HIDUPKU

HIDUPKU
Gara gara obat


__ADS_3

"Sial, berapa lama lagi aku harus menunggu be*ebah itu, membuat kepalaku ingin meledak saat ini juga, aah dasar manusia ke*arat"


Lain dengan kiara yang sudah amat sangat penat menunggu kedatangan yas kala itu, dia terus saja bergumam dan menggerutu atas kekesalan yang dia rasakan. Bagaimana mungkin dia tida kesal kepada yas, dirinya sudah seharian menunggu yas yang ingin berbicara dan mengatakan sesuatu kepadanya, lalu dengan sabar dia menunggu sampai kepalanya benar benar pusing karena terus memikirkan apa yang ingin di sampaikan oleh yas kepadanya.


"Semoga be*ebah itu akan segera menceraikan aku. Sudah lah lupakan dahulu, aku akan mencari obat untuk pereda sakit kepala ku, sakit ini benar benar menyiksaku"


Kiara keluar dari kamarnya melihat sekeliling rumah apa ada seseorang yang bisa membantunya, dan ternyata dia mengingat sesuatu, bahwa jen telah berpamitan keluar untuk menyelesaikan urusannya, dan kini tida ada seseorang yang dapat kiara tanyai malam itu.


"Benar. Jen sedang keluar, aku harus menemukan obat itu, aku tida bisa menunggu lagi, kepalaku benar benar sakit"


Kiara sudah mencari kesana kemari di setiap penyimpanan, kiara membuka setiap laci laci meja yang berjejer, apakah tersimpan obat obatan yang dapat dia minum. Sampai pada akhirnya, dia membuka sebuah laci dekat tangga yang menuju kamar yas, di sana ada sebuah obat pil dalam botol beserta obat obay kecil lainnya yang disimpan beserta surat surat lama yang tida kiara ketahui. Kiara segera mengambil obat itu dan menuangkan air minum agar dirinya segera terselesaikan dari masalah sakit kepalanya, namun setelah dia meminum obat itu, selang waktu satu menit, jen datang dan melihat keadaan kiara yang sudah pucat wajahnya. Jen sangat terkejut dan segera berlari untuk menghampiri kiara.


"Nyonya apakah itu anda!"


"Ah jen, kau sudah datang"


"Yah ini aku"


"Jen apakah pendingin dan ac di ruangan ini mati"


"Tida nyonya, malahan diluar sedang hujan deras, apa kau baik baik saja, tubuhmu sangat berkeringat, apa kau sakit"


"Kepalaku hanya sedikit sakit dan aku meminum obat yang ada di laci sana. Kukira itu adalah obat pereda pusing kepala. Tapi tiba tiba kenapa tubuhku jadi aneh begini"

__ADS_1


"Astaga, nyonya kau sepertinya benar benar sakit!"


"Air, air, jen tubuhku. Air"


"Nyonya sadarlah, apa yang terjadi, kau sakit, duduklah, aku akan membantumu, tidurlah dulu disini, aku akan mengambilkan air es dan air minum untuk mu"


Jen segera berteriak meminta pelayan mengambilkan air es untuk mengompres suhu tubuh kiara yang kala itu sudah sangat kepanasan.


Lalu dengan perlahan jen membantu kiara untuk menurunkan suhu tubuhnya, kiara sudah sangat tida bertenaga tubuhnya terkulai lemas di atas sofa yang empuk itu, sesekali pelayan yang lain memberikan tegukan air minum karena kiara terus bergumam meminta air.


Jen sangat cemas kala itu, dia bingung dan tida tau harus berbuat apa lagi, tubuh kiara tida merespon dan tetap berkeringat, mukanya sudah pucat pasi seperti orang yang sekarat. Jen segera mengambil tindakan untuk menghubungi hans agar tau apa yang harus dia lakukan.


^Tuut Tuut tuut^


"Halo"


"Sekertaris hans, ini aku jen"


"Katakan jens, apa yang terjadi"


"Apa tuan yas akan segera kembali"


"Benar, apa yang terjadi, apakah nyonya membuat ulah"

__ADS_1


"Tolong cepatlah kembali, biar nanti ku jelaskan, ini keadaan darurat"


"Baiklah, 5 menit lagi aku akan segera sampai, tetap tenang jen"


"Baiklah ku tutup telponnya"


--**--


"Hans apa yang terjadi" tanya yas pada hans


"Sepertinya terjadi sesuatu di rumah"


"Apa berkaitan dengan wanita itu"


"Benar. Jen terlihat sangat cemas kali ini"


"Benar benar wanita itu, cepatlah aku ingin melihat apa lagi yang dia perbuat kali ini"


"Baik tuan"


Jen tau dia dapat mengandalkan hans untuk hal apapun tapi kali ini kiara butuh yas pikir jen, dia akan memberitahu hans setelah keadaan kiara membaik, sembari itu jen tetap mengompres tubuh kiara dengan air es agar kiara sedikit terbantu dan tida merasa kepanasan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2