
Axel mengeluarkan kekuatan yang tidak seharusnya digunakan. Kekuatan yang dikeluarkannya di saat tidak dalam pergantian waktu akan membuatnya lemah. Namun langit terlanjur gelap, pergantian terang menjadi gelap telah berakhir. Axel tak sekuat tadi, namun kesempatan untuk membuktikan kejahatan ibu tiri itu justru datang.
Axel melihat Vivi membawa gelas, timbul ide untuk membuat gelas yang dibawa Vivi terjatuh, sehingga ibu tiri itupun langsung datang. Didepan matanya sendiri sang ayah melihat istri yang dipercayainya telah menyiksa putri satu-satunya.
Axel tak sanggup lagi, sebelum bayangan laki-laki itu benar-benar menghilang, dia memberitahu Athena. Gadis itu pun mengajak Axel pulang. Setelah beberapa hari Axel tak bisa muncul beberapa hari. Athena merasa kesepian.
Gadis itu bahkan melakukan bermacam-macam perbuatan baik demi segera bisa melihat Axel, Akhirnya siang itu Axel kembali terlihat saat Athena merawat Vivi. Namun sekarang karena kembali melemah, Axel akan kembali menghilang.
"Maaf Axel, apakah begitu sakit ?" tanya Athena saat menjelang pagi.
Gadis itu bahkan memasang alarm agar tidak tertidur saat menjelang pagi. Axel telah duduk dihadapan Athena, laki-laki itu memandang gadis itu lamat-lamat.
"Saat menjelang pagi ini tidak begitu lemah, tapi saat siang nanti rasanya lemah sekali setelah menggunakan kekuatan diluar waktu itu" jawab Axel.
"Gimana caranya biar kondisimu kamu cepat pulih ?" tanya Athena.
"Menghisap nafas manusia" jawab Axel cepat.
"Haaa... jadi benar kalau hantu bisa menghisap jiwa manusia, kalau aku dihisap lama-lama aku bisa mati dong ?" tanya Athena.
"Siapa bilang menghisap jiwa ? aku bilang nafas manusia, lagian siapa yang mau jiwa kamu" ucap Axel.
Athena mengangguk-angguk seolah-olah mengerti.
"Lalu gimana caranya ? kalau kamu menghisap nafasku, aku tidak akan mati kan ?" tanya Athena serius ingin menolong Axel.
Axel menggelengkan kepala.
"Buka mulutmu, aku akan menghisap dari situ" ucap Axel.
Athena patuh, mulai membuka sedikit mulutnya, namun saat Axel sudah mulai mendekatinya. Gadis itu merasa aneh.
"Heee.. apa yang kamu lakukan, kok kamu kayak mau..."
Axel tertawa lalu kembali mundur.
"Oh ya ampun, kamu ngerjain aku lagi ya" jerit Athena sambil memukul-mukul dada Axel kesal karena selalu di kerjai Axel.
"Aduh... Aduh...Aduh.. " jerit Axel sambil memegang dadanya lalu rebah sambil memegang dadanya diranjang Athena.
"Axel, sakit kah ? masa gitu aja sakit sih" ucap Athena panik sambil memeriksa dada Axel.
Axel langsung menggenggam tangan Athena dan menempelkannya didada hantu laki-laki itu.
"Sayang denyutnya sudah tidak ada, kalau masih ada pasti sudah berdenyut kencang karena mendapat perhatian dari kamu" ucap Axel sambil kembali duduk dihadapan Athena.
"Kamu sangat jahat, suka ngerjain aku" jerit Athena.
"Maaf, tapi aku suka liat kamu khawatir sama aku, karena sudah lama tidak ada yang khawatir padaku" ucap Axel dengan tatapan yang lembut.
Athena memandang hantu laki-laki itu dengan tatapan iba, tiba-tiba Athena mengecup pipi Axel. Lalu memeluk laki-laki itu. Hantu bertubuh tinggi itu langsung membalas pelukan Athena.
"Kalau gitu nggak apa-apa, kamu kerjain aku tapi jangan keterlaluan ya" ucap Athena masih memeluk Axel.
"Beneran boleh ngerjain kamu ?" tanya Axel sambil tertawa.
Ini adalah izin yang unik, diperbolehkan mengerjai Athena. Tapi Athena justru mengangguk, Axel mempererat pelukannya. Athena, demi menyenangkan hati Axel, gadis itu rela di usili Axel hingga membuat gadis itu khawatir. Dan Axel suka gadis itu khawatir padanya.
Aku sayang kamu Athena, batin Axel sambil mempererat pelukannya.
Pagi kembali menjelang, Axel pun menghilang.
Athena terdiam, merasa ada yang hilang. Yah... kan Axel emang menghilang.
Gadis itu menghela nafas panjang lalu masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Sesampainya di sekolah Athena langsung di serbu Vivi. Gadis itu memeluknya erat, sambil menangis terharu.
"Makasih Athena, kamu sudah menolongku. Terima kasih banyak ya.. entah bagaimana cara aku membalas kebaikanmu" ucap Vivi terus memeluk Athena.
"Udah Vi, sesama teman harus saling tolong menolong kan ?" ucap Athena.
Vivi melepaskan pelukannya, lalu menghapus air matanya.
"Semalam daddy cerita, kalau kamu yang ngasih tau tentang kejahatan ibu tiri ku dan bantu membuktikannya " jelas Vivi.
"Oh ya semua itu berkat daddy mu yang mau mencoba membuktikannya, semoga kamu dan daddy mu bisa hidup bahagia ya" ungkap Athena.
Vivi menggenggam tangan Athena lalu mengajaknya duduk dikursi. Mereka kembali berbincang seru, Athena dan Vivi semakin akrab.
"Aku dengar kamu mau menantang anak IPA ? gimana cara kamu melawannya ? " tanya Vivi heran.
"Entahlah, aku juga bingung. Paling belajar sekuat tenaga aja" ucap Athena.
__ADS_1
"Hebat kamu, aku pikir kamu orang yang malas belajar" ucap Vivi.
"Emang" jawab Athena, yang membuat Vivi tertawa, mereka pun tertawa bersama.
Kimmy datang dan bergabung dengan Athena dan Vivi,. bersama-sama gadis-gadis berhati lugu itu menjalani keseharian mereka dengan hati yang bahagia.
"By the way, teman imajiner mu itu masih ada ?" tanya Vivi yang dijawab dengan anggukan oleh Athena.
"Teman imajiner ?" tanya Kimmy heran.
Vivi dan Athena tersenyum saat melihat ekspresi Kimmy yang heran karena ketinggalan berita.
"Oh ya aku mau ralat ucapanku, teman imajinerku itu sama sekali nggak usil, jelek dan nakal. Tapi sebaliknya baik, ganteng dan suka menolong" ucap Athena.
"Oh ya pantes aneh, ngapain juga nyiptain teman khayalan yang kayak gitu, cuma ngerepotin aja" jelas Vivi.
Mereka tertawa bersama.
"Kamu beneran punya teman imajiner ?" tanya Kimmy masih tak percaya.
Athena mengangguk.
"Pantesan kamu suka senyam senyum sendiri. Teman Imajiner mu beneran ganteng ?" tanya Kimmy yang dibalas anggukan oleh Athena.
Membuat Axel tersenyum manis. Dan seperti biasa sebelum bel berbunyi, Athena minta izin keluar.
"Kamu ini kok suka sekali minta izin keluar ?" tanya guru matematika itu.
"Waduh, emergency pak" ucap Athena sambil memegang perutnya.
Kimmy dan Vivi saling berpandangan dan tersenyum ditahan. Athena lolos, segera gadis itu pergi ke TU menagih janji pak TU untuk memberi informasi tentang Axel.
Pak TU pun memberikan alamat yang diminta Athena dan bertanya.
"Memangnya buat apa sama ananda alamat ini ?" tanya pak TU.
"Mau research pak, kenapa orang bisa cerdas seperti dia" ucap Athena asal-asalan.
"Tapi sekarang anak itu sudah kehilangan kecerdasannya, bahkan mengalami amnesia" jelas pak TU.
"Amnesia ? hilang ingatan pak ?" tanya Athena.
Athena tercenung, gadis itu semakin bingung. Axel yang terdaftar di sekolah ini, masih hidup, dan mengalami amnesia.
Lalu Axel ku siapa ? jangan-jangan benar-benar teman imajiner lagi, jangan-jangan aku ini memang udah gila, jerit hati Athena.
"Axel ku ? huuu.. kalau kedengeran Axel bisa ge er dia" ucap Athena bicara sendiri.
"Ngomong apa kamu ?" tanya pak TU.
"Nggak pak, cuma lagi mikir" jawab Athena.
"Pak kalau boleh tau, kenapa Axel itu bisa jatuh dari rooftop apa ada yang mendorongnya ? atau karena ingin bunuh diri ?" tanya Athena.
"Kalau itu persis nya bapak tidak tau, tapi sebagian besar orang bilang dia bunuh diri" jelas pak TU.
"Kenapa orang bisa berpikiran seperti itu pak ?" tanya Athena lagi
"Karena dia anak yang pendiam, penyendiri, orang-orang bilang di memang suka duduk sendirian di rooftop. Kadang belajar sendiri disana. Pernah ada guru yang bertanya kenapa dia suka menyendiri di rooftop, dia menjawab kalau di rooftop dia bisa belajar dengan tenang tanpa gangguan" cerita pak TU.
Athena mengangguk-angguk.
"Banyak yang berpikir dia bunuh diri karena kesepian, keluarganya kurang memperhatikan dirinya. Orang tuanya seperti tidak mempedulikannya. Padahal dia anak semata wayang. Tatapannya selalu sedih, tak pernah memandang siapapun. Dia hanya hidup didunianya sendiri.Tapi syukurlah dia masih bisa selamat. Karena tanpa disadarinya, dia justru terjatuh tepat diatas pohon yang dulu ada di situ " ucap pak TU.
"Pohon ? disitu dulu ada pohon pak ?" tanya Athena.
"Kamu nggak liat bekasnya ? dibawah gedung itu dulu ada pohon besar. Dia jatuh tepat diatas pohon itu kemudian jatuh ke lantai. Kalau saja waktu itu langsung ke lantai wah sudah almarhum dia" jelas pak TU.
"Ternyata masih selamat ?" ucap Athena bicara pada dirinya sendiri.
"Tapi ada yang aneh dengan sikap anak itu, sejak pulang dari studi tour di luar kota, sikapnya agak berubah. Kadang riang dan mudah bergaul. Kadang pendiam dan penyendiri. Hingga guru-guru dan teman-teman sekelasnya menilai dia memiliki kepribadian ganda" jelas pak TU sambil mengingat lagi masa lalu itu.
"Haah.. kepribadian ganda ?" jerit Athena kaget.
"Ya, sejak pulang studi tour itu, dia seperti dua orang yang berbeda, anak-anak mengira dia kesambet" ujar pak TU.
"Trus pak ? apa dia bisa normal lagi ?" tanya Athena.
Pak TU menggelengkan kepalanya.
"Mungkin itu yang membuat dia semakin frustrasi, semua anak-anak menertawakannya. Dia dianggap gila, dengan sifat yang jauh berbeda seperti itu. Mungkin karena itu jugalah akhirnya dia berniat bunuh diri" ucap pak TU.
__ADS_1
"Tapi untungnya sejak saat itu dia tidak lagi pendiam , saat terbangun dari koma, dia seperti melepas sifat pendiamnya, hanya saja kecerdasannya berkurang" jelas pak TU.
"Begitu rupanya" ucap Athena sambil mengangguk.
"Dia tidak menamatkan sekolahnya disini, sejak bangun dari koma dan mengalami amnesia, dia dan keluarganya memilih pindah sekolah. Mencari suasana baru dan memulai kehidupan yang baru bersama orang tuanya yang sadar akan kesalahan mereka. Sejak menyadari anak mereka bunuh diri barulah orang tuanya mulai memperhatikan putra mereka" jelas bapak TU itu lagi.
Athena hanya menunggu hingga bapak itu selesai bercerita. Lalu pamit kembali ke kelasnya, sambil berjalan Athena berpikir keras hingga tak sadar berbelok ke kantin. Tidak sadar ? atau memang di otaknya hanya kantin ?
Coba kalau tidak sadar mengerjakan tugas, tidak sadar membaca buku pelajaran, tidak sadar mengerjakan latihan. Pasti tidak sadar rangkingnya naik.
Duduk sendirian di kantin sambil memikirkan cerita bapak TU tadi.
Gimana cara mencari hubungan antara Axel ini dan Axel ku ? batin Athena.
Kayaknya Axel ku salah nama, mending aku mencari informasi tentang dia dibanding Axel ini, batin Athena sambil memandang kertas kecil bertuliskan alamat rumah.
Athena meraih ponselnya, mengirim pesan pada Kimmy. Gadis itu tersenyum lalu memesan tiga mangkok bakso. Tak berapa lama kemudian tiga mangkok bakso itu telah berjejer dimeja menunggu teman-temannya yang siap menyantapnya.
Athena kembali kerumah setelah seharian menjalani rutinitas sekolah. Seperti biasa, berbaring telentang sambil menatap langit-langit kamarnya yang tinggi.
"Axel, kamu ada disini kan ? gimana ini ? informasi tentang dirimu makin kacau, Axel yang ku selidiki sifatnya aneh, nggak kayak kamu. Berarti dia bukan kamu, jadi aku harus mulai dari awal lagi dong nyari info tentang kamu" ucap Athena sedih.
"Kalau capek nggak usah diterusin" bisik Axel.
"Kamu bisa berbisik ?" tanya Athena.
"Aku udah baikan" bisik Axel.
"Tapi belum bisa muncul ya ?" tanya Athena lagi.
"Belum, kalau aku paksa bisa lemah lagi" jawab Axel.
"Kalau gitu jangan, biar kamu pulih dulu.. aku...sabar kok.. nunggu... kamu... " ucap Athena lalu tertidur.
Axel memandang gadis yang terlihat letih itu, hari ini kegiatannya cukup banyak menguras tenaganya. Gara-gara ketahuan makan dikantin sebelum bel berbunyi, Athena, Kimmy dan Vivi dihukum berdiri diselasar hingga bel pulang.
"Mending kita makan sampai habis dulu baru berdiri disini, kan kita perlu sumber tenaga yang banyak" ucap Athena.
"Bakso ku" ucap Kimmy sambil mencibir.
Vivi hanya tertawa cekikikan, perasaan yang tak pernah dirasakannya selama ini. Takut namun juga lucu, perasaan memiliki sahabat dan perasaan menjalani hukuman karena kenakalan mereka sendiri.
Axel membelai helaian rambut Athena, gadis itu masih tertidur saat menjelang senja. Axel rindu dengan pelukan gadis itu, selalu merindukan itu. Dan dia hanya bisa melakukannya saat pergantian waktu, namun kali ini gadis itu tertidur.
Rindu berbincang dengannya tapi tidak tega membangunkannya. Axel menatap lekuk wajah gadis itu lamat-lamat, dari ujung rambut hingga ke bibirnya. Terhenti disitu, Axel tersenyum, lalu perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu. Tinggal sedikit lagi, bibir mereka akan bersentuhan.
Namun Axel menghentikannya, tidak ingin berbuat curang terhadap gadis itu. Dia ingin mendapatkannya atas seizin Athena.
Athena terbangun, langsung menatap wajah Axel yang begitu dekat. Laki-laki itu tersenyum, Athena langsung menoleh ke jendela.
"Kok aku nggak dibangunin sih ?" tanya Athena.
"Kasihan, kamu pasti kelelahan" ucap Axel sambil berdiri disamping ranjang.
Athena bangun, gadis itu langsung menceritakan tentang informasi yang didapatnya.
"Gimana nih ? apa diteruskan mencari informasi tentang diri kamu ?" tanya Athena.
"Nggak usah kalau itu memberatkan kamu" ucap Axel.
"Tapi aku kan udah janji, kamu udah nepatin janji sekarang giliran aku" ucap Athena.
"Nggak usah, lagian nggak ada gunanya. Aku tetap akan bantu kamu kok, meski kamu nggak bisa menemukan jati diriku" ucap Axel.
"Asalkan bisa tetap bersama kamu, aku nggak masalah jika selamanya tidak mengetahui siapa diriku" ucap Axel sambil tersenyum.
"Axel, kalau aku memperkuat kemampuanku, meski kamu sedang lemah bisakah aku tetap melihatmu ?" tanya Athena.
"Mungkin, tapi untuk apa ? semakin kuat kemampuanmu semakin mungkin kamu bisa melihat hantu. Apa kamu tidak merasa takut ? " tanya Axel.
"Tentu saja aku takut, tapi jika tidak begitu. Aku tidak bisa selalu melihatmu" jawab Athena.
Athena sangat panik saat Axel berkata tidak kuat lagi dan terus melemah, disaat mereka melakukan pembuktian kejahatan ibu tiri Vivi. Athena tau Axel melemah dan semakin menghilang.
Athena ingin menolong, namun tidak bisa.
"Kalau gitu aku harus berbuat baik lebih banyak lagi agar kemampuanku lebih bertambah, agar bisa selalu melihatmu. Aku khawatir disaat kamu lemah aku justru tidak bisa melihatmu, padahal disaat itu harusnya aku menjagamu" ucap Athena.
Axel tersenyum mendengar ucapan gadis itu, terdengar sangat polos, perhatian dan penuh kasih sayang.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1