
Axel menjalani Ospek dengan sungguh-sungguh. Mahasiswa-mahasiswa baru itu terbagi dalam kelompok-kelompok. Axel menjadi ketua kelompok itu. Laki-laki itu selalu mengerjakan tugas-tugas kelompoknya dengan cepat, tepat dan memuaskan. Axel membagi tugas anggota kelompoknya dengan tepat. Anggota kelompoknya pun menjadi sangat mengandalkannya.
Saat istirahat Axel langsung mencari Athena namun dalam perjalanannya, Axel melihat gadis yang menyapanya tadi.
Harusnya aku sekarang telah di tingkat tiga, mungkin harusnya aku satu angkatan dengan gadis itu. Kenapa aku harus takut -takut padanya hanya karena dia seorang senior? tanya Axel dalam hati.
Axel melanjutkan langkahnya ke parkiran, laki-laki itu hendak ke gedung lain di area kampus yang luas itu. Gedung lain untuk jurusan akuntansi keuangan. Begitu sampai di gedung itu Axel langsung mencari-cari Athena. Bahkan hingga bertanya, namun belum ada yang mengenal Athena.
Kembali laki-laki itu melangkah mencari ke arah lain, namun tertegun saat melihat sosok yang dicintainya sedang menikmati makan siang di kantin sambil tertawa dengan seorang mahasiswa. Hati Axel langsung remuk, begitu dinyatakan istirahat siang laki-laki itu langsung teringat pada gadis itu. Langsung mengkhawatirkan Athena yang tak bisa menjaga kesehatannya.
Axel khawatir gadis itu tak mau makan di kantin yang masih asing dengannya. Tapi, apa yang dilihatnya, Athena justru terlihat bahagia makan berdua dengan mahasiswa lain. Laki-laki itu akhirnya memilih meninggalkan Athena dan kembali ke gedungnya. Nafsunya untuk makan siang pun lenyap. Laki-laki itu hanya duduk di taman, terpaku membayangkan gadis yang dicintainya telah direbut laki-laki lain.
Tau seperti ini akhirnya, kemarin aku garap aja kamu sekalian. Biar tak lepas lagi dariku, biar kamu ingat siapa yang memilikimu, batin Axel.
Dengan dada yang turun naik karena emosi laki-laki itu berusaha menenangkan hatinya. Axel hingga memejamkan matanya, namun bayangan kedua orang di kantin itu sungguh-sungguh membuatnya kesal.
"SIAL!!!" teriaknya.
"Haah, kamu kenapa?" tanya seseorang dari arah sampingnya.
Axel menoleh, laki-laki itu mengira di taman dengan pohon-pohon rindang yang menyejukkan itu tidak ada orang lain selain dirinya.
Ternyata gadis yang tadi, batin Axel lalu menatap lurus ke depan.
Axel tidak berminat untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
"Kamu tidak makan siang?" tanya gadis panitia OSPEK itu.
Axel masih diam tak merespon, Axel benar-benar tak mood meladeni gadis itu. Pikirannya masih melayang pada apa yang dilihatnya tadi.
"Apa mungkin kamu sudah gila? Hati-hati! Orang yang terlalu lapar bisa menjadi gila," ucap gadis itu sambil menggigit roti berisi daging sapi itu.
"Aku tidak lapar," jawab Axel akhirnya dengan nada yang sedikit ketus.
Namun tiba-tiba perutnya berbunyi, Axel reflek memegang perutnya. Seolah-olah berkata jangan bunyi dulu, malu!
Gadis itu langsung tertawa, segera membuka ranselnya dan mengeluarkan sejumlah roti.
"Aku makan siang pake ini, abisnya aku nggak betah ngantri di kantin," ucap gadis itu sambil meminum air mineral dalam kemasan botol itu.
Gadis itu kembali menyodorkan roti bahkan air mineral itu mendekat ke samping Axel.
"Tidak usah, terima kasih," ucap Axel agak pelan.
"Nggak apa-apa, ambil aja. Hitung-hitung karena kamu udah temani aku makan di sini," ucapnya lagi.
Axel menoleh dengan tatapan heran.
Siapa yang menemaninya? Aku yang duduk di sini lebih dulu. Dia yang datang menemaniku, ucap Axel dalam hati.
"Sebenarnya bangku ini bangku milikku. Aku selalu makan siang di sini," ucap gadis itu.
"Bangku ini milik bersama, kamu tidak berhak mengakui bangku ini sebagai milikmu," bantah Axel.
"Bangku ini memang milikku, aku sudah mengukir namaku di situ. Itu persis di tempat kamu menaruh pantatmu," ucap gadis itu sambil menunjuk.
Reflek Axel berdiri karena merasa tak enak, jari telunjuk gadis itu mengarah ke bagian bawah tubuhnya. Gadis itu justru tertawa terbahak-bahak. Axel sedikit kesal dengan ulah gadis itu. Axel juga langsung melihat ke arah bangku itu, mencari ukiran nama yang dikatakan gadis itu. Namun, Axel tak melihat satu ukiran nama pun.
Axel menoleh pada gadis itu, gadis itu semakin tertawa terbahak-bahak bahkan hingga menepuk pahanya sendiri. Sekali bicara, Axel dikerjai dua kali. Axel kaget hingga berdiri dari tempat duduknya sekaligus tak menemukan ukiran nama di situ. Axel kembali duduk di tempat duduknya tadi. Tiba-tiba gadis itu mengulurkan tangannya, Axel melihat tangan gadis itu.
Tak sopan rasanya mengabaikan jabat tangan seseorang. Axel pun hendak menjabat tangan gadis itu. Namun keburu di tariknya, Axel terperangah. Gadis itu kembali tertawa. Axel berdiri dari tempat duduknya, rasanya ingin pergi saja. Axel yang sedang dalam suasana hati buruk justru dipermainkan oleh gadis senior itu.
Tiba-tiba gadis itu berdiri di hadapan Axel, menghalangi laki-laki itu melangkah ke lebih jauh. Kembali gadis itu mengulurkan tangannya. Namun kali ini Axel mengalihkan pandangannya ke arah lain. Gadis itu dengan berani meraih tangan Axel lalu menjabat tangan laki-laki itu.
"Axella," ucapnya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Axel dengan suara yang cukup keras karena kaget.
Laki-laki itu merasa gadis itu ingin mempermainkannya lagi. Axel ingin pergi dari tempat itu, namun gadis itu kembali menghalangi. Seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Axel. Gadis itu langsung menunjukkan name tag di dadanya. Axel tak peduli, gadis itu lalu mengangkat tanda pengenal panitia ospek itu lebih mendekat pada Axel.
Mau tak mau laki-laki itu membaca nama yang tertera di tanda pengenal anggota panitia itu. Benar seperti yang diucapkannya. Nama gadis itu benar-benar Axella.
"Aku menyapamu waktu itu karena namamu mirip dengan namaku," ucap gadis itu kembali tersenyum.
Melihat itu Axel bersedia menyambut uluran tangannya. Gadis itu tersenyum sambil menggoyang-goyangkan tangan mereka. Axel pun tertawa. Axella mengajak laki-laki itu kembali duduk di bangku itu. Axella kembali menawarkan roti dan air mineralnya.
Axel mengambil roti yang terlihat masih tersedia banyak namun tidak mengambil air mineral dalam kemasan botol sedang itu.
"Ambil aja, nggak apa-apa," ucap Axella kembali menawarkan.
"Nanti untukmu?" tanya Axel.
"Gampang, tinggal ambil. Itu minum untuk panitia, gratis," ucap Axella sambil tertawa.
Axel ikut tertawa, suasana hati laki-laki itu sudah mulai membaik. Axel tak lagi sekesal tadi. Axel dan Axella makan siang roti bersama-bersama dan saling bertukar cerita. Dari pembicaraan mereka Axel tau kalau sekarang Axella telah menginjak semester lima.
Paling seumuran denganku, seharusnya sekarang aku. juga semester lima, batin Axel.
"Sudah punya pacar?" tanya Axella.
Axel agak kaget mendengar pertanyaan yang begitu blak-blakan itu.
Pacar? Sudah seperti calon istri malah, tapi baru sehari jadi mahasiswi dia sudah mengkhianatiku, batin Axel.
Axel kembali terkejut dan menoleh pada Axella yang tertawa.
"Kenapa?" tanya Axel heran melihat gadis itu yang kembali menertawainya.
"Aku tahu hobby-mu apa? Melamun!" ucap Axella menjawab sendiri pertanyaannya sambil tertawa.
"Kamu ragu menjawabnya, apa sedang dalam masalah?" tanya Axella.
"Sepertinya begitu," jawab Axel.
"Baiklah meski tak mendapat pertanyaanku tadi tapi aku sudah tahu jawabannya," ucap Axella sambil tersenyum manis.
Axel kagum dengan manisnya senyum Axella.
Ya ampun ini godaan, apa aku juga sudah berkhianat pada Athena? Karena kagum pada senyumnya yang begitu manis? Selama ini aku selalu setia pada Athena meski gadis itu justru berpacaran dengan Evan bahkan dengan Hardy. Aku tidak pernah beralih sedikit pun dari Athena. Oh ya ampun, apa maksud pikiranku ini? Membenarkan diri kalau aku juga boleh berpacaran dengan gadis lain? Tidak! Tidak! Meski Athena berpacaran dengan Evan atau dengan Hardy tapi hatinya tetap padaku. Tapi bagaimana dengan hari ini? Dia makan berdua dengan laki-laki lain, apa aku masih berharap dia masih mencintaiku? Apa aku harus tetap setia padanya? Aku rela dia berpacaran dengan Evan, apa dia akan rela aku pacaran dengan gadis lain? batin Axel.
Axel kembali termenung, namun kali ini Axella tak lagi menertawainya. Gadis itu hanya menunggu sambil menghabiskan rotinya. Hingga istirahat siang habis mereka pun berpisah untuk menjalankan tugas masing-masing.
Saat pelaksanaan OSPEK hari itu selesai, Axel berencana untuk menjemput Athena di kampus nya. Namun saat menuju parkiran, Axel melihat seniornya, Axella. Axel menghampiri gadis itu yang terlihat sibuk memasukkan sesuatu ke dalam tas nya.
"Makasih untuk hari ini," ucap Axel.
"Ya?" tanya Axella balik bertanya.
"Untuk roti dan air mineral gratisnya. Aku lupa mengucapkan terima kasih tadi karena tiba-tiba kamu pergi begitu saja," ucap Axel.
"Oh, kami emang harus segera kumpul sebelum kegiatan di mulai. Lagi pula kamu masih asyik dengan hobby-mu," jawab Axella sambil tersenyum manis.
"Ya?" tanya Axel tak mengerti.
"Hobby melamun! Kamu tak ingin di ganggu saat melakukan hobby-mu 'kan?" tanya Axella.
Axel tersenyum, setelah mengucapkan terima kasih lagi, gadis itu pun pamit pulang. Axel ingin menawarinya pulang bersama tapi teringat pada Athena yang harus di jemputnya. Baru saja membalik badan tiba-tiba Athena telah berada di belakangnya sambil mengagetkannya.
"Kamu? Kamu sudah ada di sini?" tanya Axel sambil melirik Axella yang belum melangkah terlalu jauh.
"Ya, tadi dianter teman ke sini. Siapa yang tadi itu?" tanya Athena juga menoleh pada gadis itu.
__ADS_1
Positif ngeliat dia, batin Axel.
"Senior, panitia OSPEK. Tadi aku nggak sempat makan siang jadi di kasih roti sama dia," jawab Axel sambil membayangkan kejadian tadi.
Untung tadi nggak nawarin, ternyata dia bawa mobil sendiri, batin Axel saat melihat Axella melangkah ke parkiran.
"Kok bisa Kakak tak sempat makan siang?" tanya Athena heran.
"Tadi aku ke gedung jurusan kamu tapi aku melihatmu sedang makan siang dengan laki-laki lain. Akhirnya aku balik lagi jadi nggak sempat makan siang," tutur Axel seadanya.
"Kakak tadi ke sana? Kenapa tidak temui aku?" tanya Athena heran.
"Untuk apa? Untuk merusak kebahagiaan kalian?" tanya Axel dengan nada cemburu.
"Apa maksud Kakak? Apa Kakak pikir aku menyukainya?" tanya Athena dengan sedikit tertawa.
Axel hanya diam tak menjawab.
"Apa mungkin baru kenal satu hari sudah langsung suka?" tanya Athena lagi dengan nada yang lebih tinggi.
"Mungkin saja, kenapa nggak? Kamu nggak kenal dengan istilah cinta pada pandangan pertama?" tanya Axel.
"Nggak! Aku nggak seperti itu? Tak ada istilah cinta pada pandangan pertama bagiku! Apa Kakak seperti itu? Apa Kakak bisa langsung suka hanya dengan sekali bertemu?" tanya Athena bertubi-tubi.
Aku langsung menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu, jawab Axel dalam hati.
Axel diam, Athena tak mendapat jawaban. Athena menoleh pada gadis yang melangkah ke parkiran bagian ujung itu. Athena menunduk, matanya langsung berkaca-kaca.
"Kakak langsung menyukai senior itu?" tanya Athena.
Dan gadis itu tak menunggu jawaban Axel, Athena langsung berjalan meninggalkan laki-laki itu. Dadanya terasa sakit saat mengucapkan pertanyaan itu.
"Kamu mau kemana? Di sebelah sini mobilnya!" teriak Axel.
Tapi Athena tak menoleh sedikit pun, menghentikan langkahnya pun tidak. Axel tak yakin Athena tidak mendengarnya. Laki-laki itu segera berlari mengejar Athena. Axel langsung menggenggam tangan Athena namun Athena langsung menepis genggaman tangan itu. Athena tetap berjalan menjauh.
"Athena, kembali! Kamu tak mungkin berjalan kaki ke depan. Itu sangat jauh!" seru Axel.
Namun Athena seperti telah menutup telinganya, gadis itu berjalan dengan langkah cepat dan linangan air mata.
Baru hari pertama, dia sudah mengkhianatiku. Bersyukur aku tidak menyerahkan diri padanya. Jika tidak aku akan menyesal seumur hidupku, batin Athena.
Axel masih memanggil Athena tapi gadis itu sudah semakin menjauh. Axel berlari menuju mobilnya, dan melajukan mobilnya mendekati Athena. Axel turun dari mobil itu dan langsung meraih lengan Athena. Gadis itu semakin kuat menghentakkan tangannya. Athena berlari meninggalkan Axel.
Terserah! Kalau mau jalan kaki, terserah! Itu keputusanmu sendiri! batin Axel memaki kesal.
Axel segera melajukan mobilnya meninggalkan Athena. Langkah kaki gadis itu terhenti saat melihat mobil Axel yang telah berlalu meninggalkannya. Sementara Axel menatap Athena dari kaca spion. Axel tahu Athena menatap mobilnya namun dengan bangga laki-laki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi.
"Salahmu sendiri, kenapa berani menolakku!" ucap Axel bicara pada dirinya sendiri.
Athena menghentikan langkahnya, termangu tak bisa berkata-kata. Hanya air matanya yang mengalir semakin deras.
Dia meninggalkan aku, sedikit pun tak ingin berusaha membujukku. Apa aku sudah kehilanganmu? Apa benar Kakak sudah menyukai senior itu? batin Athena bertanya-tanya.
Kaki gadis itu terasa lemas, Athena terduduk menangis di trotoar. Athena mengingat perjuangan-perjuangannya mempertahankan cinta mereka. Athena merasa semua telah pupus hanya dalam satu hari mereka menginjakkan kaki di kampus itu.
Sementara itu Axel yang telah melaju jauh, menghentikan mobilnya. Tertunduk di depan kemudi sambil menangis.
Apa yang telah aku lakukan? Meninggalkannya sendiri? Laki-laki macam apa aku ini? Mengabaikan kepercayaan mamanya padaku? Kenapa aku seperti ini? Benarkah karena kehadiran Axella di hadapanku? Tidak! Tidak Athena! Aku tidak akan mengkhianatimu dengan siapa pun, dengan gadis mana pun. Maafkan aku Athena, maafkan aku sayang, batin Axel menyesali.
Segera laki-laki itu memutar balik mobilnya untuk kembali menjemput Athena. Axel bertekad akan membujuk gadis itu bagaimanapun caranya. Meski dia harus berlutut di hadapan gadis itu.
Namun Athena sudah tak terlihat lagi, Axel tak melihat gadis itu berjalan di trotoar di mana dia ditinggalkan tadi. Axel panik, mencoba memanggil nama Athena. Namun tetap saja gadis itu tak menampakkan dirinya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1