HIDUPKU

HIDUPKU
Si mata brlian


__ADS_3

"Hei kau tida akan bernafas jika seperti itu"


Kiara menarik selimut yas yang sudah menutupi ujung kaki sampai ujung kepalanya.


Namun yas tida membuka kedua matanya, dia tetap terpejam mendengarkan apa yang ingin kiara bicarakan selanjutnya.


"Mengapa kau melakukan ini pada mereka"


Ujar kiara membuka kembali perbincangan


"Karena aku tida suka deff terus mendekatimu"


"Karena aku istrimu?"


"Lebih tepatnya karena aku cemburu, terlebih kau sudah mejadi istriku"


Kiara tertawa geli mendengar pernyataan yas yang seakan sedang mengutarakan isi hatinya pada istrinya sendiri, dan membuat kiara tida sadar bahwa sekarang yas memperhatikannya dengan senyumnya yang manis.


"Hei kenapa kau sekarang menatapku, berbaringlah dan tetap pejamkan matamu, aku lebih nyaman seperti itu"


"Kenapa kau tertawa!"


"Tida apa, lupakan, aku hanya tida terbiasa mendengar kau berbicara begitu penuh perasaan. kau tau jika semua orang mendengar, mereka juga akan tertawa mengejek mu"


"Kau benar, nasibku ini memang keterlaluan, hidup dengan kemewahan tapi hanya seorang diri, aku selalu ditemani dengan rasa kesepian dan kegelisahan, padahal aku mempunyai paras yang tampan tapi tida pernah ada seorang wanita pun yang tertarik dengan ku, mereka hanya menertawakan ku dan mengejek ku. Sungguh ini benar benar tida adil jika di bicarakan"

__ADS_1


Kiara semakin tertawa kencang dan tida sadarkan diri dengan ocehan yang dibuat oleh yas, perutnya sampai sakit dan matanya sampai berair. Kiara benar benar mendengarkan yas dengan baik dan menertawakannya dengan sempurna.


"Tertawalah sesukamu, aku mengantuk rasanya"


"Heiii, kau marah padaku, kenapa kau memunggungi ku, cepat balikan badanmu"


Kiara menggoyang goyangkan tubuh yas agar berbaring seperti semula, dan yas hanya menurut saja karena tida ingin kiara berisik.


"Apa yang kau bicarakan dengan rissti!"


"Tida banyak, dia akan memberikan deff kembali padaku"


"Cih. baguslah, kau bisa semakin meyakinkan hatimu setelah dia kembali nanti"


"Rissti adalah wanita dari keluarga terhormat, dia cantik, pandai, glamor, berkarisma dan juga pewaris satu satunya, tapi entah mengapa aku tida menyukainya"


"Aku tida menyukainya karena dia juga menginginkanmu"


Yas terdiam, telinganya mendengarkan dengan baik setiap perkataan yang kiara lontarkan, matanya kemudian terbuka, memandang langit langit kamarnya dengan indah, dia baru menyadari bahwa ternyata ada saatnya kiara tida menyukai seseorang karena menyukai dirinya.


"Baiklah aku sudah selesai bicara, tolong bukakan pintunya aku akan pergi, kau juga akan tidur bukan?"


Lagi lagi yas menarik tangan kiara ketika dia akan bangkit dari duduknya. Tangannya di genggam erat seakan tida mau kehilangan momentum terbaik ini.


"Bisa kau katakan sekali lagi apa yang kau bicarakan sebelumnya"

__ADS_1


"Tolong bukakan pintunya?"


"Sebelumnya"


Kiara menatap yas dengan lembut, membuat jantungnya sendiri berdegup kencang karena suasana malam ini, yas masih berbaring dari tidurnya, kiara menatapnya dengan pasti, menatapnya dengan sesuatu yang sedang dia cari di dalam sorot mata itu.


"Lupakan, aku juga sudah mengantuk"


Yas menarik lengan kiara sampai dia ambruk dan tidur didekat yas. Mereka kini saling memandang, saling mencari makna dari sorot mata itu, yas bahagia dirinya bisa bersama kiara dengan suasana seperti ini, ingin rasanya malam ini dijadikan begitu panjang agar yas benar benar bisa puas memandang kiara.


"Apa kau sudah menyukaiku?"


Bisik yas dengan lembut menambah suasana semakin syahdu.


"Sedikit"


"Tetap pertahankan yg sedikit itu, aku akan terus berusaha agar kau semakin dekat denganku"


"Aku tida menyukai rissti karena dia menginginkanmu"


"Apa karena deff telah meninggalkanmu, jadi kau mau bersamaku"


"4 tahun belakangan ini aku memang selalu menyukai deff, tapi 4 hari ini aku selalu menyukaimu, tolong bersabar sedikit untuk"


"Terimakasih"

__ADS_1


Kiara tida lagi melanjutkan kalimat yang akan dia sampaikannya, dia melihat sorot mata yas begitu indah menatap dirinya, dia tida menemukan rasa takut lagi dalam sorot mata itu, ternyata kiara baru menyadari yas benar benar memiliki bola mata yang berkilau bagai berlian.


Bersambung ...


__ADS_2