
Kini Hans telah membawa Yas kedalam kamar. Tida ada orang yang terbangun saat ini. Hans harus benar benar merawat Yas dengan baik malam ini.
Yas dibaringkan di sofa dalam kamar. Hans segera mengambil handuk dan baju ganti yang akan di kenakan Yas untuk beristirahat. Hans menyesal melihat wajah Yas yang memar, Dia merasa bersalah membuat temannya jadi seperti ini.
Pakaian Yas telah di gantikan yang baru. Hans memangku Yas untuk di pindahkan ke atas kasur agar tidur dengan nyaman. Dan sepertinya Yas juga sudah kelelahan, sehingga matanya sulit sekali terbuka walau Hans memangku nya keatas kasur dengan sedikit kelelahan.
Hans menyapu sisa sisa air yang menggenang di wajah Yas, dia juga mengompres luka Yas dengan antibiotik dan menempelkan plaster agar memarnya tida memburuk. Setelah semuanya selesai, Hans segera pergi dari kamar itu untuk kembali ke paviliunnya untuk berpikir dan beristirahat dari penatnya masalah yang ada.
--**--
Pagi telah tiba, jam alarem membangunkan Yas dari tidur lelapnya. Baru sekitar 3 jam dirinya benar benar lelap dan merasa melupakan kepanikan dan rasa cemas dari hilangnya Kiara, kini Yas harus membuka mata dan menyadarkan dirinya untuk kembali ke dunia yang sesungguhnya.
"Kiara"
Yas berkata lirih dan sadar apa yang telah terjadi semalam. Dia bena benar harus memulihkan tenaganya dahulu untuk bisa bangkit dari tempat tidurnya. Jen sudah menyiapkan sarapan di atas meja sebelum yas tersadar. Tapi, nampaknya dia tida begitu berselera untuk mengambil secangkir teh hijau itu.
Yas segera bangkit dan mengambil langkah ke kamar mandi, dia akan membersihkan tubuh sebelum hari ini melakukan pencarian Kiara lagi.
20 menit berlalu, Yas keluar dengan kondis yang berantakan, mata yang sudah kehilangan arah dan wajahnya yang pucat. Sudah ada Hans di sana rupanya, Hans sudah hapal dan akan melihat apa pagi ini, Yas akan terus cemas dan ketar ketir menanyakan prihal kiara nantinya. Hans juga sengaja tida menyandi kamarnya Yas semalam, Dia takut terjadi sesuatu pada Yas nantinya.
"Apa kau baik baik saja"
"Apa kau sudah menemukan petunjuk. Kurasa ini sudah 24 jam dari kehilangan dia. Aku akan segera melapor pada polisi"
"Aku sudah melakukan itu. Kita akan melakukan Hal lain hari ini"
Yas tida memperdulikan Hans. Dia sibuk memilih baju di dalam lemarinya walau secara tida sadar Yas tida benar benar memilih baju di dalam sana.
"Biar aku yang memilih baju"
Yas benar benar tergeletak lemas pagi itu, tubuhnya sudah tida bisa menopang rasa dan mengontrol suasana apa yang terjadi. Sepertinya Hans tau kondisi Yas saat ini. Tapi mata Yas tida terpejam, dirinya terus menatap langit langit kamar dengan seksama dan langsung meneteskan air mata.
Hans segera membantunya. Memangku Yas agar kembali ke tempat tidurnya. Hans menghela nafas dan memperhatikan apa yang dilakukan temannya dan Hans berdecak 'sepertinya aku akan bertengkar lagi hari ini'
"Maafkan aku untuk kejadian semalam"
"Terimakasih Hans"
"Aku akan berusaha menemukannya. Kau, harus bertahan"
"Aku akan mencarinya walau sampai titik akhir"
__ADS_1
"Dokter sedang dalam perjalanan. Kau mudah sekali terserang flu, jadi aku memutuskan untuk menghubunginya dulu sebelum melihat kondisimu seperti inipun"
"Tapi aku harus mencari dia"
"Kau tenanglah dulu. Setelah keadaanmu membaik kita akan bergerak"
"Baiklah aku ikuti apa katamu"
Setelah beberapa saat menunggu, dokter datang memeriksa keadaan Yas. Benar saja, apa yang di duga Hans adalah kenyataan, Yas terserang flu dan membuat tubuhnya demam cukup hebat.
"Istirahat yang cukup saja. Seharusnya kau mandi air hangat, kenapa memaksakan begini"
Dokter telah selesai memeriksa dan memberikan beberapa obat, Hans juga sudah mengantarnya dari balik pintu kamar Yas, dan Hans kembali kedalam kamar menemani sahabatnya yang tida berdaya.
"Aku akan mendatangi kampusnya. Beberapa hari lagi wisuda. Mungkin akau akan mendapat petunjuk"
"Aku akan ikut bersamamu"
"Tida bisakah kau hanya mengandalkan aku saja?"
"Aku tetap akan bersamamu"
"Jangan membuat keadaan semakin kacau, kau pulihkan dulu kondisimu. Aku akan segera kembali"
"Kau tida bisa menghalangiku"
"Jangan buat aku marah atau aku akan memukulmu lagi"
"Kau sungguh tdiak akan tau bagaimana perasaanku saat ini Hans. Aku sungguh kacau dan tida bisa bernafas lega. Aku tercekik akan situasi ini, aku tida bisa jika terus berdiam diri dan hanya menunggu. Kumohon mengertilah"
Hans tida tau haru berkata apa. Yas sudah bersimpuh di bawah kakinya. Dia tida bisa membiarkan Yas seperti ini sendirian. Hans harus lebih sabar dan rela serta mengikuti apa yang dia inginkan.
"Baiklah. Aku akan membawamu"
Beberapa saat kedua laki laki itu telah berada di dalam mobil menuju kampus Kiara untuk mencari petunjuk. Wajah Yas terlihat lesu, kacau dengan plaster yang menempel di beberapa bagian wajahnya, juga bibir yang pucat pasi seperti orang yang hidup segan matipun tak mau, itulah peribahasa yang sangat cocok untuk di utarakan pada Yas saat ini.
"Jika ternyata di kampus kita tida menemukan apapun, mau bagaimana?"
"Aku akan menemui deff. Bisa saja dia tau apa yang sedang terjadi"
"Apa kau bercanda? Mana mungkin ini ada hubungan dengannya"
__ADS_1
"Kita tida tau lawan mempunyai rencana apa"
Hans hanya bisa menghela nafasnya, berat memang keadaan seperti ini, mata hati Yas sudah sangat tertutup untuk berpikir jernih, Yas hanya memikirkan betapa dia ingin menemui sosok kiara sekarang.
Tiba di kampus kedua laki laki sudah berada di salah satu ruangan yang biasa di pakai untuk menerima tamu. Sudah ada pengurus dan beberapa dosen yang berkumpul. Yas di terima dengan baik karena semua mengenal Yas sebagai orang dermawan yang mendonorkan dana untuk salah satu universitas ini.
Y "Ada hal yang harus aku ketahui tentang seseorang disini"
H "Tenanglah dulu Yas"
"Apa yang bisa kami bantu tuan"
"Ada seseorang yang bernama Kiara yang perlu aku tau keberadaanya. Bisakah kalian membantu"
Salah satu dosen ingat nama itu, dia langsung berbicara tanpa ragu
"Apa maksudmu seorang perempuan dengan rambut panjang dan tubuh yang ramping?"
"Apa kau mengetahuinya. Dimana dia sekarang?"
"Yas sabarlah dulu"
Semua orang yang berada di ruangan itu kaget, terlebih yas berpakaian santai dan seperti sedang sakit, tapi kenapa tiba tiba mengadakan rapat pertemuan dan membahas satu hal. Yas sudah gusar tida dapat menunggu lagi apa yang akan seorang dosen itu katakan.
"Apa kau mengetahuinya? Katakan dengan jelas"
"Dia kemari beberapa hari yang lalu, dia meminta SKPI dan mengatakan tida akan ikut serta dalam memeriahkan wisuda nanti. Dia hanya mengatakan keadaannya terdesak dan membutuhkan bantuan. Maka dari itu, hari itu dia menyelesaikan semua urusannya disini dan tida kembali lagi"
Dosen itu bersuara dengan gemetar, yang dia tau dirinya hanya berniat membantu dan tida ada yang dirugikan saat itu.
Yas bangun dari tempat duduknya, berniat akan menghampiri seseorang itu, namun tubuhnya benar benar tida kuat menopang rasa sakit kepala itu, dia berpegangan pada kursi dan sempat tergoyahkan.
"Apa kau tida tau lebih banyak tentang dia hari itu?"
Hans mencoba menenangkan suasana. Dia yakin Yas akan mengamuk mengetahui ada kesalahan disini. Tapi itu sudah jelas bukan sebuah kesalahan melainkan hanya prosedur yang bisa membantu seseorang.
"Aku hanya sekedar membantunya tuan, setelahnya dia tida mengatakan apapun lagi"
"Baiklah aku mengerti"
Yas tida dapat berkata lagi, dia harus benar benar menjaga tubuhnya agar tida ambruk. Perasaan yang meledak tida bisa dia luapkan kala itu. Dan Hans sangat mengerti harus bagaimana, Yas juga tida mungkin akan mencari informasi dalam kondisi seperti ini, maka dari itu Hans memutuskan membawa Yas untuk kembali ke rumah agar kondisi tubuhnya lebih baik.
__ADS_1
Bersambung ...