Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 7 ~ Anugerah Yang Tak Diinginkan ~


__ADS_3

Athena melihat dengan heran, tangannya yang melambai dengan sendirinya, seperti sedang menatap tangan orang lain. Sedikitpun otak Athena tidak memerintahkan tangannya untuk melambai, apalagi itu kepada Evan.


"HAAH" teriak Athena kaget saat melihat Evan berjalan menuju kearahnya.


Buru-buru Athena memaksa tangan kanannya itu untuk turun, Axel tertawa. Athena membesarkan matanya pada hantu usil itu.


Pasti ulah kamu, awas ya tunggu pembalasanku, batin Athena geram.


Giginya sampai menyatu untung masih bisa dipisahin. Evan berjalan menghampirinya sambil tersenyum.


"Kamu, cewek yang waktu itu kan ? tanya Evan.


Athena cuma mengangguk cengengesan. Axel menggelengkan kepala. Evan mengulurkan tangannya, Athena melihat tangan itu dengan raut wajah heran. Kimmy menyikutnya, buru-buru gadis itu menyambut uluran tangan cowok itu.


"Saya Evan" ucap laki-laki itu.


"Udah tau" jawab Athena.


Kimmy menepuk jidat.


"Sebutin namamu" ucap Axel, untung masih bisa kedengaran.


"Oh ya.. Saya Athena" ucapnya masih cengengesan.


Yah lumayan lah, meski cengengesan mulu daripada bengong mulu kayak waktu itu.


"Wow.. Dewi Athena ?" ucapnya yang masih dibalas cengengesan oleh Athena.


"Ok.. klu gitu, aku main lagi ya" ucap Evan ingin kembali ke lapangan.


"Ya" ucap Athena sambil tersenyum.


Hingga bel berbunyi lagi, senyum Athena masih belum hilang. Kayaknya masih halu kejadian tadi. Kimmy mengajak Athena kembali ke kelas, Athena melirik pada Axel, laki-laki hantu itu tak terlihat lagi. Dengan perasaan heran Athena mengikuti langkah Kimmy kembali ke kelas.


"Hebat kamu, setelah dua tahun lebih memendam cinta akhirnya sekarang berani juga menyapanya" ucap Kimmy sambil berjalan mengiringi langkah Athena.


Athena tidak menjawab, pikirannya justru melayang pada Axel yang sudah tidak terlihat lagi.


Mungkin cuma bisa sebentar doang munculnya, hebat anak itu, baru beraksi sekali Evan udah negor gue, gimana kalau beraksi dua atau tiga kali, bisa-bisa Evan langsung nembak gue, hihihi.., batin Athena.


"Ngapain loe ketawa sendiri, langsung gila lu ditegor gitu doang ? otak loe nggak kuat menahan peristiwa yang agak berat ? " tanya Kimmy.


Athena langsung menghentikan senyumnya, menatap sebal pada sahabatnya. Lalu kembali kepikirannya sendiri.


Kalau Axel udah beraksi berarti gue juga harus beraksi dong, nyari informasi tentang dirinya, duh bisa nggak ya, napsu aja sih biar bisa jadian sama Evan, jadi janji yang yang aneh-aneh, batin Athena menyesal mengucapkan kata Deal.


Emangnya detektif, disuruh menyelidiki siapa dia ? batin Athena.


Tapi janji tetap janji, gimanapun caranya, Athena harus bisa mencari informasi tentang Axel.


Sebenarnya buat apalagi sih ? kalau udah mati ya udah, buat apa lagi pengen tau ? batin Athena berusaha mencari alasan untuk ingkar dari janjinya.


Sesampai di kelas Athena hanya duduk termenung, tak satupun pelajaran yang nyangkut di otaknya. Memang biasanya nggak ada yang nyangkut juga. Matanya saja yang melotot tapi pikirannya entah kemana-mana. Yang pasti pikirannya hanya menyusun rencana untuk besok.


Seperti biasa begitu sampai dirumah Athena akan langsung rebah di ranjang empuknya. Tersenyum sendiri saat mengingat perkenalannya secara resmi dengan Evan. Semua karena ulah Axel.


Makasih Axel, you are the best, I love you, batin Athena.


Kok I love you sama Axel, latah aja nih bilang I love you sembarangan, hihihi..., batin Athena lagi.


Athena mengingat-ingat kejadian tadi hingga tertidur. Axel kembali dari perjalanannya, berdiri menatap Athena. Tatapan matanya menunjukan kesedihan, kebingungan dan rasa kasihan.


Maaf Athena, semua ini karena kamu dekat denganku. Kamu pasti tidak menginginkan ini, maafkan aku. Maafkan keegoisanku, karena aku masih ingin bersamamu, batin Axel.


Laki-laki itu tertunduk dihadapan Athena. Setelah mengetahui penyebab Athena semakin hari semakin bisa melihatnya, hati Axel justru menjadi risau. Axel tau ini bukanlah yang diinginkan Athena.


Bukannya bertambah bahagia karena bisa bertemu dengannya setiap saat, setiap waktu. Tanpa menunggu diantara gelap dan terang, namun hati Axel justru menjadi sedih untuk gadis itu, karena akan membuat hidupnya berubah drastis.


Axel tidak sanggup menceritakan keadaan yang sebenarnya terjadi pada diri Athena. Dinding pembatas antara alam nyata dan alam gaib gadis itu semakin menipis. Karena itu Athena mulai bisa melihatnya disaat apapun, kapanpun.


Semua karena kedekatan mereka, semakin lama mereka bersama semakin tipis pembatas dua alam itu.


"Oh.. kamu udah datang, jam berapa ini ? tadi kamu kok ngilang begitu aja, kamu kemana ?" tanya Athena.


Begitu bangun dan melihat Axel duduk disampingnya, Athena langsung menanyakan pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya.


"Oh.... tadi aku mencari tau penyebab kamu sering melihatku disiang hari" ucap Axel.


"Oh ya ? trus apa sebabnya ? apa kekuatanmu semakin bertambah ? hingga bisa menampakkan diri kapanpun ?" tanya Athena.


Andai saja seperti itu Athena, tapi justru sebaliknya kemampuanmu untuk melihat alam kami lah yang semakin bertambah, batin Athena.


"Bukan, bukan karena kekuatanku yang bertambah tapi kemampuanmu untuk melihat makhluk seperti kami yang semakin meningkat" jelas Axel.


"Kenapa ? apa maksudnya itu ?" tanya Athena.

__ADS_1


"Itu... itu.. karena, karena kamu sangat baik. Kamu ingat saat pertama kali melihatku ? bukankah hari itu kamu menolong Snowy ? kamu bilang kamu melihat ku namun sangat tipis dan seperti hologram rusak ?" tanya Axel.


"Benarkah hari itu ? aku lupa" jawab Athena.


"Lalu saat kamu memberi uang dan bakpao kepada anak kecil yang kelaparan itu. Kamu semakin jelas melihat ku namun tidak mendengar suaraku ?" tanya Axel lagi.


"Jangan tanyakan itu juga, aku tetap lupa" jawab Athena.


"Lalu hari ini, kamu sudah bisa melihat dan mendengarku karena kamu telah menolong nenek yang membawa belanjaannya yang berat. Kamu pasti ingat itu kan ?" tanya Axel.


Athena mengangguk pasti.


"Itu karena kebaikanmu, ketulusan hatimu hingga kamu...menerima... sebuah anugrah... kamu mulai bisa melihat dunia kami" ucap Axel.


Maafkan aku Athena, maafkan kebohonganku, batin Axel.


"Apa maksudnya itu ? anugrah ? bisa melihat dunia mu ? jelaskan apa maksudnya ?" ucap Athena masih bingung.


Gadis itu miring ke kiri menghadap kearah Axel.


"Kamu mulai bisa melihat... makhluk-makhluk sepertiku" ucap Axel tertunduk.


"HAAH, ma..ma.. maksudmu aku bisa melihat hantu ?" teriak Athena langsung terduduk.


"Nggak.. nggak.. nggak.. nggak mau, aku nggak mau bisa melihat hantu, anugrah macam apa itu. Kenapa berbuat baik justru aku harus mengalami itu" ucap Athena dengan wajah panik.


Axel hanya menunduk.


"Kamu cuma mau ngerjai aku kan ? kamu cuma ingin usilin aku kan ? buktinya aku cuma melihat kamu, aku nggak liat hantu-hantu lain" ucap Athena dengan yakin.


"Kamu sudah melihatnya, gadis yang terlihat pucat itu. Dia hantu yang bergentayangan di sekolah" ucap Axel.


"Nggak... bohong... bohong... bohong" teriak Athena sambil mengguncang tubuh Axel.


Laki-laki itu menggeleng.


"Dia mati di toilet sekolah karena over dosis" ucap Axel.


"Narkoba ?" Athena terpancing cerita Axel.


Namun Axel menggeleng.


"Karena meminum terlalu banyak obat untuk menggugurkan kandungannya" jelas Axel.


Athena terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Kali ini Athena yang menggeleng kuat, gadis itu sampai mengeluarkan air mata. Axel langsung memeluknya.


"Tarik lagi anugrah itu, aku takut, aku nggak mau" ucap Athena memandang wajah Axel yang tengah memeluknya.


"Tapi dengan begitu, setiap saat kamu bisa melihatku" ucap Axel berusaha membuat Athena mau menerima keadaan itu.


"Nggak, nggak mau, aku takut, aku cuma mau liat kamu, aku nggak mau lihat hantu lainnya" ucap Athena, air matanya makin mengalir deras.


Mendengar ucapan Athena, Axel semakin memeluknya erat, mengecup puncak rambut gadis itu.


Maafkan aku Athena, satu-satunya cara membuat mu kehilangan kemampuan itu hanyalah jika aku menjauh darimu.


Aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak mampu melakukan itu Athena.


Maafkan aku. Maafkan keegoisanku, batin Axel.


"Axel lakukan sesuatu, aku tidak mau kemampuan itu" ucap Athena masih menatap wajah hantu laki-laki yang tinggi itu.


Axel menghapus air matanya.


"Kita coba dulu, aku akan membantumu. Kamu pasti bisa mengatasinya, kamu hanya perlu memalingkan wajahmu setiap kali melihat sesuatu yang aneh.. bukan.. yang seram, tapi tenanglah aku akan selalu ada di sisimu, aku akan selalu menjagamu, ya.. " pinta Axel.


Athena terdiam, menunduk, Athena merasa Axel tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi masalahnya itu. Akhirnya Athena pasrah duduk ditepi ranjangnya dengan wajah murung.


Axel membelai rambut gadis itu, tersenyum untuk memberi kekuatan dihatinya.


Teganya aku melakukan ini padamu, maafkan aku. Kita coba dulu Athena sayang, semoga kamu bisa mengatasinya. Aku akan berterima kasih padamu jika kamu mau mencobanya, jerit hati Axel.


Axel merangkul Athena, membuat gadis itu bersandar padanya. Air mata Athena telah mengering, gadis itu terlihat pasrah.


"Ada berapa banyak hantu di sekolah ?" tanya Athena.


"Hanya gadis itu saja, dan juga aku. Tapi mungkin kamu juga bisa melihatnya diluar sekolah" ucap Axel


Gadis itu langsung membenamkan wajahnya di dada Axel. Hantu tampan itu langsung mendekapnya.


"Apa dirumah ini juga ada ?" terdengar suara Athena bicara dibalik wajahnya yang bersembunyi.


Axel tertawa.

__ADS_1


"Ya nggak lah, rumah ini sangat terang, bersih, kering dan selalu berpenghuni" ucap Axel.


"Lalu hantunya ada dimana ?" tanya Athena melepaskan diri dari dekapan Axel.


"Ditempat-tempat yang sebaliknya, gelap, lembab dan tidak berpenghuni" jawab Axel.


"Tapi hantu disekolah itu ? bukankah sekolah itu selalu berpenghuni ?" tanya Athena.


"Benar juga tapi saat dimalam hari sekolah itu akan sepi, tak ada satupun orang yang merasa dirinya penghuni sekolah itu, dan lagi pula dia meninggal di tempat yang seperti itu, lembab dan gelap" jelas Axel.


"Aku nggak mau lagi ke toilet" ucap Athena.


"Sebenarnya, dia sama sekali tidak menggangu, dia hanya berjalan mengelilingi sekolah itu. Karena dia terjebak disitu, terjebak di sekolah itu. Kamu bahkan tidak takut padanya, aku melihat kamu ingin menyapanya" jelas Axel.


"Itu karena aku tidak tau kalau dia hantu, aku pikir wajahnya pucat karena sakit. Kalau sekarang bertemu dengannya aku mungkin sudah pingsan" jawab Athena.


"Nggak perlu seperti itu, yang penting kamu tau, kalau dia sendiri tidak melihatmu dan tak ingin dilihat olehmu. Kamu hanya perlu berpura-pura tidak melihatnya" jelas Axel.


"BENARKAH ???" tanya Athena semangat.


Axel mengangguk.


"Tapi kenapa kamu bisa terlihat olehku" tanya Athena.


"Karena aku ingin dilihat olehmu dan aku ingin selalu melihatmu" ucap Axel.


Membuat wajah gadis itu merona merah.


Aneh kenapa aku senang hantu ini berkata seperti itu ? kalau hantu lain berkata seperti itu, hiii... ingin dilihat olehku hiii... ingin selalu melihatku hiii... hiiii... hiii... jerit hati Athena.


Hari semakin gelap, gadis itu agak merasa takut kalau Axel akan segera lenyap. Kemampuannya belum begitu kuat, Axel masih bisa saja menghilang dari hadapannya.


"Aku mau mandi, tungguin aku ya jangan menghilang dulu" ucap Athena terburu-buru.


Axel mengangguk.


Athena mandi secepat kilat, setelah kembali dari kamar mandi gadis itu masih melihat Axel duduk dikursi samping jendela. Athena membuka pintu, dia ingin bersiap-siap jika Axel menghilang dia akan lari kebawah dan bergabung dengan ayah dan ibunya.


"Ya jangan seperti juga, sampai kapan kamu akan ditemani papa mamamu, lagian aku sudah bilang disini tidak ada hantu, jadi kamu tidak perlu takut" jelas Axel sambil tertawa.


"Tapi kalau tidak ada kamu, tetap saja aku merasa takut sendirian" ucap Athena.


Axel menangkup wajah gadis itu.


"Kamu hanya perlu yakin kalau aku selalu ada di sisimu dan lagipula dalam waktu tertentu aku akan selalu terlihat olehmu" ucap Axel.


"YAA... kalau kamu terlihat hantu lain juga terlihat" ucap Athena dengan nada sebal.


Axel tertawa.


Maafkan aku Athena, batin Axel.


Entah berapa kali hantu laki-laki itu meminta maaf pada Athena. Akhirnya Axel menghilang, namun seperti permintaan Axel, Athena tidak perlu takut karena hantu laki-laki itu selalu dekat dengannya.


Paginya Athena kembali berbincang dengan Axel. Laki-laki itu memberi semangat Athena untuk menjalani hari-harinya disekolah. Laki-laki itu terpaksa membahas tentang cowok idaman Athena demi membuat suasana hati gadis itu gembira.


Entah mengapa jauh didalam hatinya, Axel sama sekali tidak suka Athena menyukai cowok idola sekolah itu. Kalau perlu Athena harus membencinya tapi apa kesalahan cowok populer itu hingga Athena harus membencinya.


Mana udah janji mau bantuin dia lagi biar mereka jadian, huuuuh menyebalkan, batin Axel.


Mereka menjalani hari-hari bersama, semakin lama Athena semakin sering melihat Axel disiang hari. Terbukti ucapannya kalau kemampuan gadis itu melihat makhluk astral semakin kuat.


Namun laki-laki itu selalu menemani Athena kemanapun gadis itu pergi. Ke-ma-na-pun... kecuali ke kamar mandi. Padahal kalau Athena minta ditemani ke kamar mandi, Axel pasti ikhlas menemani.


"Kamu yakin nggak perlu ditemani ke kamar mandi ?" tanya Axel pada Athena karena pagi itu Athena ketakutan karena melihat hantu gadis sekolah yang kemarin hampir disapanya.


"Kalau minta ditemani, aku ikhlas kok, nekad aku" usul Axel.


"Nekad ? itu mah pengen huuu... " ucap Athena langsung mendorong tubuh Axel.


Gadis itu langsung masuk ke kamar mandi, Axel tertawa menunggu dikamar Athena. Laki-laki itu rebah diranjang sambil menatap langit-langit kamar.


Kalau waktu biasa, meski melihat dan mendengar tapi Athena tak bisa menyentuhku, aku juga tidak bisa menyentuh nya, tapi kalau di antara gelap dan terang aku bahkan bisa memeluknya, andai bisa seperti itu sepanjang waktu, batin Axel.


Bukannya berpikiran cabul, namun setiap kali melihat gadis itu ketakutan Axel langsung ingin memeluknya. Namun laki-laki itu selalu kecewa karena di siang hari tubuhnya hanya seperti bayangan yang tidak nyata.


"Aaaaaaa"


Axel langsung menuju kamar mandi, Athena keluar hanya dengan memakai handuk dengan sembarangan. Axel menelan ludah melihatnya.


"Kamu kenapa ?" tanya Axel yang ragu memeluk Athena.


"Ada kecoa, beneran ada kecoa" ucap Athena wajahnya lebih tegang daripada saat melihat hantu.


Axel tertawa.

__ADS_1


Makasih kecoa, sering-sering datang berkunjung ya.. hahaha...


...~ Bersambung ~...


__ADS_2