
Mendengar cerita ibunya tentang kejadian yang dialaminya, Axel ingin segera pulih dengan cepat. Laki-laki itu berjuang dengan keras agar bisa segera berjalan seperti dulu. Ada banyak hal yang ingin di selesaikan. Ada banyak orang yang ingin ditemuinya. Axel ingin meminta penjelasan tentang segala sesuatu yang terjadi padanya beberapa tahun yang lalu.
Axel memutuskan untuk mencari Hardy, laki-laki yang semua orang memandang mereka begitu mirip hingga tak ada yang mengetahui perbedaan di antara mereka. Axel ingin menemukan kembali laki-laki itu. Laki-laki yang pernah ditemuinya beberapa tahun yang lalu.
Melalui orang-orang yang pernah mengenalnya, Axel mencoba mencari Hardy. Namun waktu telah berlalu begitu lama. Tak ada lagi orang-orang yang bisa ditemuinya untuk bertanya. Hingga akhirnya Axel mengingat sesuatu, sebuah lokasi wisata tempat pertama kali mereka bertemu.
Axel, berjalan menuju lokasi wisata itu, termenung dengan perubahan yang begitu besar pada tempat itu namun kecewa saat mengetahui tak ada seorang pun yang di kenalnya di situ. Tiba-tiba Axel merasakan sebuah tepukan.
"Sudah lama tak jumpa, bagaimana kabarmu sekarang?" tanya seorang bapak.
Hah, Pak Yatno, bapak ini masih mengenalku? Tapi siapa yang di sapa Pak Yatno? Tunggu dulu, dia sedang menyapa Hardy atau Axel? batin Axel bertanya-tanya.
"Sejak kamu pindah ke kota, kamu jarang lagi main ke sini? Dengar-dengar kamu telah menjadi mahasiswa di sana? Di mana kamu bekerja? Apa cukup untuk biaya kuliahmu?" tanya Pak Yatno bertubi-tubi.
"Aku bukan Hardy Pak, aku Axel," ucap Axel dengan pelan.
Pak Yatno terkejut.
"Apa? Sudah lama sekali? Bapak pikir setelah mengetahui tentang diri kalian, kamu tak akan mau kembali lagi ke sini," ucap Pak Yatno.
"Berarti dia tidak pernah lagi datang ke sini sejak bapak mengetahui tentang kami?" tanya Axel.
"Pernah dia datang lagi, dia berkata ingin mengubah takdirnya. Dia tidak ingin hanya terkurung dan hidup seperti ini di kota kecil ini dan bertekad untuk menjadi sukses di kota besar," jelas Pak Yatno.
Kapan itu, sebelum dia membunuhku atau sesudah membunuhku? Tanya Axel dalam hati.
"Pak, aku ingin mencarinya, aku ingin meminta pertanggungjawaban darinya," ucap Axel.
"Apa? Pertanggungjawaban? Apa yang di lakukannya padamu?" tanya Pak Yatno.
"Dia mencoba membunuhku karena ingin menggantikan posisiku," ucap Axel.
Pak Yatno terkejut, tak menyangka Hardy bisa begitu nekad berencana seperti itu. Pak Yatno kembali teringat ke masa beberapa tahun yang lalu. Saat itu lokasi wisata air terjun itu sangat ramai. Pak Yatno kewalahan melayani pengunjung namun dirinya justru mendapati Hardy yang sedang duduk di sebuah bangku taman tak jauh dari restoran.
"APA YANG KAMU LAKUKAN DI SINI? LIHATLAH PENGUNJUNG RAMAI KAMU MALAH ENAK-ENAKAN BACA BUKU DI SINI!" bentak Pak Yatno murka.
Anak laki-laki yang duduk itu terkejut, dengan wajah yang bingung mencoba memahami apa yang di maksudkan bapak itu. Tapi belum selesai dimengerti ucapan bapak itu dia telah ditarik bapak itu ke sebuah restoran.
"Lihat pengunjung ramai bukannya, kamu malah bersantai-santai. Kamu mau di pecat?" tanya Pak Yatno lagi.
Remaja laki-laki itu masih bingung namun Pak Yatno telah menyeretnya kembali. Melempar celemek pelayanan dan menyuruhnya mengenakan celemek itu. Seorang pelayan yang agak lebih muda dari bapak itu hanya mengangguk memintanya patuh untuk memakai celemek itu.
Dengan ekspresi bingung, remaja laki-laki itu akhirnya mengikuti ucapan bapak itu.
"Kerjakan saja, dari pada kamu di pecat? Bukannya kamu yang minta kerja di sini," ucap Abang yang mengangguk tadi.
"Kerja? Aku kerja di sini? Kapan aku minta kerja di sini?" tanya Axel yang tak mengerti dengan ucapan Abang itu.
"Gimana sih kamu, masih muda sudah pikun. Kamu sakit atau bagaimana? Kemarin saja masih semangat kerja sekarang malah bengong, ayo cepat layani pengunjung," ucap Abang itu lagi.
Apa yang harus ku lakukan? Aku harus mengerjakan apa? tanya Axel dalam hati.
"Bang apa yang harus aku lakukan?" tanya Axel.
"Apa? Ya ampun malah bertanya, bereskan piring-piring kotor itu dan bersihkan meja-meja yang kosong," ucap abang itu.
Axel pun melakukan tugas itu, mengumpulkan beberapa piring kotor yang pengunjungnya telah pergi.
"Lihat pelayan ganteng itu, mending jadi model aja ya," terdengar suara gadis-gadis di sekitar Axel.
Tak lama kemudian laki-laki itu di kerubuti oleh gadis-gadis pengunjung restoran itu untuk di mintai foto selfie bareng. Axel bingung namun akhirnya pasrah mengikuti kehendak pengunjung itu.
"Setelah habis acara berfoto-foto cepat kerjakan tugasmu. Kamu bahkan belum membereskan satu meja pun" ucap Abang itu.
Axel mengangguk segera melanjutkan kerjanya. Mengangkat piring-piring kotor dan membawanya, tiba-tiba laki-laki itu berdiri terpaku. Tidak tahu piring kotor itu harus dibawa ke mana.
"Apa yang kamu lakukan cepat taruh di belakang," ucap Abang itu yang juga membawa piring kotor.
Axel ingin bertanya namun akhirnya mengikuti laki-laki yang umurnya lebih tua darinya itu.
Axel meletakkan piring kotor itu dan kembali ke bagian depan. Segera mencari piring kotor lainnya, untuk hal itu Axel telah mulai terbiasa dan bisa mengerjakannya. Kadang mendapat pujian dari pengunjung, kadang dapat senyuman dari Abang itu bahkan kadang mendapatkan tips dari pengunjung.
__ADS_1
Axel telah mulai terbiasa mengerjakannya namun tubuhnya mulai terasa letih dan ingin beristirahat.
"Bang, aku istirahat dulu ya?" tanya Axel.
"Mana boleh istirahat. Ini belum waktunya istirahat, ayo kerjakan lagi tugasmu," ucap Abang itu.
"Tapi aku nggak sanggup bang, aku bisa pingsan kalau masih disuruh kerja lagi," ucap Axel.
"Ya, sudah kamu istirahat, tapi jangan lama-lama. Wajahmu kelihatan pucat, aku tidak tega menyuruhmu tapi kalau tidak kamu bisa dipecat, sayangkan sudah di terima kerja di sini udah hampir seminggu malah menyerah," ucap Abang itu.
"Ya bang," ucap Axel.
Sambil istirahat laki-laki itu berpikir.
Kenapa Abang itu terlihat akrab denganku? Kenapa bapak tadi itu juga seperti mengenalku, batin Axel.
Karena lelah berpikir, Axel tertidur di bangku panjang itu. Tak lama kemudian laki-laki muda itu kembali menghampiri Axel, ingin membangunkan anak itu. Namun melihatnya yang begitu kelelahan akhirnya laki-laki itu tak tega membangunkannya.
Laki-laki itu kembali melanjutkan pekerjaannya, mengangkat piring kotor dan membersihkan meja. Secepatnya mengerjakan itu agar tak cepat menumpuk. Tiba-tiba laki-laki itu di sapa seorang remaja.
"Bang, maaf aku telat datang, aku harus bantuin paman ku dulu," ucap remaja itu.
Abang itu bengong lalu menoleh ke arah belakang restoran lalu kembali menoleh ke arah remaja itu. Melihat penampilannya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Lalu kembali menoleh ke arah belakang.
"Kenapa bang?" tanya remaja itu.
"Kamu punya kembaran?" tanya Abang itu.
"Bang Yadi aneh, seperti nggak kenal aku aja," ucap remaja itu.
"Hardy, aku yang gila atau bagaimana?" tanya Yadi.
"Maksud Abang?" tanya Hardy.
"Tadi aku sudah nyuruh kamu kerja, tapi sekarang sedang istirahat. Apa itu jin yang menyamar jadi kamu ya?" tanya Yadi.
"Apa-apaan sih abang ini, mana ada jin berani muncul terang-terangan, di siang hari lagi," ucap Hardy.
Laki-laki itu mengajak Hardy ke belakang dan benar saja terlihat Axel yang masih tertidur di bangku panjang itu. Hardy kaget dan merasa mirip dengan anak yang sedang tertidur pulas itu.
"Bang ini menurutku saja atau beneran. Aku kok merasa mirip dengannya," ucap Hardy.
"Itulah masalahnya, pantesan dia bengong-bengong aja di suruh kerja, rupanya dia bukan kamu," ucap Yadi.
Hardy mengangguk-angguk.
"Ya sudah kita kerja dulu aja, nanti kalau sudah bangun kita tanyai dia," ucap Yadi.
Hardy mengangguk setuju, segera mengerjakan tugasnya. Dengan cekatan laki-laki itu mengangkat piring-piring kotor itu ke belakang dan membersihkan meja. Yadi mengangguk-angguk.
Pantesan beda cara kerjanya, tau nya buka Hardy, kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya dia anak orang kaya, batin Yadi.
Dan benar saat istirahat siang mereka berdua, Yadi dan Hardi langsung menginterogasi Axel.
"Siapa kamu?" tanya Hardy.
Axel terkejut melihat kemiripan di antara mereka. Axel menatap Hardy dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lalu menjawab pertanyaan remaja laki-laki itu.
"Axel," jawabnya singkat.
"Axel? Wah namamu keren, ngapain kamu ada di sini?" tanya Hardy.
"Karya wisata? Tapi kalau di tempat ini, aku tidak tahu tiba-tiba disuruh kerja di sini," jelas Axel.
"Wah, berarti Pak Yatno sudah salah tarik orang, dipikirnya dia ini kamu," ucap Yadi.
"Kalau gitu sekarang mau kamu apa? Apa kamu mau mengambil alih kerjaanku?" tanya Hardy.
Axel menggeleng-geleng.
"Aku cuma karya wisata, aku pengunjung di sini untuk apa mengambil alih pekerjaanmu?" jawab Axel.
__ADS_1
Hardy terkejut.
"Benar kamu tidak ingin merebut pekerjaanku?" tanya Hardy tak yakin tapi dijawab dengan anggukan oleh Axel.
"Bang kalau Pak Yatno mengira tadi itu aku, berarti upahku hari ini nggak dipotong kan?" tanya Hardy.
"Kayaknya begitu," ucap Yadi.
"Wah, enak nih kalau loe bisa gantiin gua terus," ucap Hardy dengan panggilan yang lebih akrab.
"Kamu mau manfaatin dia, bekerja di dua tempat, begitu?" tanya Yadi.
"Ya, kalau mau, loe kan anak orang kaya. Bajumu aja kayaknya mahalan, lagi karya wisata lagi, dari sekolah di kota ya?" tanya Hardy.
Axel mengangguk. Mengetahui kenyataan itu, Hardy langsung berkenalan dengan Axel begitu juga dengan Yadi. Hardy ingin memberikan pengalaman bagi anak orang kaya itu untuk merasakan hidup menjadi rakyat jelata yang harus bekerja. Gaya Hardy yang lues dalam berbicara dan berpikir membuat Axel tertarik mengenal remaja laki-laki yang mirip dengannya itu.
Mereka pun akhirnya menjadi akrab, seperti yang diinginkan Hardy. Remaja laki-laki itu ingin Axel mencoba menjalani hidupnya yang bekerja di dua tempat. Sebagai tenaga bantu-bantu pamannya dan tenaga pelayan di restoran itu.
Mendengar cara Hardy bercerita membuat Axel tertarik mendengar ajakan remaja laki-laki itu. Siang itu juga Hardy mengajak Axel menuju rumah pamannya yang memiliki toko sembako.
"Loe kerja di sana nanti jam limaan loe tunggu gue di sini, kita kembali tukar posisi. Loe kembali ke teman kelas loe, gue kembali ke rumah paman gue. Gimana?" tanya Hardy.
Setelah berpikir sebentar akhirnya Axel menyetujui.
Sepertinya ini menarik dari pada ikut karya wisata itu membosankan, aku coba usul anak kampung ini, sore nanti aku bisa kumpul lagi dengan teman sekolah, batin Axel.
Remaja laki-laki itu akhirnya menyetujui usul Hardy, bukan uang yang di carinya namun pengalaman menjadi rakyat jelata seperti yang diucapkan Hardy. Mereka pun menjalani pertukaran identitas itu. Hardy tetap menjalani tugasnya di restoran dan Axel menjalani hidupnya sebagai keponakan dan tenaga bantu-bantu di toko sembako itu.
Axel yang pendiam dan patuh dengan semua perintah paman Hardy membuat paman itu menjadi senang karena Hardy yang sekarang ini tidak banyak tingkah dan tidak banyak protes. Axel dengan identitas Hardy itu langsung disayang oleh sang paman.
Saat pergantian identitas lagi mereka bertemu di ujung jalan ke kampung itu. Axel menceritakan kegiatannya hari ini dan menjelaskan tugas yang harus dilakukannya malam hari nanti, Hardy mengangguk. Setelah itu membicarakan rencana besok harinya, tertawa dan melakukan hi five. Kedua remaja dengan wajah yang sama itu pun berpisah.
Axel akan menjalani rutinitas itu selama satu minggu karena harus kembali ke kota. Tapi Hardy terlanjur menyukai situasi ini.
"Kalau karya wisataku selesai, aku harus kembali ke kota," ucap Axel.
"Ya, kalau libur berakhir gue juga nggak kerja di restoran itu, seperti biasa menjalani kehidupan sebagai anak sekolah dan bantu-bantu di toko paman, membosankan. Gue ingin petualangan baru, ingatan gue saat loe jadi gue, itu seru, gue deg-degan takut-takut kalau paman gue tahu kalau loe bukan gue," ucap Hardy.
"Nggak kok, paman itu nggak tahu, dia baik-baik aja malahan. Malah senang melihatku, katanya aku lebih pendiam tapi lebih rajin, meski kadang aku bingung mau kerjain apa? Tapi kalau aku bertanya pada pamanmu dia dengan senang hati menjelaskannya. Dia bilang aku sekarang mau peduli pada toko dan mau belajar berdagang, dia sangat senang," jelas Axel.
"Wah loe hebat bisa mendapatkan hati paman gue yang galak itu," ucap Hardy.
"Bukan galak tapi tegas, beliau cuma ingin pekerjaan yang ditugaskannya cepat diselesaikan setelah itu aku boleh nyantai-nyantai," jelas Axel.
"Yah, pokoknya kamu hebat bisa mendapatkan hati paman gue, gimana kalau kita perpanjang kontrak kerjasama kita," ucap Hardy.
"Kontrak kerjasama apa? Mana kontraknya? Apa keuntungannya buatku?" tanya Axel.
"Iih, udah kaya begini masih mata duitan mau cari keuntungan? Cari pengalaman ngerti nggak?" tanya Hardy.
Axel tertawa, dalam hatinya laki-laki itu memang ingin mencari pengalaman dan petualangan. Tapi karena anak laki-laki di depannya itu bicara tentang kontrak tentu saja dia mempertanyakan keuntungannya.
"Baiklah, apa maumu?" tanya Axel.
"Kita lakukan selama liburan ini," ucap Hardy.
"Tapi aku harus pulang dalam seminggu ini, trus gimana? Apa harus balik lagi ke sini?" tanya Axel.
"Bingo setelah tugas karya wisata loe selesai, loe balik ke sini dan menjalani hidup sebagai Hardy, cowok tampan di kampung ini, sementara gue full bekerja di restoran bahkan tidur di restoran, gimana?" tanya Hardy.
"Kalau ada apa-apa kamu yang tangung jawab ya? Karena aku bukan Axel di sini, aku jadi Hardy kalau ada apa-apa kamu yang menanggungnya karena ini bukan kehendakku, ini keinginanmu, aku cuma menjalankan perintahmu, ok?" tanya Axel.
"Takut amat, mau bertanggung jawab apa? Loe mau hamilin anak orang trus gue yang harus kawinin gitu?" tanya Hardy.
"Ya bisa jadi, pokoknya, seperti itulah. Aku nggak tahu masa lalu mu, aku juga tidak tahu rencana masa depanmu. Kalau aku melakukan sesuatu yang merusak rencana masa depanmu, aku tidak tanggung jawab, kamu yang harus tanggung jawab," ucap Axel.
"Hah, rencana masa depan apa? Rencana masa depan gue itu bisa berubah tiap detik, tau nggak loe. Tapi kalau emang itu permintaan loe gue sanggupin, apa pun yang terjadi gue yang tanggung jawab. Tapi kalau loe hamilin anak gadis orang, cari yang cantik dikit ya biar gue ikhlas ambil tanggung jawabnya," ucap Hardy sambil tertawa.
"Itu nggak bakal terjadi," jawab Axel.
Mereka pun tertawa, hari ini pertukaran identitas Axel menjadi Hardy sukses dan mereka memperpanjang kesepakatan itu hingga habis masa liburan sekolah.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...