Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 29 ~ Ancaman ~


__ADS_3

Athena melangkahkan kakinya ke sekolah dengan wajah yang murung. Setiap kali mengingat Axel matanya akan terasa panas, pagi ini Athena terbangun dan tidak mendapati Axel disampingnya. Hal kecil yang telah menjadi kebiasaannya selama beberapa bulan ini. Terbangun dan langsung menatap senyum manis Axel.


Kenapa aku selalu seperti itu? Sudah berapa kali aku mengusirnya? Kenapa aku tidak bisa berpikir sebelum mengeluarkan kata-kata? Axel, benarkah kamu tidak ingin kutemukan lagi? Batin Athena.


Sesampai di kelas pun Athena masih murung, ditambah lagi saat mengingat perbuatan Evan padanya. Athena mengeluarkan buku pelajaran namun hanya menatapnya. Pikiran Athena melayang kemana-mana.


Ya ampun, apa yang terjadi tadi malam? Evan, apa yang dia berikan padaku? Kenapa saat itu aku seperti melayang? Dan Axel, aku yakin itu Axel, dia menolongku, dia menolongku tapi kenapa dia seperti itu? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia seperti terbakar? Axel kamu membahayakan dirimu demi menolongku? Jerit hati Athena sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Kali ini Athena tak kuat lagi menahan tangis, gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas meja. Menangis tersedu-sedu seorang diri, Athena berangkat pagi-pagi sekali karena begitu bangun gadis itu tidak bisa tidur lagi.


Seorang gadis yang kebetulan datang lebih cepat melihat Athena yang menangis. Gadis pendiam itu ingin menyapa Athena tapi tidak berani. Dari sejak pertama kali mengenal Athena gadis itu sangat ingin berteman dengannya tapi gadis itu tidak memiliki keberanian karena dia hanyalah seorang gadis miskin.


Gadis itu mencoba mengabaikan tangis Athena tapi setiap kali terdengar tangisan sedih itu, gadis itu merasa terusik. Dia mencoba memberanikan diri mendekati Athena, mencoba menyentuh pundak gadis yang berguncang karena terisak.


Namun, keberaniannya tidaklah cukup. Gadis itu menghentikan niatnya lalu menoleh ke luar kelas. Gadis itu menunduk kemudian menyentuh pundak Athena.


Athena terkejut sontak menoleh ke arah gadis yang langsung tertunduk itu.


"Mia, ada apa?" tanya Athena dengan wajah yang penuh dengan air mata.


Gadis bernama Mia itu langsung menyodorkan sapu tangannya.


"Tidak usah, kamu memerlukannya bukan?" tanya Athena.


"Ini.., masih bersih. Belum aku pakai" ucap Mia.


"Tapi kalau aku pakai nanti sapu tanganmu bisa  kotor. Kamu nanti pakai apa?" tanya Athena.


"Nggak apa-apa, aku juga nggak perlu kok" ucap Mia masih menyodorkan sapu tangan itu.


Lalu urung karena melihat Athena yang tidak mau mengambilnya. Athena segera meraih sapu tangan itu dan langsung menggunakannya. Athena menghapus air matanya dengan saputangan itu. Mia tersenyum melihatnya.


"Aku pinjam dulu ya, nanti aku kembalikan" ucap Athena yang dibalas dengan anggukan oleh Mia.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Mia.


"Aku kehilangan seorang teman" ucap Athena.


"Hantu dalam lukisan itu?" tanya Mia.


"Apa? Kamu tahu tentang hantu itu?" tanya Athena dengan mata yang terbelalak.


Mia mengangguk.


"Kamu bisa melihatnya? Kamu seorang indigo?" tanya Athena.


Mia kembali mengangguk.


"Kamu bisa melihatnya selama ini? Apa yang telah kamu lihat?" tanya Athena.


"Aku lihat dia sangat menyukaimu, dia selalu tersenyum melihatmu tapi setiap kali melihatmu bersama Evan wajahnya akan terlihat murung. Dia juga senang saat kamu melukisnya" ucap Mia.


"Apa sekarang kamu bisa melihatnya?" tanya Athena begitu semangat hingga menggoyangkan lengan Mia.


Gadis itu mengangguk, Athena terperangah hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air mata gadis langsung mengalir kembali.


"Dia ada di sini tapi tidak mau menemuiku?" ucap Athena dengan air mata yang semakin mengucur deras.


Mia menunduk lalu mengangguk, air mata Athena mengalir semakin deras.


"Tolong aku Mia, katakan padanya aku minta maaf" ucap Athena yang berkali-kali menghapus air matanya.


"Dia tetap tidak mau. Ini demi kebaikanmu Athena" ucap Mia.


"Nggak, tolong aku Mia. Aku mohon biarkan aku bertemu dengannya. Buatlah agar dia mau menemuiku, hanya kamu yang bisa membantuku" ucap Athena memohon.


"Kamu bisa menjadi indigo jika terus berada di dekatnya. Dia tidak ingin kamu menderita karena kemampuan yang menakutkan itu" ucap Mia.


"Aku tidak peduli Mia, tolonglah aku. Biarkan aku bertemu dengannya lagi" teriak Athena panik karena Mia yang bersikeras tidak mau membantunya.


Athena menundukkan kepalanya hingga air matanya menetes di rok sekolahnya. Mia merasa terenyuh melihat kesedihan Athena. Gadis itu menoleh ke luar kelas, lalu membelai rambut Athena yang tertunduk di hadapannya.


"Kamu tidak bisa melihatnya lagi selain pergantian waktu karena dia tidak memiliki kekuatan apapun sejak saat ini. Waktu itu dia begitu marah hingga menghabiskan seluruh kekuatannya. Jika kekuatan kemarahan itu digunakan untuk kejahatan dan bukan untuk menolongmu maka dia pasti sudah lenyap saat ini" jelas Mia.


"Apa maksudnya itu?" tanya Athena.


"Mengeluarkan kekuatan karena kemarahan bisa membuatnya lenyap, benar-benar hilang. Tapi karena dia lakukan itu karena menolongmu dia hanya kehilangan kekuatannya untuk dilihat olehmu" jelas Mia lagi.


Athena tercengang mendengarnya.


"Kamu bisa berkomunikasi dengannya sekarang?" tanya Athena yang dibalas anggukan oleh Mia.


"Kamu beruntung sekali" ucap Athena menunduk sedih.

__ADS_1


"Beruntung? Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya menjadi anak indigo. Aku selalu ketakutan dimana-mana. Apalagi di sekitar rumahku sering terjadi penampakan. Aku sering berteriak sendiri hingga membuat orang mengira aku ini gila. Aku jadi tidak berani berteman dengan siapapun karena itu" jelas Mia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ironi bukan? Aku ingin memiliki kemampuan sepertimu sementara kamu justru tidak menyukainya" ucap Athena.


"Dia hantu yang baik karena itu tidak masalah jika kamu ingin melihatnya tapi bagaimana dengan hantu yang lain. Jika melihatnya kamu mungkin akan ketakutan" ucap Mia.


"Aku juga kenal hantu Raihanna. Menakutkan tapi dia juga tidak jahat" ucap Athena.


"Kamu juga pernah melihatnya? Ya aku juga merasa takut meski dia tidak jahat. Tapi melihatnya tetap saja menyeramkan." ucap Mia.


"Mia tolong katakan padanya kalau aku menunggunya di rumah" ucap Athena.


"Hantu perempuan itu?" tanya Mia.


"Bukan, hantu yang ganteng itu" ucap Athena sambil tertawa.


Mia juga ikut tertawa, lalu mengangguk. Mia sangat senang bisa berbincang dengan Athena. Untuk pertama kalinya gadis penyendiri itu merasa senang memiliki kemampuan melihat makhluk gaib.


"Jika bukan karena itu kita mungkin tak pernah bicara. Baru kali ini aku senang memiliki kemampuan itu" ucap Mia.


"Ya, karena kamu suka menyendiri. Aku jadi takut menyapamu, aku pikir kamu tidak suka berteman" jelas Athena.


"Nggak Athena, aku juga ingin memiliki teman. Aku senang saat melihatmu bersama Kimmy dan Vivi begitu kompak. Aku juga ingin seperti itu tapi tidak ada yang mau berteman denganku. Seorang anak aneh yang miskin, kalian bisa bersahabat karena kalian satu derajat sedangkan aku hanyalah gadis miskin" ucap Mia menunduk.


"Aku tidak seperti itu, aku tidak memilih dalam berteman. Asalkan mereka mau berteman denganku, aku juga mau berteman dengannya. Aku tidak pernah membedakan teman" ucap Athena.


"Benarkah?" tanya Mia tak percaya.


"Kamu nggak percaya pada makhluk hidup? Tanyakan pada hantu itu kalau tidak percaya padaku" ucap Athena sambil tertawa.


"Hhmm… kalian pacaran ya?" tanya Mia.


"Apa?" tanya Athena kaget.


"Kamu dan hantu itu?" tanya Mia sambil tersenyum.


"Aaah.., itu cuma…,"


"Pacarmu bukan manusia kamu keren banget" ucap Mia sambil tertawa.


Athena juga ikut tertawa, dia tidak mengelak meski saat ini masih berstatus pacar Evan. Di depan Mia, Athena tidak mengelak kalau dia juga berpacaran dengan Axel.


"Dia sedih melihatmu" ucap Mia.


"Pacar hantu itu" ucap Mia.


"Kenapa? Apa dia ada di dekat sini?" tanya Athena langsung melihat ke sekelilingnya.


"Dia ada di sampingmu, dia sedih karena kamu masih ngotot ingin mencarinya." ucap Mia.


Athena tertunduk, sekarang semua seperti dulu lagi. Gadis itu tidak bisa melihat Axel ataupun mendengarnya di siang hari. Gadis itu tidak sabar menunggu pergantian waktu dan membuktikan kalau Axel mau datang ke rumahnya.


Tiba-tiba Evan muncul di depan kelasnya, dengan langkah cepat menuju ke meja Athena.


"Aku ingin bicara denganmu" ucap Evan.


Laki-laki itu langsung menarik tangan Athena ke luar kelas. Evan membawa Athena ke sudut gedung sekolah. Mia diam-diam mengikuti.


"Apa itu? Makhluk apa yang masuk ke kamarku malam itu?" tanya Evan.


"Kenapa bertanya padaku? Mungkin itu monster jahat yang ingin menantang laki-laki jahat sepertimu" balas Athena.


"Apa? Aku laki-laki jahat? Apa kesalahanku? Kenapa kamu menilaiku laki-laki jahat?" tanya Evan.


"Ya, karena kamu sudah berniat jahat padaku" ucap Athena.


"Berniat jahat bagaimana? Kita ini sudah resmi pacaran, aku cuma ingin bermesraan denganmu lalu berniat jahat dari mana?" tanya Evan.


"Karena aku tidak sudi kamu berbuat itu tapi kamu memaksaku. Kamu masih ingin memenangkan taruhan itu kan? Kamu tidak peduli dengan perasaanku, aku tidak yakin kamu tulus mencintaiku. Mulai detik ini aku membatalkan keputusanku untuk menjadi pacarmu" ucap Athena.


Gadis itu ingin melangkah meninggalkan Evan. Namun, laki-laki itu justru menahannya.


"Nggak bisa, kamu harus tetap jadi pacarku. Aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Kalau tidak video rekaman ini akan aku sebar agar pemburu monster itu datang mencarinya" ucap Evan.


"Kamu tidak boleh lakukan itu" ucap Athena panik.


"Kenapa tidak? Monster itu sudah menyakitiku, aku bisa meminta tolong orang yang lebih sakti untuk melenyapkannya" ucap Evan.


"Evan, aku mohon jangan lakukan itu" ucap Athena.


"Kalau begitu ikuti kemauanku, aku tunggu kamu nanti malam di rumahku" ancam Evan.


"Nggak, Evan jangan seperti ini" ucap Athena dengan matanya yang mulai panas.

__ADS_1


"Ikuti kemauanku atau aku akan melenyapkan makhluk itu. Kamu suka padanya kan? Kamu menolakku karena dia? Datang ke rumahku atau akan aku cari orang untuk melenyapkannya" tanya Evan sambil tertawa miring.


Evan hendak berlalu dari tempat itu namun kemudian langkahnya terhenti, menoleh pada Athena yang sedang menatapnya. Evan langsung memaksa mencium Athena. Gadis itu mendorong Evan sekuat tenaga namun pelukan laki-laki itu begitu kuat.


"Hei, ngapain kalian di situ" teriak seorang gadis.


Evan menghentikan ciumannya lalu menoleh pada gadis yang berteriak itu. Athena melihat Mia sedang berdiri di ujung gedung.


"Aku pasti bisa mendapatkanmu, lihat saja nanti" ucap Evan.


Laki-laki itu kemudian melangkah meninggalkan Athena yang tercenung. Saat berpapasan, Evan menatap tajam pada Mia yang juga memandangnya. Evan tersenyum miring saat melewati gadis pendiam itu.


Mia segera menghampiri Athena yang masih terlihat syok.


"Kamu nggak apa-apa? Kamu udah jadian ya sama dia?" tanya Mia.


Athena mengangguk.


"Maaf ya, apa tadi aku mengganggu kalian?" tanya Mia.


"Nggak Mia, aku justru berterima kasih karena kamu datang" ucap Athena dengan tatapan yang kosong sementara tubuhnya gemetar.


Mia memeluk Athena yang terlihat pucat, awalnya gadis itu ragu-ragu tapi saat Athena membalas pelukannya, Mia akhirnya memeluk dengan erat. Gadis itu mengusap punggung Athena.


"Aku nggak tahu kenapa gadis-gadis di sekolah suka padanya" ucap Mia sambil merenggangkan pelukannya.


Athena memandang Mia lalu menundukkan kepala. Mia merasa bersalah dengan ucapannya. Gadis itu mengajak Athena kembali ke kelas. Mereka berbincang sambil melangkah pelan.


"Mereka semua bodoh karena menyukainya, sama seperti aku yang juga bodoh" ucap Athena sambil tersenyum kecut.


"Nggak Athena maksudku bukan begitu, maaf" ucap Mia.


"Kamu nggak salah kok, kamu mungkin bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang dari diri Evan. Gadis-gadis bodoh seperti kami hanya melihat seseorang dari ketampanan, popularitas hingga tak peduli dengan akhlaknya. Rela menyerahkan diri dan gilanya bahkan menjadi kebanggaan bisa menyerahkan diri padanya. Aku juga nggak abis pikir" ucap Athena.


"Jika aku cantik mungkin aku juga akan sepertimu. Merasa diriku pantas untuk mendapatkannya lalu melakukan apapun agar bisa menyenangkan hatinya. Tapi aku tidak cantik jadi aku tidak ikut dalam persaingan mendapatkan laki-laki seperti Evan" ucap Mia.


"Kata siapa kamu tidak cantik, kamu begini karena sifatmu yang sederhana. Kamu orang yang tidak banyak tingkah dan hanya ingin apa adanya" ucap Athena.


"Makasih Athena meski ucapanmu hanya menghibur tapi aku rasa sedikit dari penilaianmu ada benarnya. Aku memang tidak bisa bergaya dan hanya tampil apa adanya" ucap Mia tersipu.


Athena tertawa, ucapan polos Mia membuatnya sedikit terhibur. Tapi saat terlintas ancaman Evan, gadis itu kembali murung.


"Apa yang akan terjadi? Kapan kalian jadian? Lalu kenapa dengan Evan tadi? Kalian seperti sedang bertengkar? tanya Mia bertubi-tubi.


"Kamu nggak datang ke pesta perpisahan sekolah kita?" tanya Athena yang dibalas gelengan kepala oleh Mia.


"Aku nggak punya gaun pesta, lagi pula daripada aku berpesta mending aku membantu ibuku" ucap Mia.


"Oh gitu, kami jadian saat malam perpisahan itu" ucap Athena sambil jalan menunduk.


"Baru tiga hari, pesta perpisahan itu akhir pekan kemarin kan?" tanya Mia yang dibalas anggukan oleh Athena.


"Ya dan sekarang aku menyesal menerimanya" ucap Athena.


"Kenapa? Dia berbuat jahat padamu?" tanya Mia.


"Dia memaksaku melayaninya" ucap Athena yang menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Oh berarti dia melakukan percobaan perkosaan?" seru Mia kaget.


Athena menganggukkan kepala, air matanya mengalir dari sudut matanya. Mia kembali memeluk Athena. Mereka duduk di dalam kelas, sesekali Mia menatap keluar kelas.


"Kamu pasti takut sekali melihatnya" ucap Mia sambil membelai rambut Athena.


"Ya Mia, aku takut sekali padanya" ucap Athena kembali tersedu-sedu.


"Kalau begitu kamu harus lapor polisi, jika dia mengancammu atau melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan kamu bisa melaporkannya" saran Mia.


"Aku ingin tapi aku takut, dia mengancam akan melenyapkan Axel" ucap Athena.


"Axel?" tanya Mia.


"Laki-laki hantu itu, dia mendapatkan rekaman saat Axel menolongku" cerita Athena sambil sesenggukan.


Mia menatap kearah lain lalu kembali menatap Athena.


"Axel berjanji akan kembali padamu" ucap Mia.


"Benarkah, dia berkata seperti itu?" tanya Athena dengan wajah gembira.


Mia mengangguk. Saat melihat perbuatan Evan, Axel merasa geram apalagi setelah mendengar ancaman laki-laki itu. Axel ingin Athena tidak mengabulkan keinginannya. Baginya tidak peduli jika dia harus lenyap daripada harus melihat Athena menyerahkan diri karena ancaman rekaman video itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2