Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 27 ~ Di Pesta ~


__ADS_3

Athena bingung menjawab, Evan menunggu. Tiba-tiba terdengar suara Kimmy yang meneriakkan kata-kata terima dan seluruh tamu pesta pun akhirnya ikut meneriakkan.


"Trima..., trima..., trima..., trima...," berulang kali.


Athena baru saja akan membuka mulutnya untuk menjawab tiba-tiba Athena melihat sesosok bayangan yang mirip Axel, Athena diam terpaku. Menatap bayangan itu, tanpa sadar Athena bergerak hendak mengejar. Evan menahan tangan Athena.


Gadis itu akhirnya kembali ke dunianya, dimana Evan masih menunggu jawabannya. Melihat sekeliling orang yang mendukungnya. Akhirnya Athena mengangguk menyatakan setuju.


Evan tersenyum langsung memeluk Athena, tak berapa lama kemudian seorang gadis datang membawa buket bunga yang besar dan cantik. Gadis itu menyerahkannya pada Evan. Dan Evan langsung menyerahkannya pada Athena.


"Cium.., cium.., cium.." terdengar suara dari arah tamu pesta.


Tak mungkin lagi dari Kimmy karena Kimmy sendiri bengong mendengar teriakan itu. Semua orang kembali latah meneriakkan. Segera Evan mendekati Athena, mendaratkan ciuman yang dalam pada gadis itu.


"Langsung nikah aja" terdengar teriakan lagi.


Semua tertawa, alunan musik lembut kembali mengalun. Semua mengambil posisi berdansa begitu juga dengan Evan. Laki-laki itu langsung melingkarkan tangannya di pinggang Athena, menarik tubuh gadis itu mendekat padanya.


Masih di atas panggung, sorotan lampu terarah pada mereka. Semua orang mengagumi pasangan romantis itu, Athena yang cantik, Evan yang ganteng. Berdua mereka berdansa pelan dan saling menatap. Buket bunga memperindah tampilan dimana Athena menggenggam buket itu di balik punggung Evan.


Evan semakin mendekatkan tubuh mereka hingga menempel. Kembali Evan menyatukan bibir mereka, Athena pasrah sambil memejamkan matanya. Pikirannya kosong hanya mengikuti apa yang Evan lakukan. Menikmati? mungkin saja atau hanya pasrah membiarkan keinginan laki-laki itu.


"Terima kasih sayang" bisik Evan.


Lalu kembali mengecup bibir Athena.


"Inilah pasangan kontroversi yang pernah ada, seorang anak IPS menjadi pasangan anak IPA. Luar biasa, jangan pernah putus asa. Jangan pernah rendah diri, lihatlah anak IPS ini berhasil menggaet anak IPA. Silakan tepuk tangan" terdengar suara yang terdengar dari speakers.


Sebagian dari tamu siswa yang hadir bertepuk tangan, sebagian lagi terheran-heran. Kata-kata itu seolah-olah memberi semangat tapi juga menghina. Evan mencari-cari dari mana asal suara itu.


"Siapa yang bicara itu?" tanya Athena.


Evan memandang pada Athena yang baru saja bertanya. Laki-laki itu terlihat bingung, entah bingung karena tidak tahu jawabannya atau bingung karena tidak ingin menjawab yang sebenarnya. Athena bergerak turun dari atas panggung.


Evan menahan tangan Athena, langkah kaki gadis itu terhenti lalu memandang pada Evan yang hanya diam.


"Aku ingin duduk" ucap Athena singkat.


Evan melepaskan tangan Athena, gadis itu melangkah pelan mencari meja yang kosong. Sementara itu Evan pergi entah kemana.


"Siapa yang bicara tadi?" tanya Kimmy.


"Kayaknya Luna deh, cuma suaranya agak di tahan gitu" ucap Vivi.


"Loe nggak apa-apa kan?" tanya Kimmy.


Athena tersenyum simpul dan menggeleng lemah. Sejujurnya dia tidak peduli dengan ucapan suara yang muncul dari speakers tadi. Pikirannya justru pada sosok bayangan yang dilihatnya tadi.


"Kurang ajar banget ya masih aja memandang jurusan. Kalau dari gaya sok nya kayaknya emang Luna deh. Dia itulah yang masih mempermasalahkan jurusan" ucap Kimmy.


"Athena, Evan kemana?" tanya Vivi.


Athena menggelengkan kepalanya.


"Baru jadi pacarnya udah ditinggal sendiri, ntar Athena nyari yang lain baru tahu rasa loh" ucap Kimmy.


Athena terbelalak.


"Gua pergi bentar ya" ucap Athena langsung berdiri.


"Kemana?" teriak Kimmy.


"Toilet" ucap Athena asal.


Gadis itu berlari sekencang-kencangnya ke arah gedung lain di sekolah itu. Hari ini lampu-lampu dinyalakan hingga tidak terlalu menakutkannya. Tapi gedung tertinggi di sekolah itu cukup jauh. Hingga perlahan Athena mulai menjauhi keramaian.


Athena melihat pintu teralis yang di gembok, Athena bersandar letih pada teralis itu. Air mata mengalir tubuhnya letih dan harus kecewa karena tidak bisa segera mencari Axel di rooftop.


"Dia tidak ada di sini" ucap suara dari sampingnya.


Athena kaget, terlihat wajah pucat yang memandang ke arahnya. Athena gemetar meski telah sering melihat hantu perempuan itu tapi tetap saja Athena ketakutan. Tapi demi Axel, gadis itu memberanikan diri bertanya.


"Dia dimana kak?" tanya Athena sambil berusaha untuk tetap berani menatap Raihanna.


Raihanna juga memandang ke arah Athena namun pandangannya kosong seakan-akan jauh menembus wajah Athena. Raihanna tersenyum, senyum hambar yang mengerikan. Jika bukan karena Axel, gadis itu pasti sudah berlari dari situ.


"Dia tidak ingin bertemu denganmu" ucap Raihanna pelan.

__ADS_1


Air mata Athena langsung mengalir, Axel sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi. Laki-laki itu tidak ingin ditemukan olehnya lagi. Athena melangkah dengan lunglai keluar dari gedung sekolah itu dan berjalan sambil terisak menuju aula.


Berjalan pelan di selasar sekolah sambil menunduk. Athena mendengar sesuatu, berharap Axel berada di sana. Athena bergerak ke samping kelas yang berada di ujung itu.


"Serius nih, loe bisa dapatin perawannya malam ini" ucap seseorang.


"Itu kalau dia masih perawan?" ucap yang lain, semua tertawa.


"Pastilah, dia udah terima gua jadi pacarnya kan?" ucap yang lain.


Athena terperangah, dengan cepat menutup mulutnya dengan tangannya. Athena mengenali suara Evan dengan jelas. Gadis itu berdiri di balik kelas itu sambil bersembunyi.


"Hebat loe kalau bisa dapatin dia, ceweknya cantik gitu. Kalau bukan anak IPS udah dari dulu gua pacarin" sambung yang lain.


"Kalau dia anak IPA, udah lama juga kali Evan pacarin dia" ucap anak yang lain.


"Ya udah kita taruhan kalau loe emang bisa perawanin tuh cewek, loe yang menang kalau nggak loe bayar kita semua" ucap suara yang lain.


"Ok..!!!" jawab Evan.


Mendengar itu Athena langsung berlari dari tempat itu. Perasaannya bercampur aduk, sedih, takut, marah dan kecewa, Evan ternyata bermaksud buruk padanya. Evan menyadari ada yang mendengar pembicaraan mereka langsung mencari.


Laki-laki itu kaget saat melihat Athena yang berlari menuju aula. Evan langsung mengejar Athena namun gadis itu telah masuk ke aula dan berbaur dengan kawan-kawannya.


"Kim, Vi, gue mau pulang dulu ya" ucap Athena buru-buru.


"Loh kok buru-buru, Evan mana?" tanya Vivi.


Athena tak menjawab, gadis itu ingin segera pergi dari tempat itu. Evan datang dan langsung memeluk Athena dari belakang, Athena meronta tapi Evan semakin kuat memeluknya.


"Tolong Athena, dengerin aku dulu. Kamu pasti salah paham" ucap Evan masih memeluk Athena.


Athena diam, gadis itu hanya berusaha untuk melepaskan tangan Evan yang melingkar di bawah leher dan pinggangnya.


"Athena, please dengerin penjelasanku dulu" ucap Evan.


"Nggak perlu di jelasin lagi, aku udah denger semua rencana busukmu" ucap Athena.


"Ya benar. Itu memang rencana busukku tapi itu sebelum aku mengenalmu. Tapi sekarang, aku bener-bener suka sama kamu Athena, baru kali ini aku merasakan seperti ini. Aku nggak peduli jika cewek-cewek lain pergi ninggalin aku tapi kamu beda, aku bener-bener takut kehilangan kamu" ucap Evan memohon.


"Itu karena kamu belum mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jika kamu sudah mendapatkannya, kamu juga nggak akan peduli padaku. Kamu pasti ingin memenangkan taruhan itu bukan?" tanya Athena.


Laki-laki itu menangkup wajah Athena dan memandang gadis itu dengan tatapan yang sayu.


"Cintaku tulus sama kamu, aku telah berencana untuk mengalah pada taruhan itu karena aku tahu kamu nggak bakalan mau. Karena kamu beda dari gadis-gadis lain" ucap Evan.


Athena ingin melepas tangan Evan yang menangkup wajahnya tapi Evan justru mengecup bibir Athena. Gadis itu semakin kesal lalu mendorong Evan hingga laki-laki itu terhuyung ke belakang. Athena tidak peduli, gadis itu berbalik ingin cepat berlalu dari tempat itu.


Vivi yang tiba-tiba ada di depan memberi kode untuk menoleh ke belakang. Athena mengikuti pandangan Vivi menoleh ke belakang dan melihat Evan yang duduk berlutut di tengah ramainya siswa yang sedang berpesta.


Evan menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sayu. Bulir bening mengalir dari sudut matanya, Evan menyesal dan memohon Athena agar mau mendengar penjelasannya. Vivi menyenggol Athena yang terdiam.


"Loe tega biarin dia kayak gitu?" tanya Vivi.


"Itu cuma akal bulusnya" ucap Athena.


"Dia nggak pernah kayak gitu" ucap Kimmy tiba-tiba muncul di samping Athena.


"Kalau marahan dia yang justru ninggalin cewek itu, boro-boro mau berlutut kayak gitu" ucap Vivi.


"Itu karena dia belum mendapatkan apa yang diinginkannya. Loe lupa tetang virginity hunter?" ucap Athena.


Vivi menggelengkan kepalanya.


"Cewek IPA 5 juga menolak tapi dia nggak berlutut kayak gitu, mereka malah putus begitu saja" cerita Kimmy.


"Gue nggak nyuruh loe ngasih virginity loe, tapi minta loe kasih dia kesempatan" ucap Vivi.


Evan mengangkat wajahnya menatap Athena yang memandangnya ragu.


"Aku nggak akan berdiri sampai kamu mau mau maafin aku" ucap Evan.


Athena diam tak peduli, Athena membalik badan dan pergi. Vivi dan Kimmy menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengejar.


"Loe serius ninggalin dia kayak gitu?" tanya Kimmy.


"Ya" jawab Athena singkat.

__ADS_1


"Gimana kalau dia emang nggak mau berdiri sebelum loe maafin?" tanya Vivi.


"Nggak mungkin" ucap Athena.


"Gimana kalau beneran begitu, apa loe tega?" tanya Vivi lagi sambil berjalan mengikuti Athena.


Athena menghentikan langkahnya.


"Ya udah kita buktikan, paling bentar lagi dia udah berdiri dan ketawa-ketawa ama teman-temannya" ucap Athena.


"Trus gimana?" tanya Kimmy.


"Ya tunggu aja, dia pasti berdiri bentar lagi" ucap Athena.


Mereka pun menunggu di tempat yang tersembunyi, seolah-olah Athena telah pulang. Cukup lama Athena Kimmy dan Vivi menunggu di situ. Kimmy penasaran dan kembali ke aula untuk melihat. Namun, gadis itu terkejut karena Evan masih berada di posisinya meski banyak yang memintanya untuk berdiri.


"Cewek loe udah pulang, ngapain kayak gitu, ayo berdiri" ucap seorang gadis.


"Ngapain loe bela-belain anak IPS itu sih, masih banyak cewek lain yang siap gantiin dia" ucap gadis yang lain.


Namun, Evan masih bersikeras duduk berlutut. Terlihat laki-laki itu benar-benar menyesal dan tetap bergeming.


"Loe lebay banget sih, dia udah pergi. Dia nggak peduli ama loe" ucap Luna tiba-tiba sambil menangis.


Luna berusaha menarik tangan Evan untuk berdiri tapi laki-laki itu tetap pada posisinya. Evan hanya menghapus setitik bening dimatanya.


Kimmy melaporkan semua yang dilihatnya, Vivi mengajak Athena untuk kembali ke aula.


"Kalian itu nggak tahu apa-apa, gue denger sendiri ucapan dia ama temen-temennya. Mereka itu taruhan, dia mau merawanin gue. Kalian tega nyuruh gue balikan sama cowok kayak gitu" ucap Athena sambil menangis.


Vivi dan Kimmy tercengang mendengar penjelasan Athena sambil menangis. Vivi dan Kimmy tercenung tak bisa berkomentar apa-apa. Akhirnya mereka pasrah dengan keputusan Athena.


Tapi gadis itu justru kembali berjalan ke aula, Vivi dan Kimmy menghentikann langkah Athena.


"Trus sekarang loe mau apa?" tanya Kimmy.


"Mau baikan, bukannya loe pengen gue maafin dia?" tanya Athena.


Kimmy langsung melambaikan kedua tangannya.


"Nggak, kalau gitu ceritanya gue nggak mau maksa loe balikan sama dia" ucap Kimmy.


Athena melanjutkan langkahnya.


"Loe masih mau balikan sama dia?" tanya Vivi.


"Bukannya loe mau gue kasih kesempatan buat dia?" tanya Athena.


"Nggak deh, nggak lagi. Kalau gitu ceritanya" ucap Vivi.


Athena kembali melanjutkan langkahnya, gadis itu ingin membuktikan sendiri apa yang dikatakan Kimmy. Athena memang melihat Evan yang masih duduk berlutut sementara teman-temannya yang lain membujuknya untuk berhenti berbuat seperti itu.


Mereka membujuk Evan dengan berbagai cara, mulai dari menawarkan cewek-cewek lain. Atau bahkan dengan menjelek-jelekkan Athena.


"Jangan bicara seperti itu, dia pacar gue sekarang" ucap Evan menunduk.


"Kalau dia emang pacar loe, dia pasti nggak ninggalin loe kayak gini" ucap gadis yang mungkin teman sekelas Evan.


"Loe pasti bisa dapetin yang lebih baik lagi dari dia. Dia itu cuma anak IPS" ucap Luna.


"Jangan coba-coba loe hina dia, Athena itu pacar gue" teriak Evan.


Luna menangis dan ikut duduk bersama Evan.


"Kenapa loe nggak bisa seperti itu ama gue? padahal gue udah beri segala-segalanya buat loe" ucap Luna.


"Karena gue udah janji sama mamanya agar jangan nyakitin dia. Dan gue udah terlanjur sayang sama dia" ucap Evan.


Luna diam, pasrah dengan apa yang Evan inginkan. Laki-laki itu tetap bertahan di sana hingga kakinya mati rasa. Athena ingin segera menghampiri tapi masih ada keraguan dihatinya. Rasa takut, benci, kasihan dan sedih bercampur jadi satu.


Takut jika suatu saat dirinya tak mampu mempertahankan diri dari laki-laki yang selalu berusaha merayunya itu. Benci mengingat niat busuk Evan terhadap dirinya meski laki-laki itu mengaku sekarang niatnya tulus menyayangi Athena.


Kasihan karena melihat laki-laki itu yang bertahan menunggu Athena meski semua orang tidak yakin Athena akan kembali padanya dan sedih karena Athena sendiri merasa belum yakin dengan perasaannya.


Athena berdiri dihadapan Evan, seseorang menepuk pundak Evan yang masih tertunduk. Laki-laki itu mengangkat wajahnya dan tersenyum melihat Athena.


"Athena? kamu kembali? kamu mau maafin aku?" tanya Evan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

__ADS_1


Athena menggelengkan kepala.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2