
Athena terpaksa memenuhi permintaan gadis hantu itu untuk mengungkapkan kebenaran. Meski tubuhnya gemetar ketakutan karena Athena terpaksa berkomunikasi dengan seorang hantu gadis yang meski tidak melakukan apapun namun tetap saja terasa menyeramkan.
"B..b.. bagaimana caranya ?" tanya Athena, sangat tidak ingin memandang wajah hampa tanpa ekspresi itu.
Namun terpaksa dilakukannya agar dia mengerti apa yang harus dilakukannya.
"Dibawah laci kabinet... paling bawah... kiri... ambilah apapun itu... kamu, akan mengerti" ucapnya sambil berjalan eh.. tidak melayang mendekati kabinet yang berada di bawah cermin panjang toilet itu.
Hantu gadis itu berhenti disamping kabinet berbahan kayu paling kiri lalu menunjuk ke arah bawah.
Aku disuruh mencari sesuatu ? aku akan mengerti ? apa dia tau IQ ku berapa ? disuruh memecahkan misteri, aduh.. jangan harap bisa, sampai tamat, nggak bakalan bisa terpecahkan, batin Athena.
Gadis itu melangkah kearah yang ditunjuk, hingga gadis itu berjongkok disitu. Tangan gadis itu masih saja menunjukkan. Athena menarik laci paling bawah, lalu meraba-raba apa yang ada didalamnya. Tapi tidak apa-apa, Athena ingin bertanya lagi tapi urung.
Mending cari lagi, dari pada melihat tampangnya, hiii batin Athena.
Gadis itu masih menunjuk meski Athena telah menarik lacinya.
Dibawah laci kabinet, paling bawah, aah.. aku benar-benar bodoh, batin Athena.
Bodoh aja bangga ?
Athena menarik laci meja yang paling bawah hingga keluar. Gadis itu lalu meraba-raba didalam disana, merasakan sesuatu dan langsung mengambil apapun yang ditemukannya itu.
Sebuah diary, batin Athena.
Athena senang akhirnya menemukan sebuah diary, gadis itu langsung berdiri dan langsung berhadapan dengan hantu tepat didepan wajahnya.
"Aaaaaaa"
Athena kaget dan langsung jatuh pingsan.
Athena terbangun dirumahnya, gadis itu kaget, melihat sekeliling kamarnya. Gadis itu heran, seingatnya dia pergi ke sekolah.
Apa yang tadi hanya mimpi ? Axel benar-benar menghilang atau cuma mimpi ? batin Athena.
Teringat pada diary yang tadi ditemukannya, Athena langsung mencari di dalam tasnya, Athena benar-benar menemukan diary itu.
"Ternyata memang benar-benar kejadian, tapi kenapa bisa sampai dirumah lagi ?" ucap Athena bicara sendiri.
Gadis itu langsung berlari ke lantai bawah, mencari mamanya. Terlihat mama Athena sedang memasak di dapur bersama para pembantunya.
"Loh, non Athena udah bangun ?" tanya bi Ijah.
Mama Athena yang sibuk mengaduk-aduk bubur langsung menoleh kearah putrinya.
"Kamu udah sadar nak ?" tanya mama Athena yang langsung menyentuh kening anaknya.
"Athena nggak demam ma" ucap Athena.
"Ya memang, kalau demam badan orang akan panas, tapi kamu beda, badan kamu justru dingin kayak mayat" ucap mama Athena.
"Iiihhh... mama"
"Iiiihhh... ibuk" ucap para pembantunya.
Ucap mereka protes serentak, karena pemilihan kata mama Athena.
"Apa yang salah sih, kan dibilang kayak mayat, tau arti kayak nggak ? itu artinya nggak beneran cuma mirip" ucap mama Athena sewot diprotes.
"Udah ayo ikut mama"
Langsung mama Athena mengajak putrinya kembali ke kamar setelah menginstruksikan untuk melanjutkan memasak hidangan makan siang hari ini pada para pembantunya.
"Kok Athena bisa sampai rumah lagi sih ma ? tadi kan Athena ke sekolah" ucap Athena.
"Ya, karena mama dan papa nyusul kamu ke sekolah, kamu tau nggak gimana paniknya mama saat liat kamu nangis trus langsung lari ke sekolah.
Kamu ini udah gila ya gara-gara putus cinta, haa...
Anak gadis masih gelap udah berangkat sendiri, gimana kalau ada yang jahat sama kamu di angkot ? gimana ? kamu itu bikin piknik mama"
"piknik ? kok piknik ?" tanya Athena.
"Siapa yang piknik ?" tanya mama Athena.
"Loh kok balik nanya ? tadi mama bilang gini kamu itu bikin piknik mama" ucap Athena menirukan ucapan mamanya.
"Iiih.. kamu ini, maksud mama itu paaanik, kamu itu bikin panik mama" ulang mama Athena.
"Oooh.. panik" ulang Athena. Ulang-ulang melulu kapan selesainya.
"Apa ? kok nggak jawab ?" tanya mama Athena.
"Mama tadi nanya apa ?" tanya Athena.
"Mama sendiri juga lupa" ucap mama Athena bingung, Athena tertawa.
"Ma, kok Athena bisa nyampe dikamar lagi ?" tanya Athena.
"Haaaa..." mama Athena jadi ingat lagi.
"Mama nyusul kamu ke sekolah setelah liat kamu nangis- nangis trus langsung berangkat ke sekolah.
Padahal masih gelap, mama khawatir kamu kenapa-napa, kamu itu anak gadis, naik angkot sendiri gimana kalau ada yang jahat sama kamu ?" tanya mama Athena akhirnya mengingat apa yang ingin ditanyakannya.
"Ma, jangan khawatir naik angkot jam segitu biasa, itu nggak masalah, banyak orang yang telah beraktifitas bahkan sejak jam tiga dini hari" jelas Athena.
"Masa sih ? kamu tau dari mana ?" tanya mama Athena.
__ADS_1
"Kota besar itu nggak pernah tidur ma, selalu ada orang yang beraktivitas, jam segitu, ada yang udah harus berangkat kerja karena kantornya jauh atau pabriknya diluar kota, ada yang udah ke pasar sebelum subuh untuk membeli bahan-bahan masakan untuk dijual diwarung makan, Athena tau dan liat sendiri waktu pulang dini hari dari study tour. Jam segitu orang udah ada yang nungguin angkot" jelas Athena.
Mama Athena akhirnya mengangguk-angguk.
"Trus kenapa tadi kamu nangis bilang kalau Axel pergi ma... Axel udah pergi" ucap mama Athena meniru ucapan Athena.
"Siapa Axel ? pacar kamu ?" tanya mama Athena.
Athena bingung menjawab pertanyaan mamanya, mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Ini ma, ini namanya Axel" ucap Athena mengangkat guling ke hadapan mamanya.
Ucapan Athena membuat mamanya bingung.
"Kok guling, trus kamu bilang Axel pergi, gimana guling bisa pergi ?" tanya mama Athena.
"Eeee... itu dalam mimpi, Axel pergi dalam mimpi" ucap Athena, sambil membuat guling nya seolah-olah berjalan diatas kasur.
"Ada-ada aja kamu ini, mama pikir kamu tidur beneran sama laki-laki, taunya guling yang bernama Axel ?" ucap mama Athena.
"Ya mama, Athena tidur sama Axel" ucap Athena memeluk guling itu sambil membayangkan Axel.
"Kenapa kamu kasih nama Axel ?" tanya mama Axel.
"Lebih baik Axel dari pada Asal" ucap Athena ngeles.
Mama Athena menggelengkan kepalanya.
"Trus ngapain kamu ke sekolah pagi buta ?" selidik mama Athena.
"Mmmm... mau ambil diary, soalnya ketinggalan, takut dibaca orang" jawab Athena ngeles lagi.
Mama Athena mengangguk-angguk dan berpikir ucapan Athena yang mengatakan dia harus pergi, jika tidak, bisa terlambat dan menyesal seumur hidup artinya dia tidak ingin buku diary nya dibaca orang yang menyebabkan orang-orang tau semua isi hatinya.
"Trus kenapa kamu ke rooftop ?" tanya mama Athena lagi.
"Athena pikir diary nya ketinggalan di rooftop, kok mama tau Athena ke rooftop ?" tanya Athena.
"Pak penjaga sekolah bilang kamu minjam kunci gembok rooftop. Akhirnya mama dengar suara kamu di toilet dan melihat kamu pingsan, kenapa kamu bisa pingsan ?" jelas mama Athena.
"Athena kaget liat wajah Athena sendiri di cermin" jawab Athena ngeles lagi, sekali lagi ngeles, Athena bisa jadi juara ngeles.
Mama Athena menggeleng-gelengkan kepalanya, tadi mengangguk-angguk, sekarang menggeleng-geleng. Tadi anak metal angguk-angguk sekarang anak dugem geleng-geleng, hehehe... mama Athena ganti aliran.
Akhirnya mama Athena menyuruh anak gadisnya beristirahat setelah makan bubur ayam yang dibuatkannya. Mama Athena bersyukur apa yang ditakutkan tidak menjadi nyata. Anak gadisnya masih menjaga kesuciannya.
Sebelum mamanya keluar kamar, ada pertanyaan yang masih ingin ditanyakannya.
"Kenapa guling ini yang kamu jadiin teman ? namanya juga pake nama laki-laki lagi ?" tanya mama Athena.
"Karena kalau lagi kesal guling bisa di pukul, didorong, ditendang, kalau lagi sayang bisa dipeluk" ucap Athena ngeles lagi, resmi sudah Athena jadi juara ngeles.
Sebenarnya tidak ngeles sama sekali, Athena menjawab dengan sejujurnya, namun dengan membayangkan Axel. Axel memang dipukul jika lagi kesal, di dorong jika Athena malu, dan dipeluk jika Athena sayang. Hanya saja Athena tidak bilang dicium karena bisa dibilang gila cium-cium guling.
Setelah makan siang, Athena disuruh istirahat siang oleh mamanya.
"Tadi kan udah tidur ma, masa disuruh tidur lagi" ucap Athena protes.
"Tadi itu bukan tidur, tadi itu pingsan" jawab mama Athena.
Athena tertunduk di meja makan.
"Kalau kamu nggak mau tidur, mama Nina Bobo in nih" ancam mama Athena.
"Nggak usah, kayak anak kecil aja" jerit Athena.
Mama Athena tertawa, jika tidak mengingat betapa khawatir nya mama Athena terhadapnya. Jika tidak mengingat betapa dia telah menyusahkan orang tuanya, mungkin Athena tidak mau dipaksa tidur siang kali ini. Tapi gadis itu tak ingin membuat mamanya khawatir lagi, terpaksalah dia menurut.
Menjelang sore gadis itu terbangun. Setelah mandi dan merasa segar gadis itu membongkar isi tasnya. Melihat buku-buku pelajarannya yang tadi tidak sempat dibukanya.
Mama Athena memutuskan meminta izin Athena tidak masuk kelas hari ini karena Athena pingsan. Kebetulan gadis itu paling malas belajar geografi. Apalagi saat ditugaskan bikin peta.
Buat apa bikin peta, ambil aja atlas. Lengkap ada semua, tinggal pilih daerah mana, tinggal pilih negara apa, malah repot-repot bikin peta, batin Athena sambil sibuk meniru gambar di atlas.
Mana jelek lagi hasilnya, huaaa.., jerit hati Athena.
Sambil membanting dan menendang gambar peta hasil bikinannya. Athena benar-benar tidak berbakat menggambar peta, gadis itu sepertinya tidak berbakat apapun. Nasibmu nak ck.. ck.. ck... ck... cicak aja prihatin.
Jadinya hari ini Athena tak belajar apapun. Athena menemukan diary yang ditemukannya tadi. Gadis itu penasaran ingin membaca diary yang ditemukannya susah payah dengan cara uji nyali itu.
Terpaksa mengikuti kemauan gadis hantu itu demi menemukan Axel. Athena terpaksa berjanji mengungkapkan kebenaran yang terjadi pada diri gadis yang telah meninggal itu.
Hiiii.. Athena merinding sendiri, mengingat dia berkomunikasi dengan manusia yang telah mati.
Athena menatap sampul diary yang masih terlihat baru itu.
Padahal udah enam tahun berlalu, mungkin karena tersimpan dengan rapi makanya masih terlihat seperti baru, batin Athena.
Gadis itu mulai membuka lembar pertama.
Senin, 14 Juli 2014
Awal masuk tahun ajaran baru di kelas XI IPA 3
sekolah heboh dengan kedatangan murid pindahan dari luar kota bernama Raihan.
Selasa, 15 Juli 2014
Hari itu adalah hari kedua tahun ajaran baru, aku telat datang ke sekolah gara-gara angkot yang tiba-tiba mogok. Pagar telah ditutup, anak-anak yang telat sudah pasrah menunggu pak Ibnu membuka pagar.
__ADS_1
Wah.. pak Ibnu sudah ada sejak jaman dahulu, batin Athena, lalu melanjutkan membaca diary itu.
Aku nggak mau nunggu masuk hanya untuk apel gelombang kedua yang lebih menyiksa.
Disuruh berbaris hingga panas terik, membuat usahaku merawat kulit selama berbulan-bulan bisa lenyap dalam setengah hari.
Athena cekikikan sendiri membaca kalimat itu, lalu kembali melanjutkan membaca.
Aku berjalan kesamping sekolah, kudengar ada tembok pagar yang tidak terlalu tinggi, mungkin aku bisa memanjat disitu ?
Aku kaget, Raihan, cowok ganteng yang jadi favorit baru gadis-gadis disekolah sedang bersandar disitu.
Dia tersenyum padaku,
"Mau lewat sini", tanya Raihan. Aku mengangguk.
"Ayo, aku bantu" ucapnya, seperti ketiban boyband, aku nggak menyangka dia seramah itu.
Gadis-gadis itu bilang dia cowok yang sombong, dingin dan anti cewek. Ternyata tidak benar, dia baik dan suka tersenyum, senyumnya manis sekali, aku langsung suka padanya.
Raihan membungkukkan badan agar bisa jadi pijakanku, tapi aku tidak tega, menginjak punggungnya hanya untuk kepentinganku.
Raihan kembali tersenyum, "mau ku gendong ?" tanya Raihan.
Aku bingung, apa maksudnya, tiba-tiba dia meraih pinggang ku dan mengangkat setinggi-tingginya. Aku segera menggapai atas tembok dan duduk situ. Aku mengulurkan tanganku, tapi dia cuma tersenyum.
Melompat dan menahan dengan tangannya lalu berusaha memanjat tembok itu, dia berhasil, kami duduk disana bersama. Tapi saat turun aku takut, terasa begitu tinggi bagiku. Raihan turun lebih dulu, lalu membentangkan tangannya.
Aku menggeleng, dia pergi meninggalkanku, aku bingung, tapi dia kembali sambil tersenyum.
Kali ini aku tidak akan menolak lagi, saat dia membentangkan tangannya aku langsung lompat.
Tubuhnya menahan tubuhku, tapi tak cukup kuat, aku menimpanya, kami jatuh bersama, terbaring di rumput, dia tertawa, mengulurkan tangannya. Menyebutkan namanya, meski aku sudah tau siapa namanya tapi aku ingin mendengar dia menyebutkan namanya.
Raihanna, aku menyebutkan namaku.
Dia tersenyum, "badanmu berat Raihanna" ucapnya.
Aku kesal lalu mencubit pinggangnya, dia menangkap tanganku dan menggenggamnya.
"Tapi meski berat aku masih bisa menahannya, jangan khawatir" itu katanya.
Kata-kata itu seolah-olah dia masih mau bertemu denganku.
Ya, dia, masih mau bertemu denganku, dia masih mau menahan berat badanku, dia masih mau menggenggam tanganku.
Aku bahagia, karena dia, hari terburukku menjadi hari bahagiaku.
Athena tersenyum membaca diary itu terbayang saat pertemuan dua remaja itu.
Romantis, mereka pasti love at the firt sight, batin Athena.
Duh indahnya cinta pada pandangan pertama, batin Athena lagi sambil tersenyum sendiri.
Athena membalik halaman selanjutnya.
Sabtu, 20 September 2014
Aku berjalan di jalan menuju sekolah, beberapa cowok tersenyum menghadangku.
"Jangan ganggu yang satu ini" ucap Raihan.
"Kenapa ? apa dia pacarmu" tanya temannya.
"Maybe" jawabnya sambil tersenyum padaku.
Tidak, bukan maybe tapi absolutely, teriakku dalam hati.
Bukan mungkin tapi pasti.
Jika dia ingin aku jadi pacarnya, aku pasti mau menerimanya, *p*asti, absolutely.
"Oh my God, romantis banget, aku juga mau seperti itu" ucap Athena sendiri.
Lalu berdiri di tengah kamar.
"Jangan ganggu yang satu ini" lalu Athena melompat ke sisi lain.
"Memangnya kenapa ? dia pacarmu ?" Athena lompat lagi ke sisi tadi.
"Maybe"
"Oh ya ampun, andai Axel berkata seperti itu dihadapanku"
"Loh kok Axel sih.. Evaaan" ucap Athena meralat sendiri ucapannya.
Gadis itu tercenung, tiba-tiba mengingat Axel.
Andai ada Axel disini, aku nggak akan bicara sendiri, batin Athena.
Tiba-tiba Athena merasa sedih, gadis itu menelungkupkan wajahnya diatas meja belajar lalu menangis terisak.
"Jangan menangis lagi"
Athena mengangkat wajahnya, Axel tersenyum, bersandar di pintu sambil memasukkan tangan ke saku celana. Athena melompat memeluk laki-laki itu. Axel langsung membalas pelukannya.
Tanpa terasa telah pergantian waktu, dari terang menjadi gelap. Athena memeluk laki-laki yang baru saja dirindukannya. Axel membelai rambut gadis itu dan mengecup puncak kepalanya.
"Jangan pergi lagi, seperti apapun sikapku, kamu jangan pergi lagi" ucap Athena mengangkat wajahnya demi memandang Axel.
__ADS_1
Laki-laki itu merapikan helaian rambut Athena lalu mengecup keningnya. Athena memejamkan mata meresapi ciuman hangat dikeningnya.
...~ Bersambung ~...