
Axel telah siap dengan setelan jasnya. Laki-laki itu mendapat jadwal sidang skripsi pagi ini. Beruntung jadwal kuliah Athena hari ini adalah siang hingga laki-laki itu bisa memberi surprise pada gadis tercintanya itu sesuai dengan rencananya. Hingga kini, Athena belum tahu kalau Axel telah menamatkan semua mata kuliahnya.
Di saat Hardy masih harus menjalani semester delapan pada semester yang akan datang, Axel justru telah menamatkan kuliahnya di semester tiganya. Axel menatap penampilannya di kaca besar itu. Perfect dari bawah hingga ke kepala. Laki-laki itu juga sangat percaya diri dengan presentasinya nanti.
Nggak apa-apa, nggak ditunggui Athena. Ini bagian dari surprise, dia tak tahu kalau aku sudah tamat kuliah. Bersiap-siaplah Athena! Kamu harus terima lamaranku karena aku akan segera menjadi sarjana, batin Axel sambil tersenyum sendiri.
Laki-laki itu pun berangkat ke kampus. Setelah pamit dan memohon doa pada orang tuanya, kakak dan juga calon iparnya. Axel siap berangkat sendiri ke kampus untuk menjalani sidang skripsi.
Sedikit merasa kecil hati saat melihat peserta sidang yang ditemani oleh kekasihnya. Mereka menunggu dipanggil sambil bercanda. Sementara Axel hanya diam termangu menatap mereka. Saat sang laki-laki, peserta sidang itu menoleh ke arah Axel, Axel pun segera berpaling.
Axel sadar menatap mereka pastilah membuat peserta laki-laki yang jelas-jelas seniornya itu merasa tak nyaman. Takut Axel mengincar pacarnya mungkin, itulah yang dikhawatirkan Axel. Siapa yang nggak khawatir kalau selalu dilirik laki-laki tampan seperti Axel. Digoda sedikit saja, dalam sekejap pacarnya mungkin segera beralih mengincar Axel.
Axel sudah menatap ke depan, tetapi peserta laki-laki itu sudah telanjur merasa kesal. Dia melangkah menghampiri Axel. Sang pacar pun, terperangah dan heran dengan maksud pacarnya itu menemui Axel.
"Ngapain loe liat-liat kami? Ngapain loe di sini? Loe angkatan berapa?" tanya senior yang hampir tamat itu.
Axel hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali menatap ke depan. Karena tak mendapat jawaban senior itu semakin merasa kesal. Laki-laki itu langsung menarik kerah jas Axel.
"Loe lirik-lirik pacar gue mau apa haaa?" tanya senior itu.
"Aku nggak lirik-lirik pacar Abang, aku cuma teringat sama pacarku yang nggak bisa temani aku--"
"Alah bohong! Loe mau menggoda pacar gue yaa. Emang gue nggak tahu, tampang loe ini, tampang Casanova--"
Enak aja Casanova. Tau artinya nggak loe, batin Axel.
__ADS_1
Melihat Axel yang cemberut dituduh Casanova sementara dia sangat setia pada cintanya. Apalagi melihat Axel yang cuek melengos ke arah lain membuat senior itu merasa Axel menantangnya. Laki-laki itu bersiap-siap melayangkan pukulan ke wajah Axel.
"Kaak!!!" teriak Axella menghentikan senior itu.
Senior itu urung memukul wajah Axel. Begitu kaget mendengar Axella yang berteriak padanya. Sementara Axel hanya tenang-tenang saja.
"Kak Andi kenapa mau pukul dia?" tanya Axella.
"Kamu kenal dia? Dia itu tadi lirik-lirik Reni. Makanya aku kesal liat tampangnya. Ngakunya ingat pacarnya yang nggak bisa temani dia," ucap Andi.
Axella menatap kesal pada Andi. Laki-laki itu lebih senior lagi dibandingkan Axella bahkan dua angkatan di atasnya. Berhubungan Andi sering gagal dalam mata kuliahnya hingga terpaksa mengulang mengambil mata kuliah yang gagal di kelas junior. Salah satunya di kelas Axella.
"Ya tadi aku kuliah dulu, makanya aku nggak bisa temani dia. Lagian Kak Andi yang benar aja? Siapa yang mau rebut pacar Kak Andi? Dia itu sudah punya pacar," jelas Axella.
Gadis itu langsung to the point menuduh Andi mengira Axel ingin merebut pacarnya. Sementara dari gaya bicara Axella seolah-olah gadis itu adalah pacar Axel yang sedang di tunggu-tunggu. Membuat Andi jadi salah paham.
"Dia ambil kuliah di kelas lain," ucap Axella.
Gadis itu tak menyangkal tuduhan Andi yang mengira dia pacar Axel tetapi malah menceritakan kehebatan Axel yang bisa menamatkan kuliahnya meski Axel dua angkatan di bawahnya. Membuat Andi kagum dan nyaris tak percaya. Axella meraih name tag Axel yang terselip di saku jasnya dan memperlihatkannya pada Andi.
Laki-laki itu terkejut karena melihat Axel adalah mahasiswa angkatan yang jauh di bawahnya. Sementara Axel hanya diam menatap ke arah lain. Andi langsung meminta maaf pada Axel.
Tak lama kemudian Andi dipanggil untuk memulai sidang skripsinya. Laki-laki itu pun pamit masuk pada mereka bertiga. Sementara Axel masih menunggu karena tim penguji yang masih berhalangan hadir.
Sambil menunggu Axella menemani laki-laki itu. Namun, Axel tak mau mengungkit sama sekali tentang ucapan Axella yang terkesan mengakui dirinya adalah pacar Axel. Laki-laki itu hanya tak ingin memperpanjang masalah sementara Axella merasa laki-laki itu tak keberatan dengan pengakuannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Axel pun dipanggil masuk untuk memulai presentasinya. Melangkah dengan mantap ke ruang sidang setelah pamit pada Axella dan pacar Andi yang sekarang duduk di dekat mereka. Tanpa sengaja Axel menoleh ke arah ruang sidang Andi. Terlihat laki-laki itu sedang panik sambil menatap laptopnya.
Axel menoleh ke arah tim penguji yang terlihat mulai tak sabar. Axel mengkode Andi untuk melihat ke arahnya. Andi langsung menoleh dan meminta izin untuk menemui Axel. Laki-laki itu mengungkapkan masalah yang terjadi pada laptopnya.
"Apa aku diizinkan untuk melihat laptop-nya?" tanya Axel.
"Baiklah aku tanyakan dulu ya? Tolonglah Axel, semua presentasiku dan dataku ada di situ," ucap Andi seperti mendapat harapan.
Laki-laki itu pun segera meminta izin agar Axel melihat kondisi laptopnya. Setelah diizinkan, Axel pun mulai mengotak-atik laptop milik Andi dan tak lama kemudian laptop Andi menyala kembali. Setelah itu Axel pun bergegas ke ruang sidangnya.
Axel pun memulai sidangnya. Namun, laki-laki itu keluar ruang sidang dengan wajah yang murung. Saat melewati ruang sidang Andi yang juga telah bubar, Andi segera menanyakan hasil sidang Axel.
"Cuma mendapat nilai B karena aku dinilai tidak disiplin," ucap Axel murung.
"Apa? Kenapa? Kamu yang begitu cerdas hanya diberi nilai B? Karena tak disiplin? Apa maksudnya?" tanya Andi.
"Aku dinilai tidak sopan karena telat masuk ruang sidang--"
"Apa kamu tidak telat, kamu sudah menunggu dari tadi. Kenapa tak bilang kalau tadi kamu menolongku dulu?" tanya Andi.
Axel hanya menggeleng pasrah. Tak mungkin mengungkapkan kebaikannya pada orang lain. Beruntung dosen penguji Andi yang mendengar percakapan mereka, bersedia menjadi saksi kalau Axel tidak telat datang ke ruang sidang. Nilai Axel pun akhirnya direvisi.
Laki-laki itu pun mendapat nilai A untuk Tugas Akhir nya. Axel berterima kasih pada Andi, tetapi justru Andi yang tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Axel. Mereka pun bersama-sama keluar untuk menemui para gadis yang menunggu.
Begitu keluar Andi disambut oleh pacarnya dan Axel di sambut oleh Axella. Kedua gadis itu serentak bangkit dari duduknya dan langsung mengalungkan tangannya ke leher para laki-laki itu. Andi menyambut bahagia sang pacar bahkan langsung memeluknya.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan Axel yang justru berwajah murung. Semua itu karena gadis yang dicintai tak ada untuk menyambutnya. Wajah murung itu tak lepas dari rasa heran Andi.
...~ Bersambung ~...