
Hans benar benar kaget dengan pernyataan kiara barusan yang sangat berani melawan tuan yas.
Hans berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini, apa benar karena pakaian yang diberikan jen terlalu mahal sehingga dia sangat berani pada tuan yas kali ini.
"Maaf tuan, tapi kita harus segera pergi untuk makan malam, anda pasti tida ingin kehilangan kesempatan untuk bekerjasama dengan tuan yogishima"
Hans mencoba menghentikan langkah yas yang sedang menuju pada kiara dengan sorotan dan raut muka yang sangat marah, hans tau hal apa yang akan terjadi jika dirinya tida menghentikan itu semua, namun dengan santai kiara malah memberikan senyuman tipis yang manis pada hans, dia mengisyaratkan bahwa dirinya berterimakasih kali ini.
Yas berfikir tida punya banyak waktu untuk meladeni wanita menjengkelkan ini, yas terus saja berjalan keluar ruangan yg di susul oleh hans dan kiara, kini ketiganya menuju mobil untuk menemui tuan yogisihima.
Tida ada yang berani membuka pembicaraan, pun dengan kiara, dia sempat ingin mengoceh, namun otaknya lebih cerdik sekarang, tida mungkin dia bisa selamat dari cengkraman yas jika berada dalam mobil, akhirnya kiara membuka ponselnya melihat grup chat dengan teman kampusnya dan melihat sosial medianya. Kiara benar benar kaget melihat pemberitaan yang melibatkan dirinya, banyak artikel artikel yang muncul pada linimasanya. Memang baru kali ini dia sempat membuka ponselnya karena terlalu sibuk memikirkan hal hal yang tidak dapat di selesaikan dengan cepat.
"APAA!"
__ADS_1
Suara itu nyaris membuat telinga yas membludak, hans yang sedang berfokus pada jalanan sampai kaget dibuat suara itu.
"Dasar wanita ke*arat, kau ingin merusak gendang telingaku. Hampir saja kau membuat aku celaka, dasar ja*ang"
"Hei tuan lihatlah"
Kiara mencoba memperlihatkan ponselnya pada yas, seakan yas akan menanggapi dengan kata 'waaw kau hebat' dengan girangnya dia terus meminta yas melihat ponselnya dengan jelas.
Yas kemudian hilang kesabaran, bagaimana mungkin kiara dapat berbicara dengannya seperti itu, bagaimana mungkin kiara terlihat seakan tida takut akan dirinya lagi, sontak yas menepis tangan kiara dengan kasar dari hadapannya dan membiarkan ponselnya terjatuh entah kemana.
Kiara benar benat kesakitan karena tangan yas yang menepis tangannya dengan sangat keras, hans yang menyaksikan kejadian itu sungguh bingung harus berbuat apa, dia hanya bisa berfokus pada jalanan karena tida ingin makan malam ini terlambat.
"Apa kau samasekali tida punya hati hah, apa hidupmu benar benar akan selalu seperti ini, membuat semua orang di sekelilingmu merasakan kesengsaraan yang tida jelas"
__ADS_1
Kiara benar benar berteriak di depan yas kali ini, dia sudah sangat kesal karena yas sangat keterlaluan membuat tangannya memerah. Namun yas juga telah kehilangan kesabaran membiarkannya berteriak semaunya di hadapannya, jelas yas tida tahan dengan suara kiara dan segera membekam mulut kiara dengan tangannya sendiri. Lalu sorot matanya yang tajam dan penuh dengan kemarahan melihat dengan seksama kearah mata kiara seperti pertanda mengancam dengan sangat tegas bahwa jangan sesekali kiara berani mengusiknya.
Takdir seakan mengerti dengan keadaan ini, hans juga seakan mendapat celah untuk mengehentikan kedua manusia yang sedang dalam keadaan perang ini. Hans menghentikan mobilnya tepat disebuah restoran ternama di kota, dengan cepat dia melerai aksi saling tatap di antara kedua manusia yang tengah duduk di belakangnya itu.
"Maaf tuan, rupanya kita sudah sampai. Tuan yogishima sepertinya telah menunggu anda"
"Aku akan memberimu peringatan nanti, dasar wanita ja*ang"
Dengan sadar yas kembali menjauhkan tubuh dan tangannya dari tubuh kiara, dia segera mengancingkan jasnya dengan rapih karena hans sudah membukakan pintu untuknya.
Yas tida berhenti memandangi kiara dengan sorot mata yabg tajam, seakan dia ingin menerkam kiara dengan sekali telan, kiara yang menyadari hal itu dengan santai tida memperdulikan yas, bahkan dia segera merangkul tangan yas dengan girang dan berjalan tanpa merasa bersalah.
Bersambung ..
__ADS_1