
Axel berdiri membelakangi kelas Athena. Athena yang telah keluar dari kelas langsung terpaku menatap laki-laki yang terlihat seperti Axel itu. Sebagian hatinya merasa rindu dengan Axel hantu yang mengenakan seragam itu dan sebagian lagi tak percaya jika Axel mau mengenakan seragam sekolah lagi. Hingga akhirnya Athena percaya kalau yang berdiri di depannya itu adalah laki-laki yang tubuhnya mirip Axel.
Namun tiba-tiba laki-laki itu membalik badan, saat melihat Athena laki-laki itu langsung tersenyum. Gadis itu terkejut hingga mulutnya ternganga. Axel langsung mendatanginya dan menyumpal mulut ternganga itu dengan mulutnya.
Kimmy, Vivi dan Mia sontak berteriak histeris. Sadar masih di sekolah akhirnya Axel melepaskan ciumannya, mereka pun akhirnya tertawa. Beberapa siswa-siswi yang menyaksikan itu ikut bertepuk tangan. Segera Axel menarik tangan Athena. Gadis itu menoleh pada teman-temannya yang melambaikan tangan mereka sambil tertawa.
Athena tersenyum dan akhirnya mengikuti langkah Axel. Berlari hingga sampai di parkiran, di balik Axle kembali mencium Athena.
"Kak Axel? Benar-benar Kak Axel 'kan?" tanya Athena yang tak ingin tertipu.
Gadis itu langsung melepas kancing seragam Axel dengan cepat.
"Apa-apaan ini? Kamu mau perkosa aku?" tanya Axel.
"Bukan! Mau buktikan ini Kak Axel atau Kak Hardy?" tanya Athena.
Masih mencoba untuk melepas kancing seragam Axel. Laki-laki itu menggenggam kedua tangan Athena. Gadis itu berhenti lalu menatap wajah Axel.
"Hardy tidak akan mau mengenakan seragam ini. Dia bukan siswa di sini lagi," ucap Axel masih menggenggam kedua tangan gadis yang dicintainya itu.
"Tapi Kak Axel juga bukan siswa sini," ucap Athena.
"Kamu salah, aku sekolah di sini, aku melanjutkan sekolahku di sini," jelas Axel.
"Apa? Kakak masuk sekolah ini lagi? Mulai dari kelas X lagi?" tanya Athena dengan matanya yang membulat karena kaget.
"Aku sekolah di sini lagi demi kamu, tapi bukan kelas X tapi di kelas XII IPA 1," jawa Axel.
"Oh bisa gitu? Kakak diizinkan langsung duduk di kelas XII?" tanya Athena semakin semangat.
"Ya sayang, imbalannya setiap hari aku harus mengikuti ujian-ujian yang kulewatkan selama ini untuk mengisi raport-ku," ucap Axel.
"Mengikuti ujian setiap hari? Apa Kakak bisa? Apa tidak stress setiap hari mengikuti ujian?" tanya Athena bertubi-tubi.
"Ya, tidak apa-apa? Aku pilih seperti itu agar bisa satu tingkat denganmu dan kita bisa lulus bareng. Aku akan lakukan itu," ucap Axel.
"Tapi Kakak jenius, aku yakin Kak Axel pasti bisa," ucap Athena meyakinkan Axel dan meyakinkan dirinya sendiri.
"Hmm, aku bisa tapi tetap saja aku butuh dukunganmu," ucap Axel.
"Tentu! Tentu aku akan mendukung Kakak!" seru Athena.
"Bagaimana cara kamu mendukungku?" tanya Axel.
Athena tercenung, lalu tiba-tiba menangkup wajah Axel. Gadis itu membenamkan bibirnya ke bibir laki-laki itu. Axel tak tinggal diam, tak akan mau diam. Mendapat kesempatan menikmati manisnya bermain lidah dengan gadis itu. Mereka melakukannya hingga kehabisan nafas, lalu keduanya tersenyum malu-malu.
Axel segera memeluk gadis yang dicintainya itu. Meresapi pertukaran hangat tubuh mereka, Axel hingga memejamkan mata untuk menikmati bahagianya memeluk tubuh Athena.
"Aku bahagia Athena, sejak bertemu denganmu, perubahan terjadi dalam hidupku. Aku tak pernah merasakan kebahagiaan ini sebelumnya. Aku bahagia bisa mengenalmu, kamu segala-galanya bagiku Athena," ucap Axel masih memeluk Athena erat-erat.
"Tapi sebenarnya aku juga sering membuat Kakak sedih. Aku tidak hanya memberikan kebahagiaan tapi juga kesedihan," ucap Athena.
"Aku tahu tapi saat semua kesedihan itu terlewati tetap saja menjadi kenangan indah bagiku. Bersamamu semuanya semua menjadi indah sayang. Aku rela lakukan apa pun demi bisa tetap bersamamu. Terima kasih Athena," ucap Axel nyaris berbisik.
"Aku yang berterima kasih Kakak, karena Kakak aku bisa membuktikan kalau anak IPS juga bisa belajar serius," ucap Athena.
"Hanya itu, apa itu penting?" tanya Axel.
"Penting! Agar kami tidak dipandang remeh lagi. Selain itu Kakak juga membantuku mendapatkan cinta pertamaku hingga aku tidak punya rasa penasaran lagi dalam hidupku..,"
"Tapi akhirnya gagal," ucap Axel memotong ucapan Athena.
"Tidak apa-apa, yang penting aku tidak penasaran lagi. Lagi pula aku lebih suka jadian denganmu," ucap Athena sambil mengecup leher Axel.
Laki-laki itu merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Athena lekat-lekat.
"Rasanya aku ingin menciummu lagi, kamu menggemaskan tapi aku takut kamu bosan seolah-olah aku selalu ingin mengambil kesempatan darimu. Kalau sudah begini, rasanya ingin menikah saja," ucap Axel.
"Sabar Kak, sebentar lagi kita lulus SMA," ucap Athena.
"Kalau sudah lulus? Emangnya boleh nikahin kamu?" tanya Axel.
"Hmm, dulu Mommy pernah minta begitu tapi setelah dipikir-pikir lebih baik kita kuliah dulu. Tunggu Kakak wisuda dulu setelah itu baru menikah," ucap Athena lalu tersenyum.
Axel terkulai lesu di bahu Athena, gadis itu tertawa. Axel mengajak Athena pulang menggunakan motor sport-nya.
__ADS_1
"Wah, kita pulang pakai ini? Kakak sudah punya SIM?" tanya Athena semangat.
"Aku sudah sembilan belas tahun, aku punya segala macam SIM. Surat Izin Mengemudi, Surat Izin Memacari, Surat Izin Menikahi, kamu ingin surat izin yang mana sayang?" tanya Axel sambil naik ke atas motor sport-nya.
Athena tertawa tertahan mendengar ucapan Axel.
"Kenapa cuma tertawa? Jawab dong? Apa kamu keberatan naik motor ini?" tanya Axel.
Athena menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa masih belum naik?" tanya Axel.
"Aku ingin pandang Kakak dulu, Kak Axel kereeen sekali. Aku jadi jatuh cinta sama Kakak," ucap Athena.
"Jadi selama ini belum jatuh cinta sama aku?" tanya Axel pura-pura kesal.
"Aku jatuh cinta setiap hari sama Kak Axel," ucap Athena dan langsung naik ke atas motor itu.
"Serius kamu nggak keberatan naik motor ini? Kalau nggak suka, aku ganti mobil," ucap Axel.
"Aku suka naik motor ini, kalau naik motor aku bisa peluk Kakak," ucap Athena.
Axel tertawa lalu menyerahkan helm untuk gadis itu.
"Kalau naik mobil bisa ciuman," ucap Axel.
"Kalau naik motor sambil mengemudi aku bisa peluk Kakak. Kalau naik mobil nggak bisa, kalau ciuman bisa di mana aja nggak harus dalam mobil," jelas Athena.
Axel mengangguk sambil tertawa. Mereka pun melaju meninggalkan lingkungan sekolah. Axel mengajak Athena ke rumahnya, selain karena dia yang masih ingin bersama Athena, Ny. Olivia juga sering menanyakannya.
Saat sampai di rumah keluarga Cullen, Athena langsung di sambut oleh Ny. Olivia.
"Sayang, Mommy kangen sekali sama kamu. Kenapa nggak ke sini-sini sih sayang?" tanya Olivia sambil memeluk Athena.
Axel tersenyum melihat ibunya yang begitu memanjakan Athena.
"Gimana hari ini? Waktu melihat Axel di sekolah? Apa kamu kaget?" tanya Olivia.
"Surprise banget Mommy, aku hampir nggak percaya," ucap Athena.
"Ya, Mommy benar, Mommy berhasil menebak isi hatiku. Aku memang nggak bisa jauh dari Athena tapi siapa yang nggak nafsu makan kalau nggak ketemu Athena?" tanya Axel sambil memeluk ibunya dari belakang dan menempelkan dagunya ke pundak Nyonya kaya yang cantik itu.
Ny. Olivia langsung membalik dan mencubit pinggang putranya.
"Kamu ini buka rahasia Mommy aja. Ya sudah, sana makan siang dulu, ajak Athena sekalian ya sayang," ucap Olivia.
"Baik Mom," ucap Axel yang langsung mengajak Athena makan siang bersama.
Athena sebenarnya masih kenyang, saat istirahat siang dia dan teman-temannya sempat makan siang tapi melihat Axel yang terlihat begitu kelaparan, Athena akhirnya menemani laki-laki itu.
"Kakak nggak sempat makan siang di kantin?" tanya Athena.
"Sebenarnya bisa tapi aku pilih mengerjakan soal ujian di ruang guru. Rasanya tanggung terus, guru-guru itu sudah nyiapin soal-soal untuk dikerjakan. Jadi selagi aku semangat mengerjakannya, ya aku kerjakan semua," cerita Axel sambil menyantap makan siangnya dengan lahap.
"Ada berapa mata pelajaran?" tanya Athena.
"Tadi di sediain soal tujuh mata pelajaran. Karena merasa tanggung jadi aku kerjakan aja semuanya," jelas Axel.
Mengerjakan soal ujian hingga tujuh mata pelajaran? Apa nggak stress itu, Oh ya ampun kalau aku mungkin sudah meledak kepalaku, batin Athena sambil menatap laki-laki di sampingnya itu.
Athena memeluk laki-laki itu dari samping dan menyandarkan dagunya di pundak laki-laki itu.
"Jangan terlalu di paksakan Kak," ucap Athena.
Axel menoleh ke arah gadis itu dan tersenyum.
"Aku tidak apa-apa sayang, aku suka mengerjakannya. Sungguh! Jangan khawatir," ucap Axel untuk meyakinkan Athena.
"Baiklah. Tapi benarkah semua ini karena Kakak ingin lulus bareng denganku?" tanya Athena.
"Untuk semuanya, aku ingin mengejar ketinggalanku. Aku ingin lulus SMA, masuk universitas dan kuliah bareng kamu. Tapi percayalah, aku lakukan ini karena aku mampu. Jangan khawatir sayang! Aku senang melakukannya. Aku justru sedih kalau ketinggalan jauh darimu," jelas Axel..
"Baiklah kalau Kakak ingin aku temani belajar akan aku temani," ucap Athena.
"Oh ya? Kamu mau? Sebenarnya tak perlu tapi kalau kamu bersedia, aku senang sekali. Kadang aku bosan menatap tulisan di buku, aku ingin menatap sesuatu yang menyenangkan. Aku rasa kamu bisa menjadi salah satu pemandangan yang menyenangkan," ucap Axel.
__ADS_1
"Lalu kalau nggak ada aku, pemandangan apa yang Kakak lihat?" tanya Athena curiga.
"Foto cewek cantik," ucap Axel yang telah menyelesaikan makannya.
"Apa?" tanya Athena cemburu.
"Kamu ingin tahu?" tanya Axel.
Athena memalingkan wajahnya, tak tertarik dengan ucapan laki-laki itu. Axel meraih dagu gadis itu dan membuatnya menoleh pada Axel. Athena terpaksa menoleh pada laki-laki itu. Axel menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Athena akhirnya tertarik untuk melihatnya. Sebuah foto gadis cantik yang sedang tersenyum.
"Aku meminta foto gadis cantik ini dari Hardy sebelum dia menghapusnya," ucap Axel.
Athena tersenyum
"Kenapa tidak langsung minta padaku? Kenapa harus minta sama Kak Hardy?" tanya Athena.
"Memangnya foto seperti apa yang ingin kamu berikan padaku? Apa yang agak sensual?" tanya Axel.
Athena langsung mencubit pinggang laki-laki itu. Axel menangkap tangan gadis itu.
Aku ingin segera menamatkan sekolah, aku ingin segera di wisuda agar aku bisa segera menikahimu, batin Axel.
"Oh ya Kak, apa Kakak tahu kenapa Kak Hardy bisa bermimpi tentang kita?" tanya Athena.
"Karena dia punya keterikatan denganku, seperti telepati. Karena kami kembar identik, biasanya kalau sakit satu, sakit keduanya. Tapi mungkin itu terjadi saat masih kecil," ucap Axel.
"Lalu kenapa ruh Kakak bisa ketinggalan di rooftop sementara tubuh Kakak dilempar dari atas gedung itu," tanya Athena.
"Aku rasa aku tahu, karena aku pingsan lebih dulu di rooftop. Ruh ku sudah keluar saat Hardy memukulku dengan balok kayu di rooftop gedung sekolah itu," jelas Axel.
"Oh begitu," ucap Athena sambil mengangguk-angguk.
"Kita ke kamar yuk?" tanya Axel yang kemudian tersenyum sendiri karena merasa pernah mengucapkan itu saat tinggal di rumah Athena.
"Kayak suami istri aja ngajak-ngajak ke kamar," sambung Athena yang masih ingat dengan ucap Axel waktu itu yang membuat Athena sontak tertawa.
Axel pun ikut tertawa karena Axel juga masih ingat ucapnya sendiri itu.
"Tinggal bersamamu setiap saat setiap waktu membuatku sangat bahagia," jelas Axel.
"Aku juga Kak," balas Athena.
"Karena itu izinkan aku menikahimu lebih cepat. Aku akan secepatnya menamatkan pendidikanku agar aku bisa bekerja di perusahaan Daddy dan bisa segera menikahimu," bisik Axel.
"Meski begitu, jangan terlalu di paksakan ya Kak. Aku takut Kak? Aku takut Kak Axel jatuh sakit," ucap Athena.
"Baiklah sayang," ucap Axel patuhi ucapan gadis yang dicintainya itu.
Mereka pun berpindah ke kamar Axel. Sesampainya di sana Axel langsung mendorong tubuh Athena ke atas ranjang. Gadis itu memejamkan matanya saat bibir laki-laki itu menjelajah dari wajah hingga ke lehernya. Tangan Axel dan Athena saling menjalin jemari, Axel memang sengaja bersikap agak berani dari biasanya karena laki-laki itu juga ingin Athena menginginkan segera menikah seperti dirinya.
Dan benar seperti itu, apa yang dilakukan Axel membuat Athena ingin segera dinikahi oleh laki-laki tampan itu.
Aku ingin menikah denganmu Kak, aku juga tidak sabar ingin segera menjadi istrimu, batin Athena dengan nafas yang terengah-engah.
"Aku mencintaimu sayang," bisik Axel.
Lalu menghentikan tingkahnya karena takut tak bisa menahan diri. Tak ada yang bisa menghentikan mereka selain mereka sendiri. Meski sedikit kecewa tapi Athena bersyukur, Axel menghentikan perlakuan manisnya.
Laki-laki itu langsung rebah di samping Athena dan menatap langit-langit. Lalu menatap gadis itu, Axel tersenyum bahagia bisa rebah di ranjang itu sambil menggenggam tangan Athena di siang hari.
Mereka menghabiskan waktu dengan bercanda dan belajar. Jika bosan bercanda mereka akan belajar, jika bosan belajar mereka akan bercanda.
Ujian Nasional pun tiba, Axel pun telah menyelesaikan ujian-ujiannya yang telah terlewati. Laki-laki itu sempat diperlihatkan raport-nya yang telah penuh terisi sesuai dengan kelasnya. Axel pun lulus dan menghadiahkan nilai UN tertinggi untuk sekolah itu. Athena, Vivi, Kimmy dan Mia berpelukan saat mereka dinyatakan lulus.
"Lihat itu, pangeran tampanmu datang," ucap Vivi.
"Wah, kalau dia tak perlu ditanyakan lagi lulus atau enggaknya. Orang nilai tertinggi itu dia, siapa yang akan meragukan kelulusannya?" ucap Kimmy.
Athena tersenyum sambil berdiri, menunggu laki-laki yang juga tersenyum ingin mendatanginya. Tapi tiba-tiba Luna datang dan mengucapkan selamat pada laki-laki itu. Tak cukup sampai di situ. Luna juga langsung memeluk Axel. Laki-laki itu terkejut dan langsung menoleh pada Athena.
Tak cukup hanya memeluk, gadis itu juga langsung membenamkan bibirnya ke bibir laki-laki itu. Athena pernah mendengar kalau Luna mulai mendekati idola baru itu namun tak menyangka seberani itu memeluk dan mencium Axel di depan orang banyak.
Evan yang berada tak jauh dari tempat itu pun terkejut dan langsung menoleh ke Athena yang langsung tertunduk. Axel mendorong tubuh gadis itu namun Luna tak mau melepaskannya. Axel panik melihat Athena yang telah berlari masuk ke dalam kelasnya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1