
Axel dan Athena tiba di rumah kediaman Cullen. Sayang, tak ada siapa pun di sana selain para pelayan. Athena hanya tersenyum maklum karena gadis tersebut memang telah tahu kesibukan para penghuni rumah mewah itu.
"Bagaimana ini? Sepi, tak ada siapa pun. Kalau ke kamar nanti bisa terjadi hal yang diinginkan," ucap Axel pura-pura bingung.
Athena hanya tertawa. Situasi seperti tentu saja bukan sekali ini terjadi. Namun, karena Axel ingin mengumumkan dua peristiwa bahagianya ini, laki-laki sedikit kecewa karena tak ada siapa pun yang ingin ikut merayakannya.
"Yuk ke atas, ngapain kita di sini," ucap Axel dan langsung menarik tangan gadis yang dicintainya itu menuju ke kamarnya di lantai atas
Begitu membuka pintu kamar. Axel langsung terkejut. Kamarnya yang tadi rapi dan sepi kini telah dihiasi berbagai macam dekorasi gantung dan tulisan sebagai ucapan selamat atas kelulusannya. Di langit-langit rumah di atas ranjang bahkan telah tersusun balon-balon dengan tali pita berwarna merah muda menjuntai-juntai. Axel tersenyum-senyum.
"Ini pasti ide Mommy. Mommy tahu pasti kalau aku pasti membawamu ke sini. Lihatlah warna dekorasi ini di dominasi warna putih dan pink. Memangnya anaknya itu cewek, di dekor pakai warna anak gadis begini?" tanya Axel.
Athena malah tertawa. Terlihat jelas kalau Ny. Olivia masih begitu menyayanginya. Putranya yang ingin dirayakan tapi hiasan malah sesuai dengan selera seorang gadis.
"Sebenarnya anak Mommy yang mana sih? Aku atau kamu?" tanya Axel sambil menarik tali yang terikat di balon.
"Idih, iri ya?" tanya Athena.
__ADS_1
"Aku baru ingat. Dulu, saat pulang sekolah. Aku sering merasa kecewa. Berharap pulang ada yang menyambut tapi ... hal seperti tadi itu yang biasa aku temui. Berdiri di depan pintu, termenung karena sepi. Tak ada siapa yang bisa aku temui. Jika sekarang saja sudah ada dua orang tambahan penghuni rumah ini, rasanya pulang masih saja disambut rasa sepi, bagaimana saat kami cuma bertiga? Kamu bisa bayangkan rasa sepinya kan?" tanya Axel.
"Kakak harus berkaca pada diri Kakak sendiri. Di saat memiliki tanggung jawab dan kesibukan sendiri, Kakak juga tak sempat memikirkan orang yang kesepian menunggu Kakak," ucap Athena menatap ke atas langit-langit kamar yang dipenuhi balon-balon.
"Kamu merasakannya juga?" tanya Axel. Athena tersenyum.
"Mungkin aku yang terlalu berharap," jawab Athena.
"Athena, aku bukannya tidak sempat memikirkanmu. Di setiap detik waktu luangku, aku selalu memikirkan kamu. Kamu harus percaya itu, karena semua yang aku lakukan ini untukmu. Setiap kali aku lelah, aku akan memikirkan kamu dan aku memiliki semangat lagi dalam menjalaninya," jelas Axel sambil menangkup wajah gadis yang dicintainya.
"Kalau begitu jangan kecewa lagi sama Mommy, sama Daddy. Karena mereka melakukan semua ini juga untuk Kakak. Di saat mereka lelah bekerja, membayangkan putra mereka yang tampan ini juga bisa jadi penyemangat mereka. Percayalah Kakak tidak menunggu sendirian, ada juga yang memikirkan Kakak di tempat yang berbeda. Jangan kecewa lagi kalau pulang tak ada siapa-siapa, ya?" ucap Athena sambil memiringkan kepalanya di hadapan Axel.
Ucapan Athena mengingatkan Axel kalau dia selalu membuat gadis itu menunggu. Sementara dia memikirkan Athena, gadis itu yang menunggu. Seperti dirinya dan orang tuanya. Axel menunggu dan orang tuanya memikirkannya.
"Tapi kenapa kamu juga sering marah kalau aku telat datang menemuimu?" tanya Axel tiba-tiba melepas ciumannya.
"Karena menunggu itu tidak enak," jawab Athena.
__ADS_1
"Kamu berani menasehati aku agar tidak kecewa saat menunggu Mommy dan Daddy tapi kamu ngambek nggak karuan," ucap Axel langsung mencubit hidung Athena.
"Aah sakit," jerit Athena.
"Mana sakit? Masa sih? Cuma cubit pelan begitu langsung menjerit, manja betul. Gimana kalau malam pertama?" Mendengar itu Athena langsung mencubit balik hidung Axel.
"Aaau sakit."
"Gimana kalau malam pertama?" tanya Athena meledek ucapan Axel.
"Kita cobain yuk biar tahu," ajak Axel.
Athena terperangah, niatnya mencubit hidung Axel agar tahu sakit bagaimana rasanya hidung dicubit. Bukan untuk membuktikan bagaimana rasanya malam pertama. Melihat Athena yang terperangah, Axel langsung tertawa.
Hatinya begitu bahagia. Rasa lepas dari beban berat selama dua semester terakhir ini benar-benar membuatnya lega. Ditambah Athena yang menerima lamarannya. Axel begitu bahagia hingga tawanya begitu lepas, membuat Athena terpana.
Melihat Athena yang begitu cantik tersenyum dihadapannya, Axel tak bisa menahan hasratnya. Perlahan membaringkan tubuh gadis yang dicintainya itu di ranjang. Membenamkan bibirnya ke bibir manis gadis itu. Athena membalas ciuman lembut itu sambil memeluk punggung laki-laki yang dicintainya itu.
__ADS_1
Sementara Axel perlahan menurunkan gaun Athena sambil terus menikmati manis bibir beraroma vanilla mint itu. Athena sama sekali tidak menolak saat Axel melepas tali pengait yang melintang di punggung Athena. Menunjukkan kepasrahan dan penyerahan dirinya terhadap Axel.
...~ Bersambung ~...