Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 35 ~ Bertemu ~


__ADS_3

Athena berjalan menyusuri jalan perkampungan di luar kota. Setelah mendapat alamat keluarga Raihan dari bapak TU. Athena mencari alamat rumah yang diberikan pak TU itu tapi Athena justru tidak menemukan keluarga Raihan lagi.


"Mereka sudah pindah nak, sejak putranya itu bermasalah di sekolah, keluarga itu merasa malu dan balik ke kampung" ucap pemilik rumah.


"Ibu punya alamat mereka di kampung?" tanya Athena.


"Ada, ibu simpan alamatnya, yang ngasih itu adiknya si Raihan. Dia sedih sekali abangnya di usir dari rumah, dia titip alamat rumah kakek mereka di kampung barangkali si Raihan pulang nyariin keluarganya" ucap ibu itu lalu berdiri berjalan ke kamar.


Ibu itu menyerahkan alamat kakek Raihan di kampung.


"Kakeknya Raihan sudah lama meninggal, rumah itu juga tidak ada yang menghuni karena kasus Raihan akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya yang telah meninggal itu" ucap ibu itu sambil mempersilahkan Athena minum segelas teh manis.


Athena mengangguk kemudian kembali bertanya.


"Ibu tahu apa kasus Kak Raihan?" tanya Athena.


"Nggak terlalu sih nak, ada yang bilang Raihan itu menghamili anak gadis orang tapi nggak mau tanggung jawab hingga anak gadis itu akhirnya bunuh diri, ada pula yang bilang kalau dia mau bertanggung jawab tapi keluarga perempuan itu menolak. Duh, nggak tahu lah nak bingung. Padahal kalau lihat anaknya baik, pinter, suka menolong. Kalau atap-atap rumah ini bocor dia yang bantu perbaiki. Rumah-rumah tetangga yang bohlam mati, cetekan lampu rusak itu Raihan semua yang bantu perbaiki. Pokoknya baik banget, kalau anak-anak sini mau ulangan pada belajar sama Raihan. Ibu seratus persen nggak percaya kalau Raihan menghamili pacarnya. Soalnya anaknya juga taat tapi yang namanya nasib ya. Padahal keluarga itu juga belum lama tinggal di sini" ucap ibu itu dengan raut wajah yang menyesal.


"Ucapan ibu benar, Kak Raihan itu tidak bersalah Bu. Saya menemukan fakta kalau yang menghamili pacar kak Raihan bukanlah Kak Raihan" jelas Athena.


"Benarkan apa kata saya, semua orang di sini bilang kalau baiknya Raihan itu cuma kedok untuk menutupi keburukannya. Tapi saya nggak percaya, orang dia kalau berbuat baik nggak pernah ngomong-ngomong. Di kasi uang tanda terima kasih nggak pernah mau di terima. Sekarang benar kan firasat saya, Raihan itu nggak salah" ucap ibu itu berganti dengan raut emosi.


"Karena itu saya datang mencari keluarganya untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya" ucap Athena.


"Lalu kenapa pacar Raihan itu bunuh diri? Apa menyesal karena berselingkuh dari Raihan terus hamil?" tanya ibu itu.


"Bukan Bu, Kak Raihanna tidak berselingkuh dia diperkosa kakak sepupunya hingga hamil, kak Raihanna juga bukan bunuh diri tapi ingin menggugurkan bayi itu agar Raihan tidak perlu dimintai pertanggungjawaban karena di tuduh menghamilinya" ucap Athena.


"Oh begitu, berarti dia sayang sama Raihan jadi nggak mau Raihan menanggung akibat dari perbuatan orang lain, begitu ya?" tanya ibu itu yang dibalas anggukan oleh Athena.


Athena berbincang dan menjelaskan semua yang diketahuinya agar ibu itu juga bisa membantu memulihkan nama baik Raihan dan keluarganya. Setelah mendapatkan alamat rumah kakek Raihan di kampung barulah Athena pamit pulang.


"Kamu akan ke kampung itu sendirian?" tanya Axel di antara gelap dan terang.


"Berdua sama kak Axel lah" ucap Athena enteng.


"Itu namanya juga sendirian" ucap Axel dengan raut khawatir.


Athena memandang wajah Axel sambil tersenyum, Athena justru merasa senang melihat Axel yang khawatir padanya. Menurutnya kekhawatiran Axel itu berlebihan dan Athena senang karena itu menunjukkan kalau Axel benar-benar menyayanginya.


"Malah senyum-senyum? Orang khawatir malah senyum-senyum dari tadi" ucap Axel sebal melihat ke khawatirannya dianggap remeh oleh Athena.


"Makin ganteng kalau lagi sebel" ucap Athena.


Axel langsung menangkap pinggang gadis itu, Athena tertawa. Axel membaringkan gadis itu di ranjang dan menyumpal mulutnya dengan kecupan lembut. Baru saja Athena ingin memejamkan mata, terdengar ketukan pintu dari Mama Athena.


"Athena.. kamu kenapa? Ketawa-ketawa sendiri" teriak Mama Athena.


Axel juga ikut tertawa, Athena memonyongkan mulutnya.


"Nggak Ma, lagi baca novel lucu" ucap Athena sambil membuka pintu.


"Mama kira kamu udah gila ketawa sendiri. Kadang kayak ngomong sendiri, ketawa sendiri. Baca apa sih? Mana novelnya?" tanya Mama Athena seperti menyelidik.


"Di ponsel dong Ma, sekarang baca novel itu di ponsel" jawab Athena.


"Kamu harus beli novel cetak juga harusnya, segala jenis genre. Kalau Mama tanya kenapa ketawa kamu kasih novel lucu. Kalau kamu marah, kamu kasih genre action. Kalau..." ucap Axel


Brisik, ngomong sekarang lagi, nggak sengaja di jawab malah kacau, batin Athena.


"Kalau novel romance baru nggak usah, biasanya malah hening nggak ada suara. Cuma bunyi kecup-kecup" ucap Axel.


Athena jadi tertawa, Mama Athena langsung menoleh ke anaknya dengan pandangan heran.


Tuh kan, Iiih, Kak Axel iniiiii..., batin Athena.


"Ingat cerita tadi Ma" ucap Athena menjawab tatapan mata heran Mamanya.

__ADS_1


"Hampir Mama bawa konsul ke dokter jiwa kamu" ucap Mama Athena sambil keluar dari kamar Athena.


Athena langsung memukuli lengan Axel.


"Kalau lagi ada Mama jangan ngomong" ucap Athena dengan raut kesal yang di buat-buat.


"Trus bolehnya ngapain? ciuman?" tanya Axel terlihat serius tapi jelas-jelas bercanda.


Athena kembali menepuk lengan Axel.


"Kalau ketahuan gimana? Orang cemas malah diremehin. Nanti Mama bawa dukun kesini buat ngusir kakak baru tahu rasa?" ucap Athena kesal karena khawatir.


"Gimana rasanya? Kita khawatir eh.., yang di khawatirin malah cuek-cuek aja pake senyum-senyum lagi. Tapi benar juga tambah cantik kalau lagi kesal" ucap Axel tersenyum.


Athena langsung memukuli lengan Axel lagi. Laki-laki itu meraih tangan Athena dan memeluknya. Menatap gadis yang dicintainya itu. Teringat kembali tujuan Athena ke kampung itu untuk menjelaskan kesalahanpahaman keluarga Raihan. Axel tidak bisa melarang gadis itu untuk pergi. Athena ingin segera menuntaskan janjinya pada Raihanna.


"Biar kak Raihanna segera kembali ke alam yang sebenarnya agar kak Axel tidak selingkuh dengannya" ucap Athena.


Alasan Athena segera ingin menyelesaikan masalah Raihanna membuat Axel tertawa.


"Ya, kalau aku selingkuh dengannya pasti nggak bakalan ketahuan. Siapa yang bisa melihat kami, gadis kecil ini cuma bisa melihatku di antara gelap dan terang. Selebihnya kalau mau selingkuh emang bisa sih" ucap Axel seperti berpikir dan bicara sendiri.


Athena kembali memukul dada Axel dengan raut wajah yang benar-benar kesal.


"Kok marah beneran?" tanya Axel.


"Siapa yang gadis kecil?" ucap Athena marah.


"Oh marah di bilang gadis kecil rupanya. Emangnya udah besar?" tanya Axel kembali menggoda.


Athena pura-pura ngambek dan langsung membuka pintu untuk keluar. Axel mendorong menutupnya kembali lalu memeluk Athena.


"Waktuku cuma sebentar, setelah ini aku akan merasa sedih lagi hingga besok menjelang pagi. Waktuku untuk merasa bahagia cuma dua waktu itu. Maafkan aku sudah membuatmu kesal" ucap Axel.


Athena tersenyum dalam pelukan Axel.


Axel juga ikut tertawa, laki-laki itu lega. Athena cuma berpura-pura marah padanya. Laki-laki itu rela melakukan apa pun, menukar apa pun dengan apa pun tapi jangan harap memintanya untuk menukar waktu saat-saat dirinya bersama Athena.


Dan saat ini Athena sedang berjalan di sebuah jalan kampung. Axel hanya bisa mengiringi langkah Athena, berbicara sendiri meski tidak terdengar oleh siapapun. Memandang wajah gadis itu yang asyik menelusuri jalan dengan aroma sejuk daun-daunan.


Sampai di sebuah rumah yang telah digambarkan oleh perangkat desa setempat. Athena masuk ke sebuah rumah sederhana namun memiliki halaman yang luas. Mengetuk pintu dan seorang gadis lebih muda darinya membuka pintu.


"Siapa Raisa?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Tamu Bu, dari kota" teriak Raisa.


Athena di persilakan masuk, dengan rasa penasaran ibu-ibu itu langsung bertanya keperluan Athena datang berkunjung. Gadis itu menjelaskan maksud kedatangannya. Ibu itu terkejut lalu menyuruh gadis tadi menjemput bapaknya di ladang.


"Raihan mendapat beasiswa di sekolah itu dan sangat ingin bersekolah di sana. Padahal ada sekolah juga di kampung kami dulu tapi karena dia begitu ingin sekolah di sana dan dia menunjukkan prestasinya kami jadi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyekolahkannya di sekolah elit itu" jelas Ibu itu.


Tak lama kemudian Raisa datang bersama bapaknya. Athena pun langsung menjelaskan maksud kedatangannya. Gadis itu meminjam buku harian Raihanna pada keluarganya untuk memberikan bukti kesalahanpahaman keluarga itu.


Bapak Raihan menangis, laki-laki yang telah renta itu menyesal telah mengusir putra kesayangannya.


"Dia anak yang baik, andalan keluarga kami. Aku tidak percaya rumor itu tapi orang-orang di sekitar kami begitu mempercayainya. Bapak tidak sanggup menatap orang yang menyalahkan keluarga kami. Bapak terpaksa mengusirnya demi menunjukkan bahwa kami juga tidak suka dengan kejadian itu. Kami juga tidak menginginkan kejadian seperti itu. Bapak tidak ingin di bilang gagal mendidik anak" ucap Bapak Raihan.


Bapak itu menghapus air matanya, terpaksa hidup berpisah dari putra yang disayanginya. Merasa sangat menyesal karena memilih mengikuti pemikiran orang-orang yang tidak menyukai putranya. Menyesal karena tidak memihak pada putranya.


"Apa bapak dan keluarga tahu di mana Kak Raihan sekarang?" tanya Athena.


"Kami tidak tahu lagi di mana dia sekarang, sejak pergi dia tidak pernah kembali lagi" ucap ibu itu juga menangis.


"Raisa tahu Bu di mana Kak Raihan" ucap Raisa sambil menunduk.


"Benarkah nak? Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya ibu Raihan hampir tidak percaya.


"Waktu itu Raisa nggak sengaja bertemu dengan Kak Raihan. Nani mengajak Raisa jumpa penulis di sebuah toko buku di kota. Penulis itu idolanya Nani. Saat launching buku Nani mengajak Raisa ke acara itu untuk meminta tanda tangan. Raisa tentu saja tidak mampu membeli buku itu, saat menunggu, iseng melihat seperti apa penulis buku yang terkenal itu. Saat Raisa lihat ternyata penulis itu Kak Raihan" jelas Raisa.

__ADS_1


"Benarkah nak, kamu tidak salah lihat?" tanya ibu itu lalu menangis terharu.


"Benar Bu, Raisa samperin Kak Raihan. Kakak langsung peluk Raisa dan bertanya keadaan bapak dan ibu" jelas Raisa lagi.


"Lalu gimana caranya biar kita bisa bertemu dengannya?" tanya bapak Raihan.


"Raisa di kasi alamat rumahnya, tadinya Kak Raihan ingin mengajak menginap di rumahnya tapi kami pergi ke kota diam-diam kami tidak bisa berlama-lama pergi. Lalu Kak Raihan memberikan alamat rumahnya" ucap Raisa.


"Syukurlah, kalau begitu kita bisa langsung menemuinya ke sana Pak" ucap ibu Raihan begitu semangat.


"Ibu dan Raisa saja yang pergi, bapak di rumah saja" ucap bapak Raihan dengan raut sedih.


"Sebaiknya Bapak juga ikut pergi, Kak Raihan pasti sedih kalau Bapak tidak ikut" ucap Athena.


"Benar Pak, kita harus menyelesaikan kesalahpahaman ini agar tidak ada penyesalan lagi. Jika kita bersalah Pak, kita harus minta maaf meski tidak mendapatkan maaf itu yang penting kita harus menunjukkan rasa penyesalan kita pak" bujuk Ibu Raihan.


"Kakak juga ikut ya bersama kami" ajak Raisa.


"Kenapa? Saya sama sekali nggak ada urusan kesana Raisa" ucap Athena.


"Kak Raihan pasti bertanya dari mana kita tahu kebenaran ini. Kak Raihan pasti juga ingin berterima kasih sama Kakak" ucap Raisa sementara ibu dan bapak itu mengangguk setuju.


Mereka pun akhirnya berangkat ke alamat yang di beri Raihan. Mereka menuju ke sebuah rumah yang terpencil di daerah perbukitan dengan berbagai macam tumbuhan-tumbuhan di sekitarnya.


Mereka meniti di jembatan kayu menuju rumah yang terletak lebih tinggi di perbukitan itu.


"Tempat ini asri sekali ya Pak, tenang dan nyaman" ucap ibu itu saat berjalan menuju rumah di atas bukit itu.


Athena juga ikut menikmati alam sekitar sambil berbincang dengan Raisa. Mereka pun sampai di depan rumah. Baru menginjakkan kaki di teras itu, pintu rumah telah terbuka lebar. Raihan berlari memeluk ibu dan bapaknya bergantian. Raisa juga ikut memeluk kakaknya.


Terlihat kerinduan begitu besar di wajahnya pada seluruh keluarganya. Mereka berpelukan begitu lama. Tak peduli dengan masalah yang pernah memisahkan mereka. Begitu melihat keluarganya datang tanpa ada rasa dendam dan sakit hati Raihan merentangkan tangan memeluk orang tuanya.


Raisa segera mengenalkan Athena pada kakaknya. Athena menyambut uluran tangan Raihan, laki-laki itu mengajak semua masuk ke rumah. Di sana mereka melihat figura-figura yang mendokumentasikan acara-acara penganugrahan.


Souvernir penghargaan berjejer di meja dan dinding rumah. Mereka kagum melihat prestasi Raihan. Laki-laki itu bahkan menyelesaikan kuliahnya dengan biaya sendiri.


Raisa menjelaskan kedatangan Athena ke rumah mereka dan menjelaskan semua kejadian yang menimpa Raihanna. Raihan termenung saat melihat buku harian gadis yang dicintainya itu. Mengusap lembut diary itu sambil menitikkan air mata.


Hening saat laki-laki itu mengenang masa-masa indah bersama Raihanna. Laki-laki itu sama sekali tidak menaruh dendam sama sekali pada keluarganya. Raihan begitu senang dapat berkumpul lagi dengan orang-orang yang disayanginya.


"Terima kasih Athena" ucap Raihan.


Menyapa Athena yang sedang menikmati alam perbukitan di teras dengan pagar pembatas yang dapat menatap langsung ke lembah di bawahnya.


"Hanya bantuan kecil saja" ucap Athena.


"Bantuan kecil? Kamu telah menyatukan keluarga kami yang terpisah lama. Itu bantuan kecil? Bagi orang yang suka menolong semua bantuannya dianggap tidak berarti. Tapi bagi orang lain itu sebuah pertolongan besar" ucap Raihan.


Athena hanya tersenyum, Raihan menatap Athena yang menunduk.


"Persis seperti yang digambarkan Raihanna" ucap Raihan.


"Ya?" tanya Athena tak mengerti.


"Aku memimpikan Raihanna belum lama ini. Apakah kamu pernah merasakan ada perbedaan waktu di alam mimpi dan alam nyata?" tanya Raihan.


"Seperti kita mengalami mimpi yang panjang sementara kita hanya tidur sebentar?" tanya Athena.


"Ya, saya mengalaminya belum lama ini, saat tidur aku mengalami kembali saat-saat pertemuanku bersama Raihanna. Semua terasa begitu nyata, terulang kembali dari awal hingga akhir" ucap Raihan menoleh ke arah Athena.


"Sejak kak Raihan bertemu di tembok sekolah hingga keluar dari sekolah?" tanya Athena.


"Hm.. dari pertama kali aku bertemu dengannya hingga detik ini bertemu denganmu" ucap Raihan sambil menatap Athena.


"Apa?" ujar Athena heran.


"Aku sudah melihatmu di dalam mimpi, Raihanna ingin aku lebih mengenalmu, dia ingin kita bersama. Apa kamu ingin bersamaku?"

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2