HIDUPKU

HIDUPKU
Kehilangan kekasih


__ADS_3

Hari ini Hans sibuk sekali merawat Yas. Selain pikirannya yang kacau tubuhnya pun tida dapat menolak rasa lelah yang ada. Kali ini Yas benar benar berada di kamar dengan kondisi terbaring lemah, mulutnya menolak untuk memakan sesuatu dan lagi lagi Yas hanya meneteskan air mata.


Hans tida bisa meninggalkan Yas sedikitpun, dia harus menjadi tameng terdepan saat kondisi sahabatnya seperti ini.


--**--


Siang sudah berganti malam, Yas benar benar istirahat dengan baik setelah diberikan obat tidur dari dokter. Hans mendampingi Yas dengan sabar, sambil sesekali mencari informasi dari orang kepercayaannya untuk memantau informasi tentang keberadaan kiara.


Ini sudah larut, dan Yas masih terpejam, Hans berencana akan pergi dan istirahat juga di paviliunnya, namun niatnya di urungkan dan sepertinya dia akan tidur dengan Yas malam ini di kamar ini.


"Hans"


"Kau sudah sadar" "Kau butuh sesuatu" tanya Hans dengan sabar.


"Aku ingin pergi menemui deff"


"Baiklah. Setelah kau pulih, aku akan membawamu menemuinya"


"Apa aku selemah ini tanpanya Hans?"


Mata itu mulai berkaca kaca, mata yang sudah sembab dan membengkak karena kelelahan sekarang harus di timpa dengan air mata kesedihan lagi, akan jadi apa wajah menawan milik Yas besok?


"Jika dia sudah pergi dan tida kembali, relakan lah"


"Aku tida mungkin akan hidup jika dia tida bersamaku"


"Tenanglah. Jangan banyak berpikir. Sudah kukatakan kita tida berpengalaman dalam suatu hubungan. Kenapa harus di masukan kedalam hati"


"Tapi aku benar benar merasa sesak setelah kepergiannya"


"Mungkin dia mempunyai alasan untuk ini"


Yas tida lagi melanjutkan obrolannya, suaranya isak tangis yang sekarang membalas percakapan Hans kala itu.


Hans tida mengerti lagi, kenapa laki laku kokoh seperti Yas bisa seperti ini karena seorang Kiara, apa yang telah terjadi di antara mereka membuat Hans sangat penasaran.


"Aku sudah mengecek semua barang barang di kamarnya, dan ternyata dia tida meninggalkan apapun disana. Aku minta maaf karena harus menyampaikan ini"


Hans benar benar tida ingin melihat sahabatnya terpuruk dan bersedih, tapi kenyataanya harus dia beritahu walau sangat sulit di terima.


--**--

__ADS_1


Keesokan harinya


Seharian ini Yas sendirian di dalam kamarnya, karena Hans harus pergi ke kantor untuk urusan pekerjaan, semua Hans yang harus menghandle karena tida ada orang yang dapat di percaya kali ini.


Yas tida berselera untuk makan, pergi keluar rumah, atau hanya menghirup udara segara di balkon. Seharian penuh dia hanya membayangkan masa masa indah dan detik terakhir bersama kekasihnya. Kejadian ini benar benar mendadak, tida bisa dia sangka dan membuat semua hal yang Yas lakukan seakan tida ada artinya.


Saat menjelang malam Hans datang menemui Yas di kamar. Saat kondisi Yas seperti ini, dan dari pertama kali Yas down seperti ini pintu kamarnya tida pernah di sandi, dan Hans yang melakukan itu. Hans juga tida mau Jen cemas memikirkan hal ini.


"Kau sudah makan malam"


Hans melihat roti dan bubur di nampan yang berbeda, juga semangkuk Sup panas yang baru saja di letakkan di atas meja. Rupanya Yas tida makan sedikitpun dari pagi. Makanan yang telah di sajikan oleh Jen di biarkan dingin begitu saja.


"Kau jangan seperti ini. Makanlah sedikit saja"


Yas masih mematung, melihat keluar jendela tanpa keluar dari kamarnya.


"Akan kubuka pintu kaca itu, atau kau ingin keluar dan bersantai di balkon"


Lagi lagi Yas hanya diam. Tida bicara sedikitpun dan menghiraukan perkataan Hans.


"Minumlah obatmu saja jika kau tida ingin makan"


Yas sudah geram, tida bisa lagi berpikir jernih, dia langsung mengambil obat obatnya dan meminumnya secara bersamaan, setelah itu dia melempar gelas yang airnya sudah habis di minim olehnya.


"Malam ini aku akan membawa mu ke rumah deff. Bisakah kau makan sedikit sup mu untuk mengisi tenaga. Setidaknya jangan terlihat begitu kacau jika ingin memastikan Kiara padanya"


Yas segera melihat wajah Hans, Yas memastikan bahwa Hans tida berbohong dan akan melakukan apa yang baru saja dia katakan.


"Jangan menatapku seperti itu. Cepat rapikan wajahmu dan isi tenaga mu. Aku akan menunggu"


Yas segera menghabiskan Sup di mangkuk, dia memakai mantelnya dan segera mengajak Hans keluar tanpa bicara.


*Benar benar gila. Akan apa dia di rumah Deff*


Mobil telah melaju menuju rumah deff. Hans tau Yohans sudah tida di sana. Berita korup dan penipuan sudah tersebar di media. Yohans di tahan bersama Risti dan Riswan di sel tahanan.


Mobil sudah sampai, ada beberapa polisi yang berjaga, Hans sudah mengerti hal ini, Deff dan ibunya sedang berada dalam pantauan pihak berwajib, sidang akan memutuskan persoalan tentang keterkaitan Yohans dan keluarganya ketika melakukan aksi kejahatan. Maka dari itu, rumahnya di pantau polisi dengan ketat saat ini.


"Tuan yas apa yang membawamu kemari"


Nyonya grace bertanya dengan nada cemas. Yas sudah kelihatan gusar, pandangannya mengelilingi ruangan dimana dia mencari sosok deff.

__ADS_1


"Nyonya bisa kau panggilkan deff untuk kemari. Kurasa dia ada di dalam bukan"


Hans meminta dengan baik, takut kalau Yas akan segera bertindak tida terduga.


"Baiklah aku mengerti"


Tida lama deff sudah menampakkan diri walau belum di panggil oleh ibunya, sepertinya deff tau apa yang terjadi.


"Katakan dimana wanitaku B a j i n g a n"


Yas sudah seperti orang kerusakan. Tangannya mengepal dan akan menghampiri deff, Hans tida dapat menghindari situasi dan nyonya grace hanya membelalakkan bola matanya karena panik.


"Apa yang kau lakukan padanya, katakan sekarang"


Yas berteriak memekik telinga deff, dia mencengkram baju deff dengan kuat tanpa sadar. Deff hanya tersenyum walau bibirnya sudah terluka dan keluar darah. Dia seperi sedang meledek Yas dengan gembira.


"Jika dia wanita mu kenapa kau harus repot repot mencarinya dan menanyakan itu padaku. Apa kau sudah gila huh?"


Yas lagi lagi memukul deff dengan sekuat tenaga. Hans melihat ini sudah sangat keterlaluan, dan Hans berhasil menjauhkan tubuh Yas dari deff.


"Jika aku menjadi kau, aku sudah mati bunuh diri mengetahui wanitaku tida bahagia bersamaku"


Deff pergi setelah berkata kata dan meludahkan darah di hadapan Yas. Dia segera menghilang dan tida memperdulikan lagi keributan di rumahnya. Yas seperti harimau yang mendapatkan mangasa, Dia geram sekali dan sangat ingin mengejar deff. Tapi Hans mencoba menghentikan apa yang Yas lakukan. Ini tida akan baik dan malah memperburuk suasana.


"Nyonya grace, maaf atas keributan ini"


Hans mencoba berbicara saat keadaan Yas mulai sedikit tenang.


"Sekertaris hans, kami sedang dalam pemantauan pihak kepolisian. Bagaimana mungkin deff akan melakukan hal itu, dan aku benar benar yakin deff tida pernah keluar dari rumah selama ini, dia terus dalam pengawasan dan selalu di dampingi polisi pengawal jika akan keluar. Jadi tolong jangan salah paham"


"Sepertinya kau benar nyonya, aku hanya ingin memastikan saja untuk saat ini. Sekali lagi maaf atas ketidaknyamanan ini"


"Aku pastikan deff tida terlibat dalam kejadian hilangnya nyonya Kiara"


"Baiklah terimakasih atas pengertian anda. Tapi jika deff terbukti melakukannya, aku tida akan diam"


"Aku mengerti"


"Baiklah, ini sudah saatnya kami pergi"


Hans menggandeng Yas dengan sekuat tenaga. Dia ingin sesegera mungkin membawa Yas menjauh dari rumah deff.

__ADS_1


Biarlah waktu yang menjawab kemana hilangnya dan sebab apa Kiara pergi tanpa pamit dan tida meninggalkan pesan pada siapapun.


Bersambung ...


__ADS_2