HIDUPKU

HIDUPKU
Hari akan berlalu


__ADS_3

Hari sudah pagi, kiara melihat jam ternyata sudah pukul 7, astaga istri macam apa yang bangun sesiang itu dengan rasa tida bersalah. Kiara memang tida menganggap pernikahannya adalah sebuah keharusan yang dia patuhi, tapi tolonglah pesan untuk kaum wanita, hormati suamimu walau kau menikah secara terpaksa, tapi gapapa sih kalo kecapean mah tidur aja terus. Haha ^_^


Kembali pada permasalahan. Kiara sudah melupakan kejadian semalam dengan yas, dan ini adalah alasan dia bangun siang, dia tida mau berpapasan atau bertatap muka dengan tuan rumah yaitu yas. Dan ternyata ini benar benar cara efektif untuk menghindar. Seisi rumah sudah tida ada orang, tida ada yas atau hans, tida ada jen berkeliaran di meja makan dan di ruang depan, kiara akan bebas berlari keluar rumah tanpa rasa malu.


Setelah kiara bersiap dan dirasa dia sudah siap untuk ke kampus, dia mulai mengendap endap memperhatikan sekitar, dan ternyata suasananya AMAN.


"syukurlah, aku bernapas lega"


Kiara berjalan lenggak lenggok dengan gembira, wajahnya ceria dan hatinya berbunga, dia berjalan keluar rumah dan tida ada satu orang pun yang melihatnya, kecuali para pelayan. xixixi ^_^


Dering telfon kiara berbunyi, segera dia merogoh tasnya untuk mencari posisi ponselnya yang bersuara, dilihatnya siapa yang menelfon dan ternyata itu adalah nomor baru, tida ada nama, dan kiara tida mengetahui persis siapa dia.


Langsung saja kiara menerimanya dengan cepat dan tanpa ragu.


"Hallo, siapa di sana"


"Apakah kau kiara"


"Benar, apakah aku mengenalmu"


"Tida lama lagi, apa kau punya waktu, siang ini? Aku akan mengajakmu minum kopi"


"Maaf aku tida bisa, sepertinya aku sibuk"


"Ayolah jangan menghindar, aku kenal dengan deff dan aku kenal dengan suamimu, aku juga tau siapa dirimu. aku tau teman teman dekatmu aku tau siapa orang yang dekat dengan suami mu, dan aku tau segalanya"

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya"


"Tenanglah, aku hanya ingin mengobrol dengan mu, jika kau tida keberatan aku akan menjemput mu siang ini"


"Baiklah, mari kita bicara jika benar kau mengenalku"


"Sampai jumpa"


Obrolan itu berakhir begitu saja, dengan keadaan heran dan masih tida percaya, mengapa seseorang yang menelfon menginginkan berbicara dengan kiara, apa yang sedang di rencanakan olehnya ?


--**--


Didalam kantor, yas tida henti henti tersenyum dan tersipu, hans yang melihat yas berulangkali menunjukan ekspresi ganjil nya benar benar jijik dan kesal.


"Sungguh, berhentilah memasang senyum dan wajah lugu mu seperti itu yas, aku ingin membunuhmu jika kau seperti itu"


Hans benar benar kehilangan kendali, dia memandang yas dengan tatapan ingin muntah, dia juga merasa bulu kuduknya berdiri karena merasa yas benar benar sangat aneh, ini kali pertama hans merasakan ada sesuatu yang benar benar ingin dia pukul dengan sangat kencang.


"Bagaimana jika kita menyelesaikan senyuman mu dengan pukulan ku yas, ayolah, aku sudah bersiap, disini tida ada orang, hanya ada kita, antara kau dan aku, aku benar benar ingin muntah melihat ekspresi wajahmu"


Yas terpingkal terbahak bahak melihat suasana ini, berbeda dengan hans yanh begitu bersemangat mengajaknya bergulat. Dengan santai yas menjawab pertanyaan hans.


"Sepertinya kau cemburu hans"


Yas tertawa lagi tanpa henti, membuat hans semakin geram dan benar benar ingin menerjang yas dengan satu kali pukulan.

__ADS_1


"Hans apa pendapatmu"


Pertanyaan itu muncul dari bibir yas membuat hans kembali menjadi tenang dan berpikir sejenak, membuat suasana kembali normal dan terkendali.


"Aku tida mengerti maksudmu"


"Maksudku, hubunganku sepertinya banyak kemajuan"


"Kau janganlah besar kepala, apa yang terjadi dengan mu sampai sekarang mungkin hanya trik kiara untuk memintamu segera menceraikannya tanpa ada drama dan sandiwara ancam mengancam"


"Tida hans, kau salah kali ini"


"Lalu"


"Dia memberi kesempatan padaku"


"Benarkah? Apa dia mengatakannya semalam, mengatakan seperti 'aku mencintaimu, aku menyukaimu, atau jangan pergi daru sisiku' ungkapan seperti apa yang kiara katakan. Lalu apa sebab itu wajah mu menjadi semakin menjijikan"


"Memang belum, dia tida mengatakan apa yang kau katakan tadi, tapi aku punya firasat baik tentang ini. Hei, memangnya kenapa? Apa yang salah dengan wajahku, aku tetap tampan dan rupawan"


"Sudahlah jangan banyak bergaya, apa yang kau rencanakan sebenarnya"


"Aku ingin mengajaknya makan malam"


"Lagi ? Kau tida salah? Dulu saat kau mengajaknya makan malam keadaan menjadi ricuh dan semakin kacau, belum ada 5 menit kau duduk dan berbicara suasana menjadi sangat mencekam. Kau harusnya ingat kawan, kakinya menjadi patah sebab kau menyeretnya, lalu apalagi sekarang? Jika kau melakukannya lagi, bukan hanya kakinya yang patah, tapi mungkin lehernya yang akan benar benar patah kali ini"

__ADS_1


Yas terdiam, tida menanggapi sepatah katapun apa yang telah di sampaikan sahabatnya itu, yas terlalu berfokus pada perasaanya yang bahagia, dia tida mau mengacaukannya dengan ocehan buruk yang keluar dari mulut sahabatnya itu. Yas lebih memikirkan bagaimana cara agar dia semakin dekat dengan cintanya.


Bersambung ...


__ADS_2