
Sore menjelang malam, saat Axel muncul Athena langsung menceritakan semua kejadian yang terjadi dihari itu, karena Axel yang sama sekali tidak terlihat. Dari mulai ketemu cewek hantu, dapatin informasi tentang Axel hingga tantangan melawan anak kelas IPA.
Axel berjanji akan mengajari Athena, saking senangnya gadis itu sampai mengecup pipi Axel. Namun beberapa saat kemudian Athena sadar akan sesuatu.
"Hey, bagaimana kamu akan mengajariku. Satu, kamu itu jurusan IPA. Dua, kamu itu juga masih kelas X" teriak Athena yang merasa ditipu Axel hingga mau-maunya gadis itu mencium pipi Axel.
"Kamu modus ya ?" tanya Athena.
"Nggak, aku bener-bener bisa ngajarin kamu kok" ucap Axel pasti alias yakin.
"Kok bisa ? kamu aja udah lama nggak sekolah. Otakmu pasti udah buntu" seru Athena.
"Percaya deh, aku pasti bisa ngajarin kamu. Apa mulai dari sekarang aja, keluarkan aja bukunya. Aku akan pelajari sebentar trus aku ajarin kamu" ucap Axel.
"Haaa... cuma kayak gitu, kalau cuma baca buku aku juga bisa" ucap Athena.
"Ya udah kalau gitu bacalah bukumu lalu kerjakan soal-soalnya kalau nggak bisa baru tanya aku" ucap Axel lagi.
Athena mengembuskan nafas dengan kasar. Tetap saja merasa ditipu. Sedikitpun Athena tidak percaya kalau Axel bisa mengajarinya. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Kenapa hari ini tidak muncul, kekuatanmu sangat lemah atau bagaimana.
Kalau kemampuanku berkurang rasanya tidak mungkin, hari ini aja aku bertemu dengan cewek hantu itu.
Tapi kok malah aku nggak bisa liat kamu" tanya Athena dengan emosi.
Axel hanya tersenyum hambar, tak bisa mengucapkan kata-kata apapun. Melihat sikap Axel yang tak begitu bersemangat dan terlihat murung gadis itu merasa bersalah.
"Maaf, aku keterlaluan ya ? oh ya ternyata anak kelas X yang bernama Axel Cullen itu ternyata masih hidup. Berarti buku-buku itu bukan milikmu ? dan seragam yang kamu pakai ini juga bukan punyamu ?" tanya gadis itu.
Axel hanya tertunduk, hari ini dia terlihat begitu diam. Athena mendekati Axel lalu menempelkan tangannya dikening laki-laki itu. Dia tidak merasakan panas apapun, gadis itu merasa heran. Sikap Axel seperti orang yang sedang sakit, sangat lesu.
Axel tersenyum memandang gadis yang sibuk berpikir itu. Mendapat perhatian dan rasa khawatir baru kali ini dirasakannya sejak terbangun sendiri di rooftop sekolah. Axel meraih tubuh Athena lalu memeluknya.
"Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku" ucap Axel sambil terus memeluk Athena.
Mendengar itu Athena tersenyum lalu membalas pelukan Axel, menepuk punggung laki-laki itu.
"Axel, tadi aku melihat gadis hantu itu menangis, kenapa dia ?" tanya Athena.
"Dihari-hari tertentu dia memang menangis" jawab Axel.
"Heee... jadi memang seperti itu, aku pikir aku yang salah liat, kenapa ? kenapa dia menangis ? apa dia menyesal atas perbuatannya ? atau karena kematiannya ?" tanya Athena.
"Dia menyesal bukan karena perbuatannya atau karena kematiannya, tapi karena dia tidak bisa mengungkapkan kejadian yang sebenarnya" jelas Axel.
"Apa maksudnya itu ?" tanya Athena penasaran.
"Pacar gadis itu dituduh menghamilinya, hingga dia mendapatkan sangsi sosial. Dikucilkan, dibully dan diperlakukan dengan kasar hingga akhirnya memilih untuk keluar dari sekolah ini" cerita Axel.
"Kasihan amat, dia menceritakan semuanya padamu ?" tanya Athena.
Axel mengangguk.
"Yang disesali gadis itu, justru karena pacarnya itu bukanlah orang yang menghamilinya" jelas Axel yang langsung membuat Athena terkejut.
Athena langsung menarik tangan Axel, mengajak laki-laki itu duduk di ranjang. Mereka duduk berhadapan, Athena terlihat serius mengikuti cerita itu. Gadis itu sangat penasaran dengan kelanjutannya seperti sedang menunggu kelanjutan drama seri yang sedang menggantung diujung episode.
Axel tersenyum melihat antusias gadis itu mendengar ceritanya.
"Lalu... lalu... lalu... ayo cepat ceritanya" ucap Athena sambil mengguncang tangan Axel.
Laki-laki itu justru menahan ceritanya, sangat suka melihat gadis itu penasaran. Axel kembali mengetuk pipinya. Athena kesal langsung berlagak mencekik Axel, laki-laki itu sama sekali tidak menahan tubuhnya.
Sengaja menjatuhkan diri sehingga membuat Athena ikut terdorong kearahnya. Gadis itu menimpa tubuh hantu tampan itu. Jika bukan menjelang pergantian hari Athena tidak akan merasakan tubuh laki-laki itu.
Namun saat ini mereka bertemu saat pergantian waktu hingga bagi Athena, Axel terlihat seperti manusia biasa, bisa didengar, disentuh, dilihat dan dijilat... eits... nggak.. nggak lah... sampai dilihat aja.
Athena bisa merasakan tubuh Axel seperti manusia lain, hanya saja tanpa detak jantung dan hembusan nafas. Justru jantung Athena yang berdetak kencang dalam situasi seperti itu.
Gadis itu hendak bangkit, namun Axel menahannya. Membiarkan gadis itu tetap diposisinya. Menimpa tubuh Axel dengan wajah mereka yang begitu dekat. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.
Axel menggenggam tangan Athena yang tadinya digunakan untuk mencekik leher Axel. Sebelah tangannya meraih tengkuk gadis itu dan semakin mendekatkan wajahnya mereka.
Mendapat gelagat itu Athena langsung memejamkan matanya. Gadis itu tidak sanggup melihat wajah mereka yang semakin mendekat. Axel tertawa, lalu mendorong gadis itu untuk kembali duduk. Athena terkejut mendapat gerakan yang tak diduga-duga.
Aku sangat ingin melanjutkannya tapi untuk apa ? kalau kamu nggak ikhlas menerima ? batin Axel yang batal mencium Athena.
"Kamu nggak penasaran lagi sama cerita hantu cewek itu ?" tanya Axel.
__ADS_1
"Nggak, nanti juga ceritanya gantung, paling sebentar lagi kamu juga menghilang" ucap Athena.
Axel menunduk, ada rasa kecewa dihatinya. Bukan karena Athena menolak mendengar ceritanya, tapi kenyataan bahwa dia bukan manusia yang setiap saat bisa muncul dihadapan Athena. Laki-laki itu ingin selalu hadir dihadapan Athena.
Meski beberapa hari lalu dia bisa muncul disiang hari namun karena menggunakan kekuatannya saat itu, membuat Axel menjadi lemah hingga tak bisa muncul lagi disiang hari.
Axel bisa berbuat apa saja disaat senja menjelang malam dan malam menjelang pagi, boleh menggunakan kekuatannya untuk apapun. Namun tak boleh menggunakan kekuatannya disiang hari, karena itu membuatnya semakin lemah.
Demi membuat Athena berkenalan dengan Evan, laki-laki itu menggunakan kekuatannya disiang hari untuk menggerakkan tangan Athena agar melambaikan tangan pada Evan.
Axel menghilang saat laki-laki itu masih menunduk, Athena melihat ekspresi sedih itu. Gadis itu menyesal dengan ucapannya.
Maaf Axel, bukannya aku tidak mau mendengar ceritamu tapi nyatanya kamu akan menghilang juga bukan ?
Aku akan mendengar lagi ceritamu, aku janji, maafkan karena aku mengecewakanmu, batin Athena.
Athena mengira Axel sedih karena dia tidak mau mendengar kelanjutan cerita tentang gadis hantu itu. Melihat ekspresi Axel seperti itu membuat Athena juga ikut bersedih. Sepanjang malam gadis itu hanya diam termenung.
Terdengar ketukan pintu, Athena mempersilahkan masuk. Mama Athena masuk sambil tersenyum.
"Apa kabar anak mama hari ini, kamu kok sekarang beda sih, lebih suka berkurung didalam kamar ?" tanya mama Athena.
"Nggak apa-apa ma, cuma lagi banyak tugas aja" ucap Athena berbohong.
"Sebentar lagi ulang tahun kamu yang ke tujuh belas loh, biasanya sweet seventeen anak gadis akan minta dirayakan. Kalau emang kamu mau, mama rencanakan dari sekarang" ucap mama Athena.
Athena tercenung sejenak.
"Nanti Athena pikirin dulu ya ma, soalnya Athena belum yakin mau ngerayain atau enggak" jawab Athena.
"Mikirnya jangan kelamaan ya nak, bikin acara itu butuh persiapan, nggak bisa mendadak kalau ingin hasilnya memuaskan" jelas mama Athena.
"Ya, tapi saat ini Athena pengen serius belajar. Ada try out di sekolah, Athena ingin mendapat nilai yang bagus" jelas Athena.
"Semangat belajar itu bagus tapi jangan sampai membebanimu ya sayang" ucap mama Athena.
Athena mengangguk sambil tersenyum, ucapan mamanya itu selalu menjadi andalannya selama ini. Athena belajar sesuka hatinya, jika tidak ada tugas, gadis itu tidak mau menyentuh buku sama sekali.
"Sebentar lagi makan malam ya sayang" ucap mama Athena sambil berlalu dibalik pintu.
Athena masih badmood sejak hilangnya Axel dengan ekspresi seperti itu. Yang dilakukan gadis itu sekarang hanya membuka buku Axel dan menatap tulisan-tulisan tangannya.
Setelah menikmati makan malam Athena ingin segera kembali ke kamarnya namun dilarang oleh papa Athena. Bapak yang bijak itu ingin berbincang dengan anaknya.
Mereka akhirnya berkumpul di serambi depan, sambil memandang ke taman asri yang dihiasi lampu taman itu, mereka berbincang-bincang.
"Papa ingin kenalkan kamu sama putra dari bawahan papa. Rencananya saat pesta ulang tahunmu, itu kalau kamu setuju" ucap papa Athena.
"Nggak apa-apa nak, itung-itung nambah teman" tambah mama Athena.
"Ya ma, nggak apa-apa, tapi kan ulang tahun Athena masih lama ?" tanya Athena.
"Ya biar masih lama, yang penting udah dapat izin dari kamu jadi papa bisa ngasih jawaban sama bawahan papa itu" ucap papa Athena.
"Ngasih jawaban gimana maksud papa ? emangnya bawahan papa nanya apa ?" tanya Athena.
"Bawahan papa itu namanya om Tony, dia ingin putranya kenalan sama kamu, kalau cocok dan saling suka bisa di jadiin jodoh kamu" ucap papa Athena yang terbuka pada putrinya.
"Haaaa... di jodohin ? nggak mau" jawab Athena langsung.
"Nggak dijodohin nak, tapi dibantu kenalan, sampai sekarang kamu belum punya pacar. Lama kelamaan kamu bisa jadi perawan tua lho" ucap mama Athena.
"Baru juga SMA ma, masa ud jadi pertu" ucap Athena.
"Apa itu pertu ?" tanya papa Athena.
"Ya perawan tua papaaaa.." ucap Athena.
"Oh.. maksud papa cuma mau kenalin aja, pak Tony itu orangnya ganteng, anaknya juga pasti ganteng. Nanti kalau kamu nggak suka ya nggak apa-apa, nggak ada paksaan" ucap papa Athena.
Athena tercenung entah mengapa, Athena tak suka dengan pembicaraan perjodohan itu. Tapi untung saja kalau ayah Athena bilang cuma dikenalkan bukan dijodohkan. Athena melihat ke kanan dan kiri.
Perasaannya jadi tidak enak, takut kalau Axel mendengar pembicaraan itu. Padahal tidak ada hubungan apapun dengannya. Mungkin Athena tidak mau kalau Axel menilai Athena sebagai gadis yang mau dijodohkan.
"Sekarang Athena mau fokus belajar pa, soalnya sebentar lagi bakal banyak ujian-ujian menjelang Ujian Nasional. Sebelumnya bakal banyak try out, Athena ingin belajar giat dulu pa, abis itu kita bicara lagi ya ?" ucap Athena ingin segera kembali ke kamarnya.
"Ya baiklah, papa sangat senang jika kamu giat belajar. Acaranya juga masih lama jadi nggak usah dipikirkan dulu" ucap papa Athena.
Athena mengangguk sambil tersenyum lalu pamit kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Malamnya Athena tidak bisa tidur, pikirannya melayang pada rencana papanya yang ingin mengenalkannya dengan putra bawahannya. Berkenalan tidak apa-apa tapi dijodohkan jangan berharap dulu. Athena punya seseorang yang disukainya.
Setelah berpikir lama akhirnya Athena tertidur. Sebelum matahari terbit gadis itu sudah membuka mata, rasanya gadis itu masih mengantuk tapi gadis itu berusaha untuk bangun. Menepuk-nepuk pipinya agar bisa terjaga. Namun tetap saja gadis itu mengantuk, gadis itu akhirnya melangkah gontai ke kamar mandi.
Athena membasuh wajahnya dengan air dingin lalu kembali menepuk pipinya agar matanya terjaga. Athena tidak ingin melewatkan pertemuannya dengan Axel.
"Aah ngantuk.. "ucapnya, padahal sudah membasuh wajahnya.
Gadis itu kembali ke ranjang nya, namun dengan posisi yang sembarangan. Tubuhnya rebah diranjang tapi kakinya masih dilantai. Axel mengangkat tubuh gadis itu dan meletakkannya kembali ke posisi yang benar.
"Kamu udah datang ya ?" tanya Athena dengan mata yang masih mengantuk.
Axel mengangguk. Axel duduk dilantai sambil memandang wajah Athena.
"Aku kok masih ngantuk ya ?" ucap Athena, memandang wajah Axel yang berada dekat disampingnya.
"Kalau masih mengantuk, tidur lagi aja" ucap Axel sambil merapikan helaian rambut yang menutupi mata Athena.
Tanpa menunggu Axel selesai bicara, gadis itu telah tertidur. Axel membiarkan Athena kembali tidur, laki-laki itu duduk disamping bawah sambil memandang wajah Athena yang begitu damai, wajahnya menyunggingkan senyum. Tak lupa membelai rambut gadis itu, Axel tidak bisa melakukannya jika tidak menjelang pagi.
Saat pagi menjelang gadis itu terbangun, langsung menatap jendela kaca yang menampilkan langit yang telah terang.
"Haaa.. kok udah terang sih" ucapnya panik, langsung menyesal kenapa semalam tidak cepat-cepat tidur.
Athena langsung ke kamar mandi, bersiap-siap untuk ke sekolah. Tiba-tiba gadis itu teringat ucapan Axel kalau dia berbuat baik maka Axel akan terlihat olehnya. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
Pagi itu Athena melakukan perbuatan baik seperti membelikan Kimmy permen, memunguti sampah hingga tersenyum pada semua orang. Kimmy memegang kening Athena.
"Kamu demam atau udah gila, senyum-senyum terus, kenal juga enggak" ucap Kimmy.
"Kim, senyum itu termasuk perbuatan yang baik, serta membawa aura positif bagi kita. Mendoakan orang juga bagus, mendo'akan yang baik-baik tentu saja. Misalnya pagi-pagi do'akan semoga pak Ibnu lupa tutup pager jadi yang telat masih bisa masuk atau mendo'akan semoga bu Merry lupa membawa soal jadi kita batal ulangan" jelas Athena.
"Do'a baik apa itu ?" ucap Kimmy.
"Ya baiklah, kalau udah kejadian gitu kan, pasti banyak yang bersyukur" ucap Athena.
"Huuu.. do'a yang baik untuk orang pemalas" ucap Kimmy sambil tertawa.
Mereka tertawa bersama, Athena melirik ke luar kelas lalu menghembuskan nafas berat. Gadis itu masih belum bisa melihat Axel. Bel berbunyi semua anak-anak, berbaris di lapangan. Mendengar pengumuman dari guru dan kepala sekolah.
Tiba-tiba gadis di depan Athena jatuh tersungkur, pingsan. Athena langsung maju menghampiri, guru datang dan langsung meminta menggendong gadis itu ke UKS.
Aku harus berbuat baik, batin Athena.
Gadis itu mau mengikuti temannya yang dibawa ke UKS.
"Mau kemana loe" tanya Kimmy.
"Mau berbuat baik" ucap Athena langsung meninggalkan lapangan.
"Huu.. mau berbuat baik atau malas apel huu.." teriak Kimmy.
Athena pun berdiri disamping temannya Vivi yang masih pingsan. Sibuk memperhatikan seorang dokter sekolah yang memeriksanya, dokter itu meminta Kimmy untuk membuatkan teh hangat.
Gadis itu langsung membuatkan teh seperti yang dokter itu minta. Tak berapa lama kemudian Vivi bangun, dokter meminta Athena untuk meminumkan teh hangat itu. Dengan semangat Athena melakukan perintah dokter itu.
"Kamu anak yang baik, tolong jaga temanmu ya" ucap dokter itu.
Athena mengangguk, lalu duduk disamping ranjang dan meminumkan teh hangat itu perlahan. Axel tersenyum dibalik jendela kaca. Athena senang, langsung memanggilnya masuk.
Axel berdiri disamping Athena ikut memperhatikan gadis itu yang meminumkan teh hangat untuk Vivi.
"Dia belum makan sejak kemarin" ucap Axel.
"Hah.. serius ? kenapa ?" tanya Athena.
"Dia tak punya uang untuk beli makanan" jawab Axel.
"Yang bener aja, dia ini anak orang kaya" protes Athena.
"Kamu bicara sama siapa ?" tanya Vivi dengan suara lemah.
"Teman imajiner" jawab Athena sambil cengengesan.
Axel tersenyum.
"Bilang pacar imajiner aja sekalian" ucap Axel lagi.
Athena memalingkan wajah, jantungnya berdebar kencang, pipinya bersemu merah.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...