HIDUPKU

HIDUPKU
Suasana mencekam


__ADS_3

Usai ia mengendalikan ocehannya yang menggebu gebu, kiara kemudian mempersembahkan senyuman manis di bibirnya, dia amat sempurna melakukan akting ini, dia seolah hanya memikirkan uang 10x lipat yang nanti ia akan terima dari bossnya.


Kiara kemudian keluar dari toilet usai merapikan rambut dan pakaiannya, kini ia siap mengantarkan minuman itu ke kamar 107, kiara mengambil nampan di atas meja yang telah di siapkan bartender 5 menit yang lalu, yang berisi vodka, wiski, dan margarita. Dia mengambilnya dengan anggun dan mulai melangkah berjalan menjauhi dapur bar, ia akan segera menuju kamar walaupun dengan berat hati dan senyum palsu tentunya.


Semua mata mengawasinya, dia serasa sedang membawa bendera pusaka dalam acara kirab, tida boleh melakukan kesalahan sedikit pun yang nantinya jika di lakukan akan berakibat fatal untuk semua orang.


*5 menit lagi ki, bersabarlah, tenanglah dan mari kita selesaikan*


Ucapnya berbisik seakan menguatkan dirinya sendiri.


Kiara sampai tepat jam 11 malam di depan pintu 107, namun jantungnya amat berdebar ketika samar samar suara terdengar dari balik pintu tersebut.


*Suara apa itu, bukan nyanyian apalagi desahan seorang gadis, seperti suara sedang di medan perang, atau seperti orang yang sedang melempari botol kaca?* ucapnya dalam hati.


Kiara terheran dan kebingungan dengan suara yang dia dengar barusan. Kiara kemudian mengetuk pintu seperti biasa dan mendekatkan suaranya pada mikrofon di sebelah pintu tersebut.


"Hm, permisi tuan dan nyonya, saya membawakan minuman anda, semoga anda tidak terganggu dengan kedatangan saya, dan mohon maaf bila memang waktunya sangat tida pas, saya menunggu"


Begitulah kurang lebih setiap waiters yang mengantarkan minuman ke kamar VIP ini, suaranya harus benar benar tegas namun dengan suara yang khas menyampaikannya, serta amat anggun.


Kemudian seorang sepertinya akan datang membukakan pintu, dia bersiap dengan satu tangan kanan di belakang punggung dan satu tangan kiri memegang nampan berisi minuman, nampan itu di sejajarkan dengan pundaknya. Badannya di tegakan agar terlihat menawan dan senyum lebar dia berikan walau kini hatinya sangat berdebar takut sekali kalau kalau dia akan melakukan kesalahan.


'Teloit, clip'


Suara pintu kemudian terbuka, seorang wanita cantik yang membukakannya, kiara tida pernah mengenal wanita wanita penghibur disini, karena ruangan mereka memang terpisah jauh, dan saat ini diapun samasekali tidak mengenali wanita di hadapannya.


Dengan nada berbisik dan sedikit berat karena rasa takut wanita itu berkata


"Masuklah, jalan pelan pelan, taruh semua minumannya di atas meja, jangan melihatnya, lakukan dengan sempurna"

__ADS_1


Ucap wanita itu pada kiara, dengan muka yang sepertinya ketakutan bahkan mata sembab yang mungkin air matanya telah di usap terlebih dahulu sebelum ia membukakan pintu ini.


"Ah baiklah aku akan melakukannya dengan hati hati, permisi"


Karena wanita tadi berbicara dengan nada berbisik kiara pun mengikutinya, mungkin agar suara mereka tida menganggu seseorang di dalam sana. Lalu hanya sekitar 5 langkah kiara melangkahkan kakinya untuk tida bersuara, namun apa yang terjadi, wanita tadi malah mengagetkan kiara dengan mengambil electronic card system yang menempel di pintu, kemudian dia berlari terburu buru dan segera menutup pintu dengan keras, lantas kiara benar benar kaget di buat olehnya, sampai nampan berisi minuman yang dibawanya pecah jatuh berserak kebawah lantai, kiara pun memalingkan badannya melihat apa yang sedang terjadi di belakang sana, namun ternyata pintu itu telah tertutup rapat tida dapat terbuka sedikitpun karena kuncinya telah di ambil oleh wanita itu .


"Nona mengapa kamu menutup pintu ini nona, kumohon bukalah"


Tida ada suara sedikitpun di balik pintu.


"Nona kumohon jangan seperti ini, kembalilah, aku memohon padamu, bukalah pintu ini nona"


Dengan tangan dan tubuh yang gemetar kiara mencoba mengeluarkan suara yang masih tersisa didalam rongga mulutnya.


"Adakah yang bisa menolongku, tolonglah, hiks hiks"


Setelahnya bahkan kiara tersungkur jatuh kelantai karena merasa kaget bercampur takut di kamar itu sendirian. kiara lalu menggedor gedor pintu itu berharap ada seorang malaikat yang baik yang akan membuka pintunya. Di sisi lain kamar itu terlihat banyak sekali pecahan beling, suasana kosong, ruangan yang gelap, membuat bulu kuduk kiara semakin beridri.


'Praaaaang'


Suara lemparan botol kembali menambah ketegangan di kamar itu, sontak kiara sangat kaget dibuatnya.


"Seseorang tolonglah buka pintunya, tolong lah aku, aku hanya pelayan pengantar minuman, bukalah, bukalah tolong"


Sekuat tenaga kiara meneriakan suaranya sambil menggedor gedor pintu, dengan air mata yang deras di pipinya, dia masih terduduk lemas ta berani berdiri, pikirnya dia akan mati malam ini karena banyak bicara jika tida ada yang menolongnya.


*Apa yang harus aku lakukan disini, ini sebuah kesalahan, mengapa wanita itu tega sekali terhadapku, apa yang sedang tuhan rencanakan untuk ku, hiks hiks*


Dia terus berbicara dalam hati apa yang harus dia perbuat, dia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, kemudian dia tersadar harus menghubungi bossnya tomi.

__ADS_1


*Ponselku, dimana ponselku, aku akan menghubungi boss, aku akan menceritakan hal ini, aku tida mau malam ini di salahkan, ini hanya kesalah pahaman, kumohon dimana ponselku, semoga boss mengerti keadaan ku, dimana ponselku*


Kiara meraba semua bagian tubuhnya mencari dimana ponselnya berada berharap rencananya akan berhasil.


*Astagaaaa, kenapa aku ini bodoh sekali, kenapa aku menaruh ponselku di loker, kenapa dalam situasi segenting ini aku menaruhnya di lokerku, kenapa dengan hari ini, menyesakan sekali rasanya, hiks hiks*


Karena tida ada lagi jalan keluar, dan kiara kehilangan konsentrasi akibat lemparan beberapa botol kaca itu, kiara mencoba menoleh, berharap si tuan yang ada di hujung sana dapat bernegosiasi dengannya, bahwa ini real bukan salahnya yang masuk dengan nampan terjatuh di lantai.


Kira menatap tuan itu dengan berani, namun tuan itu hanya tertunduk kaku di ujung sana.


"HEI, kau yang di sana, kemarilah"


Suara laki laki itu menggema memenuhi seisi ruangan, sambil mengangkat tangan mengisyaratkan bahwa kiara ya g harus mendekat.


"KEMARI DAN MENDEKATLAH"


Dia berteriak, lagi lagi membiarkan suaranya memenuhi seisi ruangan.


Kiara semakin gemetar dan takut, suaranya begitu menusuk di telinga, ruangan yang gelap dan hanya ada satu lampu yang menyala membuat hawa takut semakin menguasai pikirannya.


"Kau adalah gadis pengganti ******* tadi bukan, kemarilah sebelum aku melempari kau dengan botol kaca ini"


Nadanya berat sekali untuk berbicara, seperti sedang di bawah pengaruh alkohol atau sejenis obat obatan lainnya.


"Mm, maa, maaf tuan, tapi ini adalah salah paham"


Dengan suara gemetar kiara memberanikan berbicara, berharap seorang laki laki di ujung sana mengerti keadaannya.


Namun sepertinya dugaan kiara salah, raut wajahnya tida begitu memperdulikan apa yang dibicarakan kiara, dia hanya tertunduk lesu dan kembali mengambil botol kosong dihadapannya.

__ADS_1


bersambung ...


__ADS_2