
Athena ingin membuktikan siapa pasien koma dihadapannya. Dengan tangan yang gemetar dan perlahan, Athena melepas kancing baju pasien rumah sakit itu untuk membuktikan pemikirannya.
Apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan, namun Athena tetap saja terkejut. Athena melihat tahi lalat yang persis sama dengan tahi lalat di dada Axel kekasihnya. Athena menangis mengetahui kenyataan itu, sementara Axel yang berdiri di sampingnya namun tak terlihat, langsung tertunduk.
Athena menangis sendiri menatap wajah laki-laki yang di dicintainya itu. Sekarang Athena yakin laki-laki yang terbaring koma di rumah sakit itu adalah Axel-nya. Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Senang karena mengetahui ternyata laki-laki yang dicintainya itu ternyata masih hidup. Namun, sedih karena kenyataannya dia adalah Hardy, pacar dari seorang gadis yang masih setia menunggunya.
Athena melangkah gontai keluar dari ruang rawat inap itu. Jiwanya terguncang, syok. Rasanya Athena ingin selamanya laki-laki itu koma hingga Axel bisa selalu menjadi miliknya. Namun tak tega dengan kehidupan Axel yang bergentayangan, terlunta-lunta di dunia seorang diri tanpa ada yang bisa melihatnya.
"Kak, Kak Axel ada di sini 'kan? Sekarang Kakak tahu siapa diri Kakak yang sebenarnya? Kakak adalah Hardy, pacarnya Hani. Apa yang ingin Kakak lakukan? Kembali ke tubuhmu dan mencari Hani? Sekarang Kakak telah menemukan tubuh Kakak, kembalilah. Ada seorang gadis yang sudah bertahun-tahun menunggumu," ucap Athena seorang diri sambil menangis di sebuah kursi tunggu.
"Athena jangan menangis, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku memilih hidup seperti ini asalkan tetap bisa bersamamu," bisik Axel.
Meski laki-laki itu tak yakin Athena bisa mendengarnya. Sejak mengeluarkan kekuatan api untuk menakuti Evan. Kekuatan Axel menjadi sangat lemah, bisa muncul di hadapan Athena antara gelap dan terang itu saja sudah sangat mujur baginya.
Axel sangat ingin memeluk Athena, hal yang selalu ingin dilakukannya jika melihat gadis itu menangis. Apalagi saat seperti ini, Athena terlihat sangat terguncang, wajahnya bersimbah air mata. Tanpa sadar Axel ikut menitikkan air mata.
Laki-laki itu menoleh ke arah tubuh yang berbaring diam di atas ranjang rumah sakit itu. Saat Athena menyibak baju pasien itu dia sendiri juga menyaksikan tahi lalat yang sama persis dengan yang di milikinya.
Ternyata aku adalah Hardy, lalu kenapa name tag-ku bernama Axel. Apa yang terjadi dengan Hardy? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku dirawat di sini? Di mana keluargaku? Kenapa aku di kunjungi oleh Axel itu? Apa dia saudara kembarku? Tapi Ny. Olivia sendiri tidak yakin kalau dia memiliki anak kembar, batin Axel dengan begitu banyak pertanyaan.
"Ternyata memang ada dua orang," ucap Athena yang tiba-tiba muncul di samping Axel.
Gadis itu berdiri di samping ranjang rumah sakit itu, sambil menatap lurus ke wajah putih yang terlihat pucat itu. Jarum infus tertancap di pergelangan tangannya.
"Kenapa Kak Axel mengunjunginya? Apa yang dia lakukan pada Hardy? Kenapa mereka bisa saling mengenal? Lalu kenapa Kak Axel menutupi hubungannya dengan Hardy pada Ny. Olivia? Bisa saja Hardy adalah putra Ny. Olivia, yang dilahirkannya tanpa di ketahui oleh siapa pun," ucap Athena bicara sendiri.
Athena keluar dari ruang rawat inap itu dan menemui seorang perawat pria. Gadis itu bertanya pada perawat itu penyebab pasien di ruang rawat inap itu mengalami koma.
"Oh, itu katanya jatuh dari rooftop karena percobaan bunuh diri di sekolah ...,"
"Apa?" teriak Athena yang mengagetkan perawat pria itu.
"Ya, kabarnya dia mengalami mati otak, orang tua dari pasien ini telah putus asa hingga memutuskan untuk menghentikan perawatan dan mengikhlaskannya. Tapi saudara kembarnya tak terima hingga diam-diam membawanya ke rumah sakit ini," ucap perawat pria itu.
"Saudara kembarnya? Apa dia sering datang ke sini?" tanya Athena.
"Sering, dia datang berkala, di waktu-waktu tertentu saudara kembarnya datang dan berkonsultasi dengan dokter dan perawat yang bertanggung jawab terhadap pasien ini," jelas perawat pria itu.
Perawat itu minta diri untuk lanjut mengerjakan tugasnya. Tinggal Athena yang termangu, memikirkan setiap ucapan dari perawat pria tadi.
Kak Axel mengaku pada rumah sakit ini bahwa orang tuanya putus asa dan memutuskan menghentikan perawatan? Tidak, itu bohong! Mommy bahkan tidak tahu tentang ini. Aku yakin Mommy tidak pernah mengetahui tentang Hardy, Kak Axel menutupinya. Menutupi pada Mommy kalau dia menemukan saudara kembarnya. Tapi kenapa Hardy yang jatuh dari rooftop gedung sekolah? Bukankah yang bersekolah di situ adalah Kak Axel? batin Athena.
Gadis itu berpikir keras atas semua keanehan yang ditemukannya dalam kasus pasien bernama Hardy ini. Sekuat tenaga menghubungkan segala sesuatu yang diingatnya dan yang diketahuinya.
Mommy tidak tahu tentang ini, ruangan ini terisolasi. Kak Axel tidak mau di ajak untuk kegiatan di luar kota, rupanya ini alasannya. Jika ada yang perawat yang melihat kemiripan Kak Axel dengan salah seorang pasien di sini, Mommy pasti akan segera di beritahu. Kak Axel tak inginkan itu, karena itu dia tak pernah muncul sebagai putra Mommy di rumah sakit ini. Ini rumit, ini benar-benar rumit. Aku tidak akan bisa berpikir sendiri, aku harus memberitahu tentang ini pada Mommy. Tidak! Aku ingin Mommy diam-diam datang dan melihat sendiri, batin Athena.
Gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam tas sekolahnya. Segera gadis itu menghubungi Ny. Olivia.
"Maaf Mommy, apa Mommy sedang sibuk?" tanya Athena.
Aku harus menanyakan sesuatu tentang Kak Axel, kenapa justru Hardy yang di katakan jatuh dari rooftop? Bukankah yang jatuh itu Axel dan hingga sekarang masih koma, lalu siapa yang bangun sebulan setelah koma? Pak TU cerita Axel sadar dari koma sebulan setelah jatuh dari rooftop. Siapa yang sadar? Nyatanya hingga sekarang masih koma, batin Athena semakin merasa pusing memikirkannya.
"Mommy, Athena ingin menanyakan sesuatu, apa boleh?" tanya Athena.
__ADS_1
"Tentu sayang, apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Olivia.
"Apa Mommy menyaksikan sendiri saat Kak Axel sadar dari komanya?" tanya Athena.
"Nggak sayang, Axel bangun malam hari dan Mommy baru di kasi kabar pagi harinya. Ada apa sayang? Apa ada yang aneh? Kenapa kamu menanyakan tentang hal itu?" tanya Olivia balik.
"Sebelum Athena jawab, tolong Mommy jawab satu hal lagi? Apa ada perubahan sebelum Kak Axel koma dan sesudah bangun?" tanya Athena yang ragu-ragu karena takut Ny. Olivia murka karena ingin menyelidiki putranya.
"Ada, Axel tak ingat Mommy lagi, sebelum koma dia suka bercerita masa lalu, kenangan-kenangan kami tapi sejak amnesia dia tak mau lagi bercerita apa pun tentang masa lalu," jelas Olivia.
"Hanya itu, tak ada perubahan lain? Fisiknya tetap sama?" tanya Athena.
"Ah ya, ada perubahan lain. Sebelumnya Axel memiliki tahi lalat ...,"
"Tahi lalat di dada?" potong Athena tak sabar bertanya.
"Dari mana kamu tahu soal itu sayang apa mungkin Axel yang cerita? Mommy dulu suka mengolok-olok tahi lalat itu saat dia masih kecil. Tapi setelah jatuh dari rooftop tahi lalat itu menghilang mungkin Axel terluka dan menghilangkan tahi lalat itu. Memang saat itu di tubuhnya banyak luka karena menerjang batang pohon. Tapi Mommy bersyukur pohon itulah yang menyelamatkan putra Mommy," tutur Olivia.
Athena sudah tidak mendengar lagi cerita panjang lebar itu. Athena hanya menangis, saat selesai bercerita Ny. Olivia baru mendengar suara tangis Athena.
"Athena, kamu kenapa? Ada apa sayang?" tanya Olivia heran.
Suara tangis Athena semakin terdengar, saat wanita setengah baya mengucapkan kata-kata tahi lalat gadis itu langsung tak bisa menahan kesedihannya.
"Mommy bisakah datang kemari, cuma Mommy dan Daddy. Kak Axel jangan sampai tahu," ucap Athena di sela-sela tangisnya.
Ny. Olivia langsung panik mendengar tangis Athena. Namun akhirnya mengabulkan permintaan gadis kesayangannya itu. Setelah Athena memberitahu di mana posisinya, Ny. Olivia langsung berangkat menjemput suaminya.
Tak lama kemudian Tn. Cullen dan Ny. Olivia yang penasaran dengan apa yang terjadi pada Athena membuat mereka tergesa-gesa berangkat ke rumah sakit di luar kota itu. Ny. Olivia bercerita kalau Athena menangis membuat Tn. Cullen bersedia meninggalkan meeting-nya.
Ny. Olivia langsung terkejut dan berteriak menangis.
"Axel! Apa yang terjadi Nak?" tanya Olivia yang langsung memeluk pasien koma itu.
Begitu juga dengan Tn. Tom Cullen, bapak yang masih terlihat tampan di usia yang tak muda lagi itu langsung mengusap rambut pasien itu.
"Axel, baru saja Mommy bilang, kamu jangan terlalu banyak kegiatan, tapi ...,"
"Dia bukan Kak Axel yang Mommy kenal belakangan ini?" ucap Athena.
Ny. Olivia tercenung tak mengerti apa yang Athena maksudkan. Gadis itu mengambil papan nama pasien yang tergantung di ranjang rumah sakit dan menunjukkannya pada Ny. Olivia. Tn. Tom Cullen pun ikut membacanya.
"Dia terdaftar dengan nama Hardy, dengan riwayat koma selama hampir lima tahun. Perawat yang mengenalnya bercerita kalau dia jatuh dari rooftop gedung sekolah dan belum bangun sama sekali sejak saat itu," jelas Athena.
"Apa? Apa maksudnya ini? Ini bukan Axel-ku? Tapi dia memang jatuh dari rooftop gedung sekolah. Dad, aku tidak mengerti," ucap Olivia berpaling pada suaminya.
"Tapi Axel yang ini, memiliki tahi lalat. Apa tahi lalat seperti ini yang Mommy olok-olok saat Kak Axel masih kecil?" tanya Athena.
Gadis itu kemudian menyibak baju pasien itu di hadapan Ny. Olivia. Nyonya kaya itu langsung menjerit.
"Dad, ini Axel Dad. Dia bukan Hardy, dia bukan Hardy. Dia Axel-ku Dad, dia Axel anakku. Anakku yang hanya bisa tidur setelah mendengar dongengku. Axel-ku yang suka sup asparagus buatanku. Dia Axel kita Dad, dia Axel. Dia bukan Hardy," jerit Olivia histeris.
Tn. Tom Cullen langsung memeluk tubuh istrinya. Ny. Olivia menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Tenang sayang, kita akan minta penjelasan untuk semua keanehan ini," ucap Tom Cullen sambil mengusap lembut rambut istrinya.
Setelah di rasa tenang, Tn. Tom Cullen mencari penanggung jawab rumah sakit itu dan meminta penjelasan tentang keberadaan putra mereka di situ. Seperti yang di ceritakan seorang perawat pria pada Athena. Semua cerita yang di peroleh dari rumah sakit itu sama.
"Berarti Axel yang bersama kita selama ini adalah Axel palsu?" tanya Olivia.
Tn. Tom Cullen mengangguk.
"Kita laporkan ini sebagai sebuah penipuan. Selama ini dia hidup sebagai putra kita dan kita menyayanginya sepenuh hati. Sementara putra kita yang sesungguhnya justru hidup terbaring hingga bertahun-tahun tanpa dilakukan apa pun padanya," ucap Tom Cullen semakin emosi.
Tiba-tiba kepala rumah sakit datang dan menjelaskan sesuatu pada Tn. Tom Cullen.
"Kami telah memeriksa kondisi putra anda Tuan. Tak ada masalah dengannya, empat tanda vital utama yang dipantau meliputi suhu tubuh, denyut nadi, laju pernapasan, dan tekanan darah semuanya dalam keadaan baik baik. Kami juga telah memeriksa kondisi otak pasien menggunakan Electroencephalography untuk mengukur aktivitas listrik di otaknya, menggunakan alat ini kami dapat mengidentifikasi aktivitas listrik yang abnormal di otak, yang mungkin mengindikasikan adanya kelainan sistem saraf atau penyakit otak tertentu pada pasien. Kami juga memeriksa rekaman medic pasien ini yang telah melakukan tes menggunakan Electroencephalography ini secara rutin. Ini digunakan untuk memastikan kematian otak pada seseorang yang koma tapi kami justru tidak menemukan hal-hal yang bisa menyebabkan pasien mengalami kematian otak tapi justru untuk mengetahui tingkat anestesi yang tepat pada seseorang yang mengalami koma, kami mendapati catatan kalau pasien sebenarnya tidak lagi mengalami koma tapi justru dengan sengaja melakukan pembiusan yang membuat pasien menjadi tidak sadar," jelas kepala rumah sakit itu.
"Apa? Anakku sengaja dibius agar dia tidak sadar. Siapa yang melakukan ini? SIAPA?" teriak Tom Cullen.
"Kami akan menyelidiki kasus ini tuan, siapa yang menyuruh dilakukan pembiusan dan siapa yang melakukannya. Kami pasti akan selidiki karena ini sama saja dengan pelanggaran kode etik profesi. Kami berjanji akan menemukan pelakunya," jelas Dokter Kepala Rumah Sakit itu.
"Saya rasa saya tahu orangnya, saya melihat dan mengingat seorang perawat pria yang masuk ke dalam ruangan ini.Saya tidak tahu apa yang dilakukannya tapi Kak Axel bicara dengannya lalu masuk ke dalam ruangan ini," tutur Athena.
"Kalau begitu bisa nona ikut kami? Kita lakukan pencarian pelaku sekarang juga," ucap Dokter Kepala Rumah Sakit itu.
Athena terlihat ragu namun Tn. Tom Cullen mengangguk.
"Aku akan menemanimu Athena, kamu jangan takut," ucap Tom Cullen.
Bapak itu meminta izin pada istrinya untuk menemani Athena menemukan pelaku pembiusan terhadap putra mereka. Ny. Olivia mengangguk mengizinkan sementara dia terus duduk di samping ranjang putranya sambil menggenggam tangan laki-laki tampan itu.
Axel yang menyaksikan itu menitikkan air mata bahagia, melihat kasih sayang yang di tunjukkan ibunya padanya. Meski saat ini dia tidak mengingatnya sama sekali namun Axel merasakan kalau ibu itu menyayanginya.
Tak lama kemudian Athena dan Tn. Tom Cullen kembali. Dengan mudah Athena dapat mengenali perawat itu. Selanjutnya pihak rumah sakit menyerahkan kasus ini pada pihak berwajib.
"Perawat itu telah dipecat secara tidak hormat dari rumah sakit ini dan telah diserahkan pada pihak yang berwajib," jelas Tom Cullen pada istrinya.
Ny. Olivia mengangguk, lalu tiba-tiba teringat pada Athena.
"Sayang, apa kamu ingin pulang. Hari akan menjelang malam, apa Mamamu tidak khawatir?" tanya Olivia.
"Athena sudah menghubungi Mama, Papa akan menjemput kapan pun aku ingin di jemput," jawab Athena.
"Tidak sayang biar kami yang mengantarmu pulang. Kamu sudah susah payah memberi tahu kami tentang kebenaran ini. Kami sangat berhutang budi padamu," ucap Olivia.
"Mommy jangan berkata seperti itu, saya melakukan ini karena sayang sama Kak Axel, sayang sama Mommy dan juga Daddy," ucap Athena.
"JANGAN SEBUT LAKI-LAKI ITU LAGI DIHADAPANKU, dia tidak berhak menggunakan nama anakku. Kamu mencintainya bukan? Pergilah bersamanya, aku tidak akan peduli lagi padanya. Jika dia masih berani muncul di hadapanku, akan aku laporkan dan aku buat dia menerima ganjaran atas perbuatan yang dilakukannya terhadap putraku," bentak Olivia dengan tegas.
"Sayang jangan berkata seperti itu pada Athena, dia tidak bersalah, justru dia yang memberitahu kebenarannya pada kita," jelas Tom Cullen.
Lalu menoleh menatap Athena yang tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan Mommy ya Athena, Mommy-mu masih syok mengetahui kejadian ini," ucap Tom.
Athena mengangguk dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Gadis itu akhirnya meminta izin untuk pulang sendiri. Dengan air mata yang mengalir pelan di pipinya Athena keluar dari gedung rumah sakit itu dan menunggu papanya seorang diri dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...