Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 61 ~ Pertukaran Identitas ~


__ADS_3

Axel dan Hardy sepakat memperpanjang pertukaran identitas itu sebulan sekali. Sebulan menjadi diri yang sebenarnya, sebulan menjadi orang lain. Awalnya perjanjian itu hanya untuk satu bulan namun dengan masing-masing alasan, pertukaran itu akhirnya berlangsung selama berbulan-bulan.


Di saat itu lah Axel dinilai seorang berkepribadian ganda, kadang anak itu pendiam, penyendiri namun cerdas. Di lain waktu lues, humoris namun tak begitu cerdas. Kabar mengenai Axel seorang anak berkepribadian ganda terdengar hingga ke telinganya. Axel yang memang suka menyendiri di rooftop semakin rajin naik ke rooftop itu untuk menyendiri.


Saat guru bertanya kenapa tak mengerjakan tugas, dengan cepat saat itu juga anak itu menyerahkannya.


"Jika bisa mengerjakan kenapa kemarin-kemarin tidak di kerjakan?" tanya guru pada Axel saat tugas-tugasnya banyak yang tertunggak.


Remaja tampan itu hanya diam, dia tahu pasti Hardy sengaja melakukan itu. Selain karena anak itu memang malas mengerjakan tugas tapi juga merasa Axel yang lebih berhak mengerjakannya. Saat di tanya kenapa tidak mengerjakan tugas Hardy selalu mengelak.


"Gue nggak berhak mengerjakannya, kalau gue kerjakan nilai nya nggak sesuai dengan keinginan loe. Loe pasti marah 'kan? Jadi gue biarin aja loe yang kerjain," ucap Hardy dengan santainya.


"Aku selalu mengerjakan apa yang di tugaskan padaku dengan sangat baik hingga namamu jadi baik di mata gurumu, paman dan bibimu, di depan Pak Yatno bahkan di depan teman-temanmu. Tapi kenapa gikiranku kamu justru menghancurkan nama baikku. Apa kamu tahu? Aku di tuduh memiliki kepribadian ganda karena perbedaan sifat kita yang terlalu mencolok. Sekarang cukup! Aku tidak mau melanjutkan pertukaran identitas lagi," ucap Axel.


Saat menemui Hardy di belakang restoran. Axel buru-buru datang ke kota kecil itu demi menuntaskan kesepakatan mereka agar untuk bulan depan mereka tidak perlu bertukar identitas lagi.


"Bukannya loe juga mengambil keuntungan menjadi diri gue. Loe jadi punya cewek sekarang, loe bebas nikmati dia. Kalau dulu mana ada yang mau sama cowok culun kayak loe," ucap Hardy.


Axel tak tahan mendengar ucapan, tanpa sadar Axel melayangkan tinjunya ke wajah Hardy. Laki-laki itu jatuh terjengkang ke belakang. Hardy telah menghina Hani seolah-olah gadis itu bisa dengan mudah dinikmati. Hinaan terhadap dirinya tak dipedulikan laki-laki itu tapi saat menilai Hani sebagai gadis mudah di dapatkan Axel naik pitam. Bogem mentah pun singgah di pipi Hardy yang terbuka.


Tak terima dengan perlakuan Axel, segera laki-laki itu bangkit dan menyerang Axel. Perkelahian pun tak terelakkan. Kedua laki-laki berwajah sama itu saling menyerang hingga terjengkang ke sana kemari. Bunyi pukulan, tendangan pun silih berganti. Tak ayal bunyi gaduh itu terdengar hingga ke dalam restoran.


Segera Bang Yadi dan Pak Yatno melihat apa yang terjadi. Bang Yadi segera melerai perkelahian itu sementara Pak Yatno ternganga tak percaya melihat kemiripan kedua remaja yang sedang berkelahi itu.


"Siapa kalian ini sebenarnya? Apa yang menyebabkan kalian berkelahi? JAWAB!" tanya Pak Yatno.


Kedua remaja itu menunduk dengan tatapan yang tajam dan muka yang masam. Pak Yatno berteriak meminta jawaban namun tak ada yang menjawab.


"Mana yang Hardy?" tanya Pak Yatno.


Hardy sedikit maju ke hadapan Pak Yatno.


"Dan kamu siapa? Apa kembaran Hardy? Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Pak Yatno.


"Saya Axel Pak, saya buka kembaran Hardy. Saya datang ke sini karena mencari dia," jawab Axel.


"Kenapa kamu bisa masuk ke belakang restoran ini. Siapa yang mengizinkan kamu masuk?" tanya Pak Yatno lagi.


"Saya memang biasa masuk ke restoran ini, bukannya bapak yang menyeret saya untuk bekerja di sini," ucap Axel.


"Haa, saya? Kapan?" tanya Pak Yatno lagi.


"Waktu saya baca buku di sana, bapak tarik saya dan langsung suruh saya bekerja. Ya kan Bang?" tanya Axel pada Bang Yadi yang di balas dengan anggukan oleh Bang Yadi.


Pak Yatno langsung menepuk keningnya.


"Jadi saya salah orang?" tanya Pak Yatno heran.


Keduanya mengangguk bahkan Bang Yadi pun ikut mengangguk.


"Yadi, kamu tahu tentang ini?" tanya Pak Yatno.


"Tahu Pak tapi belakangan, setelah Hardy datang saya baru sadar kalau yang saya suruh kerja bukannya Hardy tapi orang lain," ucap Bang Yadi.


"Jadi saya pernah menyuruh orang bekerja padahal bukan pekerja saya? Hari itu saja 'kan?" tanya Pak Yatno.

__ADS_1


"Nggak Pak mereka bertukar posisi secara berkala," ucap Bang Yadi.


"Tapi kalian benar-benar mirip, jangan-jangan kalian memang kembar. Ya sudahlah, tapi saya cuma menerima satu pekerja ya, terserah kalau kalian mau gantian," ucap Pak Yatno terlihat pusing dengan kejadian yang tak disangka-sangkanya ini.


Pak Yatno kembali masuk ke dalam restoran. Bang Yadi langsung menoleh ke arah mereka berdua.


"Kalian kenapa berantem? Bukannya kalian biasanya akur, kerjasama, akrab, kenapa sekarang tiba-tiba berantem?" tanya Bang Yadi.


"Dia menghina pacar saya Bang," jawab Axel.


Bang Yadi menoleh pada Hardy, remaja itu justru memalingkan wajahnya. Bang Yadi menyuruh Hardy meminta maaf pada Axel dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Hardy berpikir keras, jika dia bertahan tidak minta maaf maka kesepakatan mereka bubar dan dia tak dapat kesempatan menikmati kehidupan mewah di kota lagi. Hardy pun akhirnya meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Selain itu Hardy juga berjanji akan bertanggung jawab jika dia memerankan perannya sebagai Axel.


Bang Yadi meminta mereka bersalaman, Hardy berpura-pura berat hati namun bersedia duluan meminta maaf. Axel akhirnya menerima permintaan maaf Hardy. Jadwal pertukaran identitas mereka pun berlanjut. Karena Axel sendiri merasakan kebahagiaan tersendiri memerankan peran sebagai Hardy.


Axel seperti berubah tak menjadi dirinya sendiri. Saat bersama-sama dengan orang-orang di sekeliling Hardy. Mereka seperti memperlakukan Axel seperti Hardy. Berbeda saat menjalani hidupnya sendiri. Orang-orang di sekitar Axel seperti menjaga jarak dengannya. Karena mereka yang telah melabel Axel sebagai seseorang yang sulit didekati.


Axel kembang menjalani hidup sebagai Hardy, Paman Budi yang mencium aroma percintaan antara Axel dan Hani, memberi dukungan anak itu untuk menjalin hubungan yang serius dengan Hani. Paman Budi mengizinkan Axel mengunjungi Hani di malam minggu.


Mendapat restu seperti itu, Axel berangkat ke rumah Hani dan menemui gadis itu. Hani yang merasa takut Axel datang di saat bapak Yusuf ada di rumah merasa ketakutan saat melihat Axel di depan pintu. Pak Yusuf pun ikut melihat tamu yang datang saat terdengar bunyi ketukan pintu.


Axel dengan sopan memperkenalkan diri, ada kesedihan di hatinya saat dia tak menyebut namanya sendiri namun menyebutkan nama Hardy. Tapi semua telah terlanjur, Axel bertekad suatu saat akan berterus terang tentang siapa dirinya.


Awalnya mereka berdua takut mengakui hubungan mereka pada Pak Yusuf tapi setelah dua atau tiga kali berkunjung. Pak Yusuf akhirnya merestui hubungan mereka karena melihat sikap Axel yang sopan dan bisa membawa diri. Axel dan Hani sangat senang, mendapat restu dari Pak Yusuf.


Pertukaran identitas tetap berlanjut hingga suatu ketika Axel meminta untuk tidak bertukar identitas dulu karena dirinya yang akan menempuh ujian naik kelas. Axel berpikir masa depannya akan dipertaruhkan jika yang mengikuti ujian tersebut adalah Hardy yang tak pernah serius belajar.


Bisa jadi nilai Hardy tiba-tiba cemerlang sedangkan nilai Axel merosot. Permintaan Axel itu disetujui Hardy meski dalam hatinya tak rela. Timbul rasa benci dalam diri Hardy terhadap Axel yang seakan-akan merendahkan kemampuan akademiknya. Hardy merasa terhina karena Axel yang tidak mempercayakan dia mengerjakan ujian kenaikan kelasnya.


Dendam Hardy membuat hari itu Hardy mendatangi sekolah Axel. Padahal mereka telah berjanji tak melakukan pertukaran identitas untuk sementara waktu. Hardy yang juga mengenakan seragam sekolah berjalan ke rooftop sekolah di mana dia tahu Axel sering menghabiskan waktu menyendiri di atas sana.


Menyendiri di rooftop, huh dasar bodoh, punya kehidupan enak seperti itu malah menyendiri. Jika aku tidak mencarimu aku tak akan capek-capek menaiki tangga ini untuk mencapai rooftop, oceh Hardy dalam hati.


Hardy mencapai puncak rooftop dan langsung melihat Axel yang bersandar sambil membaca buku.


Manusia membosankan, untuk apa punya segalanya tapi tak di nikmati? Untuk apa punya wajah tampan tapi tak dimanfaatkan? Sebaiknya serahkan semuanya padaku, batin Hardy.


Axel menoleh saat merasa ada yang datang. Laki-laki itu terkejut karena Hardy yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Mau apa ke sini, aku 'kan sudah bilang untuk sementara tak ada pertukaran identitas dulu. Kita akan menempuh ujian semester. Kita menjalani kehidupan kita masing-masing dulu," ucap Axel yang langsung berdiri sambil protes pada Hardy.


"Aku tahu! Aku juga tidak ingin ada pertukaran identitas lagi," ucap Hardy.


"Apa maksudmu? Kamu serius tidak ingin melanjutkannya lagi?" tanya Axel.


"Ya, tidak perlu ada pertukaran identitas lagi," ucap Hardy.


Tiba-tiba Hardy meraih balok yang tersandar di sampingnya. Laki-laki itu langsung melayangkan ke kepala Axel. Laki-laki itu langsung jatuh tersungkur. Axel pingsan, Hardy berdiri di dekatnya.


"Aku tidak bohong, aku tidak ingin pertukaran identitas lagi. Sekarang identitas Axel selamanya untukku. Aku akan mengaku kalau aku adalah yang asli, kamu mencoba merebut identitasku. Bang Yadi dan Pak Yatno akan menjadi saksi bahwa kita pernah melakukan pertukaran identitas. Kamu ingin menguasai hidupku. Kita berkelahi dan kamu terjatuh dari rooftop," papar Hardy.


Tiba-tiba Hardy mendengar suara dari tangga ke rooftop. Laki-laki itu segera mengangkat tubuh Axel dan menjatuhkannya lalu bersembunyi di sisi lain rooftop. Tiba-tiba terdengar jeritan dari bawah gedung, kedua remaja yang ingin berpacaran di rooftop itu melongok ke bawah.


"Ada yang jatuh dari rooftop," ucap laki-laki.

__ADS_1


"Ayo turun nanti kita jadi tertuduh," ucap si gadis.


Mereka pun segera berlari menuju lantai bawah, Hardy pun segera turun dari lantai teratas gedung itu. Dan mengamati di balik dinding sekolah sambil terus berjalan hendak meninggalkan sekolah itu. Orang-orang telah berkumpul mengelilingi tubuh Axel.


"MASIH HIDUP, MASIH HIDUP, CEPAT PANGGIL AMBULANS," jerit seorang guru laki-laki.


Langkah Hardy terhenti lalu menoleh sejenak.


Sial, masih hidup bagaimana bisa masih hidup dari ketinggian itu? batin Hardy.


"Dia terjatuh tepat di pohon, beruntung masih tertahan dahan pohon. Lihat dahannya sampai patah," terdengar seorang siswa yang berbicara.


Hardy segera berjalan cepat keluar dari area sekolah. Berjalan tergesa-gesa dengan jantung yang berdebar kencang.


Kenapa tidak mati? Kenapa tidak mati? Bagaimana ini? Batin Hardy yang tak menyangka rencananya membunuh Axel telah gagal.


Laki-laki itu berlari pulang ke kediaman Cullen, mencari apa pun yang bisa di bawanya. Hardy yang tahu kalau orang tua Axel masih di luar negeri, mengambil uang simpanan Axel dan barang berharga seperti jam tangan mahal, kartu kredit dan pakaian-pakaian mahalnya.


Hardy keluar dari rumah itu dengan membawa barang-barang berharga milik Axel dengan sebuah tas ransel. Para pelayan tak melihat kedatangan dan kepergian Hardy. Tak lama kemudian terdengar telepon berdering. Seseorang menghubungi kediaman keluarga Cullen dan mengabarkan perihal kecelakaan yang menimpa putra satu-satunya keluarga itu.


Kepala pelayan langsung menghubungi orang tua Axel yang sedang berada di Amerika menjelaskan berita yang baru saja mereka dapatkan dari rumah sakit. Kedua orang tua Axel langsung terbang dari Bandara Internasional John F. Kennedy menuju Indonesia.


Kedua orang tua Axel mendapati putra mereka dalam keadaan koma. Guru-guru yang menjenguk menceritakan kejadian yang mereka tahu. Axel yang memang biasa menyendiri di atas rooftop diperkirakan ingin mengakhiri hidupnya.


"Ini cuma perkiraan kami saja Pak, Bu, karena dulu siswa-siswi pernah sering melihatnya menyendiri di rooftop gedung tertinggi di sekolah itu. Belakangan ini sikapnya sedikit aneh. Sifat berubah-ubah, kadang pendiam, kadang riang. Kelakuannya juga sering dibicarakan siswa-siswi di sekolah. Kadang tak acuh kadang begitu ramah. Penghuni sekolah mengira Axel memiliki kepribadian ganda Pak, Bu," jelas seorang guru dengan panjang lebar.


Ny. Olivia menangis sesenggukan menatap putra semata wayang mereka yang terbaring penuh luka.


"Beruntung Axel jatuh tepat di atas pohon di bawah gedung Pak, jika tidak, entah apa yang akan terjadi," lanjut guru itu.


Hasil pemeriksaan di dapati, Axel mengalami cedera otak. Laki-laki itu dinyatakan koma, Ny. Olivia menangis meraung meratapi nasib putranya. Penyesalan langsung datang mendengar cerita guru yang menilai Axel kemungkinan berniat bunuh diri.


Tanpa di sadari mereka, seseorang dengan masker menutupi wajahnya berdiri tak jauh dari tempat itu dan mendengar semua percakapan guru dan orang tua Axel yang belum pernah di temuinya itu.


Koma, ternyata sulit juga melenyapkanmu Axel? Nyawamu ternyata berlapis-lapis, kenapa aku tidak lihat ke bawah dulu, semua gara-gara kedua orang itu yang tiba-tiba muncul, sekarang apa yang aku lakukan? Aku harus memikirkan rencana lain, batin Hardy.


Laki-laki itu berdiam diri duduk di rumah sakit. Sesekali menoleh ke ruangan intensif di mana Axel berbaring. Setiap hari laki-laki itu mengamati perkembangan kesehatan Axel.


Lama juga kamu mengalami koma, ucap Hardy dalam hati.


Laki-laki itu mulai lelah menunggu perkembangan kesehatan Axel. Hampir sebulan laki-laki itu memantau perkembangan kesehatan Axel.


Mau sadar atau tidak? Posisimu kosong sekarang, kebenaran jika aku bisa menggantikanmu. kenapa membuat orang pusing, mau mati ya mati saja kalau koma? Koma aja selamanya sekalian, batin Hardy.


Hardy masih mencari cara bagaimana dirinya bisa menyingkirkan Axel.


Mati, ya mati saja atau koma sekalian selamanya. Ya! Koma selamanya, aku ingin Axel koma selamanya dan aku menggantikan kedudukannya, batin Hardy.


Laki-laki itu menyusun rencana. Dengan kondisi Axel sekarang ini, Hardy ingin menggantikan posisi Axel di situ dan membuat laki-laki yang tengah koma itu tersingkir selama-lamanya. Dengan bantuan orang-orang yang di bayarnya. Mereka menculik Axel yang masih koma dan menggantikan posisi Axel di ranjang rumah sakit itu.


Tak lama kemudian Axel palsu pun terbangun, berita bangunnya Axel palsu disampaikan pada orang tua laki-laki itu. Paginya mereka datang melihat keadaan putra mereka yang telah terbangun.


Namun apa hendak dikata, saat Ny. Olivia memanggil Axel. Laki-laki itu hanya diam tak merespon bahkan justru bertanya siapa yang di panggil Nyonya kaya itu. Dokter langsung menyatakan Axel palsu itu mengalami amnesia karena geger otak parah.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2