
Axel membiarkan laki-laki yang menabrak Athena dan Axella setelah meminta kartu identitas laki-laki itu. Axel membiarkannya pulang menemui istrinya yang juga harus segera mendapatkan pertolongan. Laki-laki itu sangat bersyukur karena Axel yang bersedia melepaskannya.
Dalam hati berjanji akan bertanggung jawab setelah istrinya yang akan melahirkan dalam kondisi yang baik. Axel tak tega, membiarkan laki-laki itu berada dalam situasi sulit. Pilihan antara bertanggung jawab terhadap kecelakaan dan istrinya yang butuh pertolongan.
"Terima kasih Nak, semoga keadaan mereka baik-baik saja," ucap laki-laki itu.
"Ya Pak, semoga istri bapak juga baik-baik saja, terima kasih doanya," jawab Axel.
Bapak itu mengangguk dan langsung pergi setelah berterima kasih. Meninggalkan Axel yang terpaku menatap paramedis menangani Athena. Laki-laki itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya air mata yang mengalir membasahi pipi hingga mengalir ke leher.
"Kakak," ucap Athena yang berdiri di samping Axel.
Menatapnya tanpa berkedip dengan air mata yang mengalir. Athena mengalihkan pandangannya ke arah paramedis yang masih berusaha menolongnya. Melihat itu Athena menunduk menangis. Di saat seperti itu, Athena biasanya akan dipeluk laki-laki itu.
Axel tak akan membiarkan Athena menangis sendiri. Athena mencoba menyentuh laki-laki yang diam terpaku itu, tetapi Axel tak bergeming. Athena pun tak merasakan apa-apa. Tangis gadis itu semakin menjadi-jadi. Begitu frustasi hingga menghantamkan kedua tangannya ke jendela kaca itu.
Begitu kuat menghantam tangan Athena di kaca besar ruang intensif itu, tetapi Athena tak merasakan apa pun. Begitu juga kaca yang sama sekali seperti tak tersentuh. Athena semakin frustasi hingga terduduk di lantai.
Tiba-tiba Athena melihat ayahnya yang datang, dengan tergesa-gesa. Athena langsung berdiri untuk menyapa. Gadis itu lupa, tak ada satu pun yang bisa melihatnya di sana. Athena terdiam dengan air matanya mengalir perlahan.
__ADS_1
Tn. Dani menyapa Axel, langsung memeluk laki-laki yang menangis itu. Axel baru bisa menumpahkan kesedihannya pada seseorang setelah sekian lama hanya berdiri seorang diri. Beban yang menekan dadanya terasa sedikit terangkat.
"Mama mana Pa?" tanya Axel heran karena hanya melihat Tn. Dani sendiri.
"Sedang istirahat di ruang rawat inap. Papa bisa ke sini karena orang tuamu menemaninya di sana. Mama sangat terguncang, kondisinya langsung drop," jelas Dani dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama," bisik Athena.
"Kamu istirahatlah Nak, biar Papa yang tunggu Athena–"
"Nggak Pa, aku ingin di sini. Aku nggak mau jauh dari Athena–"
Ucap Axel dengan mata yang berkaca-kaca. Laki-laki itu menggelengkan kuat. Tak ingin bapak itu memaksanya menjauh dari jendela kaca ruang intensif itu. Tn. Dani pun mengangguk mengerti.
Gadis itu segera melangkah mencari ruangan perawatan Ny. Anna. Namun, Athena tak menemukannya. Bertanya pun Athena tak bisa. Tiba-tiba Athena melihat brankar yang membawa Axella lewat. Athena baru teringat, Axella masih terkapar di jalan saat dirinya mengikuti Axel ke rumah sakit.
Athena berdiri di depan jendela kaca besar ruang intensif yang lain itu. Terlihat paramedis yang menangani Axella. Athena menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Gadis itu terlihat panik melihat usaha paramedis menolong gadis itu. Axella tak kunjung sadar. Tanpa disadarinya air mata Athena mengalir.
Axella muncul dan berdiri di samping Athena. Seolah-olah juga bisa merasakan kehadiran gadis itu, Axella berdiri diam tepat di samping gadis itu. Athena menatapnya heran.
__ADS_1
"Apa yang Kak Axella lakukan di sini? Kenapa tidak kembali ke tubuhmu?" tanya Athena antara percaya dan tidak Axella bisa mendengarnya.
"Kenapa kamu menolongku? Perbuatan yang sia-sia bahkan merugikan dirimu sendiri," ucap Axella dengan tatapan yang tak beranjak dari tubuhnya yang sedang ditangani petugas medis.
"Apa? Apa kamu bisa melihat dan mendengarku?" tanya Athena tak percaya.
"Kita di alam yang sama, tentu saja aku bisa melihatmu," jawab Axella.
"Lalu kenapa kamu sendiri tidak kembali ke tubuhmu?" tanya Axella.
"Aku telah mencoba tapi tak bisa. Tubuhku menolakku. Sama seperti menyentuh Kak Axel. Terhalang tak bisa merasakan apa-apa. Kakak cobalah untuk kembali. Kakak mungkin masih bisa diselamatkan," ucap Athena teringat saat brankar yang membawanya melintas.
Athena pun mencoba mendekati tubuhnya. Mencoba untuk masuk kembali ke tubuhnya tetapi tubuh ibu seperti menebal. Menolaknya kedatangan dirinya, sama seperti menembus tembok yang tebal.
"Aku tidak mau! Lihatlah perbedaan kita, kamu diharapkan, didoakan dan dinanti oleh Axel dan papamu. Sementara aku? Hanya ditunggui oleh dua hantu yang masih baru dan linglung," jawab Axella.
"Jangan berkata seperti itu, orang tua Kak Axella pasti tidak tahu kejadian ini. Mereka pasti akan ke sini jika mereka tahu Kak Axella kecelakaan. Ayolah Kak! Cepat kembali ke tubuhmu!" seru Athena.
"Tidak mau! Kamu pikir aku tidak tahu mobil itu akan datang? Aku tidak mau hidup! Kamu pikir aku akan berterima kasih karena kamu menolongku? Aku membencimu! Kamu membuat hidupku menderita! Aku tak mau merasakan hidup menderita! Kalau kamu mau, kamu saja yang ke sana!" seru Axella sambil mendorong tubuh Athena.
__ADS_1
Gadis itu merasa seperti membentur tembok tebal. Seluruh tubuhnya terasa sakit hingga jatuh pingsan. Tiba-tiba menarik nafas panjang dan berat. Matanya terbuka lebar, Athena merasa seluruh tubuhnya sakit. Matanya menatap terang, segala macam alat menempel di tubuhnya. Sakit, merasakan tusukan jarum di pergelangan tangannya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...