
Axel telah kembali, usaha Athena menemui gadis hantu itu tidak sia-sia. Rasa takut yang harus ditahannya sudah terbayar. Kini Athena bingung sendiri bagaimana cara menepati janjinya.
Athena heran bagaimana Raihanna, si gadis hantu itu dapat menemukan Axel dan menyuruhnya kembali.
"Kami punya semacam sosmed khusus untuk hantu" ucap Axel.
Athena menatap Axel dengan serius, laki-laki itu tertawa.
"Bercanda" ucap Axel sambil tertawa.
Entah seperti apa caranya, Athena tidak peduli lagi yang terpenting sekarang Axel telah kembali. Bersama-sama mereka membaca diary itu, sambil bersantai diatas ranjang Athena membaca lembar demi lembar kisah Raihanna.
Disampingnya Axel ikut membaca, wajah Athena merona saat membaca kisah ciuman pertama Raihanna, Axel menatapnya sambil tersenyum.
"Dia yang ciuman kok kamu yang malu ?" tanya Axel sambil menatap wajah Athena dari dekat.
Yang ditatap jadi malu, mendorong wajah Axel menjauh.
"Kamu nggak penasaran gimana rasanya ?" tanya Axel.
"Apaan sih, pergi sana" ucap Athena kembali mendorong pipi Axel menjauh.
"Nanti kalau aku pergi, dicariin lagi" ucap Axel sambil tersenyum.
Athena tertunduk, lalu menutup buku diary itu.
"Itu karena kamu belum menepati janji, kamu kan harus ngajarin aku, trus bantu aku dapatin Evan" ucap Athena.
"Trus ?" tanya Axel.
"Trus apa lagi ?" tanya Athena.
"Aku juga harus ngajarin kamu caranya ciuman kan" ucap Axel.
"Ngajarin ? kayak yang hebat aja lu, nyobain juga belum huu.." ucap Athena sambil kembali mendorong Axel.
"Makanya cobain" ucap Axel mendekat
"Nggak mau ah, ciuman dengan guru private bisa jadi scandal" ucap Athena langsung tertawa.
Axel tersenyum, membelai rambut Athena.
"Kenapa sampai sekarang kamu masih menganggap aku ini anak kecil ? padahal aku ini lebih tua darimu" ucap Axel pelan, nyaris tak terdengar.
Axel duduk dipinggir ranjang Athena, hendak berdiri. Athena langsung menghentikannya, gadis itu memeluk dari belakang, melingkarkan tangannya di dada Axel.
"Aku harus seperti itu, aku harus tetap menganggap kamu lebih kecil dariku, tolong jangan tanyakan alasannya, maafkan aku" ucap Athena, masih memeluk Axel dari belakang.
Axel tersenyum. Athena sejujurnya tidak ingin membuat laki-laki itu bersedih, apalagi hingga membuatnya pergi. Ini adalah pilihan Athena untuk membentengi perasaannya. Athena tak ingin larut terlalu jauh menyukai laki-laki itu.
Axel memiliki pesona yang sangat kuat, Athena merasakan itu. Ingin mengikuti perasaannya tapi tidak masuk akal, menyukai makhluk tak kasat mata. Ingin mengelak dari pesonanya, sangat-sangat mau tapi tidak mampu. Ingin mengakhiri hubungannya, dalam sekejap Athena menderita kehilangan dan kembali merindukan laki-laki itu.
Athena harus berpegang teguh pada cintanya untuk Evan agar tidak jatuh lebih dalam pada perasaannya terhadap Axel.
"Baiklah jika itu memang keinginanmu, kamu anggap aku bayi juga nggak apa-apa" ucap Axel sambil tertawa.
Athena tersenyum rasanya nyaman, Athena merasa nyaman memeluk laki-laki itu dari belakang. Dibelakang itu Athena seperti merasa bebas, tak perlu takut mengekspresikan perasaannya. Tak perlu takut ditertawakan karena rona merah diwajahnya. Tak perlu takut Axel mengetahui perasaannya.
Namun Athena tidak pernah tau, kehangatan dan dekapan tubuhnya bisa menjalar ke seluruh tubuh Axel. Hingga laki-laki tak nyata itu tetap bisa merasakan perasaan tersembunyi Athena.
Axel tersenyum, memeluk tangan Athena dengan kedua tangannya, sekarang laki-laki itu justru tidak peduli. Axel justru bertekad, perbedaan alam mereka tidak akan jadi penghalang baginya. Yang jadi penghalang baginya justru Evan yang masih saja menetap di hati Athena.
"Kamu bukannya harus belajar, berapa lama lagi try out diadakan ?" tanya Axel.
"Oh ya, gimana ini ? aduh, udah terlanjur janji sama kak Raihana lagi, harus belajar sekaligus mengungkap kebenaran kak Raihanna. Aduh masih sempat nggak ya ?" tanya Athena sambil melepas tangannya lalu memegang kepalanya, panik.
Axel menangkup wajah gadis itu.
"Jangan khawatir, Raihanna mengerti kalau kamu harus fokus pada pelajaranmu. Kamu masih hidup sedangkan Raihanna sudah mati. Dia mengerti mana yang harus didahulukan, kamu mau sedikit peduli padanya saja dia sudah sangat bersyukur" ungkap Axel.
"Benarkah ? kalau kita lupain aja janji sama kak Raihanna ?" tanya Athena coba-coba.
"Dikasi hati minta Ferarri, kamu mau dia cekek lehermu jadi ramping" ucap Axel.
"Iiih.. ngeri amat sih, trus gimana ini ?" ungkap Athena ketakutan langsung mendekat pada Axel.
Laki-laki itu tertawa, lalu tercenung menatap leher putih Athena. Axel membelai lembut leher gadis itu, lalu tersenyum.
"Mana mungkin aku membiarkan dia melakukan itu padamu?" ucapnya menghibur Athena.
"Emangnya kamu bisa melawan dia, kak Hanna itu kan hantu lama, pasti lebih kuat" ucap Athena.
"Siapa yang mau bertarung ? siapa yang adu kuat ?" tanya Axel.
"Trus gimana caramu mengatasinya ?" tanya Athena penasaran.
"Paling cuma memohon, tolonglah jangan sakiti kekasihku, hanya dia yang aku cintai, bukankah kak Hanna juga pernah merasakan cinta yang mendalam ?" ucap Axel sambil menyatukan telapak tangannya.
"Heee.. kok gitu ? dasar lebay" ucap Athena sambil mendorong tubuh Axel.
__ADS_1
Laki-laki itu tertawa.
"Pokoknya jangan lupakan janjimu, kamu boleh memulainya kapanpun kamu punya kesempatan tapi jangan pernah ingkari janji, mengerti !!!" ucap Axel lalu mulai membayang.
Athena menganggukkan kepalanya, gadis itu mulai belajar ditemani Axel. Agak lega karena Axel dalam keadaan berupa bayangan, kalau Athena bermain-main, laki-laki itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Gadis itu kembali menjalani kesibukannya belajar, dirumah bersama Axel, disekolah bersama Vivi dan Kimmy. Semuanya bukan tidak ada artinya terbukti saat ulangan harian nilai-nilai Athena meningkat drastis.
Guru-guru sampai kaget tak percaya.
"Kamu punya tuyul yang bisa kasih contekan ?" tanya guru matematika.
Athena tertawa sambil melirik Axel.
"Ya betul pak, saya punya tuyul" ucapnya kembali tertawa.
Axel bayangan berlagak ingin mencekik Athena, tentu saja gadis itu tidak peduli dan terus tertawa.
"Kayaknya kamu udah siap melawan Luna ?" tanya Vivi saat istirahat siang.
Kimmy, Athena dan Vivi terpaksa cuma duduk-duduk di bangku dibawah pohon sambil minum-minuman ringan. Merek terlambat ke kantin, tempat itu sudah terlanjur penuh, untuk menunggu mereka tak mau.
"Na liat, ada pengumuman, kita liat yuk" ujar Kimmy yang berdiri menghadap papan pengumuman.
"Pengumuman apa ya ?" tanya Vivi.
Mereka melangkah kearah papan pengumuman, mumpung masih baru dan tak ada kerumunan merekapun bebas membacanya.
"Pesta perpisahan, sampai lupa, sekolah kita belum ngadain pesta perpisahan" ucap Kimmy.
Athena teringat saat masih menjadi wakil ketua OSIS, hal-hal seperti ini justru dia yang lebih tau. Sejak tersingkir oleh Luna dan geng nya, sedikitpun kegiatan sekolah dia tidak mau tau lagi.
Luna, sial, aku lupa kalau ternyata kamu itu musuh abadiku, menggunakan kekayaan orang tuamu untuk memenangkan pemilihan OSIS hingga banyak yang memilihmu, ciih.. dasar curang, udah gitu milih anggota, temen-temen dia semua lagi ih.. dasar licin.. eh.. licik, batin Athena.
"Hai.."
Athena menoleh
"Oh Evan ? " ucap Athena.
Kimmy dan Vivi langsung menyingkir sambil berbisik-bisik.
"Pesta perpisahan ya ? kamu udah punya pasangan ?" tanya Evan.
Athena cuma menggeleng-gelengkan kepalanya.
Athena mengangguk.
"Apa menurutmu kamu bisa menang ? dia anak IPA loh" ucap Evan.
"Orang itu punya kelebihan diposisinya masing-masing, bagi saya, ungkapan anak IPA itu pintar-pintar, hanyalah rumor yang belum pernah dibuktikan.
Mungkin inilah saatnya saya membuktikannya, dari tiga ratus sembilan puluh enam murid kelas XII, Luna diurutan ke berapa ?
Jika hanya menengah kebawah, maaf, bagi saya anak-anak di posisi itu bukanlah anak IPA tapi anak-anak sok IPA" jelas Athena panjang lebar.
Ada kekesalan dihatinya karena Evan yang membanggakan jurusan mantan pacarnya itu. Kimmy dan Vivi saling berpandangan heran. Mereka kagum akan ucapan menantang Athena. Mereka semakin salut atas keberanian Athena.
"Jangan coba-coba lawan Dewi Athena, Dewi Perang gitu looooh" jerit Kimmy.
"Maju terus Dewi Peraaang" jerit Vivi menambahkan.
Evan tertawa, mendengar support dari teman-teman Athena. Sebaliknya Athena justru merasa malu, sedikitpun gadis itu merasa tidak yakin dengan kemampuannya mengalahkan anak-anak IPA.
Mendengar jeritan Kimmy dan Vivi memancing anak-anak lain memberi komentar.
"Hidup Dewi Athena, hidup Dewi Athena" ucap mereka yang mensupport Athena.
Hihihi.. serasa hidup di jaman Romawi kuno.
Aduh pake teriak-teriak segala, malu-maluin, kalo kalah gimana ? Aduh, iiihhh.. gara-gara searching Dewi Athena, jadi tau kalau dia itu Dewi Perang.
Aku jadi pengen nantangin orang mulu, batin Athena sambil melirik Axel yang cekikikan.
"Wah pendukung Dewi Athena banyak juga ya.." ucap Evan.
"Hidup Dewi Athena, hidup Dewi Athena, hidup Dewi Athena" ucap Evan sambil mengepalkan tangannya.
Athena meringis malu, gadis itu buru-buru ingin beranjak dari tempat itu. Pengen pirman, melipir aman.
"Tunggu Athena Goddess" teriak Evan, menghentikan langkah Athena.
What ? what ? what ? batin Athena yang rada kesal karena dihentikan.
"Aku ingin membuat pengumuman, siapa yang berada di rangking teratas diantara kalian akan menjadi pasanganku di farewell party" teriak Evan.
Haaaa..., batin Athena teriak.
Bisakah batin berteriak ? dalam kasus ini, bisa, buktinya Athena langsung berteriak di dalam hati, meski wajahnya terlihat diam. Sementara Axel tercenung, wajahnya terlihat murung.
__ADS_1
Tidak hanya Athena yang berteriak, gadis-gadis yang telah berkumpul disitu sontak berteriak histeris. Bahkan ada yang mendaftar untuk ikut berlomba dalam meraih rangking teratas di try out ujian nasional kali ini.
Suasana riuh, banyak yang semangat ingin mengikuti lomba peringkat itu, tanpa ada panitia, tanpa uang pendaftaran, tanpa izin lagi. Rasanya Athena ingin membubarkan acara tanpa surat izin ini.
Orang yang mau tanding gua sama Luna, kok malah ikutan semua sih ? batin Athena.
Namun Evan terlihat menyetujui, seorang temannya mendata cewek-cewek yang ingin ikut lomba. Athena, Kimmy dan Vivi, bengong.
"Ssstt.. Evan keliatan menikmati banget direbutin cewek-cewek itu ? makin banyak yang ikut, terbukti makin banyak yang suka sama dia kan ?" ucap Vivi.
Athena hanya diam, apa yang dikatakan Vivi benar. Evan menjadikan lomba ini ajang menaikkan popularitasnya, seakan-akan dia begitu di idolakan. Bukankah emang idola ?
Memang tapi selama ini, para cewek-cewek itu hanya diam-diam menyukai Evan. Sama seperti Athena, dan entah mengapa sekarang tiba-tiba semua muncul kepermukaan. Evan terlihat begitu senang, Athena terlihat begitu kesal.
"Kenapa jadi rame gini sih ?" tanya Kimmy.
"Ah.. udahlah yang penting gua nggak mau lawan mereka, yang gua lawan cuma si Luna" ucap Athena.
"Trus yang jadi pemenangnya gimana ? siapa yang bakal jadi pasangan farewell party Evan ? pemenang diantara kalian berdua atau yang lain juga ?" tanya Vivi.
"Bodo ah tanya panitianya sana, gua nggak peduli" ucap Athena ngeloyor pergi.
Gadis itu kesal, tadinya sama sekali tak ada imbalan apapun, apalagi bisa jadi pasangan pesta Evan. Tau-taunya ada imbalan seperti itu, tau-taunya ada lomba seperti itu.
Athena kesal usahanya untuk bertanding dengan Luna semata-mata hanya untuk mengalahkan kesombongan gadis sok IPA itu sekarang jadi terganggu.
"Udah, nggak usah peduli, yang penting kamu bisa ngalahin si Luna itu, kalau perlu kamu ikutan belajar sama guru privateku dirumah" ajak Vivi.
"Kamu punya guru private ?" tanya Kimmy.
"Ya dong, kan sejak dulu daddy emang selalu cariin guru private buat aku, kali ini nggak cewek lagi. Takut kayak ibu tiriku dulu. Sekarang cowok mahasiswa orangnya ganteng lagi, yuk ikut" ucap Vivi.
"Y U K" ucap Kimmy dan Athena serentak.
Semangat mereka membara saat mendengar guru private Vivi, mahasiswa ganteng. Axel berdiri berkacak pinggang menghadang dengan wajah tegang, matanya tajam, wajahnya cemberut.
Athena terperangah, lalu tersenyum sendiri.
"Nggak jadi deh" ucap Athena.
"Kenapa ?" tanya Kimmy dan Vivi.
"Nggaklah, ada yang marah" ucap Athena cengengesan.
"Loh padahal kamu bisa belajar maksimal loh sama guru private" ucap Vivi menyayangkan.
"Nggak apa-apa, gua juga punya guru private, orangnya galak, kalo ketahuan belajar sama yang lain, dia pasti marah" ucap Athena sambil melirik Axel yang berdiri di belakang Vivi.
Athena cengengesan melihat ekspresi Axel yang terbelalak saat dibilang galak. Gadis itu tertawa, sedikitpun tidak merasa takut, meski Axel menampilkan tampang galaknya tetap saja Axel terlihat ganteng bahkan semakin tampan.
Kimmy dan Vivi saling berpandangan heran melihat Athena yang tertawa sendiri.
"Napa loe, dah gila ? stress kebanyakan belajar" ujar Kimmy sambil tertawa.
Athena cuek, gadis itu tersenyum, Athena berpikir laki-laki hantu itu pasti cemburu, jika Athena memilih belajar dengan orang lain apalagi dengan seorang mahasiswa ganteng. Athena justru ingin menggoda Axel, sengaja meminta nomor ponsel mahasiswa itu.
Athena bahkan makin gencar bertanya pada Vivi, siapa namanya, dimana kuliahnya, apa hobbynya, udah punya pacar atau belum. Athena tertawa terbahak-bahak saat melihat Axel berjalan mondar-mandir kesal melihat tingkah Athena yang semakin menjadi.
Yang lebih bikin kesal Axel, Vivi makin gencar mempromosikan guru privatenya itu pada Athena.
"Orangnya ganteng, cocok sama kamu, Evan aja lewat" ucap Vivi.
"Oh ya, kalau gitu ganti target deh, nggak usah Evan lagi, sama handsome private teacher aja" ucap Athena yang langsung tertawa cekikikan melihat Axel ber-akting seperti ingin mencekik Vivi.
Melihat itu tak puas-puas nya Athena menggoda Axel.
Ini kesempatan gua balas perbuatan lu yaa.. biasanya lu kan yang suka ngerjain gua, batin Athena sambil tertawa.
Begitu diantara terang menjadi gelap, Axel langsung mendorong gadis itu ke dinding. Menatapnya dengan pandangan yang tajam, sejak dari siang dia sudah bersiap-siap untuk membalas perbuatan Athena yang selalu menggodanya
Axel cemburu, entah sadar atau tidak. Laki-laki itu tidak suka melihat Athena memuji laki-laki lain. Axel menatap wajah Athena yang begitu dekat dihadapannya.
"Kamu sengaja memanasi aku ya ?" bisik Axel.
"Emangnya kamu makanan bisa dipanasi ?" tanya Athena cuek.
Gadis itu tersenyum memandang laki-laki yang sedang dilanda cemburu itu. Axel diam memandang Athena lama. Perlahan Axel bergerak mendekat seolah-olah ingin menyatukan bibir mereka. Athena mulai panik.
"Axel, kamu mau ngapain ?" tanya Athena.
"Mau menodai bibirmu, lebih baik aku yang coba duluan. Daripada sama handsome private teacher itu" ucap Axel semakin mendekat.
"Haa.. nggak mauuu" jerit Athena.
"Nggak peduli" ucap Axel terus mendekat.
Terus mendekat, terus mendekat, akhirnya Athena memejamkan mata. Pasrah tapi rela.. hihihi..
...~ Bersambung ~...
__ADS_1