senyuman tak pernah hilang dari bibirnya, senandung tak pernah berhenti dilantunkannya.


Axel tertawa melihat tingkah gadis itu, Athena merasa bahagia, begitu membuka mata Axel langsung mengecup bibirnya. Sebuah penyemangat dalam memulai hari telah diberikan Axel padanya. Sedang asyik-asyiknya menyiapkan diri Athena mendengar ketukan pintu.


Tak lama kemudian mama Athena muncul dan memberitahu kalau Evan telah menunggu di bawah.


"Apa? kok pake di jemput segala sih?" tanya Athena.


"Mama nggak tahu, bukan mama yang suruh loh" ucap mama Athena.


Gadis itu menghembuskan nafas berat dan bertingkah seperti tidak semangat.


"Kenapa? bukannya enak kalau ada yang jemput? kamu bisa langsung sampai ke sekolah, nggak perlu jalan kaki" ucap mama Athena.


"Nggak apa-apa Athena, seorang cowok yang gentleman memang seharusnya menjemput gadis yang disukainya" ucap Axel.


Mendengar ucapan Axel akhirnya Athena pasrah menemui Evan. Laki-laki itu langsung berdiri dari kursi tamu sambil tersenyum manis saat melihat Athena muncul. Gadis itu juga tersenyum memandang Evan, bersama-sama mereka berangkat ke sekolah setelah berpamitan dengan mama Athena.


Evan membukakan pintu mobil lalu berjalan ke sisi pintu mobil yang lainnya. Seperti biasa laki-laki itu tersenyum saat masuk dan duduk di depan kemudi.


"Aku bahagia Athena karena bisa berangkat ke sekolah bersamamu" ucap Evan.

__ADS_1


Athena mengangguk sambil tersenyum, perasaannya agak tenang saat ini karena Axel benar-benar memberinya izin bersama Evan. Axel bahkan yang paling gencar menyarankan Athena untuk berpacaran dengan Evan.


Evan menyentuh tangan Athena seolah-olah salah mencari tongkat persneling. Athena tertawa, tentu saja Evan senang melihat respon Athena. Sesampai di sekolah pun Evan masih tetap menunjukkan perhatiannya.


Membukakan pintu mobil untuk Athena, membimbing gadis itu keluar hingga akhirnya mengantarkan Athena ke kelasnya. Di sepanjang jalan Evan tak melepaskan tangan gadis itu. Dengan bangga Evan menggandeng Athena sambil tersenyum menyapa siswa-siswi yang mengenalnya.


Semua siswa dan siswi yang melihat mereka serentak menghentikan kegiatan mereka dan sibuk berbisik membicarakan Athena dan Evan. Mereka seperti pasangan selebriti yang baru saja ingin menunjukkan kedekatan mereka.


Ada yang menyetujui dan menganggap mereka adalah pasangan yang serasi. Namun, ada juga yang tidak setuju dengan alasan Athena yang anak IPS tidak pantas berdampingan dengan Evan yang anak IPA.


Urban legend itu menjadi alasan klise mereka karena iri tidak bisa mendapatkan hati Evan. Athena tidak peduli lagi tentang urban legend itu. Anak IPA atau anak IPS sama saja dimatanya.


Athena duduk dibangkunya dan Evan langsung mengecup kening gadis itu. Siswa-siswi yang ada di kelas bersorak riuh. Para gadis-gadis berteriak histeris melihat sikap manis yang sengaja ditunjukkan Evan di depan gadis-gadis itu.


Cowok favorit sekolah itu keluar dari kelas sambil melambaikan tangannya. Para gadis langsung berteriak histeris seolah-olah mendapat lambaian tangan seorang pangeran.


Saat Evan telah pergi mereka langsung mendekat pada Athena.


"Kalian udah jadian ya?" tanya seorang teman sekelas Athena.


"Belum" jawab Athena singkat.


"Masa sih, udah mesra kayak gitu masa belum jadian?" tanya yang lain tak percaya dengan jawaban Athena.


"Tapi dia udah nembak kamu kan?" tanya yang lainnya.


Athena mengangguk, mereka menjerit histeris. Athena meringis melihat gadis-gadis itu yang terlalu berlebihan memuja Evan.


"Trus apa jawaban kamu? kamu nggak menolaknya kan? kalau kamu nggak menolaknya berarti kamu udah jadian Athena" ucap seorang gadis.


"Aku nggak menolak tapi juga belum menerima" ucap Athena.


"Kok gitu sih?" tanya yang lain.


"Kamu gantung dia kayak gitu? dan dia nggak kabur?" tanya gadis lain.


"Padahal waktu dia minta balikan sama Luna, cewek itu sok jual mahal langsung di tinggal aja sama Evan. Tapi sama kamu dia bertahan ya? hebat kamu Athena, kamu udah naklukin hati Evan" ucap seorang gadis yang paham benar dengan sepak terjang Evan.


"Trus kapan kamu mau jawab pernyataan cintanya?" tanya Kimmy yang baru saja datang.


"Belum tahu, tunggu perasaan gue yakin dulu lah" ucap Athena lebih santai menjawab pertanyaan Kimmy.


"Udah naksir dari kelas X hingga sekarang, giliran tinggal jawab ya aja tunggu perasaan loe yakin?" tanya Vivi yang juga hanya mendengar obrolan mereka dari tadi.


Athena mengangguk, tiba-tiba Luna masuk ke kelas dan langsung nimbrung pembicaraan mereka.


"Nggak usah merasa tersanjung dengan sikap Evan yang seperti itu. Itu sudah menjadi gayanya, dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya" ucap Luna.


"Apa itu?" tanya Kimmy.


"Virginity"


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2