HIDUPKU

HIDUPKU
Saling tida tahu tentang sebuah perasaan


__ADS_3

Setelah sadar bahwa mereka saling menatap dengan penuh perhatian, kiara jadi salah tingkah dibuat pemandangan itu lalu bermaksud bangun untuk menyudahi menyuapi yas yang sedang bersandar di ranjang.


"Kau mau kemana"


"Aku harus ke kamarku, ini sudah larut, mungkin sebentar lagi hans datang"


Baru saja kiara mengucapkan kalimat teresebut, Hans sudah membukakan pintu kamar dan menyapa orang di dalam.


"Selamat malam nyonya, tuan"


"Hans, kau sudah kembali? Mengapa begitu lama, yasudah aku akan kembali ke kamarku" gerutu kiara dengan rona masih salah tingkah.


"Baiklah nyonya" sambut hans.


Kiara berlalu dengan tergesa gesa. Dia berharap semoga hans tida mendengar percakapan antara dirinya dan yas.


"Ada apa dengannya?"


yas mengerenyitkan dahi pertanda dia heran dengan sikap kiara, lalu hans berjalan mendekati yas yang masih terbaring dan bergantian menyuapi yas karena bubur masih tersisa.


"Bagaimana keadaanmu"


"Sudah baik, sakit ini membuat aku dekat dengannya"

__ADS_1


"Jadi kau akan memutuskan untuk sakit?"


"Yah jika memang itu yang akan membuat dia selalu ada di pelukanku, aku rela"


"Cih, gila"


"Bagaimana semuanya"


"Kau bisa mengandalkan sekertaris mu yang tampan ini untuk semua urusan pekerjaan"


"Harusnya disini ada kiara, agar kau berhenti bersikap sombong dan seperti pelayan yang patuh hanya padaku"


"Siapa tadi? Kau menyebutnya siapa? Kurasa dunia ini akan berhenti sejenak untuk memastikan keadaanmu"


"Hei lihatlah, wajahmu memerah, kenapa kau menyembunyikannya, sadarlah tuan gila. lihatlah dirimu di cermin, ini sungguh memalukan bukan?"


Hans benar benar terkekeh dengan senang.


"Baiklah baiklah, kurasa aku menyukainya, tapi aku tida tau dia menyukaiku atau tida, maka dari itu, cepat urus rencana pernikahan deff kekasihnya"


"Kau tenang saja, semuanya akan berjalan sempurna sebentar lagi, dan masalah kenapa aku selalu bersikap seperti pelayanmu jika ada dia, aku hanya ingin dia tida pernah merepotkan aku jika masalahnya menyangkut mu, aku tida ingin dia berpikir aku dekat denganmu, aku hanya ingin membuat kesan jika aku hanya sekertaris mu, yg tida tahu menahu tentang masalah pribadimu"


"Kau benar, biarlah dia berpikir kau itu gay yang selalu menempel padaku"

__ADS_1


Hans tida tahan dengan perkataan yas yang mengolok olok dirinya sama seperti kiara, kedua laki laki dewasa sungguh tida ada malunya jika sedang berdua, menjahili seperti saling membenci, menyerang ketika kesal, dan saling menjaga layaknya saudara. Itulah sebuah keluarga.


--**--


Kiara berada di kamarnya dengan lamunan lamunan yang tanpa ia sadari jantungnya berdebar. Dia merasakan bibir yas masih menempel di dahinya ketika tadi pagi dan ucapan Terimakasih yang terdengar sangat lembut ketika kiara menggantikan pakaiannya, membuat kiara merasa bulu kuduknya serentak berdiri.


"Ah aku bisa gila jika setiap hari begini, ini pasti jebakan untu ku agar aku melupakan perceraian dengannya, astaga kiara kau ini bodoh sekali"


"Bagaimana dengan deff, kenapa dia tida menghubungiku selepas dari rumah sakit, apa dia takut terhadap yas?"


"Bagaimana jika aku yang menghubunginya terlebih dahulu, kadangkala kita harus lebih perhatian dan mengalah bukan, walaupun aku adalah perempuan"


Kiara tersenyum mendapati dirinya berbicara beberapa kalimat untuk lebih memikirkan deff malam ini, dan benar saja, kiara nekat dengan rasa tida tau malunya menghubungi deff.


'Tuut, tuut, tuut'


Dering ponselnya menandakan dia sudah terhubung dengan deff yang di sebrang sanah, tapi sudah cukup lama kiara menunggu jawaban deff tida kunjung mengangkatnya, ada apa pikir kiara! apa mungkin deff sedang sibuk, atau sengaja menghindar dan sengaja tida mengangkat panggilannya?


"Kenapa deff tida mau mengangkat ponselnya, kemana dia? Apakah dia takut pada yas dan tida mau untuk berhubungan lagi denganku, aah sialnya bedebah itu, selalu merusak kebahagiaanku"


Kiara melempar tubuhnya keatas kasur, memejamkan mata melupakan semua yang terjadi hari ini, melupakan kebaikan yas dan keakraban dirinya dengan tuan si pemarah itu, dia berencana untuk memejamkan mata karena lelah, juga karena otaknya sudah penat untuk berpikir


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2