HIDUPKU

HIDUPKU
Rencana kencan


__ADS_3

Yas dan kiara telah sampai di rumah tampa hambatan. Hans membawa mereka berdua dengan hati hati tampa di lihat wartawan atau orang lain. Keadaan kiara saat ini benar benar kacau. Dia terus menangis dan selalu menyalahkan dirinya sendiri akibat kecerobohannya saat dekat dengan deff. Seseorang yang belum tentu baik untuknya.


Kiara di papah oleh yas dengan lembut. Suasana manis itu di saksikan jen dan juga hans. Jen tida berani bertanya apa apa. Dia menunggu perintah dari tuannya jika harus melakukan sesuatu.


"Aku akan ke kamarku"


"Bisakah kau tinggal di kamarku untuk malam ini. Aku tida ingin kau terus menangis. Aku cemas jika kau sendiri kau akan terus seperti ini"


"Tapi aku rasa aku ingin sendiri"


"Aku akan memaksamu tetap di kamarku jika kau keras kepala"


Mata kiara sudah sayu. Dia terlihat lelah karena terus menangis. Yas memangku tubuh kiara agar dia tida berjalan pergi ke kamarnya. Mereka menaiki tangga menuju kamar yas. Tida ada yang memerintah jen atau hans saat ini. Yas lebih berfokus pada kiara dan dirinya yang sangat lelah menyaksikan drama pertunjukan saat di pesta.


"Sekertaris hans apa yang terjadi. Kenapa mereka terlihat kacau?"


"Pestanya sangat memalukan. Aku tida bisa menerima ini dengan begitu saja"


"Lalu apa yang akan kau rencanakan"


"Untuk saat ini aku seharusnya berdiskusi dengan tuan yas. Tapi aku juga mengerti kondisi nyonya. Jadi biarkan besok aku yang mengurusnya"


"Baiklah. Lakukan yang terbaik untuk mereka. Padahal aku rasa mereka sudah dekat dan saling mengerti. Mungkin tida lama lagi mereka akan benar benar saling menyukai. Jangan biarkan seseorang merusak kedekatan ini dan menghancurkan satu sama lainnya"


"Kau benar jen"


Jen kemudian tida banyak bicara lagi dengan hans. Mereka rasa semua orang harus beristirahat dengan tenang untuk hari esok yang entah akan terjadi bencana apa.


Di lain tempat yas sedang membaringkan tubuh kiara. Kiara tida tertidur, tapi yas sangat hati hati menaruh tubuh ramping itu, takut jika ada yang dirasa sakit. Yas duduk di samping kiara sembari memegang tangannya agar dia merasa lebih tenang.


"Apa kau menginginkan sesuatu"


"Tida"


"Istirahatlah. Jangan banyak berfikir. Apalagi berfikir yang macam macam. Hans akan mengurus masalah ini dengan baik"


"Apa ini akan baik baik saja untuk mu?"


"Aku baik baik saja. Jangan memikirkan aku terus. Ini akan segera berakhir"


"Aku takut jika semua orang membencimu"


Yas tersenyum dan makin menggenggam tangan kiara dengan erat. Dia tida mau kiara terlalu cemas dan memikirkan hal hal yang belum terjadi.


"Apa kau tida mendengarkan aku sebelumnya? Aku tida peduli jika semua orang membenciku dan tida percaya padaku. Bagiku itu semua tidaklah penting, karena bagiku kepercayaan darimu itu sudah lebih dari cukup. Aku sudah mengatakan padamu, jika semua orang pergi melepaskan tangan mereka dariku. Kumohon kau tetap di sampingku dan memegang tanganku, sebagai bukti aku masih pantas hidup di bumi ini dan sekarang kau melakukannya"


Kiara tida tau harus berkata apa lagi. Seseorang yang dulu sangat kasar padanya bisa selembut ini, seseorang yang dulu ingin dia singkirkan dari hidupnya malah meminta dia untuk bertahan berada di sisinya, seseorang yang bahkan dia sendiri tida tahu punya hati atau tida, malah mencintai kiara dengan sangat serius.


Kiara meneteskan air mata, dia sangat ingin melindungi yas dari tuduhan deff, tapi apa yang harus dia lakukan. Semuanya sudah terlambat untuk berubah. Andai dulu dia tida sepercaya itu pada deff. Mungkin kejadian ini tida akan terjadi.


"Terimakasih yas"


"Sudah jangan menangis terus. Aku tida suka melihatnya"

__ADS_1


"Baiklah. Aku tida akan menangis"


"Begitu lebih baik"


Mereka saling membalas senyum. Melupakan kesedihan yang hampir saja membuat dunia serasa hancur. Di permalukan di depan orang banyak bukanlah hal yang baik. Apalagi yas adalah sosok yang dikenal banyak orang juga sorotan para wartawan. Mungkin kiara masih sedih tapi dia berusaha tersenyum agar yas sedikit lebih tenang.


"Apa kau tida nyaman jika aku tidur di samping mu?"


"Benar. Aku selalu merasa tida bisa tidur jika berada di sampingmu"


"Benarkah. Mengapa bisa begitu"


"Entahlah. Padahal aku adalah tipe orang yang akan tidur di manapun dan kapanpun jika sudah mengantuk. Tapi saat berada di sampingmu mataku sulit terpejam"


"Baiklah jika begitu. Bagaimana jika aku tidur di sofa saja, agar kau dapat tidur dengan nyenyak"


"Biarkan aku kembali ke kamarku saja"


"Jika begitu aku akan memaksamu juga untuk tidur bersamaku di kasur yang sama. Dan aku tida akan tidur di sofa"


"Kau bercanda"


Yas kemudian menaiki tempat tidur dan tergeletak di sebelah kanan kiara.


"Aaah nyamannya. Aku akan tidur nyenyak sepertinya karena kau menemaniku"


"Aku akan turun jika begitu"


Belum sempat kiara bergerak, tubuhnya sudah di dekap dengan hangat oleh Yas.


"Tidurlah. Jangan bergerak kemanapun. Aku akan tetap seperti ini dengan memelukmu"


"Aku tida akan bisa tidur jika kau seperti ini"


"Tapi aku akan tertidur pulas jika seperti ini. Mm, bolehkah aku bertanya sesuatu"


"Eumh"


"Apa kau pernah berkencan?"


"Apa kau sedang menyelidiki siapa saja orang yang pernah dekat denganku?"


"Kau ini berfikiran sempit sekali. Aku kan hanya bertanya"


"Malangnya aku belum pernah berkencan"


"Bagaimana dengan deff? Dulu kau sempat makan malam dengannya bukan? Bukankah itu dapat disebut kencan"


"Kurasa aku seharusnya menepati janji waktu itu. Tentu saja agar dapat merasakan kencan"


"Sungguh? Kenapa ekspresi mu sangat menyesal seperti itu"


"Ah entahlah kenapa aku menolaknya dan malah melarikan diri"

__ADS_1


"Itu bagus. Jadi kita sama sama imbang"


"Imbang? Kenapa kau melotot"


"Aku tida melotot. Aku juga belum pernah merasakan berkencan"


"Benarkah? Apa kau bercanda. Bagaimana bisa. Wanita di sekelilingmu kan banyak sekali"


"Kau itu selalu mengaitkan satu hal dengan hal lain. Memang senang sekali mencari gara gara denganku"


"Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan"


"Mari berkencan denganku?"


"Apa kau serius?"


"Tentu. Aku juga ingin merasakan masa muda yang di rasakan kebanyakan orang. Tida hanya bergulat dengan tumpukan kertas dan ide ide tida penting"


"Mm. Tapi bukankah ini waktu yang tida tepat"


"Semua orang sedang membicarakan ku. Aku tida ingin terlalu memikirkan hal hal yang tida aku sukai. Jadi lebih baik aku menghabiskan waktu bersamamu"


"Baiklah. Aku setuju"


"Baguslah kau penurut sekali hari ini. Jadi kita akan melakukan apa terlebih dahulu?"


"Mm. Aku juga tida tau banyak. Jika yang paling mendasar adalah makan bersama bagaimana jika kita melakukan itu terlebih dahulu"


"Baiklah. Itu tida buruk"


"Aku akan pulang sedikit sore dari universitas. Kau tida usah menjemput. Aku akan berangkat sendiri dari sana kiat bertemu pukul 5 sore"


"Kenapa seperti itu"


"Kau juga harus ke kantor dulu bukan. Lagipula tida apa kita berangkat masing masing. Agar terkesan benar benar kencan buta pertama"


"Apa itu kencan buta?"


"Aaah. Kau tida tau ya rupanya"


"Memangnya apa kencan buta. Kencan seperti apa yang kau maksud"


"Sudahlah lupakan. Itu tida terlalu penting untuk di bahas"


"Baiklah terserah kau saja"


Yas memalingkan tubuhnya tida lagi memeluk kiara. Dia merasa kiara menyimpan sesuatu darinya. Yas merajuk ingin mendapat perhatian dari kiara, tapi bukannya kiara membujuk dia malah bersyukur lepas dari pelukan manusia aneh itu. Mereka terlihat lebih tenang untuk saat ini. Walau kiara masih memikirkan bayang bayang ketakutan yang akan menghancurkan dirinya beserta yas. Tetapi deff tentu akan mendapat pukulan besar dari ayahnya. Tapi apakah benar yas akan baik baik saja walau begitu.


Tanpa disadari kiara merasa matanya lelah dan mengantuk. Dia terpejam pulas dan tida lagi memikirkan hal apapun. Yas berdecak kesal karena kiara malah mengabaikannya ketika dia merajuk sampai sampai yas kehilangan kesabaran dan membalikan badannya melihat keadaan kiara yang tida bersuara.


Yas menatap lekat kiara. Wajah indahnya memantulkan sedikit cahaya dari lampu tidur. Dia merasa kenapa dulu dirinya sangat kejam pada gadis malang ini. Padahal hatinya benar benar kuat menerima kenyataan hidup yang pait. Dia wanita tangguh yang sempurna untuk di bahagiakan.


*Tida akan aku biarkan kau menderita lagi. Kau harus bahagia dengan hidupmu. Maafkan aku jika selama ini aku menyusahkan mu. Sejujurnya aku yang tida pernah mengerti dengan perasaanku. Aku mencintaimu kiara*

__ADS_1


Yas ikut terpejam dengan damai di samping kiara. Dia tida ingin mengganggu kiara yang sudah lelap dengan gerak tubuhnya dan suara berisiknya. Yas benar benar menikmati momen untuk malam ini karena kiara berada di sampingnya.


Bersambung ...


__ADS_2