
Kala itu, ibu tirinya membuyarkan lamunan kiara, yang tengah terduduk lesu.
"Kiara maafkan aku, sudah tiga tahun aku bersama ayah mu, tidak apa jika dia memang lebih banyak memberikan uang untuk membiayaimu sekolah, aku memang menyukainya saat memutuskan menikah. Tapi sekarang, kau bukan tanggung jawab ku lagi, aku akan pergi dari rumah ini, aku juga sudah menemukan pekerjaan, jadi maafkan aku tidak bisa membantu apa apa"
Dengan belas kasih, ibu tirinya membicarakan itu pada kiara. Sebenarnya Kiara ingin menangis karena posisi ini, namun dia menahannya dengan tenang, agar ibu tirinya tidak berat hati meninggalkannya.
"Ah baiklah, aku mengerti bu, terimakasih atas waktu yang kamu berikan tiga tahun ini, ayahku sangat bahagia bersamamu, kau jaga ksehatan jika mau bekerja, udara semakin dingin akhir akhir ini, jangan sampai sakit, dan pulanglah kemari semamumu"
"Ah terimakasih banyak kiara, rumah ini adalah milik ayahmu, kau yang memang seharusnya menempati. Jadi aku tidak akan kembali kiara, aku sudah menyewa tempat lain untuk tinggal. Maafkan aku sekali lagi"
"Ah begitu rupanya. Jika itu memang keputusanmu, baiklah. Hati hati bu, sampai jumpa"
Sambil membungkukan badan pertanda kiara mengucapkan selamat jalan kepada ibu tirinya yang hendak pergi meninggalkan rumah.
Kiara larut dalam lamunannya, tidak terasa buliran air mata jatuh membasahi pipinya, ia bergegas masuk kedalam rumah dan menutup pintu, kiara jatuh bersimpuh di lantai dan mendekap lututnya. Ia hanya menangis seharian ini, matahari sudah tenggelam pertanda waktu sudah malam, tiba tiba dering telfon menghentikan tangisannya, dia bangkit lalu mengambil ponsel miliknya.
"Halo"
"Besok aku dan sana ingin bicara, apa kamu akan masuk"
"Yah, kamu tunggu saja aku di kursi dekat tangga, kegiatan ku akan seperti biasa"
"Apa kau yakin akan melakukan kegiatan seperti biasa, kau sudah baik sekarang?"
"Aku tida ingin berlama lama larut dalam kesedihan ini, biarlah yang sudah seharusnya terjadi, akan terjadi dengan indah"
"Aku akan terus berada di dekatmu, sana pun akan mengatakan hal yang sama jika dia ada"
"Aku tau, kalian memang temanku, semoga kalian akan selalu bahagia"
"Baiklah ku tutup telfonnya. Besok kita bertemu, kamu istirahat saja yang cukup, jangan bersedih terus, aku juga turut berduka ya ki"
"Hm, terimakasih sudah perhatian, ku tutup telfonnya, sampai jumpa besok"
Dengan perasaan sedikit lega kiara mengakhiri panggilan dari temannya yang bernama bella, sahabat yang sudah 3 tahun ini selalu bersamanya semenjak di universitas. Walaupun mereka berbeda jurusan, keakraban dan kedekatan mereka sungguh tidak dapat diragukan lagi.
__ADS_1
Ternyata cuaca diluar sangat gelap, sepertinya hujan pun akan turun menemani kesedihan yang menerpa dirinya, kiara segera menutup semua pintu jendela, dia pergi beranjak ke tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya yang ramping begitu saja.
Dalam lamunannya saat ini, ia benar benar merasa terpuruk, sendiri, dan tidak punya lagi arah tujuan, dia merasa hidupnya kelam dan sangat sial.
"Kenapa mereka begitu cepat pergi, rasanya aku tidak sekuat yang kau tau tuhan, hati ini benar benar hancur, aku sangat benci kesunyian ini, kemana tawaku, kebahagiaan ku, keceriaan yang sepertinya aku ingin merebutnya dari siapa saja yang memilikinya, aku ingin menyerah saja tuhan, apa kau tidak akan marah jika aku begini"
Tangisnya semakin pecah ketika dia menggerutu pada dirinya sendiri, udara dingin dan turunnya air hujan mengantarkan tangisan yang sangat pilu dari gadis malang itu. Tida sadar setelah beberapa lama, kelopak mata yang sudah sangat lelah itu, terpejam dengan sendirinya, kiara tertidur tida sadar dengan kerinduan akan kasih sayang yang hangat dari orang orang terdekatnya. Sepertinya tuhan memang sedang tidak adil padanya, tapi apakah berhak dia menghukum dirinya sendiri karena ketidak adilan ini.
---**---
Dering alarem membangunkan kiara dari tidur malamnya, matanya sedikit sembab karena tangisannya semalaman. Kiara kembali menatap langit langit rumahnya, setengah sadar dia kemudian terduduk dan mematikan alarem yang sedari tadi berbunyi nyaring hampir memecahkan gendang telinganya.
Kiara akan kembali melakukan aktifitasnya sebagai seorang mahasiswi. Sudah dua minggu ini, dia sibuk dengan perkara kepergian ayahnya, suasana duka masih terasa hingga detik ini, namun, dia sudah berjanji tidak akan larut dengan kesedihan ini .
"aku harus tetap hidup bukan untuk hari ini?"
Gumamnya dalam hati yang benar benar pilu.
Jam menunjukan pukul 8:30
kiara sudah bersiap untuk pergi menemui bella dan sana di kampus, dia tida mau temannya mengkhawatirkan dirinya terlalu berlebihan, meskipun dia sendiri tau bahwa memang sekarang hatinya sangat sedih berlebihan.
Mungkin sebentar lagi dia muncul? karena pada kenyataannya dia harus tetap hadir walau dia tida ingin.
"Hai bell, hai cowo manja"
Kiara menyapa kedua temannya dengan senyum seadanya
"Sayangkuuuuu, apa kau terus menangis, kenapa matamu mengerikan begini, ayo duduklah"
Setelah memeluk kiara bella langsung menarik tangan kiara yang mengisyaratkan agar duduk di anatara dirinya dan sana.
"Bela maniis, kia memang sudah seram sedari dulu, jangan hanya mengatakannya sekarang" celetuk sana dengan renyah
"Terserahlah anak manja, aku sedang tida perduli, kau beruntung sekarang aku sedang tida punya tenaga untuk memukul mu"
__ADS_1
"Hahaha aku senang sana mengangakat fakta tentang kebenaran ini" sahut bela
"hei"
Kiara sontak mengabil langkah untuk menarik telinga mreka agar menghentikan pembicaraan konyol itu.
"Aaah"
Sana dan bella secara bersamaan meringis kesakitan. Entah tida punya tenaga dari mana, tapi kenapa tiba tiba kiara mengatakan dia tida punya tenaga, padahal ketika menarik telinga kedua temannya jelas jelas mereka meringis kesakitan.
Kiara melepaskan tangannya dari kedua sahabatnya, secepat kilat kiara kembali memikirkan apa yang ingin teman nya bicarakan.
"Bell kau mau berbicara apa"
"Aku ingin kau menginap saja di rumah ku atau di rumah sana"
"Hm bener ki, aku takut kamu melamun dan kerasukan jika di rumah sendirian"
"San jangan mulai. Kia aku bukannya tida percaya kau baik baik saja, tapi ibumu sudah pergi, kau sendirian di rumah, tida ada yang mengajak mu bicara atau sekedar melamun bersama, aku benar benar menghawatirkan mu"
"Aku akan baik baik saja bell. Aku tidak ingin meninggalkan rumah. Untuk saat ini yang aku pikirkan adalah kerja paruh waktu, agar aku bisa bertahan hidup hanya untuk sekedar makan"
"Seharunya kalau butuh apa apa kau bisa menghubungiku atau bella, jangan hanya memikirkannya sendiri"
"Lalu apa rencanamu untuk kedepannya? kuliahmu apa tida akan terganggu jika kau bekerja, sebaiknya jangan ki aku tida tega melihatnya"
"Aku hanya ingin bertahan hidup bell, dengan tenagaku dengan semua kemampuan yang aku punya"
"Ki, aku akan bicara dengan ka tomi, aku akan memohon agar kau di masukan sebagai pelayan pengantar minum di barr kaka ku, daripada kau harus lontang lantung dan tida tau mau kerja di mana"
"Apa itu tida menggangu privasi kiara san? Jika teman dan pihak sekolah tau bagaimana? Barr kaka mu kan bukan hanya tempat minum, nanti kiara di sangka yang tidak tidak oleh pihak lain"
"Kau benar bell, tapi aku hanya memberikan saran, itu kembali lagi pada kia, dia setuju atau tida ya tida masalah, yang terpenting sekarang kia sedikit tenang tentang masalah biaya hidup"
"Ajak aku bertemu kaka mu yah, aku setuju kerja di barr, pandangan orang mengenai aku itu hak mereka, yang terpenting teman ku tau, aku tida seperti itu, aku percaya ini rencana tuhan mengirimkan kalian untuk ku, terimakasih semuanya"
__ADS_1
Kiara menggengam tangan kedua sahabatnya secara bersamaan, dia lega akhirnya dia bisa sedikit tenang untuk masalah kerja paruh waktunya. Tida mengapa bekerja di barr, asal tidak ada yang berpandangan buruk, toh kalo ada dosen atau teman yang sedang menghabiskan waktu di sana, kia jadi tahu kartunya, bahwa mereka adalah berengsek berengsek yang suka bermain.
bersambung ...