
Saat pulang sekolah kembali Athena ditunggui oleh Axel. Gadis itu sedikit salah tingkah karena sedang berjalan berdampingan dengan Evan. Tapi kemudian Athena tak peduli, baginya Axel harus tahu kalau Evan sekarang adalah teman-temannya sama seperti Kimmy, Vivi dan Mia.
Apa yang di pikirkan Athena memang jadi nyata, Axel menatap tak senang pada Evan. Namun, melihat Athena yang bersikap wajar, Evan pun bersikap wajar. Axel segera menghampiri Athena dan langsung mencium bibir gadis itu. Athena langsung mendorong tubuh Axel menjauh.
"Kak, ini di sekolah Kakak nggak boleh bersikap seenaknya," ucap Athena.
Axel memalingkan wajahnya yang kesal, kesal karena melihat Athena berjalan berdampingan dengan Evan ditambah sekarang kesal karena ciumannya ditolak Athena. Axel langsung menyambar tangan Athena untuk dibawa pergi. Vivi, Kimmy, Mia dan Evan hanya bisa diam menatap dengan wajah tegang.
Athena menghentakkan tangannya, membuat pegangan Axel terlepas. Raut wajah laki-laki itu langsung terlihat frustasi. Athena membalik badan dan berpamitan dengan Vivi, Kimmy, Mia dan tak lupa anggota baru mereka, Evan. Lalu berbalik kembali ke arah Axel, gadis itu menatap sekilas lalu berjalan menuju mobil laki-laki itu.
Axel yang tercenung setelah dihentakkan oleh sikap Athena kemudian tersadar saat gadis itu kembali menoleh ke arahnya ketika tiba di samping mobilnya. Axel segera membuka kunci pintu mobil. Athena ingin meraih handle pintu mobil namun dengan cepat Axel mendahului.
Setelah duduk, Athena menatap teman-temannya yang masuk ke dalam mobil Evan. Athena tersenyum menatap mereka yang bercanda dan tertawa. Athena beralih menatap Axel yang telah duduk duduk di belakang kemudi. Namun, hanya diam menatap lurus ke depan.
Athena menatap laki-laki yang hanya duduk dengan wajah sendu itu. Tak melakukan apa-apa pun kecuali menatap kosong ke depan. Athena bingung untuk melakukan apa.
Ternyata begini kalau Kak Axel marah, apa yang harus aku lakukan? Apa harus membujuknya? Batin Athena.
"Kak, ayo kita pulang," ajak Athena.
Namun, Axel masih diam. Athena mengusap lengan Axel untuk menyadarkan laki-laki dari lamunannya namun Axel tetap diam. Tangan Athena menyusuri lengan laki-laki itu hingga berakhir di telapak tangannya. Athena menjalin jemarinya dengan jemari laki-laki itu. Diperlakukan seperti itu akhirnya Axel terusik dan menoleh, menatap ke arah genggaman tangan Athena.
"Selama ini, aku tidak pernah mengalami kejadian seperti tadi. Tidak ada gadis mana pun yang berani berbuat seperti ini padaku. Berjalan dengan tenang bersama mantan, mendorong tubuhku dan menolak diajak olehku. Aku syok mendapat perlakuan seperti itu" ucap Axel lalu menunduk.
"Maaf Kak, jika perbuatanku membuat Kakak syok tapi apa aku salah?" tanya Athena.
Axel menoleh pelan ke arah Athena namun tetap diam.
"Apa salahku? Kenapa aku tidak boleh berjalan dengan mantan? Bukankah, aku tidak balikan dengannya? Lalu apa salahku? Aku mendorong tubuh Kakak karena aku merasa ciuman Kakak tidak tulus, hanya untuk menunjukkan pada Evan kalau aku adalah milik Kakak dan situasinya juga tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Aku tidak ingin di cap sebagai siswi yang tidak punya sopan santun bermesraan di lingkungan sekolah. Dan terakhir menolak diajak oleh Kakak? Aku rasa tidak, jika aku menolak aku tidak akan duduk di sini sekarang. Aku hanya tidak ingin dipaksa mengikuti kemarahan Kakak dan aku merasa harus berpamitan dengan teman-temanku," jelas Athena.
Axel tersenyum pahit dan mengangguk pelan.
"Sepertinya aku terlalu egois, menganggap kamu harus mengikuti semua kehendakku. Padahal siapa lah aku ini? Cuma seseorang yang tak ada arti di matamu," ucap Axel.
"Jangan bicara seperti itu Kak, kalau tidak ada artinya aku tidak akan ikut Kakak masuk ke mobil ini. Kalau aku tidak peduli, aku akan ikut teman-temanku bukannya membujuk Kakak di sini. Aku tidak mengikuti apa yang menurutku tidak perlu aku ikuti, tapi itu bukan berarti aku menolak diajak," jawab Athena.
"Athena, aku ingat saat pertama kali bertemu denganmu, kamu bilang kamu sudah punya pacar. Apa karena itu kamu tidak peduli padaku? Aku ingat, kamu pernah bilang kalau kamu sangat menyukainya. Dia lebih segala-galanya dariku. Aku pernah berjanji akan menjadi laki-laki yang lebih baik dari pacarmu itu. Apa yang kulakukan ini masih belum sebanding dengannya? Apa kalian masih bersama? Apa kamu masih mencintainya? Apa perasaan cintaku belum cukup untuk mengalahkannya? Athena ..., kamu sudah membuat aku gila," tanya Axel lagi.
Axel menelungkupkan wajahnya pada kemudi, Athena bingung melihat sikap laki-laki itu. Begitu banyak pertanyaan laki-laki itu membuat Athena bingung harus menjawabnya. Ditambah lagi dia tidak mungkin mengakui kalau pacarnya adalah seorang hantu.
Axel menghembuskan nafas berat.
"Aku mengalah padamu. Aku tidak pernah seperti itu sebelumnya. Selama ini dengan gadis mana pun aku selalu mendapatkan apa yang aku mau. Mereka rela menyerahkan diri demi menyenangkan hatiku. Tapi saat berhadapan denganmu, aku harus mengalah dengan keinginanmu. Aku harus menahan hasratku yang tidak pernah kamu pedulikan. Tapi aku rela melakukan itu agar aku bisa mendapatkan cintamu. Agar kamu jatuh cinta padaku. Apa semua berhasil? Apa aku sudah mendapatkanmu? Tidak! Kamu hanya memberiku harapan. Kamu hanya ingin mempermainkanku. Tidak apa jika kamu menolakku tapi jangan berikan harapan padaku dan pada orang tuaku," tutur Axel.
"Kak, aku tidak ingin mempermainkan Kakak, aku sendiri sedang berusaha untuk ... menyukai Kakak, karena aku tidak bisa melepaskan pacarku. Tapi aku juga tak bisa bersamanya," jelas Athena.
"Apa? Apa maksudmu?" tanya Axel.
"Pacarku, aku tidak bisa mengenalkannya pada orang tuaku. Mereka pasti tidak akan mengizinkan aku bersamanya. Karena itu aku ingin mencoba menyukai Kakak, orang yang bisa diterima oleh keluargaku," ucap Athena.
"Kenapa? Kenapa orang tuamu tidak mengizinkanmu bersamanya? Apa karena dia miskin? Tidak, orang tuamu orang yang baik pasti bukan itu alasannya ....,"
Karena dia bukan manusia Kak, tak mungkin orang tuaku mengizinkan aku mencintai makhluk gaib, batin Athena.
"Lalu apa alasannya? Apa dia sakit? Tidak, pasti bukan itu alasannya, atau dia pria beristri? Tidak mungkin kamu mencintai pria beristri 'kan? Sungguh rugi gadis secantik kamu hanya dijadikan wanita simpanan ...,"
Athena hampir saja mengangguk, mengambil alasan itu sebagai jawaban pertanyaan Axel.
__ADS_1
"Apa dia musuh keluargamu?"
"Ya,"
Hanya itu yang bisa diucapkan Athena, yang akhirnya bisa memberikan alasan dia tidak bisa mengenalkan Axel hantu pada orang tuanya. Karena itu Athena memutuskan mencari laki-laki lain yang bisa diterima oleh orang tuanya.
"Kakak, jangan pernah menanyakan siapa orangnya, padaku atau pada orang tuaku. Mereka tidak perlu tahu siapa orang yang aku sukai. Aku akan berusaha untuk mencintai Kak Axel. Sungguh, aku sedang berusaha mencintai Kak Axel," jawab Athena.
Axel memalingkan wajahnya ke arah lain dan tersenyum, meski saat ini Athena sedang mencari pelarian, dia tidak peduli.
Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, aku akan membuatmu melupakan laki-laki itu, batin Axel.
"Aku hanya pelarian bagimu?" tanya Axel.
"Pelarian? Bukan, aku sedang mencari cinta yang masuk akal!" ucap Athena dengan kesal.
"Apa aku cinta yang masuk akal?" tanya Axel.
Athena mengangguk. Axel tertawa.
"Alasanmu bersamaku untuk mencari cinta yang masuk akal? Alasan itu sendiri rasanya tidak masuk akal, orang itu mencari cinta yang sejati, bukan cinta yang masuk akal," jawab Axel.
"Ya sudah, kalau tidak terima alasannya. Tapi itu jawaban yang benar, cintaku pada orang itu tidak masuk akal. Kalau dengan Kak Axel barulah masuk akal. Aku sudah memberikan alasan, apa Kakak tetap tidak percaya?" tanya Athena.
Sebenarnya Axel percaya, dan tidak peduli apa pun alasan Athena menerimanya.
"Tidak, aku tidak percaya. Buktikan kalau kamu sungguh-sungguh menginginkan cinta yang masuk akal dariku!" ucap Axel.
"Apa? Bukti apa? Apa yang bisa dijadikan bukti? Kakak ingin aku menyerahkan diriku pada Kakak?" tanya Athena dengan mata penuh curiga.
"Bukan itu, YA ..., aku sangat ingin kamu menyerahkan dirimu padaku. Tapi jika kamu tidak mau, aku juga tidak akan memaksa," ucap Axel akhirnya kembali menatap lurus ke depan.
Athena mencium bibir Axel, itu saja lalu gadis itu segera melepaskannya. Axel tersenyum tapi tentu saja tidak akan tinggal diam.
"Aku juga akan memberi bukti cintaku padamu," ucap Axel.
Lalu menangkup wajah gadis itu dan membenamkan bibirnya. Melebihi apa yang dilakukan Athena, Axel menyusupkan lidahnya ke rongga mulut gadis itu dan bermain di sana. Axel tak berani lebih dari itu karena laki-laki itu pernah mencoba namun Athena justru jadi membencinya.
"Ini bukti cintaku padamu, aku tidak melakukan lebih dari itu. Meski aku sangat menginginkannya, aku akan menahan diriku hingga kita sah menjadi suami istri. Ini bukti cintaku padamu," bisik Axel lalu kembali mengecup bibir Athena.
Athena mengangguk sambil tersenyum.
"Apa kita bisa pulang sekarang? Jangan-jangan tinggal mobil Kakak yang parkir di sini," ucap Athena.
"Nggak mungkin lah, mobil guru masih ada. Mereka pulangnya lebih sore dari pada muridnya," ucap Axel sambil menyalakan mesin mobilnya.
Hari ini Axel langsung mengantar Athena pulang ke rumah. Itu pesan dari Ny. Olivia, Mommy Axel itu ingin Athena datang dua hari lagi untuk menemaninya ke luar kota.
"Kamu bersedia?" tanya Axel.
"Baiklah, aku akan bilang sekaligus minta izin sama Mama. Dua hari lagi bukan? Apa menginap?" tanya Athena.
"Ya, besoknya kamu libur makanya Mommy pilih hari itu, ucap Axel.
"Ok! Baiklah, apa Kakak juga ikut?" tanya Athena.
"Aku tidak bisa, aku ada tugas kuliah," jawab Axel.
__ADS_1
"Oh, Ok!" jawab Athena cepat.
Saat sampai di rumah Athena, laki-laki itu mengantar hingga ke depan pintu. Axel dengan cepat mengecup pipi Athena lalu tersenyum. Athena kaget namun bersyukur, Mamanya belum sempat muncul di depan pintu.
Laki-laki itu pulang setelah pamit pada Mama Athena. Gadis itu menunggu hingga mobil sport yang membawa Axel menghilang di balik gerbang. Athena menceritakan ajakan Ny. Olivia akhir minggu depan dan Ny. Anna mengizinkan putrinya untuk ikut.
Hari yang di janjikan Ny. Olivia tiba, Axel mengantar gadis itu pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian dan menjemput bekal baju ganti. Athena turun dari lantai atas dengan mengenakan jeans dan kemeja simple. Terlihat penampilan Athena yang begitu santai namun terlihat begitu manis. Axel kembali terpesona pada gadis itu.
Sebagian besar Axel melihat penampilan Athena mengenakan seragam sekolah. Setiap gadis itu berpakaian bebas selalu membuat laki-laki itu terpesona.
"Kok bengong? Ayo berangkat!" ajak Athena.
Ny. Anna tersenyum melihat Axel yang terpesona. Laki-laki itu langsung menuduk malu, mereka pun pamit berangkat ke rumah keluarga Cullen. Ny. Olivia menyambut Athena yang ingin berangkat bersamanya. Nyonya cantik itu merasa sangat senang setiap kali Athena ikut bersama.
Saat bertemu orang-orang, banyak yang mengira kalau Athena adalah putrinya. Dan mereka selalu mendapat pujian 'ibu dan anak sama cantiknya'. Hal yang membuatnya semakin bahagia, mereka dijuluki bak pinang dibelah dua. Disamakan dengan gadis cantik itu membuat Ny. Olivia merasa kembali muda.
Sembari menunggu Ny. Olivia dan anggotanya bersiap-siap, Axel mengajak Athena ke kamarnya. Saat di kamar Axel, Athena langsung dipeluk laki-laki tampan itu.
"Aku nggak bisa ikut sayang, kalau digoda cowok-cowok di sana, kamu jangan tergoda ya! Bilang kalau kamu sudah punya pacar. Ingat ya sayang, aku adalah pacar kamu yang masuk akal," ucap Axel setengah memohon.
Athena hanya tersenyum mendengar pesan-pesan dari Axel. Laki-laki itu merenggang pelukannya dan menatap Athena lekat-lekat.
"Kok diam aja sih?" tanya Axel.
"Habisnya mau bilang apa, kalau bilang nggak mau, nanti malah sedih," ucap Athena tersenyum.
"Malah senyum-senyum, nggak tahu orang lagi ketakutan ditinggal. Orang sedih malah diketawain," ucap Axel dengan gaya merajuk.
Athena kembali tersenyum.
"Aku ke bawah ya Kak, takutnya udah ditungguin," ucap Athena ingin melangkah keluar dari kamar.
Namun, Axel langsung menahan gadis itu dan menghadiahkannya sebuah ciuman. Axel memeluk erat Athena, tubuh gadis itu tenggelam dalam dada bidang Axel. Laki-laki itu membenamkan bibirnya begitu dalam hingga membuat nafas mereka terengah-engah.
"Malam ini aku nggak bakalan bisa tidur nyenyak. Mengetahui kamu menginap bukan di rumahmu dan bisa bertemu dengan banyak orang. Jangan lirik-lirik cowok-cowok di sana, ya sayang," ucap Axel lagi.
Karena tak mendapat jawaban yang memuaskan dari Athena.
"Ya, baiklah. Lagi pula ada Mommy, nggak mungkin aku lirak-lirik cowok, bisa-bisa aku kena marah," ucap Athena.
Yang akhirnya membuat Axel merasa lega. Setelah mengecup bibir manis menggemaskan itu sekali lagi, barulah Axel mengajak Athena menemui rombongan.
Athena tidak tahu hendak pergi ke mana, setahunya cuma kegiatan sosial di luar kota. Saat berangkat dengan iringan mobil, Athena duduk berdampingan dengan Ny. Olivia. Sebentar-bentar Nyonya itu menoleh pada Athena dan tersenyum.
Iringan mobil itu sampai di sebuah rumah sakit daerah. Athena merasa heran, kegiatan apa yang akan dilakukan di sana. Ny. Olivia menerangkan mereka akan memberikan bantuan untuk orang-orang kurang mampu yang sedang menjalani pengobatan.
Selain itu mereka seharian akan menjadi relawan yang membantu kerja para perawat di sana. Membantu pasien, menghiburnya, bahkan memberikan sumbangan. Athena mengangguk angguk mendengar tugas dari Ny. Olivia.
Dengan telaten Athena menyuapi makan seorang nenek yang keluarganya sedang pulang ke rumah. Nenek itu sangat senang di suapi Athena. Karena mengingatkannya pada cucunya yang jauh di rantau.
"Makasih ya Cu, sudah mau repot-repot suapi nenek," ucap nenek itu setelah menghabiskan makanannya.
Suster di sana memuji kesabaran Athena menyuapi nenek itu hingga makanannya habis. Padahal biasanya nenek itu malas-malasan setiap kali disuruh makan.
"Jangan gitu ya Nek, kalau Nenek malas-malasan makan, sembuhnya jadi lama. Nenek harus cepat sembuh. Nanti kalau cucu Nenek datang, neneknya masih sakit, Cucu Nenek pasti sedih. Janji ya jangan malas makan lagi dan jangan lupa minum obatnya ya," ucap Athena.
Nenek itu mengangguk sambil membelai dagu Athena. Athena senang bisa melakukan sesuatu yang bisa membantu orang. Para suster dan dokter-dokter berterima kasih pada rombongan relawan yang datang ke rumah sakit itu. Hingga dalam satu kesempatan mereka mengambil foto bersama pasien bahkan foto-foto bersama para suster dan dokter.
__ADS_1
Ny. Olivia mengirim foto-foto itu pada suami dan putranya. Axel senang menerima kiriman foto-foto itu. Rasa rindunya pada Athena sedikit berkurang. Namun satu foto langsung membuatnya lemas. Terlihat Athena yang berfoto bersama dengan para dokter dan suster di mana gadis itu berdiri sambil tersenyum di samping seorang dokter muda yang sangat tampan.
...~ Bersambung ~...