Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 16 ~ Pengumuman ~


__ADS_3

Axel ingin mencium Athena ? itu pasti, tapi apakah terjadi ? Entahlah. Tapi yang pasti, saat ini Axel tersenyum melihat Athena yang memejamkan matanya. Laki-laki itu bergerak cepat meraih Athena ke dalam pelukannya, lalu mencium puncak rambut gadis itu dengan sangat kuat.


Athena yang gemetar menunggu apa yang akan terjadi akhirnya membuka mata. Gadis itu telah berada dalam pelukan Axel, tersenyum menatap laki-laki itu. Axel mencubit puncak hidung Athena. Axel urung mencium Athena, adakah yang kecewa ?


Mungkin ada, tapi orang itu diam saja, tidak mau mengaku.


"Kamu bisa mengalahkan Luna, aku yakin itu" ucap Axel.


"Kenapa begitu yakin ?" tanya Athena.


"Karena... kamu pasti akan berusaha memenangkan kesempatan itu" ucap Axel pelan masih memeluk Athena.


Athena tercenung memainkan kancing kemeja Axel, entah mengapa gadis itu merasa nada suara Axel berbeda. Ragu-ragu dan seperti tidak suka dengan ucapannya sendiri.


Axel melepaskan pelukannya, menatap kearah jendela. Malam akan segera datang dan dia akan segera menjadi bayangan. Laki-laki itu tertunduk, tersenyum pahit. Setitik bening jatuh dari sudut matanya. Segera Axel menghapus titik bening itu. Lalu berbalik dan tersenyum.


"Aku akan berusaha membuatmu menang seperti keinginanmu. Kalau perlu akan membantumu mengerjakan try out. Aku akan membisikan jawaban yang benar saat try out nanti" ucap Axel lalu tersenyum.


Seperti senyum yang dipaksakan, Athena mendekat, memandang laki-laki itu lebih cermat, Axel menghindar.


"Kamu tidak perlu melakukan itu, aku akan berusaha dengan kemampuanku sendiri" ucap Athena.


"Tapi bagaimana jika kamu tidak bisa mengalahkan anak-anak IPA lain, kamu kehilangan kesempatan menjadi pasangan Evan ?" tanya Axel agak bergetar.


"Nggak apa-apa, aku nggak bisa menjadi pasangan Evan dengan cara seperti itu. Aku akan jadi pasangannya jika aku memang pantas untuk itu" jawab Athena.


Axel tercenung, tidak menyangka Athena akan berkata seperti itu. Athena ingin menjadi pasangan Evan dengan cara yang jujur. Entah kenapa perasaannya semakin tak karuan. Athena ingin jujur mendapatkan cinta Evan.


"Aku akan pergi" ucap Axel terdengar pelan keluar begitu saja.


"Kemana ? kapan ? ngapain ?" tanya Athena bertubi-tubi.


"Nanti jika kamu berhasil mendapatkan cinta Evan" ucap Axel akhirnya.


"Oh... jadi kamu mati-matian ingin menolongku mendapatkan Evan bahkan dengan cara curang sekalipun agar kamu bisa segera pergi dari sini ?" tanya Athena.


"Bu-bukan begitu" ucap Axel ragu-ragu.


"Lalu ? dengar Axel, aku tidak akan memaksamu tinggal bersamaku, jika itu tidak atas kemauanmu sendiri. Tidak masalah bagiku jika kamu tidak bisa menepati janjimu. Aku tidak ingin ada orang yang terpaksa hidup bersamaku. Kamu boleh pergi kapanpun kamu mau" ucap Athena dengan nada kesal.


Axel meraih tangan Athena yang ingin beranjak pergi dari kamar itu. Axel menahannya, Athena ingin menepis tangan Axel, namun laki-laki itu menahannya dengan kuat. Athena menatap Axel menunggu alasan laki-laki itu menahannya. Tapi Axel tak kunjung mengatakan apapun, yang dilakukannya hanya menatap Athena.


Apa yang ada didalam pikiranmu ? kenapa tidak bisa mengungkapkannya ? kenapa diam saja ? batin Athena


"Aku nggak bisa baca pikiran orang, sorry... aku nggak bisa baca pikiran hantu kalau kamu nggak ngomong aku nggak bakalan tau isi hati kamu" ucap Athena keras.


"Aku... aku... aku nggak bisa bilang" ucap Axel menunduk.


"Ya udah kalau gitu" ucap Athena kembali ingin beranjak pergi.


"Jangan pergi" ucap Axel.


"Kenapa ?" tanya Athena.


"Nanti aja kalau udah gelap, selagi aku bisa menyentuhmu, tolong jangan pergi dari kamar ini" ucap Axel dengan nada memohon.


Athena melihat tangannya yang masih dipegang Axel. Sejujurnya dia juga berpikir seperti itu, entah kenapa waktu yang sedikit ini selalu ingin maksimal dihabiskannya bersama Axel.


Karena setelah Axel berubah menjadi bayangan, Athena selalu merasa menyesal tidak melakukan sesuatu saat laki-laki itu muncul seperti manusia.


Entah itu mencubitnya, mencekiknya, menggelitiknya atau membelai rambutnya, memeluknya oh.. kalau memeluk sih sering, kayaknya Axel juga doyan peluk Athena. Apalagi yah, aah ya mencium pipinya, keningnya, hidungnya, bibirnya. Tapi itu tak mungkin, hanya khayalan saja.


Athena batal keluar dari kamar, Axel menyarankan Athena untuk melanjutkan belajar. Meski Athena masih merasa malas memulai belajar lagi tapi akhirnya patuh pada perintah Axel.


"Aneh ya, kamu ini kok semangat sekali kalau urusan belajar. Jangan-jangan waktu masih hidup kamu ini kutu buku ya" ucap Athena rada malas belajar.


Axel cuma tersenyum.


"Evan ngasih hadiah jadi pasangannya di farewell party jika aku bisa mendapat peringkat atas, kalau kamu, mau ngasih hadiah apa ?" tanya Athena.


"Kamu mau apa ?" tanya Axel.


Hatimu, batin Athena.


Gadis itu hanya manyun, Axel ditanya malah balik nanya. Dia sendiri bingung ingin minta apa pada hantu. Tak mungkin minta bunga, coklat, tiket konser atau tiket bioskop. Apa mau minta keris sakti ? ilmu menghilang ? atau ilmu pelet ?


Axel menatap Athena, seakan-akan menunggu jawaban gadis itu.


"Aku mau kamu hidup" ucap Athena asal bicara.


Axel tertunduk, tak terkira betapa dia sangat inginkan itu. Sekian tahun tak menyesali apapun yang terjadi, hanya menjalani hari-harinya disekolah sebagai hantu hari demi hari. Namun sejak mengenal Athena, takdirnya sebagai hantu adalah hal yang paling disesalinya.


Hari yang ditakuti akhirnya datang, masa-masa try out ujian nasional segera dimulai. Meski deg-degan tapi Athena terlihat tenang, dia tidak peduli dengan menang atau kalah, jadi pendamping Evan atau tidak.


Yang justru jadi pikirannya adalah rasa takut mengecewakan orang-orang yang telah mendukungnya, terutama Axel. Athena takut mengecewakan hantu yang susah payah dan begitu sabar mengajarinya itu.


"Hei IPS, udah mundur aja sekarang, jadi kalau kalah nggak malu-malu amat" ujar Luna.


"Siapa yang kalah ? lu ? kenapa paksa-paksa orang mundur, takut ya ?" jawab Athena.

__ADS_1


"Hee.. jangan karena Evan ngasih kesempatan buat jadi pasangannya di farewell party jadi halu duluan. Loe juga nggak bakalan menang. Lagian Evan itu nggak bakalan bisa lepas dari gue" teriak Luna.


"Ya lah obsesi seorang mantan emang kayak gitu, berharap mantannya nggak bisa move on. Udah putus itu ya udah, pasrah aja" jawab Athena.


Ekspresi Luna berubah, wajahnya menampilkan kekesalan yang luar biasa. Luna paling tidak suka kalau orang-orang mengejeknya sebagai mantan Evan.


"Hei, siapa yang mantan ? gue dan Evan itu cuma break tau nggak loe" ucap Luna kesal.


"Break itu putus, ya udah berarti mantan" jawab Athena sang Dewi Perang tak mau kalah.


"Nggak, break itu cuma putus sementara" ujar Luna makin kesal.


"Ya, sementarannya lamaaaaa banget nyampe tamat. Udahlah males gua ladenin lu" ucap Athena ngeloyor dari tempat itu.


Terlihat Luna yang mengipas-ngipas wajahnya yang kepanasan.


Try out dimulai, semua sibuk, termasuk Athena yang serius mengerjakan soal-soal yang diberikan. Axel menatap gadis itu dengan cemas. Aneh, Axel merasakan perasaan yang aneh.


Ingin gadis itu menang tapi tak ingin gadis itu menang, bingung kan ? Semua gara-gara pengumuman Evan yang menjadikan peserta lomba dengan peringkat tertinggi menjadi pasangannya.


Kesal, pengumuman itu membuat Axel kesal, hingga kadang berharap Athena kalah saja. Tapi tidak, itu akan membuat Athena sedih, karena itu Axel pasrah. Meski tak suka jika akhirnya Athena menjadi pasangan Evan, Axel tetap berharap gadis itu bisa menang.


Try out dilakukan selama beberapa hari, selama itu para gadis sibuk mengira-ngira siapa yang akan memenangkan lomba peringkat itu. Tentu saja Athena didukung oleh jurusan IPS dan Luna didukung oleh jurusan IPA.


Guru-guru bidang studi bahkan ikut mensupport tanding peringkat itu. Athena cengengesan mendapat acungan tangan dari guru-gurunya. Padahal dari dulu guru-guru itu paling rajin menegur Athena karena sering telat mengerjakan tugas atau bahkan suka memberi hukuman gara-gara tidak mengerjakan tugas sama sekali.


"Darimana datangnya semangat guru-guru itu untuk mendukung elu ? orang dari dulu suka marah-marah, tau-tau sekarang malah mendukung" tanya Kimmy.


"Tau yah asal dukung aja guru-guru itu, yang penting ada kandidat yang ikut menantang jurusan IPA kali ya?" ucap Vivi.


Athena tertunduk lesu, terlihat teman-temannya sendiri kurang yakin pada kemampuannya. Hingga menganggap para guru salah dukung.


"Napa lu lesu amat ?" tanya Kimmy.


"Gua mundur aja lah daripada malu-maluin" ucap Athena.


"Lu nggak pe de sama hasil kerja lu ? rasanya gimana ? banyak yang bener apa banyak yang salah ?" tanya Vivi.


"Lu nggak tau sifat gue, gue ini egois selalu merasa benar, mana gue mau tau kalau jawabannya salah menurut gue jawaban gue bener, gimana ?" jawab Athena.


Vivi menepuk jidat.


"Merasa bener sendiri sih boleh aja tapi kalau jawab soal nggak peduli ama pendapat loe, kalau nggak benar, ya salah. Pusing gua, liat pengumuman nanti aja lah" ucap Kimmy.


Benarkan, semua tak yakin dengan kemampuan Athena. Tapi meski begitu mereka tetap mendukung, persis seperti para guru. Meski tak yakin bisa menang namun tetap memberi dukungan.


Laki-laki hantu itu juga ikut memberi semangat.


"Hei, gimana kalau kamu intip jawaban aku, kira-kira salah berapa betul berapa, jadi tau kan kira-kira dapat nilai berapa ?" usul Athena.


"Kalau tau nilai kamu, trus buat apa ?" tanya Axel.


"Ya, kalau nilainya bagus ya maju terus, kalau kira-kira nilainya jelek, ya mundur dari sekarang" ucap Athena ragu-ragu.


"Bukannya itu curang ? mengetahui hasil sebelum waktunya biar bisa memutuskan ikut atau nggak ?" tanya Axel.


"Ya udahlah kalau gitu lanjut aja, mau gimana hasilnya terserah" ucap Athena langsung rebah di ranjangnya pura-pura tidur.


Axel ikutan lompat ke ranjang.


"Ngapain ?" tanya Athena.


"Mau tidur juga" jawabnya singkat.


"Nggak boleh, cewek dan cowok nggak boleh tidur seranjang, pergi sana" ucap Athena sambil mendorong Axel


"Waktu itu aja kamu tidur sambil peluk aku" ucap Axel sambil tertawa.


"Haaa, napa diungkit sih" ucap Athena langsung memukul bantal kearah hantu tampan itu.


Axel menahan bantal itu, Athena melepas bantal itu dan mengambil yang lainnya. Menimbun Axel dengan bantal sebanyak-banyaknya. Lalu duduk diatas timbunan bantal itu.


"Mau bantal lagi haa..? aku cariin nih" ujar Athena.


"Udah cukup, ntar lagi juga ngilang" jawab Axel.


Athena tercenung, saat menghilang dia tidak bisa bercanda dengan Axel seperti itu. Axel mengintip dari balik bantal, penasaran kenapa Athena tiba-tiba diam.


"Kamu jangan patah semangat, aku selalu mendukungmu apapun hasilnya, Ok" ucap Axel.


"Kamu nggak kecewa kalau aku kalah ?" tanya Athena.


Nggak, karena kamu nggak jadi pasangan sama Evan, batin Axel.


"Karena kamu udah berusaha, kenapa harus kecewa ?" ucap Axel.


Athena melempar kepinggir semua bantal yang menutupi tubuh Axel, laki-laki itu langsung duduk dihadapan Athena. Athena menghambur memeluk Axel.


"Makasih ya karena selalu bantuin aku, selalu mendukungku" ucap Athena.

__ADS_1


Axel diam, namun melingkarkan tangannya ke tubuh Athena. Laki-laki itu membalas memeluk Athena. Gadis itu mundur, merenggangkan tubuhnya, mengecup pipi Axel lalu tersenyum. Laki-laki itu memandang Athena heran.


Dia berterima kasih padaku karena membantunya mendekati Evan, batin Axel.


"Kok diam aja, say something gitu" ucap Athena.


Aku sayang kamu, ucap Axel dalam hati.


Lalu Axel tersenyum, perlahan membayang, Athena melepaskan pelukannya. Gadis itu turun untuk makan malam bersama mama dan papanya. Athena terlihat lesu, membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya.


"Athena kenapa sayang ? kok lesu ?" tanya mama Athena.


"Besok pengumuman hasil try out ma" ucap Athena.


"Trus kok lesu ? harusnya semangat dong, bisa melihat hasil kerja kerasmu selama ini" ucap mama Athena lagi.


"Jangan pikirkan apapun hasilnya, kami melihatmu berusaha saja, sudah cukup membuat kami senang" ucap papa Athena.


"Makasih pa, ma" ucap Athena bersyukur atas pengertian papa dan mamanya.


"Semoga kamu bisa menang melawan anak IPA itu" ucap mama Athena.


"Loh kok mama tau Athena nantangin anak IPA ?" tanya Athena.


"Ya tau dong, Kimmy yang cerita, anak itu minta do'a dari mama dan papa. Katanya do'a orang tua manjur jadi dia cerita, biar mama ikut do'ain. Kimmy yakin kamu nggak cerita sama mama soal tantangan itu" jelas mama Athena panjang lebar.


Uhh... dasar anak itu, lebos bener tu mulut, batin Athena kesal.


Mama jadi berharap juga kan jadinya, uuh, Kimmyyyy, awas kamu, kalau nggak menang lu yang jelasin ke mak bapak guaaaa, batin Athena lebih kesal.


Athena menghembuskan nafas panjang, papa Athena tertawa melihat ekspresi anaknya.


"Udah jangan terlalu dipikirin, kalah menang nggak masalah, paling uang jajan aja yang dipotong" ujar papa Athena.


"Haaaaa...." jerit Athena.


Papa dan mama Athena tertawa, senang sekali menggoda putri mereka.


Paginya, ups.. menjelang paginya, Athena sudah dikagetkan oleh Axel yang telah duduk menghadap kearahnya.


"Orang tidur jangan diliatin sih, malu tau" ucap Athena sambil menutup wajahnya dengan bantal.


"Kamu cantik kok kalau lagi tidur" ucap Axel.


"Emang gak bisa jaga privasi kalau sama kamu" ucap Athena.


Untung aja sekarang nggak ikut ke kamar mandi, iihh.. kalau inget hantu suka liat orang mandi iiih, sebel, awas aja kalau kamu coba-coba kayak gitu, gua putusin juga loe, hihihi... emang kapan jadiannya ? batin Athena.


Pagi itu Athena langsung diserbu Kimmy dan Vivi.


"Ntar lagi pengumumannya, gimana perasaan loe, berasa menang atau kalah ?" tanya Kimmy.


"Nggak tau, emangnya gue cenayang bisa tau kejadian masa depan" ucap Athena cuek.


"Liat tuh, udah ada yang nempel kertas di papan pengumuman, yuk kita liat kesana" ajak Vivi.


"Kalian aja lah yang liat, gue nggak" ucap Athena langsung duduk di bangku dalam kelas.


"Ya udah, kami kesana ya" ucap Vivi.


Athena mengintip lewat jendela kelas, Axel juga ikut mengintip.


"Napa ikut-ikutan ngintip ?" ucap Athena pada Axel.


Axel cuma tersenyum, terlihat kalau Athena benar-benar tegang. Hingga tak mau diajak ikut melihat hasil pengumuman peringkat try out.


Vivi dan Kimmy datang dengan wajah menunduk, Athena langsung menelungkupkan kepalanya.


"SELAMAT ATHENA KAMU PERINGKAT KE SEPULUH" teriak Vivi dan Kimmy.


Athena bangun langsung menatap kearah kedua temannya itu. Terlihat wajah mereka yang ceria.


"Gue peringkat berapa ?" tanya Athena.


"Lu nggak dengar teriakan kami sekeras itu ?" tanya Vivi.


"Serius nih, gue peringkat ke berapa ?" tanya Athena dengan mimik serius.


"Dari sembilan ratus sembilan puluh enam siswa kelas XII, Athena menempati posisi ke sepuluh" ucap Kimmy.


"Kim, yang serius sih" ucap Athena nyaris menangis tak sanggup menahan beban lebih lama lagi.


"Serius, cuma tiga anak IPS yang mencapai posisi sepuluh besar. Peringkat empat, tujuh dan sepuluh. Dan peringkat ke sepuluh adalah Athena" teriak Kimmy.


"Serius Vi ?" tanya Athena pada Vivi yang dibalas dengan anggukan oleh temannya itu.


Athena langsung menoleh pada Axel, laki-laki itupun mengangguk. Athena langsung berdiri memeluk kedua temannya, bertiga mereka berpelukan. Air mata haru menitik disudut mata mereka.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2