HIDUPKU

HIDUPKU
Keributan saat makan malam


__ADS_3

"Maafkan saya sekali lagi tuan yas"


Kiara benar benar tida waras pikir semua orang yang ada di dalam ruangan itu, mengapa dia benar benar selalu membuat kesalahan, bahkan dengan santainya dia masih saja memakai handuk di atas kepalanya untuk mengeringkan rambut basahnya.


"Apa yang kau lakukan di sana, cepat ambilkan makanan untuk ku"


"Baiklah, kau ingin apa, akan ku ambilkan untuk mu"


Semua mata tertuju pada kiara, apa yang sebenarnya dia lakukan, apa dia sedang menguji kesabaran tuan yas?


Tapi bukankah sudah 2 kali lehernya berada di cengkraman tuas yas, apalagi yang harus di uji dari kesabaran orang yang wataknya angkuh, apa dia benar benar ingin mati malam ini! Jen segera menyela dengan menawarkan bantuan kepada tuan yas.


"Biar saya ambilkan makanan anda tuan"

__ADS_1


"Tida usah jen, biar aku saja, tuan yas menginginkan aku yang menuangkannya, kembalilah ketempat mu"


Yas hanya terdiam melihat pemandangan itu, mengapa kiara penurut sekali hari ini. Kiara segera mengambilkan beberapa lauk dan nasi untuk dimakan oleh tuan yas, namun ketika dia sibuk mengambil makanan yang ada di meja mulutnya bersuara


"Bukankah tuan yas yang menyuruh jen untuk mengajari aku supaya menjadi istri yang baik di rumah ini. bukannya aku tida mau dan tida bisa menjadi istri yang baik, namun ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang istri, hanya akan ada kesederhanaan di dalamnya, aku takut tuan yas tida terbiasa dengan kesederhanaan itu"


Jen benar benar dibuat kaget oleh perkataan kiara, mengapa dia bisa berkata se dewasa itu pada tuan yas, apa yang sebenarnya terjadi setelah dia kembali ke rumah, hans yang tida ingin melihat tuannya marah segera menghentikan tindakan kiara yang berbicara semaunya di hadapan tuan yas.


Hans sedikit memberi penekanan mengatakan 'jen akan mengantar' agar jen paham harus berbuat apa kepada kiara.


"Jangan hentikan dia hans, biarkan dia melakukan hal sesukanya, aku tida akan melepaskannya kali ini, dia benar benar ingin mati di tanganku"


Suasana jadi semakin kacau saat ini, jen sudah sangat was was pada kiara, hans sudah ketar ketir memikirkan bagaimana akan melerai pertengkaran ini, namun seseorang yang menjadi sorotan hanya melamun dengan pandangan kosong dan tida peduli dengan apa yang akan terjadi, bahkan kiara membuka mulutnya dan mulai bersuara,

__ADS_1


"Apa kau akan membunuhku tuan?


Jika memang itu yang membuatmu senang lakukanlah. aku tida akan menghindar. Kau tau aku sudah bosan menerima takdir ku yang seperti ini, kau tau aku benar benar kacau kali ini, aku benar benar lelah dengan semua ketidakberdayaan hidupku, aku sangat muak menjadi diriku yang lemah. Jadi tolong lakukan saja, aku akan sangat senang menerimanya"


Kiara benar benar seperti kehilangan akal, dia tida bisa mengendalikan kesedihan yang menerpa hidupnya, dia benar benar menangis tanpa melihat suasana apa yang sedang terjadi, dia berbicara dengan keras tanpa menoleh tuan yas, kali ini tubuhnya dibiarkan berlutut ke lantai menghadap kursi yang sedang di duduki tuan yas, dia memulai kembali pembicaraannya,


"Kau tau tuan, aku tida pernah menginginkan kehidupan yang mewah, yang di dalamnya akan ada banyak harta, akan ada jabatan dan gelar, akan ada orang orang yang menghormati, dan tunduk terhadap diriku, aku benar benar tida pernah meminta kehidupan yang seperti itu. aku hanya menginginkan sedikit, sedikit saja kebahagiaan agar suatu saat ketika aku meninggalkan dunia ini, aku merasa aku berarti, dan hidupku tida sia sia. Aku tida meminta kebahagiaan yang berlimpah cukup hanya dengan orang orang di sekelilingku yang saling mencintai satu sama lain dengan hangat, dan saling mengasihi dengan apa adanya. Aku menginginkan mereka memelukku disaat aku menangis, memaafkan aku ketika aku terlalu ceroboh dan membuat aku tertawa disaat duka selalu menerpa. Aku hanya menginginkan itu, namun jika takdirku memang akan berakhir dengan berlutut di hadapan mu, maka lakukanlah, aku akan siap menerimanya"


Benar, kiara memang sangat benar, karena orang yang sudah kehilangan harapan bagaimana mungkin akan tetap hidup, maka dari itu dia merasa sudah menyerah karena tida memiliki harapan


Yas terdiam dengan raut muka marah, seandainya kiara pun mengerti bahwa yas pun sama dengannya, selalu merindukan kebahagian, yang benar benar sudah lama dia rindukan. Hanya dengan hati yang angkuh lah yas bisa menyembunyikan kesedihan itu.


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2