
Axel berjanji akan kembali pada Athena, mendengar ucapan Mia seperti itu Athena merasa sangat bahagia. Gadis itu menunggu di kamarnya, sesekali melihat ke luar jendela menunggu datangnya pergantian waktu.
"Jangan temui Evan" terdengar suara dari belakang.
Athena langsung menoleh, dengan mata yang berkaca-kaca gadis itu langsung memeluk Axel.
"Maafkan aku Axel, aku menyesal telah mengusirmu. Sekarang aku sadar, kenapa kamu berbuat seperti itu agar aku tetap bisa melihatmu. Agar kita bisa tetap bersama, aku sangat menderita karena tidak bisa melihatmu. Aku nggak peduli jika harus melihat hantu asalkan aku bisa melihatmu agar aku bisa selalu bersamamu. Axel, kita akan selalu bersama bukan?" tanya Athena.
Axel tersenyum kemudian mengangguk.
Aku selalu ingin bersamamu Athena, selama kamu ingin bersamaku, batin Axel.
"Axel, aku harus pergi, aku harus menemui Evan. Aku ingin dia menghapus rekaman video itu. Aku nggak ingin kamu menjadi incaran paranormal atau pemburu hantu. Aku takut mereka akan melenyapkanmu" ucap Athena semakin berkaca-kaca.
"Lebih baik aku lenyap daripada membiarkanmu menemui laki-laki jahat itu. Tidak, kamu nggak boleh menemuinya" ucap Axel sambil menangkup wajah Athena.
Laki-laki hantu itu sangat merindukan Athena, begitu juga sebaliknya. Athena segera membenamkan bibirnya ke bibir laki-laki itu. Axel menyambut hangat, selama ini Axel hanya bisa melihat Athena dari jauh. Segala kerinduannya hanya ditelan sendiri sementara Athena selalu berada di samping Evan.
Axel terkejut saat melihat Athena yang marah padanya, mengabaikannya dan akhirnya mengusirnya. Axel yang belum tahu apa kesalahannya hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Athena.
Saat Athena tidak menginginkannya lagi maka dia akan pergi. Meski terasa pedih namun Axel tersenyum setiap kali teringat Athena akan bahagia bersama laki-laki yang dicintainya sejak dulu. Axel bahagia bisa ikut membantu Athena mencapai keinginannya menjadi kekasih Evan.
Meski merasa hampa, pedih dan sakit, Axel mengambil hikmah pertemuan mereka. Bisa mengenal Athena yang cantik dan baik, gadis yang selalu membuatnya tertawa di rumah maupun di sekolah.
Bisa merasakan ciuman pertama dengan gadis yang dicintai adalah kesan yang tidak akan pernah dilupakannya. Gadis yang membuatnya merasakan bahagia kembali sejak mendapati dirinya tak bisa dilihat lagi oleh manusia .
Axel mengikuti Athena hingga ke pesta perpisahan, tersenyum kecut saat melihat pasangan yang baru saja jadian itu di atas panggung. Banyak yang mengagumi pasangan serasi itu, Axel hanya berdiri jauh di belakang menatap mereka yang berciuman di atas panggung.
Sebuah pemandangan romantis yang membuat para gadis-gadis merasa iri. Axel tersenyum, bahagia sekaligus sedih. Axel memutuskan untuk meninggalkan semua itu, meninggalkan Athena yang cantik juga meninggalkan semua kenangan manis bersamanya.
Axel memutuskan untuk pergi namun langkahnya terhenti saat mendengar pembicaraan teman-teman Evan yang berkumpul sambil tertawa. Axel tidak akan ambil pusing jika bukan karena salah satu dari mereka menyebut nama Athena.
"Enak bener Evan, bisa ngerasain Athena" ucap laki-laki itu kemudian tertawa.
Anak-anak yang lain juga ikut tertawa, mereka berempat sedang membicarakan Evan dan Athena membuat Axel penasaran dan ingin lebih mendengarkannya. Axel berdiri bergabung dengan teman-teman Evan.
"Mana dia? kok belum nongol?" tanya seorang laki-laki.
"Kita suruh apa dia?" tanya yang lainnya.
"Biasa ajalah, taruhan kalau bisa perawanin itu cewek kita kita kalah. Kalau nggak dia bayar dua kali lipat" ucap seorang lagi.
Mereka semua tertawa.
"Jujur sih gue pengen dia itu kalah tapi itu cewek pada mau semua sama dia jadinya kita nggak menang-menang. Beruntung banget dia, dapat enak sekaligus dapat duit" ucap seorang yang lain.
"Makanya itu, gue pikir Athena orangnya sulit di dapat jadi kita bisa menang" ucap yang lain.
"Susah di dapat gimana? nggak lihat kemana-mana udah bersama. Murahan juga itu cewek" ucap yang lain.
__ADS_1
Axel membelalakkan mata, kesal mendengar ucapan laki-laki yang satu itu. Ingin rasanya Axel mengeluarkan kekuatannya untuk menjitak kepala anak itu. Namun, akhirnya laki-laki itu bersabar karena ingin mengetahui rencana mereka.
"Namanya juga pdkt ya selalu bersama kalau udah jadian, baru kita lihat aksi Evan selanjutnya. Bisa nggak dia menaklukkan Athena" ucap laki-laki itu.
"Rencana kita apa nih? Kalau dia berhasil lagi, dia dapat enak kita dapat bokek" ucap laki-laki lain.
"Kita suruh dia bikin rekamannya, minimal kita bisa lihat Athena lagi begituan" ucap seorang lagi agak berbisik.
Yang lain langsung tertawa dan mengangguk. Mereka setuju untuk membuktikan keberhasilan Evan menaklukkan Athena maka Evan harus merekam dan memberikan rekamannya itu pada mereka.
Mata Axel telah menyala namun mereka tidak ada yang bisa melihatnya. Baru saja Axel akan mengangkat tangannya tiba-tiba Evan muncul. Axel urung memberi pelajaran pada keempat teman-teman Evan itu. Axel memilih ingin mendengar rencana Evan.
Laki-laki itu akhirnya meninggalkan aula pesta dan menemui sahabat-sahabatnya. Mereka langsung menanyakan rencana Evan.
"Malam ini gue akan ajak Athena untuk kenalan dengan ortu gue" ucap Evan.
"Trus gimana loe jalanin rencananya? apa hubungannya ama ortu loe? Loe mau minta ijin dulu? Kenalin nih Mom, Dad ini calon korban" ucap seorang sahabat Evan dan yang lain langsung tertawa.
"Ya nggak gitu lah, gue bilang mau kenalin ke ortu tapi ortu nya ke luar kota jadi gimana? bebas dong gue nggak perlu sewa hotel. Lagian Athena itu agak sulit, dia bisa curiga kalau gue ajak ke hotel, udah pasti dia menolak. Kalau cewek-cewek lain sih iya enak. Diajak ke hotel malah rekomendasi hotel yang dia suka" cerita Evan.
Kawan-kawannya langsung tertawa mendengar penuturan laki-laki itu. Memang apa yang dikatakan Evan benar, laki-laki itu sudah menakar tingkat kesulitan untuk mendapatkan targetnya. Saat melihat Athena yang ragu-ragu menerima cinta Evan, dari situ laki-laki itu berpikir kalau Athena memang sulit ditaklukkan.
Untuk itu Evan harus memutar otak untuk mencari cara memenuhi keinginannya pada Athena. Karena gadis itu tipe anak baik yang hormat pada orang tua, Evan memanfaatkan orang tuanya sebagai alasan. Mengajaknya berkenalan dengan orang tuanya seolah-olah menunjukkan keseriusan Evan terhadap Athena.
"Loe selalu kenalin cewek-cewek loe sama orang tua?" tanya teman Evan.
"Jadi loe nggak serius mau kenalin Athena sama ortu loe?" tanya teman Evan.
"Nggak lah gue mau main aman dulu. Kalau dia menuntut gue bilang aja atas dasar suka sama suka. Kalau udah kenalan ama ortu bahaya. Dia bisa mengadu ama ortu gue dong. Ntar gue disuruh kawin lagi" ucap Evan.
"Bukan kawin tapi nikah, kalau loe mau kawin tapi nggak mau nikah" ucap teman Evan dan yang lain kembali tertawa.
Ternyata Evan berencana pura-pura ingin mengenalkan Athena pada orang tuanya hanya untuk mengajak gadis itu ke rumahnya. Mendengar itu Axel geram, laki-laki itu sangat ingin memberitahu Athena tentang rencana Evan. Tapi urung, Axel teringat saat ini Athena sedang marah padanya.
Jika aku menceritakan semua rencana Evan, Athena mungkin tidak akan percaya, dia mungkin akan semakin membenciku. Saat ini Athena sedang bahagia karena baru saja resmi menjadi pacar Evan. Aku tidak bisa merusak kebahagiaannya. Tapi apa yang harus aku lakukan, Aku tidak mungkin membiarkan Athena dirusak laki-laki kurang ajar itu, jerit hati Axel.
Axel merasa cukup mendengar pembicaraan Evan dan kawan-kawannya. Axel memutuskan untuk mengikuti Athena untuk melindunginya, jika terjadi sesuatu maka Axel akan melakukan apa pun untuk menghentikannya. Axel hendak mencari Athena ketika melihat gadis itu berlari menuju rooftop.
Axel mengikuti hingga akhirnya Athena terhenti di pintu teralis menuju tangga ke rooftop. Gadis itu menangis, Axel juga menitikkan air mata. Keputusannya untuk menjauhi Athena telah diceritakannya pada Raihanna. Hingga saat Athena bertemu dengan Raihanna, hantu perempuan itu mengatakan Axel tidak berada di sekolah itu.
"Dia dimana kak?" tanya Athena sambil berusaha untuk tetap berani menatap Raihanna.
Mendengar pertanyaan Athena, Axel sangat ingin muncul tapi akhirnya menggelengkan kepalanya pada Raihanna. Membuat gadis hantu itu menjawab kalau Axel tidak ingin bertemu Athena. Athena menangis, Axel bertahan di tempatnya. Rasanya sangat ingin muncul dan memeluk gadis itu tapi Axel ingin gadis itu hidup normal.
Axel harus menjauh dari Athena agar kemampuan gadis itu melihat makhluk gaib semakin berkurang hingga lenyap sama sekali. Ini adalah perpisahan bagi Axel dan Athena, jika kemampuan gadis itu menghilang maka selamanya Axel tak bisa terlihat lagi olehnya.
Axel tidak ingin menemui Athena lagi, membuat gadis itu melangkah dengan lunglai keluar dari gedung sekolah itu dan berjalan sambil terisak menuju aula. Axel mengikutinya diam-diam. Saat berjalan di selasar sekolah, Athena mendengar sesuatu dan bergerak ke samping kelas yang berada di ujung itu.
Athena terperangah mendengar pembicaraan Evan dan teman-temannya. Athena berlari dari tempat itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Axel mengikuti, laki-laki itu tidak ingin Athena putus asa dan berpikiran pendek. Tapi Evan membujuk Athena hingga akhirnya gadis itu memaafkannya.
__ADS_1
Namun, Axel tetap tidak percaya pada Evan hingga bertekad untuk mengikuti kemana pun mereka pergi, bahkan hingga ke rumah Evan. Axel tidak lepas mengawasi laki-laki itu, sangat terkejut saat Evan memasukan sesuatu ke dalam minuman Athena.
Efek dari minuman itu akhirnya muncul, Athena merasa gerah. Evan memaksa gadis itu melepas gaunnya hingga akhirnya Evan mendorong Athena ke ranjang. Axel berjalan mondar-mandir, perasaannya galau, segera ingin melakukan sesuatu namun tidak bisa mengeluarkan kekuatannya. Hal itu akan membuatnya merasa sakit dan lemah.
Axel berharap Athena bisa melawan laki-laki jahat itu, tapi Athena tidak cukup kuat, gadis itu semakin lemah. Axel tak bisa menahan amarahnya, Athena telah memohon pada laki-laki itu untuk menghentikan perbuatannya namun Evan tak peduli dan semakin menjadi. Laki-laki itu bahkan berniat melucuti gaun Athena, sampai di titik itu Axel tidak bisa menahan diri lagi.
Tubuhnya memanas matanya memerah seperti api, Axel tak kuasa lagi menahan amarah hingga akhirnya mengeluarkan seluruh kekuatannya. Axel melayangkan tangannya hingga membuat Evan melayang terhempas ke dinding kamar, laki-laki itu jatuh pingsan.
Axel ingin menolong Athena namun tidak bisa, dengan tubuhnya yang masih menyala Axel menuntun Athena untuk keluar dari rumah itu. Axel tak mampu bertahan lagi, tubuhnya terlalu lemah dan sakit. Laki-laki itu menghilang dari penglihatan Athena.
Muncul di rooftop dalam keadaan tak sadar hingga berhari-hari. Melewati lima kali pergantian waktu Axel membuka matanya dan duduk dalam keadaan lemah. Raihanna telah duduk disampingnya.
"Kamu sudah kembali" ucap Raihanna dengan ekspresi yang datar.
Axel mengangguk, lalu menatap Raihanna yang memandang lurus padanya.
"Kamu bisa lenyap selamanya" ucap Raihanna.
"Tidak ada gunanya hidup seperti ini, gentayangan tidak tentu arah dan kesepian. Aku memilih lenyap demi menolong gadis yang aku cintai. Itu rasanya lebih berguna daripada hidup seperti ini" ujar Axel sambil menunduk.
"Kalau begitu kamu akan kembali padanya?" tanya Raihanna.
"Tidak.., kembali padanya juga tidak berguna. Aku hanya akan membuatnya bimbang. Dia harus hidup normal, bertemu dengan manusia, jatuh cinta dan menikah seperti layaknya manusia lainnya. Berhubungan dengan makhluk seperti kita hanya akan membuat hidupnya sulit" ucap Axel.
Kata-kata yang diucapkannya terdengar pasti, tekadnya pun sudah bulat namun matanya menitikkan air mata.
"Kamu sangat mencintainya, dia juga sangat mencintaimu" ucap Raihanna yang akhirnya membuat Axel tertawa.
"Dia bisa dicintai oleh banyak laki-laki, oleh manusia normal, kenapa dia harus mencintaiku? Aku rasa ini hanyalah perasaan sesaat. Suatu saat rasa itu akan hilang dan dia bisa melupakanku" ucap Axel.
"Dia sangat mencintaimu, dia melawan ketakutannya demi mencarimu. Jangan sia-siakan perasaannya, hidup ini singkat. Bahkan terlalu singkat untuk mencintai, jangan sampai suatu saat kamu menyesali" ucap Raihanna.
"Apa?" tanya Axel tak mengerti.
"Kamu tega membuat hidup yang singkat ini dihabiskannya dengan menyesal?" tanya Raihanna.
Axel tercenung, melihat Athena yang sering termenung, atau wajahnya yang murung, hati Axel terasa perih. Hal yang paling tidak diinginkannya adalah melihat Athena bersedih.
"Jika semua kesedihannya berasal dari kepergianmu apa kamu bisa bahagia? Aku mengalaminya, meski kepergianku bukanlah kehendakku tapi aku selalu merasa Raihan menyesalinya. Andai saat itu dia menghentikan ku, andai saat itu dia ada sampingku, andai saat itu dia bertanya padaku dan banyak lagi penyesalan lainnya. Kamu ingin dia menghabiskan hidup yang singkat ini dengan membuatnya merasa menyesal?" tanya Raihanna.
Jawabannya tentu saja tidak, Axel tidak pernah tega membiarkan Athena bersedih apalagi membuatnya menyesal seumur hidup. Axel menatap Raihanna, gadis hantu itu tersenyum dan mengangguk.
Axel bangkit dengan senyum di bibirnya, segera laki-laki itu berlari menuju kelas Athena. Axel berhenti di depan kelas gadis itu, menatap Athena yang menangis seorang diri. Axel menyentuh pundak gadis itu namun tak bisa merasakan apa pun begitu juga dengan Athena.
Axel hanya bisa memandang Athena menelungkupkan wajahnya di atas meja. Menangis tersedu-sedu seorang diri, hingga akhirnya seorang teman Athena yang indigo bisa menyampaikan keinginan Axel untuk kembali pada gadis itu.
Dan kini Axel telah berada di kamar Athena, memeluk erat tubuh gadis itu. Mengecup bibirnya berkali-kali hingga akhirnya gadis yang dicintainya membenamkan bibirnya di bibir Axel sambil memejamkan mata meresapi ciuman hangat dari laki-laki itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1