HIDUPKU

HIDUPKU
Demam


__ADS_3

Pertemuan dua keluarga itu sudah selesai siang ini, walau deff sedikit mengacau dan mendapat tamparan dari ayahnya, dan semua menyaksikan kejadian itu, namun tida ada yang peduli dengan sikap yohans, itu memang pantas diterima oleh deff saat dia merasa dirinya berhak buka suara. Rissti adalah gadis yang cerdas, ia tida bicara sepatah katapun namun dirinya sudah merencanakan sesuatu dibalik ini semua, apakah rencananya ? Dan apa akan berhasil?


--**--


Yas kembali masuk kedalam mobil dan akan menuju ke kantor, tapi hans melihat wajah tuannya benar benar pucat pasi seperti terjadi sesuatu.


"Kau baik baik saja"


"Badanku tiba tiba menggigil hans, sepertinya ada yang tida beres"


"Baiklah aku akan membawamu pulang, aku juga akan memanggil dokter agar kau cepat di periksa"


Hans segera melajukan mobilnya tanpa basa basi, dia melaju cukup cepat karena terburu buru, melihat keadaan yas yang sepertinya sangat buruk membuat hans sangat cemas, hans tida mempunyai waktu untuk mengabari jen yang di rumah.


Singkat cerita mobil telah sampai di rumah, yas terlihat kacau dengan wajah pucat nya, suhu badannya amat tinggi membuat hans yang membantunya bertambah panik.


"Jen tolong cepat panggilkan dokter, tuan sepertinya sakit"


Teriak hans dari luar pintu yang begitu tergesa gesa. Jen dengan cepat kilat dan tanggap langsung menghubungi dokter, lalu membantu hans untuk memangku tuan yas menuju kamarnya.

__ADS_1


Kiara siang itu masih ada di rumah, dia sedikit mendengar keributan yang terjadi diluar, dirinya sedang bersiap untuk mendatangi kampus namun niatnya diurungkan ketika melihat yas yang tiba tiba datang dengan kehebohan dan kepanikan dari seisi rumah. Kiara langsung mengikuti jen dan hans yang naik keatas kamar.


"Sekertaris hans apa yang terjadi"


"Aku juga tida mengerti jen, kita tunggu dokter saja untuk mengetahui apa yang terjadi"


"Hans ada apa ini, kenapa wajahnya pucat sekali" sambar kiara yang baru datang ke kamar yas.


"Nyonya, tetaplah disini, aku akan menunggu dokter diluar, kau tolong kompreskan badan tuan, dan jen tolong buatkan bubur untuk nanti minum obat"


Hans dan jen segera keluar untuk melakukan tugas mereka, kiara masih dengan ketidaktahuan apa yang sebenarnya terjadi, dia langsung mendekati yas yang sedang terbaring lemah, suhu tubuhnya tinggi, wajahnya pucat dan bibirnya gemetar. Kiara semakin takut kenapa dia yang harus menyaksikan keadaan ini.


"Dingin"


"Biar ku selimuti, aku akan mengompres dahi mu"


Setelah menunggu sekitar 20 menit dokter tiba di kamar yas, dan kiara masih menemaninya dengan keadaan setengah takut.


"Baiklah akan ku lihat seberapa parah kondisinya"

__ADS_1


Beberapa saat dokter mulai memeriksa keadaan tubuh yas. Dengan serangkaian ritual seperti pengecekan darah dan kondisi mata. hans dan kiara memperhatikan dengan teliti. Lalu dokter membukakan dasi yang di kenakan yas dan membuka sedikit kemeja untuk pemeriksaan keadaan dalam tubuh, dokter tersenyum dan terkejut melihat banyak sekali bercak merah tanda cinta yang tertinggal di sana. Lalu kiara yang menyadari itu tertunduk malu dan tida bisa berkutik, hans kini menyadari apa yang terjadi pada tuannya.


Lalu dokter mulai membuka suara ;


"Tuan yas hanya demam, setelah meminum obat suhu tubuhnya akan membaik, untuk sementara buatlah dia senyaman mungkin dengan istirahatnya, jangan banyak bekerja dahulu, istirahat yang banyak dan benar akan membuat dirinya cepat pulih"


"Demam?"


Kiara mengerenyitkan dahinya tanda tida percaya karena dokter tida memberikan jawaban yang akurat.


"Sepertinya semalam dia terlalu lama berendam di dalam air, dia terserang flu dan demam saat ini, segera berikan makanan hangat untuk mengontrol asupan yang baik pada tubuhnya"


Kira benar benar merasa malu dengan yang dokter bicarakan, mengapa dirinya harus berbicara tida percaya sehingga dokter menjelaskan dengan teliti, kiara semakin malu karena hans ternyata ada di kamar dan mendengarkan apa yang dokter bicarakan.


"Baiklah, aku telah menyiapkan obat, berikan secara teratur, aku akan pamit"


Hans segera berterimakasih pada dokter dan mengantarnya kembali sampai ke depan pintu. Hans sedikit mengobrol dengan dokter tentang banyaknya kecupan yang di tinggalkan kiara pada tubuh yas. Namun dokter hanya tersenyum dan menjawabnya singkat sesuai pengetahuannya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2