HIDUPKU

HIDUPKU
Keadaan yang kacau


__ADS_3

Keadaan yang kacau


Keesokan paginya kiara bangun terlebih dahulu ketimbang yas. Jam menunjukan pukul 06. Yas belum membuka matanya, mungkin dia masih bermimpi indah.


Kiara melihat yas dengan seksama. Hidungnya yang runcing membuat dia terlihat sangat menggemaskan. Kiara hampir merinding dibuat pemandangan itu.


*Apa yang kau pikirkan bodoh. Tapi sejujurnya kenapa dia tampan sekali walau seperti ini. Kenapa kulit wajahnya lebih cantik dari seorang perempuan. Apa perawatannya begitu mahal? Memang orang kaya berbeda dari laki laki kebanyakan*


Kiara menggeleng gelengkan kepalanya agar sadar dan kembali pada kenyataan pagi ini. Dia bangkit dan segera turun menuju kamarnya. Dia akan melanjutkan tidur beberapa jam lagi karena dirasa masih mengantuk. Sedangkan yas sepertinya sebentar lagi akan terbangun karena jam alarm akan berdering.


Hans sudah datang sesuai jadwal. Dia menunggu yas turun dari kamarnya untuk menyampaikan sesuatu yang kelihatannya sangat penting pagi ini.


"Sekertaris hans apa yang terjadi. Kenapa wajahmu terlihat gelisah"


"Keadaan semakin kacau jen. Aku harus segera menemui tuan yas. Aku akan menyusul ke kamarnya"


Hans menaiki tangga dengan tergesa, keadaan kantor sepertinya sangat kacau dan darurat. Ini harus segera di sampaikan kepada yas dengan cepat.


Sesampainya di atas hans segera mengetuk pintu dan membunyikan bel kamar.


"Masuklah. Kenapa kau sampai datang kemari. Apa semua baik baik saja"


"Biarkan aku masuk. Aku akan berbicara sembari kau bersiap"


"Baiklah"


Kedua laki laki itu kini berada di kamar dengan pembahasan serius. Yas bersiap siap dengan terburu buru dan berdiskusi ringan dengan hans.


"Berita kemarin sudah sampai di seluruh kota. Aku tida bisa menghentikan ini karena ada hal yang lebih penting yang harus kau dengar"


"Katakan hans"


"Semua perusahaan besar yang telah bekerjasama dengan kita membatalkan kerjasama yang sudah lama kita jalin. Mereka berfikir masalah ini akan semakin besar karena kau akan melawan perusahan keluarga Riswan. Mereka takut harga pasar akan semakin turun dalam jangka waktu cukup lama, dan mereka takut saham saham yang mereka tangani akan anjlok jika masih bekerjasama dengan kita. Hotel RINET memblokir semua keuntungan perusaahan kita dengan memanipulasi data yang telah kita simpan"


"Bagaimana mungkin hans. Mengapa sampai sekacau ini. Aku bisa mengerti dengan orang yang membatalkan kerjasama diantara kita karena kekhawatiran akan merugi. Tapi untuk keuntungan perusahaan, bagaimana mungkin mereka bisa memanipulasi"


"Yohans mencuri data data dari kantor cabang, dia bekerjasama dengan Riswan dan memberikan semua data itu, mungkin karena yonas pikir riswan adalah besannya. Aku baru mendapat kabar ini tadi pagi. Dia juga sudah lama memanipulasi keuntungan perusahaan dengan menyuap manajer keuangan di kantor cabang"

__ADS_1


"Dalam artian dia korupsi"


"Benar"


"Seberapa rugi perusahaan kita sampai detik ini"


Hans terdiam dan menarik nafas dalam. Dia merasa berat mengatakan ini semua karena keadaan benar benar diluar kendali.


"Totalnya mencapai 75%. Kita hanya memiliki 25% dan itupun hanya untuk memberi pesangon pada total seluruh karyawan di perusahaan OT grup"


Yas terkulai lemas, napasnya serasa tida lagi berada dalam tubuhnya. Dia benar benar mati rasa. Sejenak dia tida mengerti apa yang harus di lakukanya kini. Semua ini diluar kendali. Semua orang telah pergi meninggalkan dirinya dan mengkhianatinya. Dunia kini berpaling dari kebaikannya.


"Kau tida apa"


"Haruskan aku menyerah hans?"


"Tenanglah. Kita selesaikan semuanya secara bertahap"


Yas kemudian merapikan stelan yang sudah ia kenakan. Dia juga bersiap dan membenahi wajahnya untuk pergi ke kantor bersama hans. Kini yas harus bertanggung jawab atas kekacauan yang dibuat deff.


"Tentu. Aku akan mempersiapkan segalanya"


Jen melihat yas dan hans turun dari tangga secara tergesa gesa. Tentu jasa itu membuat jen sangat penasaran dan ingin bertanya. Tapi niatnya di urungkan karena kurangnya keberanian dalam dirinya.


"Hari ini aku tida akan sarapan, aku buru buru jen"


"Baiklah tuan"


Yas bergegas terlebih dahulu untuk masuk kedalam mobil dengan memperhatikan layan ponselnya. Mungkin dia akan menghubungi seseorang.


"Sekertaris hans. Apa yang kau cari. Biar aku membantumu"


"Tida jen aku sudah menemukan semuanya. Terimakasih sebelumnya"


"Apa semua baik baik saja?"


Jen benar benar cemas dan gelisah. Dia ingin meminta penjelasan namun juga tida enak pada situasi seperti ini.

__ADS_1


Sekertaris hans menghela nafas, dia seperti berat untuk berbicara.


"Kami akan menyelesaikan semuanya"


"Baiklah sekertaris hans. Semoga semua baik baik saja"


Hans pergi membawa lembaran maps dan sebuah sim card dari laci di bawah tangga. Dia segera menyusul yas yang sudah berada di dalam mobil.


"Hans aku harus mengubungi rekan arsitek yang pernah di bohongi risti, kita harus menggunakannya juga agar bukti semakin kuat"


"Informasi yang telah aku dapatkan mengenai dia, kini dia memiliki sebuah Rumah sakit besar di pusat kota. Kita bisa menyuruhnya bersaksi. Dia pasti sangat membenci risti. Tapi aku mengkhawatirkan sesuatu"


"Aku tau apa yang kau pikirkan. Kukira Riswan telah datang menemuinya dan menawarkan kerjasama yang lumayan menguntungkan untuk rumah sakitnya. Tapi aku tetap ingin berusaha menemuinya"


"Baiklah. Kita akan menuju ke sana"


"Bagaimana dengan dokumen tentang sertifikat asli kepemilikan atas bangunan para warga yang di manipulasi oleh perusahaan Riswan. Apa semuanya baik baik saja"


"Tentu. Kita hanya perlu menemui salah seorang yang akan mendukung kita untuk ini. Dan aku pastikan orang ini akan dengan mudah membantu kita"


"Setelah semua selesai, aku harus membereskan kerjasama antara perusahaan kita dengan semua rekan bisnis. Aku tida ingin mereka salah faham"


"Mungkin yohans yang pertamakali akan di selidiki pihak polisi, dan jika berhasil Risti dan Riswan akan di tahan untuk waktu yang cukup lama sesuai tuntutan"


"Aku juga harus membersihkan namaku di seluruh kabar media. Ini benar benar kekacauan yang tida dapat di kendalikan"


Mobil terus melaju dengan dengan cepat tampa ragu. Kedua laki laki itu terus berdiskusi agar menemukan titik terang dan jalan yang baik bagi kelangsungan perusahaan besarnya. Ini bukan menyangkut dirinya saja pikir yas. Ada banyak orang yang terlibat dalam perusahaanya, dia juga banyak membantu perusahaan perusahaan kecil yang membutuhkan dorongan, dia tida mungkin lepas dari tanggung jawab begitu saja. Dia juga sudah berjanji pada ayahnya untuk mengabdi pada perusahaan sebaik mungkin. Untuk memberikan semua ide sebagus mungkin. Dan jangan menyerah ketika kau masih di hidupi oleh perusahaan mu.


--**--


Disisi lain kiara masih terbaring malas di kasur empuknya. Dia melihat jam dan sekarang sudah menunjukan pukul 08.30, ini pertanda dia harus segera bangkit dan menyudahi rasa malasnya karena harus menuju kampus.


"Deff mungkin tida akan datang. Aku tida perlu cemas dan takut. Aku juga tida harus gelisah. Orang orang di lingkungan kampus tida ada yang mengenal aku ketika di pesta orang kaya. Jadi kampus merupakan tempat aman ketika tida ada deff. Karena sejujurnya hanya dia yang tau kondisi ku saat ini"


Kiara bergegas merapikan dirinya dan akan menuju ke kampus. Hari ini dia tida banyak berfikir macam macam. Yas mengajaknya berkencan nanti malam. Betapa senangnya dan menenangkannya jika membayangkan ajakan berkencan dari yas yang manis. Kiara merasa dirinya amat bahagia dan tida bisa lepas dari bayang bayang yas saat ini. Kata kencan menjadi hal yang sangat menggelikan untuknya jika di bayangkan berulang kali.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2