
Berbeda cerita dengan keadaan di ruangan bawah, masih terlihat jen yang sedang mengobrol dengan hans, jen terlihat tenang dan hans terlihat tertawa renyah saat ini.
"Jadi bagaimana ini bisa terjadi jen"
"Aku sudah memberitahu nyonya bahwa aku akan keluar sebentar untuk mengurusi urusanku, dan dia menyetujuinya, bahkan sebelum pergi aku menanyakan apa yang dia butuhkan lagi, tapi nyonya mengatakan 'tida', dia hanya ingin menunggu tuan dan penasaran apa yangg ingin dia bicarakan"
"Lalu setelah itu, mengapa dia sampai meminum obat itu, kau tau bukan semua barang barang yang letaknya dekat dengan tangga adalah arsip arsip dan bukti yang tuan simpan sebagai senjata, itu juga sangat rahasia, tida ada yang berani membuka selain aku dan tuan"
"Aku tida mengetahui jika nyonya berdalih sakit kepala, saat aku datang keadaan tubuhnya sudah aneh, dia merasa kepanasan dan wajahnya pucat, dia juga berkeringat lebih banyak semakin lama, lalu aku mencoba memulihkannya dengan mengompres tubuhnya, tapi itu sia sia, aku pun panik setelah tau itu adalah obat perangsang, maka dari itu aku langsung menghubungi mu"
"Tapi ini membuatku sedikit geli, aku ingin tertawa mendengar tuan mengatakan apa yang harus dia lakukan, hahaha. Apakah dia benar benar laki laki dewasa yang bodoh, mana mungkin dia bertanya hal konyol ketika istrinya sedang sekarat, hahaha"
__ADS_1
Hans semakin geli dan tertawa keras membayangkan ekspresi yas saat jen dan dirinya mendesaknya untuk segera menolong kiara, hans benar benar tida habis pikir dengan kekonyolan yang terjadi, tuannya sudah dewasa tapi tida terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk mencoba membahagiakan kiara dengan pertahanan tubuhnya. Ini membuat Hans semakin tertawa dalam bayangan konyolnya.
"Tapi sekertaris hans, bukti obat yang kau simpan kini sudah hilang, tuan yas tida dapat selamat jika nyonya menuntutnya"
"Yaah kau benar jen, tuan tida mungkin bisa menghindar dari wartawan jika kasus ini nyonya di ungkap, berdoa saja semoga saat nyonya memutuskan bercerai dia tida macam macam"
"Ini benar benar mengkhawatirkan, susah payah kita mendekatkan mereka namun akan sia sia pada akhirnya"
"Tentang dirinya malam ini dengan tuan yas?"
Jen terkejut sekaligus kaget mengapa hans bisa seberani itu menyuruhnya berbuat hal konyol.
__ADS_1
"Kau gila jen, tentu saja menanyakan mengapa nyonya bisa sampai membuka laci itu dan meminum obatnya. Apa sebenarnya yang kau pikirkan, ada ada saja"
"Dasar anak ini, pulanglah lah hans. Besok kita lihat apa yang akan terjadi"
Malam semakin larut, jen dan kemudian hans menyudahi obrolan ringan mereka yang sedari tadi hanya membahas kecerobohan kiara.
--*--
Kembali pada keadaan kiara dan yas di kamar mandi, yas berfikir sudah cukup mereka melakukan aksi fantasi mereka, dia merasa kiara sudah terlalu lelah pun dengan dirinya, yas mencoba mengambil sehelai handuk kecil untuk di lingkarkan di pinggangnya, kemudian secara perlahan yas mengangkat kiara dan mendekapnya dengan penuh perhatian, lalu membaringkan tubuh ramping kiara menuju tempat tidurnya. Saat kiara sudah di baringkan, sudah di selimuti dengan nyaman, yas mendapati keadaan kiara sudah membaik, suhu tubuhnya sudah normal, wajahnya tida lagi pucat dan sekarang kiara terlihat lebih tenang, lalu dengan lembut dan hati hati, yas menyibak sisa sisa air yg masih menempeli wajah kiara, dengan saputangan kecil nan halus, yas menempelkan tangannya melihat satu persatu bagian yang masih tergenang air. Setelah semuanya dirasa cukup, dirinya pun sangat kelelahan dengan semua hal yang telah terjadi, dirinya sudah tida kuasa menahan kantuk dan memutuskan untuk menyusul kiara yang sudah tertidur lelap, yas berbaring di sisi kiara dengan jauh, dengan tenang dan tida butuh waktu lama dia pun tertidur lelap dengan penuh kebahagiaan di dalam dadanya.
Bersambung ...
__ADS_1