HIDUPKU

HIDUPKU
Cemas 2


__ADS_3

Keadaan kampus memang tida terlalu ramai, tapi masih ada segelintir orang yang melakukan kegiatan dan aktifitas mereka, hans segera mencari tahu dimana ruang UKS yang kiara tempati, yas begitu cemas sampai dia tida menyadari keberadaanya menghebohkan kaum wanita yang berada di sekitaran kampus.


Pemandangan yang sangat jarang dilihat oleh semua orang, dua orang laki laki berperawakan tinggi, berkulit putih, bentuk tubuh yang sexy, dan wajahnya yang tampan berkeliaran sedikit berlari sedang mencari sesuatu di kampus mereka selarut ini.


"Permisi apa kau bisa menunjukan aku dimana ruang UKS"


"Ah tentu tuan, apa boleh aku meminta nomor ponselmu jika begitu"


"Ah maafkan aku, aku sangat terburu buru"


Hans dan yas berlari semakin jauh dari gerbang, tida ada satupun wanita normal yang mau dia tanyai lagi, semua wanita itu malah selalu menanyakan nomor ponsel keduanya. Ini semakin membuat yas hilang kesabaran.


"Brengsek, apa yang terjadi dengan dia sebenarnya, kenapa tida ada satupun manusia yang bisa aku tanyai dengan normal selain wanita wanita sialan itu"


Hans mencoba menghubungi lagi ponsel kiara, dan aldo mengangkatnya, lalu dia memberitahu posisi ruang UKS yang di maksud.


"Ikuti aku yas"


Mereka berlari secepat kilat, menembus satu persatu lorong yang terbentang luas mengelilingi kampus. Dan pada akhirnya mereka menemukan aldo yang sedang berdiri mematung diluar pintu dengan perasaan sedikit panik.


"Kau aldo? Dimana wanita itu"

__ADS_1


Tanya yas dengan terengah engah kelelahan.


"Dia didalam, dia sudah sadar, tapi dia masih menangis, aku tida mengerti dan tida tau harus berbuat apa"


Yas membuka pintu dengan tida sabar dan meninggalkan aldo beserta hans diluar ruangan.


Hans menahan aldo dan mengajaknya berbicara sedikit menjauh dari ruangan itu, hans mengerti hal apa yang akan terjadi di dalam, agar semua terkendali dengan aman, hans membuat aldo untuk tetap tenang dan mengikutinya menjauh untuk sedikit berbincang.


"Kau masih memegang ponselnya"


"Benar, ini, ku kembalikan"


"Terimakasih. Percayalah dia akan baik baik saja"


"Kau pernah berpacaran?"


"Hah? Maksud mu"


"Maksudku, tida ada yang ingin kehilangan kekasihnya bukan? Apalagi kau sangat mencintainya, jadi hal yang menurutmu kecil ini bisa menjadi besar bagi yang sedang jatuh cinta"


"Aku samasekali tida mengerti apa yang kau bicarakan, tapi aku sedikit menangkap gambaran bahwa gadis itu adalah kekasih pria yang bersamamu, mereka mungkin bertengkar dan sekarang pria itu menyesal dan akan meminta maaf"

__ADS_1


"Aah benar. Kau cerdas sekali kawan, sudahlah terimakasih telah menjaganya sampai aku datang, pikirkan tentang mereka sesukamu, sekali lagi aku berterimakasih padamu kawan"


"Baiklah aku permisi pergi dari sini. Tapi, pakaianmu terlihat sangat tua kawan, kau akan tampak lebih keren dan tampan dengan stelan seperti kekasih wanita yang ada di dalam sana, jangan memakai stelan jas tua seperti ini, kau jadi terlihat seperti orang yang kaku dan kolot"


Aldo kemudian segera pergi dari tempat dimana dia mengobrol dengan hans secara santai, hans yang dikatai terlihat tua sangat kesal dan melihatkan sorot mata heran dengan dirinya sendiri.


*Apa benar, apa aku akan terlihat lebih menarik dengan pakaian santai*


--*--


Kembali pada yas yang telah menemukan kiara didalam ruang yang tida begitu besar, kiara masih menangis memeluk kakinya dengan wajah tertunduk, yas menghampirinya melihat apa yang sudah terjadi dengan wanitanya, lalu yas ikut terduduk di lantai dan bersandar pada tembok yang sama dengan kiara.


"Kau. Apa kau baik baik saja"


Kiara melihat mendongakkan wajahnya melihat kearah sumber suara yang menanyakan keadaanya, itu bukan suara aldo pikir kiara, kemana laki laki yang tadi bersamanya, mengapa sekarang malah ada yas.


"Kau"


Yas menatap wajah kiara dengan lembut, matanya menatap sayu merasakan betapa dalamnya kesedihan kiara, dia merasa dirinya tida berguna dan tida dapat membahagiakan kiara.


Yas menyeka dengan lembut air mata yang jatuh dari pelupuk mata kiara, sentuhan yang hangat membuat kiara semakin merasakan kesedihan yang selalu menderanya, dan ini membaut yas benar benar tida mengerti seberapa berat masalahnya kiara sampai dia tida mau berhenti menangis sampai selarut ini.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2