Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 22 ~ Jangan Sakit ~


__ADS_3

Evan datang mengunjungi Athena, gadis itu merasa malu dengan penampilannya. Tapi, Evan justru menyanjung Athena yang tetap cantik walaupun dalam keadaan sakit dan sama sekali tidak berdandan. Untuk menunjukkan perhatiannya Evan bahkan mengecup bibir gadis itu.


Lagi-lagi Athena merasa tidak enak hati pada Axel yang juga berada di kamar itu. Tapi sudah menjadi komitmen bagi Axel untuk membebaskan Athena, dengan cepat laki-laki hantu itu menghilang. Saat Athena melihat ke arah Axel, laki-laki itu sudah tidak ada lagi.


"Kenapa sayang?" tanya Evan yang heran melihat sikap Athena.


"Tidak apa-apa" ucap Athena sambil menunduk.


"Aku tidak melihatmu di kelas, jadi aku tanyakan pada teman-temanmu. Mereka bilang kamu tidak masuk sekolah karena sakit. Karena itu, aku datang menjenguk" ucapnya pada Athena.


"Tadi ngomong apa sama mama? kenapa bisa di suruh datang ke kamar ini?" tanya Athena.


"Awalnya aku bilang teman, lalu mama kamu bilang kalau aku perhatian sama kamu. Mama kamu tanya apa aku ini pacar kamu, aku bilang rencananya, lalu di suruh ke kamar ini untuk menjengukmu. Sebenarnya kamu sakit apa, sayang?" tanya Evan sambil menempelkan telapak tangannya ke kening Athena.


"Aku tidak demam, aku hanya sakit perut" ucap Athena.


"Oh ya, kenapa bisa sakit perut?" tanya Evan.


"Karena terlalu banyak makan sambal" cerita Athena.


"Kamu nggak kuat makan sambal?" tanya Evan sambil tertawa.


"Bukannya nggak kuat makannya tapi nggak kuat perutnya" bantah Athena.


"Mulai sekarang jaga makanan yang masuk ke dalam perutmu, jangan sembarangan makan lagi kalau tidak kuat" ucap Evan menasehati.


"Makasih udah datang menjenguk" ucap Athena.


"Aku lega kamu nggak apa-apa, tadinya aku kira kamu marah gara-gara aku kemaren nyosor tanpa izin. Kamu tahu? siapa pun yang melihat senyummu akan langsung ingin menciummu. Karena senyumanmu manis sekali" ucap Evan lagi.


Athena hanya tertunduk sambil tersenyum mendengar gombalan Evan. Laki-laki itu meraih tangan Athena dan mencium telapak tangannya. Athena memandang wajah Evan yang sedang asyik menikmati aroma tangan gadis itu.


"Aku nggak sabar menunggu pesta perpisahan. Aku sangat ingin menjadi pasanganmu di pesta itu. Aku sangat ingin orang-orang melihatku datang bersamamu. Karena itu jaga kesehatanmu jangan sampai sakit lagi ya sayang" ucap Evan menasehati Athena.


Gadis itu mengangguk, benar yang dikatakan Axel. Saat hantu itu tidak ada di sampingnya maka perasaan Athena terasa bebas menerima perlakuan manis Evan. Tapi meski begitu Athena tetap merasa ada sesuatu yang hilang dalam hatinya.


"Boleh aku menciummu sekarang?" tanya Evan meminta izin.


"Tapi bukankah tadi..., lagi pula bagaimana kalau mama datang?" tanya Athena sambil melihat pintu yang terbuka.


"Tadi itu bukan ciuman tapi kecupan, lagi pula kita cuma melakukan sebatas itu. Kita tidak akan melakukan hal yang di luar batas karena itu kita tidak boleh menutup pintu itu, benarkan?" tanya Evan.


Athena mengangguk, meski ragu-ragu. Anggukannya untuk menyetujui tidak menutup pintu atau untuk tidak keluar dari batas atau untuk menerima ciuman Evan. Tapi laki-laki itu telah kembali mendekat. Mendaratkan ciumannya di bibir Athena. Dan benar ini sebuah ciuman bukan sekedar kecupan, karena Evan melakukannya dengan sangat dalam seperti yang dilakukannya bersama Axel.


Athena memejamkan matanya, meski rasanya berbeda tapi Athena justru membayangkan wajah Axel. Athena membelai wajah Evan, membuat laki-laki itu semakin kuat memeluk Athena. Evan semakin memperdalam ciumannya, membuat napas mereka tersengal-sengal.


"Maukah kamu jadi pacarku?" tanya Evan sesaat setelah dia melepas ciumannya.


Mereka kehabisan napas karena terlalu meresapi ciuman hangat tadi. Evan melepaskan ciumannya namun masih tetap dekat di wajah Athena. Laki-laki itu menyatakan permintaan pada Athena dengan bibir mereka yang masih saling bersentuhan.


Athena merasa gerakan bibir Evan di bibirnya, Evan masih enggan menjauhkan wajahnya dari Athena. Seakan-akan bersiap-siap untuk menciumnya lagi.


"Aku, aku..." ucap Athena yang ragu-ragu.


"Ayolah, terimalah aku" ucap Evan masih menyentuhkan bibirnya pada bibir Athena.


Napas laki-laki itu terasa menerpa wajah Athena, gadis itu baru saja akan membuka mulutnya untuk menjawab ketika terdengar suara mamanya bicara sambil naik tangga. Evan langsung bergegas mundur duduk di ujung ranjang.


Mama Athena sengaja bicara dengan suara keras, mama Athena tidak ingin membuat malu anaknya. Melihat pintu kamar Athena yang terbuka, mama Athena tersenyum.


"Mama bikin cemilan, apa mau di bawa ke atas atau mau di cicipi di bawah?" tanya mama Athena.


"Oh, nggak usah repot-repot tante" ucap Evan berbasa basi.

__ADS_1


"Sore-sore begini biasanya Athena sudah lapar, bawaannya nyari cemilan melulu. Kalau di suruh nunggu sampai makan malam pasti dia udah terkapar" cerita mama Athena.


"Rupanya Athena suka ngemil tapi syukur ya tante, badan Athena tetap langsing" ucap Evan.


"Ya, karena dia suka cemilan yang gurih, nggak suka yang manis-manis mungkin itu sebabnya badan Athena nggak kelebihan lemak" ucap mama Athena.


"Lagian buat apa lagi Athena makan yang manis-manis, Athena aja udah sangat manis Tante" ucap Evan sambil tertawa.


Athena hanya tertunduk mendengar perbincangan ibunya dan Evan. Terdengar sangat akrab, sebelum di izinkan naik ke atas sini, tentu saja Evan telah di interogasi lebih dulu oleh mamanya. Ada perasaan senang karena laki-laki yang disukainya selama ini mendapat respon baik dari orang tuanya.


Namun, ada perasaan sedih setelah mengenal Axel, hati Athena jadi mendua. Bagaimanapun juga Athena bisa mendapat perhatian dari Evan, semua karena Axel. Pertolongan dan perhatian hantu itu justru membuat hati Athena berbelok kearahnya.


Namun, Axel tahu diri, sebab itu selalu memberi dukungan pada Athena untuk meneruskan cintanya. Axel hanya ingin menjadi orang yang ada di hati Athena namun tidak berhak untuk memilikinya apalagi melarangnya memiliki cinta yang nyata.


"Ayo, kita turun ke bawah" ajak mama Athena.


Evan langsung mengulurkan tangannya, mengajak Athena. Gadis itu menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum simpul. Mereka bergerak menuruni tangga hingga sampai ke serambi belakang. Disana mereka bisa bersantai sambil menikmati makanan buatan mama Athena dengan pemandangan taman bunga serta pohon yang menghasilkan buah yang lebat.


"Ini cita-cita mama saat ingin membeli sebuah rumah, memiliki taman belakang dengan banyak pohon buah. Jika musim mangga, kita petik mangga, musim alpukat, kita makan alpukat, musim lengkeng kita makan lengkeng yang terpenting dari semua khayalan itu. Mama ingin punya cucu yang banyak, yang suka berlari di antara pohon-pohon itu" cerita mama Athena.


"Wah, khayalan yang indah Tante, saya jadi ikut kepikiran juga. Tapi gimana punya cucu banyak jika Tante cuma punya seorang putri?" tanya Evan sambil tersenyum.


"Yah, tentu saja mengandalkan seorang putri itu" ucap mama Athena sambil tertawa.


"Kalau gitu Athena harus melahirkan anak yang banyak dong" ucap Evan.


Mama Athena mengangguk, Athena meringis tak sakit.


"Ma, apaan sih masih kejauhan mengkhayalnya" ucap Athena merasa malu dengan cerita mamanya.


"Lihatlah Evan, wajah Athena jadi memerah" ucap mama Athena sambil tertawa.


"Nggak apa-apa sih, khayalan mama kamu bagus dan harus direncanakan, ya kan Tante" ucap Evan justru membela mama Athena.


"Udah kalau gitu ngobrol berdua aja, aku nggak mau ikutan berhalusinasi" ucap Athena hendak berdiri dari kursi santai serambi.


Perlahan akhirnya Athena duduk sambil tertunduk, gadis itu sama sekali tidak suka dengan pembicaraan itu. Mama Athena merasa menyesal di hati melihat Athena yang keberatan mendengar pembicaraan tadi. Dalam hatinya merasa bersalah karena beranggapan kalau Athena sangat menyukai Evan.


"Kalau gitu mama kembali ke kamar ya, mama mau istirahat" ucap mama Athena.


Mama Athena kembali ke kamarnya setelah meminta diri pada Evan.


"Ya, Tante selamat istirahat" ucap Evan.


Setelah mama Athena masuk ke kamarnya, Evan langsung menatap Athena. Menggenggam tangan gadis itu, lalu mencium punggung tangannya. Athena hanya bisa memandang perlakuan Evan dengan perasaan bimbang.


Harusnya aku bahagia mendapat perlakuan manis seperti ini tapi kenapa semua terasa menjadi beban. Bukankah Evan yang aku inginkan selama ini? batin Athena.


Setelah mencium punggung tangan gadis itu, Evan menggenggamnya di bawah dagunya, kedua sikunya bertumpu pada kedua pahanya. Evan memandang Athena sambil tersenyum.


"Kamu nggak boleh bersikap seperti itu pada mamamu, beliau pasti sedih dengan ucapanmu tadi. Nanti kamu minta maaf padanya ya?" pinta Evan.


Athena mengangguk, dia sendiri sudah merasa menyesal dari tadi. Apalagi saat mamanya minta diri, Athena merasa mamanya sedih akan sikapnya.


"Kamu takut kalau mama kamu berharap terlalu banyak sama hubungan kita? karena kamu belum yakin sepenuhnya pada perasaanmu padaku" ucap Evan.


Athena langsung menatap wajah Evan, sejujurnya gadis itu kaget karena Evan seperti tahu apa yang ada di hatinya.


"Benarkan? apa yang membuatmu nggak yakin sama aku? apa karena Luna? atau karena aku terkenal playboy? suka gonta-ganti pacar? lalu menurutmu apa yang harus aku lakukan? agar aku tidak di cap playboy? saat tidak lagi memiliki seorang pacar, aku bertahan menjomblo? apa harus begitu?" tanya Evan bertubi-tubi.


"Bukan begitu, aku tidak berhak mengaturmu. Tidak masalah bagiku kamu bergonta-ganti pacar. Cowok populer kayak kamu tentu saja banyak yang mengincar, kamu tinggal comot gadis mana yang kamu mau tapi kenapa kamu tidak bisa bertahan pada satu orang gadis saja?" tanya Athena.


Evan tersenyum mendengar persepsi Athena tentang dirinya.

__ADS_1


"Aku bisa comot gadis mana pun yang aku mau?" tanya Evan.


Athena mengangguk.


"Apa aku tidak salah dengar? aku telah lama mengenalmu. Sudah lama pedekate denganmu, kita juga menghabiskan hari-hari bersama. Tapi, saat tadi aku memintamu menjadi pacarku, kamu belum memberikan jawabannya, apa masih mudah bagiku mendapatkan seorang gadis?" tanya Evan.


"Mudahkah bagiku mendapatkanmu?" bisik Evan kembali mendekatkan bibirnya pada bibir Athena.


Athena menoleh ke kiri dan ke kanan, serambi belakang itu jelas terbuka. Siapa saja bisa melihat mereka, mamanya atau para asisten rumah tangga bisa saja lewat di depan mereka, tapi Evan terlihat cuek. Dia tidak peduli dengan sekelilingnya.


Jika ada yang melihat itu lebih baik, jika semua orang mengira aku adalah pacarmu, akan lebih mudah bagiku mendapatkanmu, batin Evan.


Athena tersandar di sandaran kursi, gadis itu dalam kungkungan Evan. Tidak bisa kemana-mana, bibir Evan sudah siap melahap bibir Athena. Namun, tiba-tiba gelas kristal di meja terjatuh mengagetkan mereka. Evan urung mencium Athena.


Athena segera duduk menjauh, dadanya berdebar kencang.


Ya ampun, nekat amat sih Evan, aku jadi takut. Seperti inikah dia memperlakukan pacar-pacarnya dulu? lalu setelah putus, Luna masih tetap mau menerimanya? apa aku akan masuk dalam deretan gadis-gadis pengisi kekosongannya saat tidak bersama Luna? jerit hati Athena.


"Ada apa non? apa yang pecah?" tanya seorang asisten rumah tangga.


Athena menunjukkan gelas yang pecah berantakan agak jauh di teras. Entah bagaimana gelas itu bisa sampai kesana.


"Kenapa bisa sampai di situ?" tanya Evan.


"Mungkin tidak sengaja tersenggol, maaf ya" ucap Athena.


Evan tersenyum lalu mengangguk, tak berapa lama kemudian Evan pamit pulang. Athena langsung berlari ke kamarnya mencari Axel. Athena berlari ke semua sudut ruangan memanggil nama laki-laki itu. Namun, Axel tidak menyahut, Athena menangis berlari mencari.


Ke kamar mandi, ke balkon atau di tempat biasa dia bersandar yaitu meja belajar. Athena meminta laki-laki itu berbisik padanya namun Athena tidak mendengar apa pun. Athena melihat ke arah ranjangnya.


Mungkinkah Axel istirahat di situ? jika dia mengeluarkan kekuatannya di luar pergantian waktu, tubuhnya akan lemah, Axel akan merasakan sakit, batin Athena.


Gadis itu berjalan mendekati ranjang dan merebahkan dirinya. Menatap langit-langit kamar, air matanya mengalir, sangat ingin mengetahui keadaan Axel tapi laki-laki tak bisa dilihatnya.


"Maaf Athena" bisik Axel.


Athena kaget, terdengar bisikan Axel. Gadis itu tersenyum, ternyata Axel ada didekatnya. Athena tetap pada posisinya, agar Axel bisa tetap berbisik padanya.


"Aku yang harusnya meminta maaf, karena aku, kamu jadi lemah bukan?" tanya Athena.


Axel diam.


"Apa sangat sakit? kalau begitu istirahatlah. Kita ketemu di pergantian waktu ya" ucap Athena.


"Baiklah" jawab Axel dengan berbisik.


Athena berdiri sambil tersenyum, menoleh ke arah ranjang yang kosong seakan-akan bisa melihat Axel ada di sana. Gadis itu berjalan keluar dari kamar untuk menemui ibunya.


"Ma, Athena boleh masuk?" tanya gadis itu setelah mengetuk pintu.


"Masuklah nak" jawab mama Athena dari dalam kamar.


Athena langsung membuka pintu kamar dan melihat ibunya yang sedang merajut di atas ranjang. Athena memeluk mamanya dari belakang.


"Maafin sikap Athena tadi ya ma" ucap Athena.


"Nggak apa-apa, mama juga berlebihan bicara seperti itu di depan orang yang baru di kenal. Tapi dari sikapmu tadi, sepertinya kamu tidak begitu suka sama Evan?" tanya mama Athena.


"Athena belum yakin padanya ma, sebenarnya dia orang yang Athena suka dari dulu. Tapi entah kenapa, sejak dekat dengannya Athena justru merasa tidak yakin lagi pada perasaan Athena sendiri" ucap Athena.


Mama Athena memeluk anaknya, membelai lembut rambut Athena lalu mengecup pipi anak gadisnya.


"Memang seperti itu nak, kadang kita ragu apakah yang kita sukai adalah yang terbaik untuk kita, jalani saja dulu, lalu biarkan hatimu yang menentukan nanti" ucap mama Athena.

__ADS_1


Athena mengangguk lalu mencium kedua pipi mamanya lalu kembali bersandar pada wanita paruh baya yang bijaksana itu.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2