
Athena sangat panik saat Axel berkata tidak kuat lagi dan terus melemah, disaat mereka melakukan pembuktian kejahatan ibu tiri Vivi. Athena tau Axel melemah dan semakin menghilang.
Athena ingin menolong, namun tidak bisa. Gadis itu bertekad untuk terus berbuat baik agar kemampuan melihatnya semakin bertambah. Untuk bisa dapat selalu melihat Axel, Athena tidak dapat berbuat apa-apa saat Axel lemah dan tidak terlihat. Athena menyesali dirinya karena tidak bisa menjaga Axel disaat laki-laki itu lemah.
Axel tersenyum mendengar ucapan gadis itu, terdengar sangat polos, perhatian dan penuh kasih sayang. Axel merasa tersentuh dengan ucapan Athena, hantu laki-laki itu juga bertekad untuk melindungi gadis berhati lembut itu.
Axel memandang gadis itu sambil terus tersenyum. Athena menyentuh pipi Axel.
"Kamu sudah baikan ?" tanya Athena.
Axel mengangguk, setelah seharian tidak melakukan apa-apa. Berhemat tenaganya setelah terkuras malam itu, hari ini Axel sudah lebih baik.
"Jangan gunakan kekuatanmu lagi, aku tidak ingin kamu lemah seperti itu, aku takut kamu menghilang dan nggak bisa muncul lagi " ucap Athena.
"Tapi itu untuk membantu temanmu kan ? jika saat itu aku tidak membuat gelas itu jatuh, bisa semalaman kita disitu. Dan temanmu bisa semalaman jadi pelayan pesta itu. Kamu juga akan capek kelamaan nunggu" jelas Axel yang membuat dia mengambil keputusan untuk menggunakan kekuatannya menjatuhkan gelas dinampan Vivi.
"Tapi kamu jadi kamu lemah, kita mungkin bisa mencari jalan lain untuk membuktikannya. Pokoknya kamu harus janji tidak akan menggunakan kekuatanmu lagi" ucap Athena sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Axel hanya melihat jari kelingking itu, Athena membesarkan matanya memerintahkan laki-laki itu juga mengaitkan jari kelingking dijari gadis itu. Namun Axel hanya diam, Athena mengambil tangan laki-laki lalu mengaitkan jari kelingkingnya padanya. Axel tertawa.
"Kamu kok maksa sih, orang nggak mau janji juga" ucap Axel.
"Harus, sekarang kamu udah janji, jangan dilanggar" ucap Athena.
"Aku dipaksa kayak gini emangnya bisa berlaku ?" tanya Axel, yang dijawab dengan anggukan oleh Athena.
Demi melindungi Axel, gadis itu memaksa untuk tidak menggunakan kekuatannya lagi. Tanpa disadari gadis itu, Axel merasa begitu terharu dengan perhatiannya. Saat malam datang laki-laki itu berubah menjadi bayangan yang tak bisa disentuh lagi, namun Athena masih bisa melihatnya gadis itu senyum-senyum menyaksikan kondisi Axel sudah pulih kembali.
Malam itu, setelah makan malam yang seru bersama papa dan mamanya, Athena kembali ke kamarnya dan bertemu dengan Axel. Gadis itu celingak-celinguk melihat sebelum masuk ke kamarnya.
Seperti sedang selingkuh aja, diam-diam masuk kamar, sambil mengendap-endap, hihihi..., batin Athena.
Axel telah menunggu disana sambil tersenyum. Malam ini Athena akan mulai belajar, laki-laki itu bersiap-siap untuk mengajari. Athena mulai timbul malasnya, yang tadinya semangat kembali lunglai saat melihat buku pelajaran dihadapannya.
Axel memotivasi gadis itu untuk tetap semangat.
"Semangat belajarku itu kayak hantu, gampang menghilang" ucap Athena, kepalanya terkulai diatas meja belajar.
"Ayolah Athena, teman-teman jurusan IPS mengandalkanmu untuk mengangkat derajat mereka" pancing Axel.
"Yang lain aja, banyak yang lebih pintar dari aku" ucap Athena.
"Memang banyak yang lebih pintar di IPS tapi yang nantang Luna, kan kamu" ucap Axel.
"Benar juga, aku bukannya nantang anak IPA, terlalu berat, aku kan nantang Luna, cewek sombong itu" ucap Athena langsung bangun dan mengepalkan tangannya.
Semangat Athena muncul saat teringat pada mantan pacar Evan itu, kalau bukan karena menantang gadis IPA yang sombong itu mungkin Athena akan pasrah menerima cap sebagai gadis IPS yang pemalas.
Memang pandangan orang-orang sering menganggap anak IPS adalah anak-anak yang menganut aliran santai. Belajar santai, pergaulan santai, hidup santai, nggak ada beban apa-apa, nikmat.
Tidak seperti anak-anak IPA yang berlomba-lomba mencari ilmu, ikut lomba science ini, lomba science itu, lomba matematika. Berlomba, bersaing melawan teman sendiri.
Bersaing melawan teman sendiri, huh buat apa ? pikir Athena melihat lomba science di sekolahnya.
"Nanti mereka yang terpilih akan melawan ditingkat nasional" jelas Vivi.
"Seru ya melihat lomba matematika, mereka hebat-hebat. Kamu ayo iku lomba matematika" ucap Kimmy pada Athena.
"Apa ? lomba mati-matian ?" tanya Athena.
"Ma te ma ti ka" eja Kimmy.
"Sama aja, bagi gue, pelajaran itu namanya mati-matian" teriak Athena.
Vivi tertawa mendengar debat Kimmy dan Athena.
Akhirnya Athena mau belajar bersama Axel, gadis itu menggelengkan kepala, kagum saat mendengar Axel menjabarkan materi. Gadis itu bahkan menganga melihat kemampuan Axel memahami pelajaran yang bahkan. baru dibacanya.
"Kamu hebat, kamu jenius, baru belajar bisa langsung ngerti" puji Athena terhadap Axel.
"Pantas kamu begitu yakin bisa ngajari aku" puji Athena lagi.
"Luar biasa pelajaran anak IPS dipahami anak IPA" lagi-lagi puji Athena.
"Otak mu canggih, bisa mengerti ini" puji Athena lagi, lagi, lagi.
"Jangan sibuk muji aja, pahami yang aku ajari" ucap Axel.
"Kalau gini aku bisa MENAAAANG" teriak Athena.
"Kok bisa gitu, aku yang ngerti pelajaran ini, kok kamu yang bisa menang ?" tanya Axel.
"Bisa... saat try out nanti kamu bisa dikte-in aku jawabannya, kan cuma aku yang bisa liat dan dengerin kamu" ucap Athena.
"Rasanya aku ingin mengeluarkan kekuatanku untuk mengetuk kepalamu. Meski aku harus lemah karena itu" ucap Axel.
Athena langsung cemberut.
__ADS_1
"Otakmu cemerlang untuk mencari ide curang" lanjut Axel.
Athena cemberut, memandang Axel yang berbentuk bayangan itu. Athena mengibas-ngibaskan tangannya agar bayangan Axel buyar. Bahkan meniup biar terbang.
"Emangnya aku asap bisa buyar kalau ditiup" ucap Axel sambil tertawa.
Athena memegang kepalanya, lalu memukul kepalanya beberapa kali.
Gadis itu belajar tiap hari, disekolah di ajari Vivi, dirumah diajari Axel. Meski diajari oleh dua makhluk yang berbeda tapi punya satu kesamaan. Yang mengajari lebih semangat dari yang diajari.
Dalam waktu sepuluh menit mata Athena akan berubah sayu, lima menit kemudian gadis itu sudah molor. Vivi dan Axel hanya menghembuskan nafas panjang.
Namun sedikit demi sedikit menjadi bukit, meski awalnya membuat Athena belajar itu sangat sulit. Semangat gadis itu muncul sedikit demi sedikit, meski untuk itu Kimmy harus mijit-mijit. hehehe..
Athena memandang Axel yang begitu semangat mengajarinya. Kali ini belajar disaat pergantian waktu, saat-saat dimana Athena harus belajar dalam keadaan waspada. Pikiran melayang sedikit pensil singgah dikepalanya.
Tuk..
Gadis itu akan mengusap keningnya yang diketuk Axel. Axel meminta Athena kembali fokus pada pelajarannya.
Axel masih tetap semangat mengajari, namun pikiran Athena sudah tidak bisa konsentrasi, memandang bibir laki-laki itu yang lincah menerangkan materi.
Bagaimana caranya menghentikan bibir yang bergerak lincah itu ? gerak terus nggak brenti-brenti, batin Athena.
Simsalabim... Abrakadabra... BERHENTI, hihihi.. nggak mau berenti juga, hihihi..,
Kalau Axel jadi guru pasti banyak siswi yang terpesona dengannya. Mata menatap tak henti-henti tapi pelajaran tetap nggak ngerti-ngerti, batin Athena.
Yang tidak menyadari kalau Axel telah berhenti menerangkan materi tapi justru sedang asyik memandangi.
Entah apa yang dipikirkan Athena. Axel tidak peduli, saat ini dia juga sedang asyik menikmati, menatap wajah gadis yang tidak menyadari kalau dia juga sedang dipandangi.
Wajah Axel bergerak mendekati, pandangan mata Athena hanya terus mengikuti, hanya diam, memandang bibir yang terus mendekati.
Pikirannya benar-benar melayang entah kemana, batin Axel.
Bibir Axel yang hampir menyentuh bibir Athena akhirnya beralih mengecup pipi. Gadis itu tersentak, baru sadar kalau Axel telah mengecup pipinya.
"Kenapa ?" tanya Athena sambil memegang pipinya yang dikecup Axel.
"Kenapa apa ? kenapa nggak jadi cium dibibir ?" tanya Axel.
"Haaa..." teriak Athena.
"Kamu nggak sadar kalau tadi aku hampir cium bibir kamu. Ck..ck..ck.. hampir saja ciuman pertamamu melayang tanpa disadari" ledek Axel.
"Apa ? kalau berani kenapa ?" tanya Axel lagi.
Athena hanya menunduk, mengancam yang asal-asalan emang begini nih, nggak bisa menentukan hukuman.
"Kamu aja yang nggak sadar, trus bisa apa ? kamu itu terlalu lengah, tau nggak ? " tanya Axel menantang.
"Nggak tau" ucap Athena yang melengah kesamping.
"Kamu capek ya, ya udah kita istirahat belajarnya" ucap Axel.
"Belajar, kalau tidak dari hati itu memang susah, terasa berat. Tapi kalau orang yang terbiasa, tidak belajar justru merasa resah" jelas Axel.
"Kamu seperti itu ?" tanya Athena.
"Entahlah, tapi sepertinya aku lebih memilih belajar dari pada melamun nggak jelas" ucap Axel.
"Axel, kita refreshing dulu ya ? ceritain lagi tentang hantu cewek itu, sekarang kalau kamu cerita bisa sampai tamat, kan kamu nggak ngilang-ngilang lagi, meski cuma bayangan kamu bisa terus bercerita" bujuk Athena.
"Sampai dimana kemaren ?" tanya Axel akhirnya, laki-laki itu kasihan juga melihat Athena yang terus-menerus belajar.
Athena berpikir sebentar, dua bentar, tiga bentar tapi Athena menggelengkan kepala, gadis itu benar-benar lupa.
"Nggak tau sampai mana, bisa di previously nggak, kayak di drama seri" pinta Athena.
Axel tertawa
"Kamu bertanya kenapa gadis hantu itu menangis" ucap Axel.
"Ya benar" teriak gadis itu sambil langsung mencari posisi duduk di ranjangnya.
Sementara Axel masih di kursi belajar.
"Dia menangis bukan karena perbuatannya atau karena kematiannya, tapi karena dia tidak bisa mengungkapkan kejadian yang sebenarnya" jelas Axel.
"Iya benar. Karena pacar gadis itu dituduh menghamilinya, hingga dia mendapatkan sangsi sosial. Dikucilkan, dibully dan diperlakukan dengan kasar hingga akhirnya memilih untuk keluar dari sekolah, benar kan ?" tanya Athena.
"Kamu bisa hafal hingga detail gitu, coba kalau otakmu bisa menampung pelajaran sampai detail gitu, kamu bisa jadi anak jenius" ucap Axel sambil menggoyangkan kepala Athena.
Athena langsung menepis tangan Axel dengan wajah cemberut. Axel tertawa, meski menampilkan wajah cemberut tapi bagi Axel, Athena tetap terlihat manis, Axel duduk dihadapannya memandangi wajah yang manis itu.
"Gadis itu menangis dan menyesali, karena pacarnya itu bukanlah orang yang menghamilinya" jelas Axel.
__ADS_1
"Ya, iya benar. Lalu siapa yang sebenarnya menghamilinya ? lalu kenapa bisa pacarnya yang menjadi tertuduh ?" tanya Athena bertubi-tubi.
"Itu berawal saat sepupu gadis itu memergoki mereka sedang berpacaran di kamarnya. Sepupu itu diam-diam merekam kemesraan mereka dan menjadikannya sebagai alat untuk memeras gadis itu, memaksa gadis itu untuk melayani nafsunya" jelas Axel.
"Haaa... jahat sekali sepupunya itu" jerit Athena.
"Padahal gadis dan pacarnya tidak berbuat sejauh itu. Tapi sepupunya mengancam akan menambah cerita sehingga orang tua gadis itu percaya bahwa mereka telah berbuat sangat jauh" cerita Axel.
"Benar-benar jahat, tukang fitnah" ucap Athena sambil mengepalkan tangannya.
Axel tersenyum melihat ekspresi Athena, yang semakin marah semakin cantik. Axel terpesona.
"Kok diam ? ayo cerita lagi" jerit gadis itu.
"Sepupunya mengancam hingga gadis itu pasrah mengikuti kemauannya, tapi didetik-detik terakhir gadis itu akhirnya menolak. Dia tidak ingin menyerahkan dirinya meski diancam dilaporkan. Gadis itu berpikir, lebih baik menyerahkan dirinya pada pacar yang dicintainya daripada melayani napsu sepupunya dan memilih pergi." cerita Axel.
"Hebat, terus gimana ?" tanya Athena makin penasaran.
"Sayang, sepupunya itu sudah terlanjur menginginkannya hingga akhirnya nekat memperkosa gadis itu" lanjut Axel.
"Oh ya ampun, kasihan sekali" ucap Athena menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Athena hampir menangis.
"Sepupunya itu mengancam jika gadis itu menceritakan kepada orang tuanya maka sepupunya itu akan menyebarkan rekaman itu" cerita Axel yang telah duduk dihadapan Athena.
"Jahat, jahat, jahat, laki-laki itu memang jahat" ucap Athena sambil memukul dada Axel.
"Kok aku yang dipukul sih, kan bukan aku pelakunya" ucap Axel protes.
"Sama saja, karena kamu juga laki-laki, semua laki-laki itu jahat" ucap Athena masih terus memukuli Axel.
Laki-laki itu menahan tangan Athena.
"Benarkah aku jahat ?" tanya Axel.
Athena terdiam, gadis itu orang yang mudah terbawa suasana. Hingga menganggap semua laki-laki itu sama jahatnya. Baru menyadari pemikirannya yang salah setelah Axel menanyakannya.
Axel masih menggenggam tangan Athena yang menempel didadanya. Menatap gadis itu meminta jawaban.
"Nggak, kamu tidak jahat. Kamu bahkan sangat baik" ucap Athena pelan berusaha menarik kembali tangannya dari genggaman Axel.
Tapi Axel masih terus memegangi tangannya, Athena merasakan jantungnya berdegup kencang. Tatapan Axel membuat jantung gadis itu berdebar-debar.
Perlahan genggaman tangan Axel semakin tidak terasa, genggaman tangan Axel telah menghilang, laki-laki itu telah menjadi bayangan. Athena tidak perlu melihat langit lagi, gadis itu sudah tau kalau waktu Axel muncul seperti manusia telah habis. Laki-laki itu kembali menjadi bayangan.
"Apa yang terjadi selanjutnya ?" tanya Athena.
"Sepupunya itu melakukan perbuatan itu berkali-kali hingga akhirnya gadis itu hamil dan diketahui oleh orang tuanya" ucap Axel mengingat saat gadis itu bercerita.
"Orang tua gadis itu menuntut pertanggungjawaban pacarnya, gadis itu menolak dengan keras.
Tapi karena cinta, pacarnya itu bersedia bertanggung jawab meski itu bukanlah hasil dari perbuatannya" jelas Axel.
"Wah mulia sekali hati pacarnya itu" sahut Athena.
"Tapi akibat mengakui perbuatan itu, si pacar akhirnya mendapat sangsi dari sekolah, beasiswanya dicabut.
Padahal dia anak yang sangat cerdas, orang tuanya akhirnya menyalahkannya hingga membuat kehidupan mereka menjadi semakin sulit.
Disekolah dia di bully, dilingkungan rumahpun begitu.
Dia dicap sebagai perusak anak gadis orang.
Demi cintanya dia menanggung semua beban itu" jelas Axel sambil memperhatikan wajah Athena yang begitu serius mendengarkan.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Si Gadis tidak sanggup menyaksikan penderitaan pacarnya dia ingin menggugurkan kandungan itu, agar si pacar tidak perlu bertanggung jawab terhadap kehamilannya" jelas Axel.
"Harusnya dia menceritakan kejadian yang sebenarnya bahwa dia diperkosa oleh sepupunya" ucap Athena.
"Dia tidak bisa lakukan itu, sepupunya akan memberikan rekaman kemesraan mereka dan menjadikannya sebagai bukti perbuatan mereka" ucap Axel.
"Ya tapi harusnya... "
"Ssst.. apapun usul mu sudah tidak berlaku lagi karena semua telah terjadi enam tahun yang lalu" jelas Axel.
"Iya ya, lalu apa yang terjadi selanjutnya ?" tanya Athena.
"Kamu tidak bisa melanjutkannya sendiri ?" tanya Axel.
Athena menggeleng, Axel tertawa melihat kepolosan Athena.
"Gadis itu mengalami over dosis karena meminum banyak obat untuk menggugurkan kandungannya, dia juga mengalami pendarahan hebat hingga akhirnya meninggal dunia ditoilet sekolah" jelas Axel.
Laki-laki itu gemas melihat Athena yang tidak bisa melanjutkannya sendiri ceritanya, karena pikiran Athena yang begitu polos. Axel kagum melihat kesucian hati gadis itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1