
Setelah bercerita tentang gadis hantu, malam itu Athena sulit untuk tidur, setelah mendengar cerita gadis hantu itu, dia merasa sedih sekaligus takut. Pasalnya, gadis itu akan selalu muncul sambil menangis disaat-saat waktu tertentu.
Mendengar itu Athena berkata pada Axel, bahwa dia sudah biasa melihat gadis itu menangis.
"Bukan menangis diam dengan air mata yang meleleh, tapi menangis yang meraung, bisa terdengar oleh manusia yang memiliki pembatas yang tipis antara dua alam" jelas Axel.
"Maksudmu ?" tanya Athena mulai ketakutan.
"Bukankah aku pernah bilang ? kami mendapat anugerah melihat kaum kami karena pembatas antara dunia nyata dan dunia gaibmu semakin menipis ?" tanya Axel.
Athena mengangguk meski tidak terlalu mengerti.
"Manusia itu tiga jenis lapis pembatas, yang memiliki lapis pembatas tebal, sangat jauh dari hal-hal yang bersifat mistis. Sama sekali tidak bisa melihat, mendengar atau merasakan kehadiran makhluk-makhluk astral" jelas Axel.
"Seperti aku sebelum ketemu sama kamu" ucap Athena cepat.
Axel mengangguk lemah, dalam hati laki-laki itu merasa sedih. Ucapan Athena benar jika tidak bertemu dengannya di rooftop waktu itu maka selamanya Athena tidak akan merasakan kehadirannya sedikitpun.
Maafkan aku Athena, jika aku tidak selalu muncul dihadapanmu, kamu akan seperti manusia lainnya dan tidak perlu merasa ketakutan setiap kali melihat makhluk seperti kami, batin Axel.
"Benar, saat itu kita sama-sama berdiri di antara, aku, di antara siang menjelang malam. Dan kamu di antara sadar dan tidak sadar. Kita bertemu dan bisa saling melihat. Sejak itu batas dua alammu langsung menipis. Kamu bisa langsung melihatku, yang biasanya tak terlihat oleh siapapun" ucap Axel lalu tertunduk.
Hantu laki-laki itu selalu merasa bersalah pada Athena. Gadis itu tidak perlu menjalani hidup dengan melihat makhluk-makhluk yang menakutkan jika dirinya menjauh dari gadis itu.
Pembatas alam gadis itu tidaklah tipis, namun karena selalu dekat dengannya, membuat gadis itu terbiasa dan semakin mudah menembus alam gaib.
Sama seperti orang-orang yang sengaja mencari-cari dan berusaha menembus alam gaib dengan ilmu-ilmu hitam, uji nyali, memelihara makhluk gaib atau dengan mengoleksi barang-barang yang dinilai memiliki keramat.
"Katamu ada tiga jenis lapis pembatas, lalu sekarang aku di jenis pembatas yang mana ?" tanya Athena.
"Yang di tengah, menuju tipis. Orang-orang seperti ini biasanya bisa merasakan kehadiran makhluk astral, meski tidak selalu bisa melihatnya.
Saat berpapasan dengan makhluk astral mereka akan merinding, merasa seperti melihat kilasan, bayangan atau seperti mendengar sesuatu, mencium bau tapi tidak begitu yakin dengan semua itu" jelas Axel panjang lebar.
"Aku menuju tipis, maksudnya ?" tanya Athena dengan wajah yang cemas.
"Kamu akan lebih sering melihat makhluk-makhluk yang tidak bisa dilihat. Dengan pasti bisa melihat bentuknya, mendengar suaranya, mencium baunya.
Tidak hanya hantu gadis disekolah itu yang memang telah terbiasa berpapasan denganmu.
Tapi makhluk-makhluk lain diluar sana, kamu akan seperti manusia yang memiliki indra keenam atau dikenal dengan indigo" jelas Axel.
Mendengar itu Athena menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Tapi jangan khawatir, aku akan selalu menemanimu" ucap Axel cepat.
Athena menitikkan air mata, anugrah ini benar-benar tak diinginkannya. Meski Axel berjanji akan selalu menemaninya tapi tetap saja itu membuatnya sangat ketakutan.
Axel sedih melihat Athena yang menangis, sangat ingin memeluk gadis itu untuk menenangkannya namun posisinya yang lemah tak berada diantara dua waktu membuatnya hanya seperti bayangan dan tak bisa memeluk Athena.
"Jangan pergi sebelum aku tidur ya" pinta Athena.
"Tidak akan, aku akan selalu berada disisimu" ucap Axel sambil tersenyum pahit.
Athena mencoba untuk tidur, memejamkan matanya. Kadang-kadang kembali terjaga dan langsung melihat Axel yang tersenyum rebah disampingnya, Athena membalas tersenyum lalu kembali memejamkan matanya, kemudian tertidur.
Menjelang pergantian waktu, Athena sudah tidur di pelukan Axel. Laki-laki itu menunggu saat-saat terkuatnya. Begitu bisa menyentuh Athena, laki-laki itu langsung meraih tubuh gadis itu dan membiarkannya tidur dalam pelukannya.
Sambil menunggu gadis itu terbangun, Axel membelai rambut Athena, bahkan mencium puncak rambutnya.
Apa yang kurasakan ini ?
Karena hanya dia yang bisa melihatku ?
Karena ingin selalu melindunginya ?
Atau karena merasa bersalah padanya ?
Kenapa ?
Padahal jika aku jauh darinya dia tidak akan merasa takut lagi, tapi kenapa ?
Kenapa aku tega membuatnya ketakutan seperti ini ? kenapa aku selalu ingin disisinya ? batin Axel.
Sambil mengecup puncak rambut Athena yang masih tertidur.
__ADS_1
Merasakan hangat tubuhnya, mencium wangi tubuh dan rambutnya, aku sangat suka, hingga tega membuat dia mengalami semua ini, aku sangat egois, sangat egois, maafkan aku Athena, batin Axel lagi.
Axel kembali mempererat pelukannya, dan aneh Athena justru terlihat nyaman. Tanpa sadar gadis itu membalas pelukan Axel. Gadis itu tidur sambil memeluk Axel.
Saat terbangun, Athena merasa heran dan malu. Tidur sambil memeluk laki-laki, begitu menempel dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan yang lebih membuatnya malu lagi, tangannya yang melingkar kuat ditubuh laki-laki itu.
Entah seperti apa warna di wajah Athena, gadis itu segera berlari ke kamar mandi. Menarik nafas sekuat-kuatnya, lalu memandang wajah merahnya di cermin.
Huaa.. malu, masa tidur sambil peluk laki-laki itu, tubuhku sudah ternoda, tapi... dari kemarin-kemarin dia sering meluk aku, tapi kok rasanya nggak gini ya, haaa... sambil tidur sih.. Hua...ha.. malu.., batin Athena sambil mengusap-usap wajahnya yang merona merah.
Gimana mau keluar nih ? nanti liat tampangnya, ha.. jangan-jangan diketawain lagi, haaa... aku tidur sambil meluk laki-laki, haa... pasti dibilang murahan.., batin Athena tak kuat hingga akhirnya jongkok didepan pintu.
"Athena, ayo keluar, nanti keburu terang" ucap Axel dibalik pintu kamar mandi.
"Nggak mau, biarin aja terang, biar kamu ngilang" ucap Athena.
"Kenapa ? kamu nggak suka aku muncul disini ?" tanya Axel.
"Yaaaaa..." jerit Athena dari kamar mandi.
Mungkin Athena sangat takut menghadapi kemampuan melihatnya yang semakin bertambah, haruskah aku tetap egois disisinya ? batin Axel.
"Baiklah, jika kamu ingin aku pergi, aku akan pergi tapi izinkan aku memelukmu sekali lagi' ucap Axel.
"Nggak mauuuuuu" jerit Athena yang merasa sangat malu.
Ketahuan memeluk laki-laki itu sambil tidur saja sudah membuatnya sangat malu, sekarang malah minta peluk lagi. Athena otomatis menolak permintaan Axel.
Axel tertunduk, hari memang masih gelap, namun jika Athena bertahan di kamar mandi hingga menjelang pagi maka Axel tak bisa menemui dalam keadaan seperti manusia.
Axel membujuk, tapi Athena tetap tidak mau keluar. Axel merasa gadis itu benar-benar tidak mau mengalami ketakutan itu lagi. Hingga tak mau mendekati Axel lagi.
"Baiklah, aku akan pergi. Setelah ini, kamu akan seperti semula, menjadi seperti dulu lagi. Tak perlu merasa takut bisa melihat hantu, jaga dirimu Athena.... aku.. menyayangimu" ucap Axel, lalu menghilang.
Athena terkejut mendengar ucapan Axel, seperti ucapan perpisahan. Gadis itu langsung membuka pintu kamar mandinya. Melihat sekeliling ruangan dan tak melihat Axel lagi. Gadis itu mencari kesana kemari, membuka jendela kamarnya, memanggil namanya, namun Axel tak kunjung muncul padahal hari belumlah terang.
"AXEEEEEL..., AXEEEELL..., " Athena terus memanggil nama hantu itu berulang kali.
"Ada apa Athena ?" ucap mama Athena tiba-tiba muncul di balik pintu.
Langsung khawatir melihat anak gadisnya yang menangis. Mama Athena langsung memeluk anaknya, hatinya cemas melihat Athena yang menangis begitu sedih.
"Axel pergi ma... Axel udah pergi" ucap gadis itu tersedu-sedu dipelukan ibunya.
"Siapa Axel ? kok kamu tau dia pergi ? kamu abis baca pesan ?" tanya mama Athena.
"Dia bilang sendiri, dia bilang mau pergi" ucap Athena lagi.
Membuat ibunya semakin bingung, namun dalam pikirannya, mungkin Athena sudah membaca pesan di ponselnya. Mama Athena mengira anak gadisnya baru saja diputuskan cinta oleh pacarnya.
"Kamu nggak pernah kenalin ke mama ? siapa Axel itu ? mama pernah bilang kamu boleh pacaran tapi nggak boleh sembunyi-sembunyi.
Jangan takut kami akan menolak pilihanmu hingga memilih pacaran diam-diam.
Jadi seperti ini akhirnya, kamu ditinggalkan seenaknya karena merasa tidak ada beban, tidak ada perasaan segan terhadap orang tua" nasehat mama Athena.
Athena hanya bisa memeluk erat mamanya sambil menangis. Dan tentu saja itu sangat mengkhawatirkan ibunya. Kenapa anaknya bisa begitu sedih. Pikiran buruk langsung terlintas.
"Apa kamu sudah berbuat terlalu jauh nak ?" tanya mama Athena.
Athena hanya diam, tak menjawab. Gadis itu hanya terus menangis.
"Kamu.. sudah.. tidur.. dengannya ?" tanya mama Athena ragu-ragu mengganti pertanyaannya.
Athena mengangguk. Mama Athena menutup mulutnya dengan tangannya. Bingung apa yang harus dilakukannya, memarahi anak gadisnya yang sedang bersedih ini atau membiarkan ? rasanya tidak mungkin.
Mama Athena tidak pernah memarahi anaknya, ibu itu tidak pernah bisa marah pada putrinya. Lalu apa yang harus dilakukannya ? membiarkan perbuatannya juga tidak baik. Mama Athena benar-benar bingung menghadapi situasi yang tak disangka-sangka ini.
Tiba-tiba gadis itu bangun dari pelukan mamanya.
"Athena harus pergi sekarang ma" ucap Athena langsung lari ke kamar mandi.
"Ini masih terlalu pagi nak ? jangan pergi ? nggak boleh, mama nggak bolehin kamu pergi menemui laki-laki itu gelap-gelap begini" ucap mama Athena.
Tapi sepertinya gadis itu tetap saja buru-buru mandi. Mengenakan seragam sekolahnya menyiapkan buku-bukunya, ucapan mamanya sama sekali tidak didengarkannya.
__ADS_1
"Ma, Athena harus pergi, sekarang jika tidak bisa terlambat. Athena akan menyesal seumur hidup" ucap Athena sambil mencium pipi ibunya lalu berlari dengan cepat keluar rumah.
"Tidak boleh, Athena, kembali" jerit mama Athena yang berlari mengejar tapi gadis itu telah berlalu.
Papa Athena yang baru bangun langsung bingung melihat istrinya menjerit-jerit dipagi subuh seperti ini. Mama Athena menjelaskan semuanya yang dia tahu.
"Dia menyusul laki-laki itu kemana ma ?" tanya papa Athena.
"Nggak tau pa, tapi tadi dia memakai seragam sekolah juga bawa buku pelajarannya" ucap mama Athena.
"Mungkin dia berencana langsung ke sekolah, apa kita susul ke sekolah saja ?" tanya papa Athena.
"Iya pa, ayok kita susul ke sekolah" ucap mama Athena.
Sementara itu Athena yang berlari di jalanan menuju sekolah yang masih dalam keadaan sepi dan gelap. Gadis itu berlari sekencang-kencangnya tak melihat kiri dan kanan, menggedor pos penjaga sekolah.
"Non, masih terlalu pagi, ngapain kesini, ya ampun" ucap pak penjaga sekolah yang masih antara sadar dan tidak sadar, sama seperti Athena waktu itu, hingga akhirnya bisa melihat Axel, kalau pak penjaga diajak mungkin bisa melihat Axel juga.
Tapi tidak, Athena tidak mengajak pak penjaga sekolah, takut nantinya bisa melihat Axel, trus jatuh cinta sama Axel, hehehe... ya nggaklah.
Gadis itu hanya meminjam kunci gembok lalu berlari kencang ke rooftop, tak peduli sekolah yang terasa begitu menyeramkan. Gadis itu tidak bisa menunggu hingga nanti malam untuk mencari Axel lagi seperti waktu itu.
"AXEEEL... AXEEEL... AXEEEL... " teriak Athena sambil berkeliling di rooftop.
Namun Axel tak muncul-muncul, gadis itu mulai menangis. Athena panik, tidak menyangka hari ini adalah hari terakhir menatap laki-laki itu. Athena memandang ke sekeliling, memegang kepalanya yang terasa pusing. Sambil menangis gadis itu meratap.
"Jangan pergi, jangan pergi" ucap Athena berkali-kali.
"Nggak.... nggak... kamu nggak boleh pergi.. kamu udah janji mau bantuin aku belajar, kamu udah janji bantuin aku dapatin Evan, kamu jangan pergiiii... kamu harus tepati janjiiii" jerit Athena.
Hingga jatuh tersimpuh, namun Axel tetap tidak muncul. Tiba-tiba gadis itu berlari ke bawah.
Aku akan bertanya pada gadis hantu itu, sebelum kemampuanku melihatnya menghilang, aku harus bertanya padanya, batin Athena sambil berlari ke toilet.
Sangat tidak masuk akal, sejak mengetahui di toilet itu telah terjadi kejadian yang mengerikan. Athena tak pernah mau lagi menginjakkan kakinya di toilet itu. Tapi kali ini dia sengaja mendatangi toilet sekolah demi menemukan Axel.
Sepi, sesampai disana ruangan yang sangat sepi itu menjadi sangat menyeramkan. Athena mulai gemetaran, tapi tekadnya lebih kuat. Athena ingin menemukan Axel kembali.
Apa yang dicarinya muncul, gadis hantu itu datang dengan pandangan kosong. Athena bisa dengan jelas melihatnya, kakinya seperti menyentuh lantai tapi tak ada gerakan melangkah.
"K..k..kakak" terdengar suara serak Athena yang akhirnya keluar untuk menyapa gadis hantu itu.
Gadis hantu itu berhenti lalu menghadap kearah Athena, menyeramkan, pandangannya mengarah ke mata Athena namun bola mata itu seperti menatap kosong.
"Kamu bicara padaku ?" ucapannya masih menatap kosong pada Athena.
"I..i..iya" jawab Athena yang telah gemetaran hebat.
Gadis hantu itu tersenyum, namun senyuman yang kosong. Hanya sebuah gerakan bibir yang melebar, sementara matanya masih menatap kosong. Athena menutup mulut dengan tangan yang gemetar. Seperti itukah ekspresi tanpa jiwa ? kosong.
Mungkin gadis hantu itu senang ada yang menyapanya, namun tetap tidak seperti manusia, tatapan mata manusia bisa mengartikan perasaan yang berbeda, perasaan marah, bahagia, rindu, kecewa dan sedih.
Namun tatapan seorang hantu hampa, kosong tak tersirat apa-apa, begitu juga dengan senyumannya. Tak seperti senyum manusia yang menyimpan sejuta makna, senyum bahagia, senyum pahit menunjukan kesedihan, senyum miring yang mengejek dan banyak lagi senyum yang bisa ditujukan manusia hidup.
Hantu ini tersenyum dengan pandangan kosong membuat Athena semakin gemetar, air mata gadis itu mengalir dengan sendirinya. Karena rasa takut yang tidak bisa ditahannya. Sendiri, di toilet yang paling ditakuti, berhadapan dengan makhluk yang selalu dihindari.
Namun justru disini dia berdiri, berhadapan dengan ketakutannya sendiri bertahan demi mencapai tujuannya.
"Bantu aku temukan Axel" ucap Athena langsung ke pokok permasalahan.
Hantu itu kembali tersenyum lebar namun hampa.
"Bantu aku juga" ucapnya singkat.
Athena terkejut, tidak menyangka akan mendapat sebuah persyaratan dari makhluk tak kasat mata.
"A.. a.. apa itu ?" tanya Athena, mau tak mau harus bertanya.
"Ungkapkan kebenaran" ucap hantu itu.
Athena terbelalak, gadis itu sedikit banyak telah tau kisah si gadis hantu dari Axel. Namun berusaha untuk mengungkapkan kebenaran kejadian itu, tak pernah terpikirkan olehnya.
Namun demi tujuannya yang telah nekad datang dihari yang masih gelap ini, bertemu dengan makhluk yang bagi orang harus dijauhi. Demi menemukan Axel kembali, demi membersihkan salah paham ini, Athena, akhirnya menganggukkan kepala.
Ya, Axel pergi karena mengira Athena tidak mau memiliki kemampuan yang membuatnya selalu merasa takut ini. Axel mengira Athena tak mau berurusan dengan makhluk gaib lagi.
__ADS_1
Athena merasa kesalahpahaman Axel adalah salahnya, hanya karena rasa malunya berhadapan dengan laki-laki itu, Athena mengusirnya pergi, dan sekarang gadis itu harus mencari.
...~ Bersambung ~...