HIDUPKU

HIDUPKU
Keinginan berteman


__ADS_3

Setelah beberapa lama akhirnya kiara menyetujui permintaan yas yang mengajaknya untuk masuk kedalam mobil dan pulang ke rumah. Hans dengan sigap segera membukakan pintu mobil itu, agar tuannya dapat masuk dengan nyaman, setelah memastikan keduanya masuk hans segera melajukan mobilnya dengan perlahan, kiara seperti kelelahan setelah menangis, dan menyandarkan tubuh serta kepalanya kedalam dada seorang laki laki bernama yas.


Mobil itu sudah berada tepat di depan pintu, seorang pelayan membukakan pintu untuk tuan yas, dan hans segera turun untuk membukakan pintu kiara, namun tida di sangka hans melihat pemandangan yang menyenangkan untuk kedua kalinya, karena dengan cepatnya kiara sudah terpejam pulas bersandar pada dada indah tuan yas, lalu kiara seperti tida menyadari apa yang terjadi dalam tidurnya.


"Biar saya yang mengantar nyonya ke dalam kamar tuan" (dalam artian memangku tubuh kiara)


"Biarkan aku saja hans, kau bawalah tas dan ponselnya, dia seperti kelelahan, aku tida mau dia terbangun"


"Baiklah tuan"


Yas menggendong kiara keluar dari dalam mobil, mengantarkannya kedalam kamarnya untuk beristirahat dengan nyaman, semua orang yang ada di dalam rumah sangat kaget, tapi tentu tida menunjukkan ekspresi kekagetan mereka pada tuan yas, mereka sangat tabu melihat pemandangan seperti ini, sampai semua terlihat deg degan memikirkan apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Jen mengikuti yas dari belakang bermaksud untu membukakan pintu kamar dan menaruh tas beserta ponsel yang telah di serahkan sekertaris hans padanya untuk disimpan di kamar kiara. dan benar saja kiara di bawa masuk kedalam kamar, lalu setelah jen meletakan tas dan ponsel milik kiara di atas meja, jen dengan cepat menutup pintu kamar agar tida ada pelayan yang melihat akan terjadi kejadian seperti apa nantinya.


Secara perlahan yas meletakan kiara dalam ranjang tidurnya, dia melepaskan sepatu kiara dan menyelimuti tubuh rampingnya itu.

__ADS_1


"Sungguh gadis yang malang"


Itu adalah kata pengantar tidur yang yas lontarkan kepada kiara, yas berlalu dan meninggalkan kiara sendirian di kamar itu.


Yas pergi menuju kamarnya berniat untuk merebahkan tubuhnya yang sudah sangat kelelahan karena bekerja.


Jen yang telah melihat tuan yas sudah pergi menuju kamarnya segera mendekati hans yang masih ada di rumah saat itu.


"Sekertaris hans apa yang sudah terjadi"


"Benarkah, hanya itu?"


"Eumh, hanya itu yang aku lihat, tapi"


"Teruskan sekertaris hans, aku ingin mendengarnya"

__ADS_1


Dengan sedikit mendekatkan bibirnya pada telinga jen, hans berbisik


"Tuan yas memeluk nyonya kiara dengan erat, tuan menenangkan nyonya sampai nyonya tertidur dalam mobil"


Sontak jen membelalakkan bola matanya dan seperti kegirangan mendengar kabar itu, hans yang menyadari tingkah jen langsung berdehem dengan sengaja agar jen mengerti harus bersikap seperti tida terjadi sesuatu, karena takut jika taun yas akan mengetahuinya.


"Aku tida tau apa yang membuat nyonya menangis, kau bisa tanyakan langsung padanya, kau kan sangat dekat dengannya"


"Baiklah akan ku tanyakan besok. Kau harus segera pulang, tubuhmu butuh di istirahatkan"


"Kau benar, aku sangat lelah hari ini"


Hans berpamitan pada jen untuk meninggalkan rumah dan pergi ke paviliun yang telah di sediakan oleh tuan yas untuk sekertaris nya itu.


Diwaktu yang bersamaan di dalam kamar yang megah terlihat seorang laki laki gagah yang sedang merenung melihat keluar jendela kamarnya, yas sedang berfikir bagaimana cara agar dirinya dapat berteman dengan kiara, yas mengetahui bahwa nasib dirinya sama seperti kiara, mungkin jika dirinya berteman dan saling terbuka satu sama lain mereka akan dapat saling menguatkan, karena diantara semua orang mungkin hanya Kiara lah yang juga dapat mengerti keadaan ini, mereka sama sama mengalami masa sulit dalam hidup walau dari latar belakang yang berbeda, setidaknya yas ingin mempunyai seorang teman yang juga paham dengan keadaanya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2