Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 55 ~ Kunjungan Sendiri ~


__ADS_3

Athena kembali ke rumahnya setelah perjalanan kegiatan sosial di luar daerah. Saat kembali ke sekolah Athena menceritakan kegiatannya itu pada teman-temannya. Semua mendengar dengan semangat, bahkan berharap bisa ikut dalam kegiatan-kegiata seperti itu.


"Ada dokter yang masih muda dan ganteng?" tanya Kimmy.


Athena mengangguk.


"Loe ini ya! Selalu aja urusan cowok ganteng, ntar gua laporin cowok sama loe, baru tahu rasa loe," ancam Vivi.


"Huu, kita itu hidup untuk mencari yang terbaik. Itu gunanya di ciptakan banyak manusia agar kita bisa memilih, memilih, memilih lagi yang terbaik. Jadi kalau suka liat yang cakep-cakep, yang ganteng-ganteng itu adalah hal yang wajar!" seru Kimmy.


"Kalau semua orang berpikiran kayak loe, harus mendapatkan yang terbaik, yang ganteng-ganteng trus gimana nasib orang-orang yang biasa-biasa aja?" tanya Vivi.


"Ya, buat loe lah," jawab Kimmy langsung.


Athena dan Mia tertawa. Vivi langsung berakting mencekik Kimmy, yang di cekik justru ketawa karena kegelian.


"Athena enak banget ya? Punya cowok ganteng trus disayang sama camer lagi. Kak Axel itu is the best pokoknya," ucap Kimmy.


"Iya, ya, belum nikah aja udah dibawa kemana-mana sama camer, kompak banget. Gimana kalau udah nikah ya? Sekarang aja udah kayak anaknya sendiri," sahut Vivi.


Athena tersenyum simpul dan yang mengerti dengan senyum Athena cuma Mia. Gadis indigo itu mengusap punggung Athena untuk menguatkan hatinya. Gadis yang baru menjadi sahabatnya itu tahu persis perasaan Athena pada Axel si hantu.


Athena menoleh ke jendela di mana Axel selalu berdiri di situ saat di belajar di kelasnya. Namun sekarang Athena tak bisa melihatnya lagi.


Apa yang dirasakan Kak Axel sekarang ini? Mendengar teman-temanku mendukung hubunganku dengan laki-laki lain? Dia pasti merasa sedih, cuma mungkin dia tak mau menunjukkannya, batin Athena.


Athena melamun, tiba-tiba gadis itu terkejut. Athena merasakan ponsel di sakunya bergetar. Athena menatap nama kontak yang tertera di layar ponselnya itu. Ternyata ada pesan masuk dari Axel.


"Dari siapa?" tanya Kimmy penasaran.


"Kak Axel, katanya hari ini nggak bisa jemput gue. Ada urusan mendadak katanya," jawab Athena.


"Ya, kita nggak ketemu cowok ganteng hari ini," Kimmy.


"Hush, yang dipuji itu cowok temen loe sendiri. Nggak malu apa?" tanya Vivi.


"Emang kenyataannya kok, masa mentang-mentang dia cowoknya temen sendiri, trus ganteng dibilang jelek," jawab Kimmy.


"Ya, coba loe mikir ada temen loe yang suka ama cowok loe, gimana rasanya?" tanya Vivi lagi.


"Ya bagus lah daripada punya cowok yang dibenci sama temen-temennya mending disukai ama temen-temenlah," jawab Kimmy tak mau kalah.


Athena dan Mia cuma tersenyum dan saling memandang.


"Artinya loe saingan dong sama Athena, suka sama Kak Axel," jawab Vivi lagi.


"Iih, siapa yang saingan? Lagian, hebat amat gue dianggap saingannya Athena," sahut Kimmy.


"Tumben loe tau diri," ucap Vivi yang langsung mencubit pipi sahabatnya itu.


"Udah-udah, kalian kalau debat nggak ada habisnya. Mending debat bermutu, mikirin negara, ini debat nggak guna," ucap Mia sambil tersenyum.


"Yah, kalau anak sekolahan emang debatnya kayak gitu lah, masa mau debat ekonomi atau ... politik, emang mau jadi mau jadi pengamat ekonomi, pengamat politik?" tanya Kimmy lagi.


"Ya, udah teruskanlah setidaknya sekarang belajar jadi orang yang tak mau kalah dulu sebelum jadi pengamat ekonomi," sahut Mia lalu tertawa.


Kimmy dan Vivi, kembali meneruskan debat anak sekolahan. Sementara Athena dan Mia hanya mendengar sambil sesekali tersenyum dan tertawa mendengar keseruan perdebatan mereka.


Tiba-tiba Athena merasa ponselnya kembali bergetar. Sedikit tersenyum lalu segera menjawab panggilan telepon itu.


"Halo suster, apa kabar?" tanya Athena pada seorang suster dari rumah sakit daerah yang beberapa hari lalu di dikunjunginya.


Athena diam sejenak mendengarkan ucapan dari seberang.


"Baiklah Suster, aku usahakan ke sana sepulang sekolah nanti," ucap Athena lagi.


Lalu kembali Athena mendengar suara dari seberang. Tak lama kemudian mengangguk setuju. Gadis itu lalu menutup panggilan teleponnya.


"Telepon dari siapa lagi?" tanya Kimmy.


"Dari perawat rumah sakit yang kemarin gue kunjungi," ucap Athena.


"Trus perawat itu mau ngapain?" tanya Vivi.


"Dia minta gue datang ke sana karena nenek yang gue bantuin kemaren mau ketemu ama gue. Nenek itu udah sehat dan mau keluar dari rumah sakit tapi sebelum pulang nenek itu pengen ketemu gue dulu. Katanya mau kasi hadiah, kenang-kenangan gitu," jelas Athena.


"Wuih, sampai segitunya? Mau ngasih kenang-kenangan segala? Trus loe harus ke sana sendirian?" tanya Kimmy.


"Yah terpaksa sendirilah, gue nggak mungkin minta anterin sama Ny. Olivia," jawab Athena.

__ADS_1


"Pake apa loe ke sana? Taksi Online?" tanya Mia.


"Nggak lah naik bus aja, gue pengen nikmati perjalanan ke luar kota naik bus," jawab Athena yang sebenarnya tak begitu yakin.


"Loe nggak takut?" tanya Vivi.


"Takut sih tapi gue juga pernah kok pergi sendiri ke luar kota. Mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa," jawab Athena.


"Minta dianterin sama Kak Axel aja," usul Kimmy.


"Nggak bisa Kim, Kak Axel tadi udah bilang ada urusan mendadak. Masa gue masih minta anter sama dia? Kalaupun dia mau, pasti gue udah ngerepotin dia," jawab Athena.


"Dewi Athena ini emang baik hati dan pemberani. Hati-hati aja ya! Sahabatku sayang," ucap Mia sambil menepuk pundak Athena.


Athena mengangguk, dalam hatinya Axel hantu pasti akan selalu ikut disampingnya seperti saat ke luar kota sendirian dulu itu. Saat Athena harus mencari keluarga Raihan untuk memenuhi janjinya membantu hantu Raihanna.


Mendadak Athena teringat lagi janjinya pada Hani yang memintanya untuk membantu mencarikan pacarnya Hardy yang tak pernah kembali lagi.


Hardy udah pulang belum ya? Gimana ini, janjiku pada satu orang itu masih belum bisa aku penuhi. Apa yang harus aku katakan padanya? Pacarmu udah meninggal Hani dan arwahnya sekarang jadi pacarku. Apa itu penjelasan yang masuk akal? Tapi jika tidak diberi tahu yang sebenarnya, dia pasti akan terus menunggu, bagaimana ini? batin Athena.


"Lagi mikirin apa sih? Kok tiba-tiba sedih gitu?" tanya Mia.


"Janji gue yang nggak bisa gue tepati sama anak yang gue ceritain waktu itu," ucap Athena.


"Maksudmu, cewek yang pacarnya mirip Axel itu?" tanya Mia sambil berbisik.


Athena mengangguk dengan wajah risau.


"Mau gimana lagi, kalau emang ternyata Kak Axel-mu semasa hidupnya pacaran sama dia. Trus kamu mau berbuat apa? Ngasih tahu kalau dia udah meninggal dan rohnya sekarang jadi pacar loe? Nggak mungkin juga 'kan? Tapi apa mungkin Axel yang sekarang ini yang, anaknya Ny. Olivia yang ngaku-ngaku jadi Axel padahal dia itu Hardy?" tanya Mia tiba-tiba dengan suara berbisik.


"Apa maksud loe? Gue nggak ngerti? Kok loe bisa mikir ke situ?" tanya Athena dengan suara berbisik.


"Apa aja bisa terjadi 'kan? Kalau ternyata Hardy yang dimaksudkan Hani itu ternyata Kak Axel? Berarti pacarnya masih hidup tapi sekarang jadi pacarmu. Kalau ternyata pacarnya Axel yang telah mati ya berarti pacarnya telah meninggal dan sekarang jadi pacarmu juga," bisik Mia.


"Nggak mungkin Mia, Hardy itu dari kecil tinggal di sana dan dia keponakan pemilik toko sembako di sana, lalu kenapa bisa jadi anak Ny. Olivia? Kalau anaknya Ny. Olivia itu bahkan pernah sekolah di sekolah kita. Mana mungkin satu orang berada di dua tempat yang berbeda?" tanya Athena.


Athena dan Mia masih sibuk memikirkan keanehan antar Hardy dan Axel.


"Kalian bisik-bisik apa sih, mau merencanakan perampokan ya?" tanya Kimmy.


"Kok tau?" tanya Athena seenaknya.


"Udah, nggak ada apa-apa, obrolan nggak penting. Tak lebih penting dari debat kalian berdua," jawab Mia.


Vivi, Athena dan Mia tertawa, melihat Kimmy yang penasaran tak mendapat jawaban. Gadis itu memonyongkan mulutnya karena kesal.


Bel tanda istirahat telah berakhir pun berbunyi. Mereka serentak kembali ke tempat duduk masing-masing. Mereka pun melanjutkan pelajaran hari ini. Saat pulang Athena menelpon Mamanya dan meminta izin untuk pulang terlambat.


Mama Athena sangat khawatir mendengar putrinya yang ingin bepergian sendiri. Namun, Athena meyakinkan bahwa dia akan berhati-hati. Mama Athena meminta putrinya segera menelepon jika terjadi sesuatu. Athena pun menyanggupi.


Gadis itu akhirnya berangkat sendiri ke rumah sakit yang di dikunjunginya beberapa hari yang lalu. Kemudian segera menemui Suster yang memintanya datang.


"Maaf ya Athena, jadi merepotkanmu. Kamu terpaksa jauh-jauh datang sendirian ke sini. Habisnya Nenek itu seharian bahkan dari kemarin bertanya apakah kamu akan datang berkunjung lagi. Saya bingung menjelaskannya karena Nenek itu ingin sekali ketemu sama kamu sebelum keluar dari rumah sakit ini," jelas Suster itu.


"Nggak apa-apa Suster, saya senang kok kalau bisa melakukan sesuatu yang bisa menyenangkan hati nenek itu," ucap Athena.


"Syukurlah, kamu ini baik sekali Athena. Pantas Nenek itu sangat menyukaimu. Beliau pasti bisa merasakan ketulusan hatimu," jelas suster itu.


"Suster ini berlebihan," ucap Athena malu-malu.


"Eh aku ini bicara sejujurnya lho," ucap Suster itu lagi.


"Baiklah Suster makasih, saya anggap itu sebagai pujian. Kalau gitu saya segera temui Nenek itu ya Suster," ucap Athena.


"Mari saya antar," ucap Suster itu.


Athena pun mengikuti Suster itu menemui Nenek yang mencarinya. Saat bertemu Nenek itu langsung memeluk Athena. Nenek itu sangat bersyukur karena sebelum keluar dari rumah sakit itu, beliau masih bisa bertemu lagi dengan Athena. Nenek itu juga mengenalkan Athena pada putri dan menantunya serta cucunya yang sedang datang menjenguk.


"Ini anak yang Nenek ceritakan itu, dia baik sekali sama nenek. Melihat dia nenek jadi ingat sama kamu," cerita Nenek itu pada cucunya.


Keluarga nenek itu berterima kasih pada Athena yang telah memberi semangat bagi nenek itu untuk sembuh. Keluarga itu pun memberikan hadiah kepada Athena.


"Ini hadiah sekedar dari kami, kebetulan kami datang dari Lombok dan kami membawa oleh-oleh ini. Ini persis seperti yang kami berikan untuk putri kami. Jadi kalian memiliki perhiasan yang sama," ucap putri dari nenek itu.


Cucu Nenek itu mengangguk, dengan ragu-ragu Athena menerima sebuah kotak perhiasan.


"Sebenarnya tidak perlu seperti ini Tante, saya melakukannya ikhlas kok. Jadi tidak perlu sampai memberi hadiah segala," ucap Athena pada putri dari nenek itu.


"Tidak apa-apa, saat mendengar cerita ibuku yang begitu semangat dan ceria bercerita tentangmu hatiku sangat senang mendengarnya. Biasanya ibuku selalu mengeluh dan bersedih karena kami masih belum bisa datang menjenguknya. Tapi setelah kamu datang dan menghiburnya, ibuku jadi semangat menjalani pengobatan bahkan bersedia di ajak tinggal bersama kami di Lombok," ucap ibu itu.

__ADS_1


Athena mengangguk, cucu Nenek itu meminta Athena untuk membuka kotak perhiasan itu. Di dalamnya berisi sebuah gelang yang sangat cantik.


"Wah ini cantik sekali Tante, hadiah ini terlalu berlebihan," ucap Athena langsung sambil menyodorkan kotak berisi gelang mutiara itu.


Putri nenek itu menggelengkan kepalanya.


"Ini tidak seberapa dibandingkan keceriaan ibuku yang sabar menjalani pengobatan di sini. Karena kesibukan, kami belum sempat mengunjunginya dan Nenek selalu bersedih tapi berkat kamu, Nenek mau menjalani pengobatannya dengan tekun. Ini gelang mutiara laut Baroque, perhiasan mutiara asli dari Lombok. Kami akan senang sekali jika kamu menyukainya," ucap ibu itu.


"Ya, ini cantik sekali" ucap Athena tak henti-henti memuji cantiknya gelang mutiara yang diikat dengan lilitan emas 24 karat itu.


"Ini persis dengan punyaku Kak, kita punya gelang yang sama," ucap cucu Nenek itu.


Ibu itu mengangguk sambil tersenyum.


"Karena kamu sudah dianggap cucu oleh ibuku maka kamu sama seperti putri kami," ucap Ibu itu.


Athena tersenyum haru.


"Kalau begitu terima kasih banyak Tante, Om. Saya akan simpan gelang ini sebagai kenang-kenangan," ucap Athena lagi.


"Ya, sebenarnya kami yang harusnya berterima kasih. Bahkan kamu mau jauh-jauh datang ke sini sendirian memenuhi permintaan kami," ucap ibu itu.


Athena mengangguk, mereka lalu berbincang-bincang tentang keluarga mereka. Begitu juga dengan Athena yang bercerita tentang orang tuanya, di mana dia bersekolah dan rencana kuliahnya. Keluarga itu menceritakan rencana-rencana mereka yang bermaksud membawa si nenek tinggal bersama mereka di Lombok. Athena mendengarkan dan ikut merasa senang. Setelah itu Athena pun mohon diri untuk pulang.


"Nek, Athena pulang ya, Nenek harus jaga kesehatan ya Nek. Jangan malas makan," ucap Athena sambil memeluk Nenek itu.


Nenek itu juga pamit karena akan ikut berangkat bersama putrinya dan keluarga. Athena juga berpamitan dengan ibu itu juga suaminya dan putrinya. Athena menyimpan kotak perhiasan berisi gelang mutiara itu dalam tas sekolahnya dan melangkah keluar dari ruang rawat inap itu setelah melambaikan tangan sambil tersenyum.


Athena melangkah di lorong rumah sakit itu ingin mencari Suster yang menghubunginya tadi untuk berpamitan. Namun Athena tak menemukan di tempat biasanya. Athena bertanya pada suster lain yang sedang melintas. Suster itu memberi arah Athena untuk mencarinya. Gadis itu pun mengikuti arahan dari Suster itu.


Saat Athena berjalan di sebuah lorong, gadis itu melihat sosok yang dikenalnya.


Eh, itu Kak Axel? Lho ternyata dia ke sini? Ada urusan mendadak apa dia ke sini? Apa dia sakit? Tapi kenapa ke rumah sakit di luar kota ini? batin Athena.


Athena hendak memanggil laki-laki itu namun terlihat Axel sedang menemui seorang perawat pria yang baru saja datang. Athena urung memanggil dan memilih mengamati di balik dinding lorong rumah sakit.


Terlihat Axel yang berjalan menghampiri perawat itu dan perawat pria itu pun mendatanginya. Mereka bersalaman lalu masuk ke sebuah ruangan.


Ruangan apa itu? Kenapa Kak Axel ke sana? Apa di suruh Mommy? Apa hari ini Mommy juga ada kunjungan ke sini?" tanya Athena dalam hati.


Namun gadis itu hanya diam menunggu, ada rasa penasaran bergelayut di pikirannya karena Axel ternyata juga sering datang ke sini.


Tak lama kemudian terlihat Axel yang keluar dari ruangan itu. Dengan senyumannya, laki-laki tampan itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tak lama kemudian Axel pergi dari tempat itu dan perawat pria itu pun berjalan ke arah lain.


Awalnya Athena ingin sekali memanggil Axel, karena berpikir lumayan jika dia bisa nebeng pulang bareng laki-laki itu. Tapi Athena penasaran dengan apa yang di lakukan Axel di ruangan itu, mengunjungi siapa dia atau mengerjakan apa dia di sana.


Mengikuti rasa penasarannya, akhirnya Athena melangkah mendekati ruangan itu. Terlihat seperti sebuah ruang rawat inap khusus yang terdiri dari satu orang pasien.


Siapa yang di kunjungi Kak Axel itu, temannya kah? Atau jangan-jangan pacarnya? batin Athena.


Mengingat itu Athena semakin ingin memasuki ruang rawat inap itu. Athena berjalan mendekat dan menoleh pada papan nama yang tergantung di samping pintu ruangan itu.


Hardy? Namanya mirip dengan pacarnya Hani, batin Athena.


Gadis itu melanjutkan langkahnya memasuki ruangan itu dan berjalan perlahan ke arah pasiennya. Semakin dekat Athena semakin penasaran dan Athena sangat terkejut saat melihat pasien yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu.


Gadis itu hingga menutup mulutnya demi menjaga agar teriakannya tak terdengar.


Kak Axel? Siapa ini? Dia mirip sekali dengan Kak Axel, batin Athena yang ketakutan.


Kedua tangannya bahkan masih menahan mulutnya agar tak mengeluarkan suara. Dengan tangan gemetar gadis itu lebih mendekat pada pasien yang sedang terlihat koma itu.


Dia benar-benar mirip dengan Kak Axel, lalu tadi? Siapa yang tadi. Siapa yang bicara dengan perawat pria tadi? Kenapa ada dua orang yang begitu mirip dan kenapa dia dirawat di sini? tanya Athena dalam hati.


Langkah Athena semakin mendekat dan entah kenapa Athena merasa begitu sedih melihat pasien yang hanya diam berbaring di ranjang rumah sakit itu.


Hardy, namanya Hardy, apa dia Kak Axel-ku? Kak Axel-ku yang sedang koma ternyata adalah Hardy? tanya Athena dalam hati.


Air mata gadis itu mulai meleleh, Athena sangat ingin mengetahui siapa laki-laki itu. Athena ingat cara ingin membuktikan Axel hantu adalah dengan melihat tahi lalat di dadanya.


Dengan tangan yang gemetar dan perlahan, Athena melepas satu persatu kancing baju pasien rumah sakit itu. Dengan rasa takut Athena menyibak baju pasien bernama Hardy itu dan menatap ke dadanya.


Athena kembali menutup mulutnya untuk menahan rasa kagetnya.


Tahi lalat, ternyata dia memang memiliki tahi lalat. Persis seperti Kak Axel-ku. Ternyata dia masih hidup, ternyata Kak Axel-ku masih hidup. Dia terbaring koma di rumah sakit ini. Kak Axel ternyata dia benar-benar Hardy. Dia benar-benar pacarnya Hani, batin Athena yang menangis mengetahui kenyataan yang mengguncang perasaannya.


Athena menangis sendiri menatap wajah laki-laki yang di dicintainya itu. Sekarang Athena yakin laki-laki yang terbaring koma di rumah sakit itu adalah Axel-nya. Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Senang karena mengetahui ternyata laki-laki yang dicintainya itu masih hidup. Namun, sedih karena kenyataannya dia adalah Hardy, pacar dari seorang gadis yang masih setia menunggunya.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


.


__ADS_2