HIDUPKU

HIDUPKU
Sorot mata yas


__ADS_3

Kiara berlalu meninggalkan yas di tangga dengan sedikit memikirkan sesuatu, kiara memang ingin sekali menanyakan hal penting mengenai rissti yang sudah berterus terang sangat membencinya, tapi rasa rasanya kiara masih ragu apa tanggapan yas yang sebenarnya jika dia menanyakan hal tersebut.


Yas segera berbalik melangkahkan kaki dan menuju ke kamarnya, dia juga telah menonaktifkan ponsel yang sudah di genggamnya sedari tadi, saat yas sudah setengah jalan menuju pintu, suara kiara mengehentikan langkah kaki yas.


"Tunggu"


"Ya"


"Apa kau sudah mengantuk"


"Ada apa memangnya"


"Itu, maksudku jika kau belum mengantuk bisa kita bicara sebentar"


"Baiklah, lagipula aku juga tida bisa tidur, masuklah"


Kiara hanya menganggukkan kepala dengan tatapan mata polosnya, dia hanya memikirkan rasa malunya karena memasuki kamar laki laki malam malam begini.


Pintu sudah terkunci rapat kembali, yas segera menaruh ponsel dan membalikan badan menatap kiara.


"Apa yang ingin kau bicarakan"


"M.h, apa benar deff akan melangsungkan pertunangannya lusa?"


Yas terdiam sejenak, memastikan keadaan apa yang sedang terjadi dalam hati kiara, yas melihat melalui sorot mata kiara.


"Aaaah, kenapa kau malah menatapku seperti itu, aku hanya bertanya, jika kau tida tau yasudah aku akan kembali"

__ADS_1


Kiara membalikan badan, berencana ingin menyudahi pembicaraan yang baru saja dimulai, kiara benar benar takut dengan sorotan mata berlian yas, yang menatapnya seperti orang kesurupan.


Yas segera mengambil tindakan, dia menarik tangan kiara dan menjatuhkannya dalam dada yang bidang itu.


"Kenapa menyudahi obrolan yang samasekali kau belum mendapat jawabannya"


Kiara kehilangan kata kata yang akan dilontarkan, otaknya begitu penuh dengan bayang bayang suara yas yang sekarang sedang mendekapnya, kiara hanya mendengarkan detak jantung yas yang bergemuruh tida beraturan.


"Ada apa dengan jantungmu, kenapa berdetak begitu cepat? Apa kau akan mati hah?"


Dengan polosnya kiara melontarkan argumen yang tida penting pada yas, dan kiara berusaha melepaskan pelukan yas seperti tadi sore di depan pintu.


"Diamlah sebentar saja, aku hanya ingin memastikan kau masih menjadi istriku. Dengan begini aku akan tetap mengontrol emosiku karena kau masih ada disisi ku"


*Apa yang dia maksud, apakah dia sudah gila hah?*


"Kenapa tida bertanya lagi?"


"Maksud mu?"


"Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, walaupun itu tentang deff aku akan menjawabnya, tapi biarkan aku seperti ini, memelukmu akan membuatmu tida menghindar dan lari, kau mungkin akan takut jika aku menatapmu ketika kau menyebutkan nama deff"


"Tapi aku tida bisa bertanya jika terus seperti ini, aku tida nyaman"


"Jika begitu bicaralah di sampingku di atas tempat tidur"


Yas melepaskan pelukan itu, membiarkan kiara sedikit bernafas dan berfikir kembali tentang apa yang akan dia bicarakan, sementara itu yas sudah siap dan berada di atas kasur, dia melihat kiara yang masih mematung tida bergeming.

__ADS_1


"Kemarilah, duduk dan ceritakan apa yang ingin kau sampaikan, aku tida akan marah sedikitpun, apalagi menyakitimu"


"Kau berjanji"


"Apa kau begitu takut padaku?"


"Sedikit"


"Aku berjanji"


Dengan senyum manis yas merayu kiara agar kiara memberanikan diri menuju kasur untuk duduk bersandar dan menyelonjorkan kakinya.


"Apa kau tau tentang rissti"


"Apa kau mengenalnya?"


"Beberapa jam yang lalu. Dia menemui ku dan berbicara banyak hal"


"Benarkah? Lalau apa pendapatmu"


"Pendapatku? Kenapa harus pendapatku, itu pernikahan mereka"


"Tapi aku yang merencanakannya!"


Kiara terdiam memikirkan pertanyaan apa yang akan dia lontarkan selanjutnya pada yas. Kiara melihat dengan ekor matanya bahwa yas sudah berbaring dan tengah menyelimuti bagian tubuhnya tanpa terkecuali.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2