Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 104 ~ Mengabaikan ~


__ADS_3

Axella mengungkapkan isi hatinya, membuat Athena termangu. Meski gadis itu telah pergi, Athena terdiam memikirkan ucapan Axella. Merasa dirinya orang yang sangat jahat setelah mendengar curahan hati Axella.


Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena tak bisa menahan tangisnya. Sementara Axella menatap Athena dengan senyum di bibirnya. Senyum yang tersungging di bibir tetapi dengan tatapan mata yang sedih.


Lalu melangkah menjauh dari balik dinding gedung kampus iy. Menarik nafasnya dalam-dalam lalu melangkah menuju perpustakaan. Axella merasa hari-harinya mendadak sepi. Sejak Axel menyelesaikan sidang skripsinya, tugas Axella seperti sudah selesai. 


Membantunya memberi petunjuk ataupun tugas-tugas yang mungkin muncul pada Axel berdasarkan pengalamannya menempuh kuliah dari semester satu hingga semester tujuh. Begitu kuat tekad Axel menepati janjinya pada Athena hingga bertemu di kelas pun Axel tak mau menyapanya. 


Axella hanya punya Axel sebagai temannya. Gadis itu tak punya teman akrab. Hari-hari dilaluinya dengan kesendirian. Entah mengapa meski ada yang mencoba mendekatinya, Axella hanya bersikap dingin pada mereka. Berbeda saat bersama Axel, gadis itu menjadi periang. 

__ADS_1


Seperti kehilangan mainan kesukaan, hati Axella menjadi hampa. Dalam hati tak mungkin sejahat itu merebut Axel dari Athena. Namun, Axella juga ingin bahagia, dan bahagia Axella hanya bersama Axel. Rasa kecewa, sedih atas keputusan Axel menjauhinya membuat Axella hanya menangis saat sendiri.


Di rumah Axella hanya mendekam di dalam kamarnya. Menyalakan musik dan memasang earphone di telinga saat kembali terdengar bentakan, teriakan histeris dan bunyi pecahan kaca. Tak ada acara makan siang bersama atau makan malam bersama. Sang orang tua hanya memberinya uang saku yang cukup baginya mencari makanan di luar sana. 


Axell hanya membeli beberapa roti untuk makan siangnya dan itu dibagikan pada Axel waktu itu. Sisanya untuk dimakannya di dalam kamar saat tiba di rumah. Kenapa hanya makan roti, karena Axella tak suka makan di cafe atau restoran seorang diri. Lebih memilih membeli roti yang bisa tahan selama dua atau tiga hari ke depan.


Hanya bersama Axel gadis itu berhadapan dengan piring dan sendok. Saat belajar bersama dan tiba waktu makan siang Axel akan mengajaknya makan di kantin kampus. Axella bersedia karena dia suka bersama Axel. Dia sangat suka menghabiskan waktu bersama Axel. Meski jam kuliahnya telah habis, gadis itu rela nongkrong di kampus menunggu Axel atau bahkan menemani Axel masuk kelas walaupun tidak terdaftar mengambil mata kuliah itu.


"Aku rasa dosen itu kurang yakin kamu terdaftar mengambil mata kuliahnya makanya dia kasih soal sama kamu," ucap Axel lalu tertawa.

__ADS_1


"Wuih rasanya menakutkan tapi seru juga. Semua orang menatapku lalu berbisik, 'dia ambil mata kuliah ini?' atau 'kemarin-kemarin nggak ada kok sekarang ada' atau 'ini anak salah masuk kelas atau bagaimana?' ya aku salah! Anak semester enam masuk ke semester delapan ya salah lah," ucap Axella sambil tertawa dan mereka pun tertawa bersama.


Senyum Axella tersungging saat mengingat kejadian semester lalu itu. Axella yang tak ingin pulang ke rumah, bertahan di kampus menemani Axel yang sibuk mengikuti perkuliahan sebanyak empat, lima bahkan enam mata kuliah dalam sehari. Axella bahagia. Waktu luangnya terisi dengan sesuatu yang berguna, yaitu menunggu dan menemani Axel.


Kini semua itu tak bisa dilakukannya lagi. Menunggu Axel pun tak ada gunanya lagi. Laki-laki itu telah mengabaikannya meski terlihat raut wajah sedih di matanya. Axella pun tak bisa menyapanya, sangat takut Axel mengabaikannya. Merasa tak tahan dengan semua itu meski telah mencoba untuk mengabaikan.


Aku benci sama kamu Axel, batin Axella.


Sementara Axel tertunduk, sibuk menatap buku di hadapannya. Hari ini mereka satu kelas lagi, tetapi tak bisa saling menyapa. Demi Athena, Axel mengabaikan Axella.

__ADS_1


Maafkan aku Axella, batin Axel.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2